Kisah sebagai sarana penyampaian pesan-pesan al-Qur‟an menjadi satu hal
yang mendapat perhatian para ulama tafsir. Al-Qur‟an banyak memuat kisahkisah
masa
lalu,
yakni kisah dalam al-Qur‟an terdapat dalam 35 surat dan 1.600
ayat, sementara ayat tentang hukum hanya 330 ayat.
Di antara sekian banyak kisah yang ada dalam al-Qur‟an, kisah Z|ulkarnai>n
adalah kisah yang di dalamnya terdapat banyak pendapat terutama mengenai
sosok Z|ulkarnai>n dalam al-Qur‟an dan sosok-sosok lain yang berkaitan
dengannya. Sehingga dirasa perlu dan penting menelaah kisah tersebut. Penelitian
ini adalah penelitian pustaka dengan metode analisis-komparatif. Dalam
penelitian ini penulis mencoba mengkomparasikan kisah Z|ulkarnai>n dalam alQur‟an
berdasar dua kitab tafsir yaitu tafsir Ru>h
} al-Ma’a>ni> karya imam al-A>lu>si>
yang oleh sebagian ulama tafsir berkomentar bahwa kitab tafsir ini adalah tafsir
ensiklopedia dan bercorak isya
>ri
>, dan yang kedua ialah kitab Tafsi>r Al-Sya’ra>wi
>
karya Mutawalli
> Sya’ra
>wi>, tafsir Sya’ra>wi> adalah kitab tafsir yang bercorak
adabi ijtima‟i dan tafsir ini dinilai oleh sebagian ahli sebagai tafsir yang condong
pada tafsir bil ra‟yi>. Penelitian ini memiliki rumusaan masalah, bagaimana
penafsiran dua mufasir tersebut terhadap kisah Z|ulkarnai>n, apa perbedaan dan
persamaan dari dua penafsiran mufasir tersebut serta apa pesan universal dari
kisah Z|ulkarnai>n.
Ketika menafsirkan kisah al-Qur‟an pendekatan yang paling mngemuka
dari tafsir al-A>lu>si
> adalah pendekatan sejarah yang rinci dari berbagai sumber,
sedangkan asy-Sya’ra>wi> lebih dominan menggunakan pendekatan ra‟yi
> atau
ijtihad. Dengan dua model pendekatan seperti ini memunculkan persamaan dan
perbedaan penafsiran dari keduanya terhadap kisah Z|ulkarnai>n dalam al-Qur‟an.
Di antara persamaan penafsiran mereka adalah bahwa Z|ulkarnai>n yang dikisahkan
dalam al-Qur‟an bukanlah Iskandar Agung dan berkaitan dengan anggapan
sebagian pendapat yang menganggap bahwa Z|ulkarnai>n adalah nabi, keduanya
tidak sependapat dengan pendapat itu. Kemudian di antara perbedaan dari
penafsiran mereka yakni ketika menjelaskan tentang bagaimana cara kaum yang
hampir tidak bisa memahami pembicaraan yang tinggal di tempat antara dua
gunung mengadukan keluh kesah mereka tentang sosok Ya’ju>j Ma’ju>j. Menurutut
al-A>lu>si> Z|ulkarnai
>n bisa memahami mereka lewat perantara penerjemah,
sedangkan menurut asy-Sya’ra>wi> Z|ulkarnai
>n bisa memahami mereka karena
mereka menggunakan bahasa isyarat tubuh.
Kisah Z|ulkarnai
>n mempunyai pesan universal berkaitan dengan cerminan
pribadi seorang pemimpin yang beretika dan humanis. Pribadi seorang pemimpin
yang tercermin dari sosok Z|ulkarnai>n ialah bertanggung jawab, terpercaya, bijak
menyikapi suatu permasalahan, humanis dan pendengar yang baik terhadap keluh
dan kesah orang lain, memberi solusi, mengayomi dan mendampingi, memiliki
sikap rendah hati serta tidak bersikap angkuh