Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang marak dengan pembangunannya. Proyek
Konstruksi dengan karakteristiknya yang unik dan berbeda antara yang satu dengan yang lain seringkali
membahayakan para pekerja. Faktor risiko proyek konstruksi yang begitu besar sering kali
menyebabkan kecelakaan kerja konstruksi. Tingginya angka kecelakaan kerja konstruksi mendorong
penulis melakukan penelitian ini. Dalam tugas akhir ini, penulis mencoba menganalisis pelaksanaan
program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada proyek konstruksi khusunya di wilayah DKI
Jakarta, Bali, Surabaya, dan Bandung.
Penelitian dengan menggunakan analisis mean descriptive dan metode ANOVA dilakukan pada
proyek konstruksi yang sedang dikerjakan di wilayah DKI Jakarta, Bali, Surabaya, dan Bandung yang
menerapkan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Penulis bermaksud mengetahui
pelaksanaan program K3 serta mengetahui perbandingan pelaksanaan program K3 ini pada keempat
wilayah tersebut dengan melakukan penyebaran kuesioner sehingga nantinya dapat diketahui apakah ada
perbedaan dalam pelaksanaan program K3 pada proyek konstruksi di wilayah DKI Jakata, Bali,
Surabaya, dan Bandung.
Hasil analisis mean descriptive menunjukkan pelaksanaan program K3 yang utama pada proyek
konstruksi di wilayah DKI Jakarta adalah lokasi proyek memiliki penerangan yang baik, pelaksanaan
program K3 yang utama pada proyek konstruksi di wilayah Bali adalah setiap pekerja dalam proyek
dapat mencapai tempat bekerja dengan aman, pelaksanaan program K3 yang utama pada proyek
konstruksi di wilayah Surabaya adalah struktur sementara dalam keadaan stabil, dan pelaksanaan
program K3 yang utama pada proyek konstruksi di wilayah Bandung adalah telah terpasang pagar di
sekitar lokasi proyek. Hasil analisis yang didapat setelah melakukan pengujian hipotesis dengan
ANOVA adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam pelaksanaan program K3 aspek
peralatan dan pakaian kerja, jalur kendaraan, kebakaran, peralatan dan mesin, listrik dan suara, umum,
serta keamanan tempat bekerja pada proyek konstruksi di wilayah DKI Jakarta, Bali, Surabaya, dan
Bandung. Sementara pada aspek kesehatan kerja terdapat perbedaan yang signifikan antara wilayah DKI
Jakarta dengan Bandung dan perlindungan terhadap publik terdapat perbedaan yang signifikan antara
DKI Jakarta dan Bali. Analisis secara keseluruhan menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang
signifikan pada pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada proyek konstruksi di
wilayah DKI Jakarta, Bali, Surabaya, dan Bandung