Serat sabut kelapa adalah serat (coir fibre) yang diperoleh dari buah kelapa
yang termasuk golongan serat selulosa, dan diperoleh dari hasil samping dari industri
kelapa dan diperkirakan 4-5 juta ton pertahun dapat dihasilkan. Pemanfaatannya
sebagai bahan baku industri jok, tekstil kerajinan, seperti untuk matras, karpet, produk
kerajinan, dan serat berkaret. Umumnya perhatian orang masih tertumpu kepada
pemanfaatan daging kelapa sementara hasil samping (coconut by product) berupa
serat sabut kelapa belum dimanfaat secara maksimal dan masih merupakan sumber
daya potensial yang terbuang (waste potensial resource). Pemanfaatan hasil ikutan ini
akan dapat memberikan nilai tambah yang cukup signifikan bagi negara berupa
perolehan devisa, baik itu dikelola secara industri manufaktur maupun kerajinan
rakyat.
Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kualitas bahan baku serat sabut
kelapa melalui proses pencelupan (pewarnaan) sebagai bahan baku siap untuk
industri. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah serat sabut kelapa yang
telah diputihkan dengan H2O2 cara perendaman dingin selama 20 jam. Pencelupan
menggunakan zat warna basa dengan variasi konsentrasi 2, 3, dan 4 g/l, waktu
pencelupan, 60 menit, dengan suhu 85 oC.
Dari hasil pengamatan menunjukan bahwa penurunan kekuatan tarik serat
sabut kelapa setelah proses pemutihan cara dingin sebesar 5,60 %, dan setelah proses
pencelupan dengan zat warna basa sebesar 7,14 %, setelah proses pencelupan dengan
zat warna basa dari bahan yang telah diputihkan sebesar 1,63%, persentase
penurunan kekuatan relatip kecil dibanding penurunan kekuatan tarik setelah proses
pemutihan. Ketuaan warna pencelupan dengan konsentrasi 2 g/l menunjukan nilai 5
yang artinya lebih tua. Sedang untuk ketahanan luntur warna terhadap gosokan,
untuk tahan gosok basah nilai 1-2, dan kering 3-4, terhadap sinar menunjukan nilai 3-
4; dan terhadap pencucian nilai 2