Perwujudan tujuan pendidikan nasional dilakukan mulai dari pendidikan dasar
yang merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan
menengah. Pendidikan dasar tersebut diawali dari sekolah dasar sampai dengan
sekolah menengah pertama.Penanaman konsep yang paling awal pada pendidikan
di sekolah dasar terjadi pada kelas I, II, dan III yang biasa disebut dengan kelas
rendah. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget pada usia tersebut
peserta didik berada pada awal tahap concrete operations di mana peserta didik
mendapatkan dan menggunakan segala pengetahuannya dengan sesuatu yang
logis atau masuk akal. Hal yang logis tersebut dapat didapatkan melalui kegiatankegiatan
yang konkret dan bermakna.
Oleh
karena itu, dibutuhkan cara
penanaman
konsep yang baik untuk peserta
didik. Berdasarkan karakteristik
peserta
didik kelas rendah, maka
model
pembelajaran
yang tepat adalah
tematik.Studi
awal dari penelitian ini
adalah
survei mengenai
pelaksanaan
pembelajaran
tematik
di beberapa wilayah
Indonesia untuk mengetahui
berbagai
kendala
khususnya yang dialami
guru. Hasil
survei menunjukkan,
bahwa terdapat
70%
guru di 6 propinsi di Indonesia berusia
lebih dari 30 tahun; 68% guru di
propinsi
memiliki
masa
kerja lebih dari 15
tahun;
38% guru
SD berkulifikasi
S1
PGSD;
42%
berkulifikasi S1 non PGSD;
dan 20% berkualifikasi D2
;
90,3%
guru
memperoleh
informasi
pembelajaran
tematik
sebelum
tahun 2009 dan 100%
melaksanakan
pembelajaran
tematik sesudah tahun 2009; 35,3% guru
memperoleh
informasi
pembelajaran
tematik
dari supervisor, 31, 7% guru dari
kegiatan
KKG, dan 33% guru dari instruktur;
2,3% guru dari diklat
regional,
91,8%
guru dari diklat nasional, dan 5,9%
guru dari nara sumber yang
didatangkan
ke sekolah;
72% guru mendapatkan
dokumen
tertulis tentang
pembelajaran
tematik
dan 28% guru mendapatkan
pemahaman
saja.Setiap daerah
di
6 propinsi mengangkat
tema
untuk pembelajaran
tematik
beragam,
sesuai aspek
kearifan
lokal. Mata pelajaran yang diintegrasikan
rata-rata
bahasa Indonesia,
Matematika,
IPA, IPS dan Seni Budaya
Keterampilan.
Terdapat 96,7%. Guru
melaksanakan
pembelajaran
tematik
dengan
cara guru tunggal dan 93,3% guru
melakukan
cara penilaian pembelajaran
tematik
dengan teknik tes. Terdapat
43,1%
guru yang melaksanakan
pembelajaran
tematik
sesuai esensi pembelajaran
tematik
dan 56,9% belum
sesui. Hambatan-hambatan
atau kesulitan-kesulitan
yang
dialami
guru
dalam
melaksanakan
pembelajaran
tematik
meliputi
integrasi
karakter,
pelaksanaan team
teaching,
mengembangkan
perangkat pembelajaran
tematik;
pengembangan
penilaian otentik
untuk pembelajaran
tematik