Kesantunan Berbahasa dalam Tuturan Nabi Musa dengan Fir’aun di Dalam Al-Qur’an (Analisis Tuturan dan Skala Kesantunan Leech)

Abstract

The material object in this research is the utterances in the story of Prophet Musa and Pharaoh in the Qur'an. The formal object is language politeness. The qualitative descriptive method is used because the data in this study are words and sentences, in this case, the verses in the Qur'an. The theory used in this study is the leech politeness scale. In theory, Leech suggests that five types of politeness scales can be used to determine the politeness rating of an utterance, namely 1) cost-benefit scale, 2) optimality scale, 3) indirectness scale, 4) authority scale, and 5) social distance scale. By utilizing the five types of politeness scales, this study aims to show and describe the form of speech in the speech of Prophet Musa and Pharaoh and to show and describe the form of politeness in Prophet Musa's language towards Pharaoh. The results of this study concluded that based on the analysis of the politeness scale in Leech's language, the researcher found that the speeches of the Prophet Musa and Pharaoh in the Qur'an contain politeness in their language. This form of politeness can be seen in the story of Prophet Musa in QS. As-Syu'arāa [26:16], QS. As-Syu'arāa [26:24], QS. As-Syu'arāa [26:26], QS. As-Syu'arāa [26:28], QS. Ṭāha [20:47], QS. Ṭāha [20:47-48], QS. Ṭāha [20:50], QS. Ṭāha [20:52], QS. Ṭāha [20:53-55].Objek material dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan dalam komunikasi Nabi Musa dengan Fir'aun di dalam Al-Qur'an. Objek formalnya adalah teori bentuk tuturan dan skala kesantunan Leech. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam teorinya, leech mengemukakan bahwa terdapat 5 macam skala kesantunan yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan, yaitu 1) cost benefit scale, 2) optimality scale, 3) indirectness scale, 4) authority scale, 5) social distance scale. Dengan memanfaatkan 5 macam skala kesantunan tersebut penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan dan mendeskripsikan bentuk tuturan dalam komunikasi Nabi Musa dengan Fir’aun serta menunjukkan sekaligus mendeskripsikan wujud kesantunan bahasa Nabi Musa terhadap Fir’aun. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat 3 jenis bentuk tuturan dalam komunikasi Nabi Musa dan Fir'aun di dalam Al-Qur'an dari 5 jenis bentuk tuturan. Tiga jenis bentuk tuturan tersebut yakni, asertif, direktif, dan ekspresif. Peneliti tidak menemukan bentuk tuturan komisif dan deklaratif. Dari 3 jenis bentuk tuturan, jumlah data tuturan yang ditemukan peneliti adalah 15 tuturan. Dengan rincian 12 tuturan asertif, 2 tuturan direktif, 1 tuturan ekpresif. Kedua, berdasarkan analisis skala kesantunan berbahasa Leech, peneliti menemukan bahwa dalam komunikasi Nabi Musa dan Fir'aun di dalam Al-Qur'an memuat kesantunan dalam bahasanya. Wujud kesantunan tersebut dapat dilihat dalam tuturan Nabi Musa pada QS. As-Syu’arāa [26:16], QS. As-Syu’arāa [26:24], QS. As-Syu’arāa [26:26], QS. As-Syu’arāa [26:28], QS. Ṭāha [20:47], QS. Ṭāha [20:47-48], QS. Ṭāha [20:50], QS. Ṭāha [20:52], QS. Ṭāha [20:53-55]

    Similar works