Konteks bahasa yang berupa unsur-unsur moral sosial kultural suatu bangsa merupakan aset
atau kekayaan bahasa, yang seyogyanya bisa dipertahankan. Keunikan budaya yang dimiliki
bangsa Jepang merupakan aset bahasa yang menjadi bahan pembentukan ungkapan metafora
melalui puisi (haiku). Haiku adalah salah satu jenis puisi Jepang yang dianggap sebagai puisi
pendek dan berasal dari permainan ‘haikai no renga’ yaitu permainan puisi berantai, semacam
berbalas pantun di Indonesia yang populer pada abad ke-14. Metafora mengandung teks dan
konteks yang berhubungan erat dengan kehidupan moral sosial kultural penutur
(pengarang)nya. Metafora juga dapat dikatakan sebagai indikator etika dan logika seseorang
melalui tindak tutur dan karya tulisannya. Berdasarkan fenomena tersebut penulis merumuskan
masalah, bagaimana proses pemberian makna pada metafora dalam haiku bahasa Jepang yang
mengandung konteks moral sosial kultural bangsa Indonesia, serta bagaimana klasifikasi
makna metafora dalam haiku bahasa Jepang khususnya dalam kategori filosofi etos dan logos.
Berawal dari rumusan permasalah tersebut, peneliti bertujuan untuk dapat mendeskripsikan
proses pemberian makna pada haiku Bahasa Jepang yang mengandung metafora. Tujuan lain
yang ingin diperoleh adalah mengklasifikasikan makna metafora pada haiku bahasa Jepang
khususnya dalam kategori filosofi etos dan logos. Metode analisis yang digunakan dalam kajian
ini adalah proses interpretasi secara komprehensif dalam perspektif hermeneutik dan semiotik.
Proses interpretasi secara komprehensif terhadap metafora dalam kategori etos dan logos ini
dilakukan agar dapat dibuktikan eksistensi unsur-unsur moral sosial kultural bangsa Jepang.
Analisis metafora dalam perspektif hermeneutik dan semiotik, yaitu menerjemahkan tandatanda
ke dalam bahasa yang dapat dimengerti melalui teks dan konteks. Selain itu hal yang
utama dalam proses analisis metafora kali ini adalah proses interpretasi dan intertekstualisasi,
yakni pengkajian antar teks-teks metafora melalui makna petutur yang dinegosiasikan dengan
makna penutur. Jadi, interpretasi dan intertekstualisasi menjadi sangatlah penting dan bermanfaat
dalam proses interaksi melalui teks dan konteks, mulai dari menyadur tanda dan
menginterpretasikan pesan ke dalam bahasa yang digunakan pendengar atau pembacanya.
Negosiasi makna (proses pemberian makna) diperlukan dalam interpretasi dan
intertekstualisasi makna metafora karena metafora memiliki dua makna, yaitu makna eksplisit
(surface meaning) dan makna implisit (underlying meaning)