Permasalahan yang berhubungan dengan konsepsi motivasi perlu mendapatkan
perhatian yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak yang berkepentingan terhadap
perusahaan yang bersangkutan, karena motivasi kerja memiliki peran yang penting dalam
rangka meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Hal itu terjadi disebabkan motivasi kerja
dapat memberikan energi yang akan menggerakkan segala potensi yang ada, menciptakan
keinginan yang tinggi serta meningkatkan kegairahan kerja. Jadi timbulnya motivasi
kerja akan meningkatkan produktifitas kerja karyawan, sehingga sudah sewajarnya
apabila konsepsi motivasi kerja lebih diperhatikan untuk keberhasilan sebuah perusahaan.
Menurut Hani Handoko (1999), Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para karyawan memandang
pekerjaan mereka. Herzberg mengadakan penelit pada insinyur dan akuntan dimana ia
menyimpulkan bahwa kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja berasal dari dua faktor
perangkat kerja yang terpisah yang disebutnya penyebab kepuasan (satisfiers = faktor
pemotivasi) dan penyebab ketidakpuasan (disatisfiers = faktor higienik).
Kepuasan pada dasarnya merupakan suatu sikap mental dari masing-masing
individu (pekerja). Sikap mental itu sendiri dapat ditumbuhkan melalui pemberian
motivasi yang baik dan benar. Dengan adanya motivasi dalam diri masing-masing
pekerja, maka diharapkan gairah dan semangat kerja karyawan dapat meningkat.
Dalam penelitian kali ini peneliti menggunakan metode analisis yang digunakan
adalah, regresi berganda, Uji F dan Uji t untuk mengetahui pengaruh pemberian motivasi
terhadap Kepuasan Kerja Karyawan .
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian motivasi
terhadap Kepuasan Kerja Karyawan.
Dari hasil regresi linier berganda, hipotesis terbukti yaitu faktor motivator dan
faktor hygiene, berpengaruh terhadap kepuasan kerja sebesar 71,2% didukung dengan F
hitung sebesar 89,028 lebih besar dari F-tabel sebesar 3,15 dan tingkat signifikansinya
adalah sebesar 0,000. Dan faktor hygiene merupakan faktor yang pengaruhnya lebih kuat
dari pada faktor motivator terhadap kepuasan kerja dengan nilai regresinya sebesar 0,559
dan tingkat signifikansinya 0,000