Tulisan ini bertujuan memberi gambaran tentang perkotaan kolonial di Kota Serang pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda (Abad XIX-XX), dilihat dari perspektif arkeologis dan historis. Dengan menggunakan metode penelitian arkeologi (survei permukaan) dilengkapi dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara (sejarah lisan), dapat diketahui bahwa pada masa kolonial Belanda telah terjadi Perubahan wilayah permukiman di Kota Serang yang cukup pesat dan siginifikan, sehingga penting diungkapkan ke permukaan. Perubahan terjadi terutama dalam pembagian wilayah perkotaan dan fungsi bangunan. Secara umum wilayah permukiman di Kota Serang ketika itu terbagi ke dalam 3 bagian wilayah, yaitu: pemukiman, perkantoran, dan perdagangan. Pembagian ini sebagai hasil kajian melalui bangunan lama periode kolonial dan tinggalan budaya materi lainnya yang masih ada sekarang. Seiring dengan pembagian wilayah tersebut, juga telah terjadi Perubahan bentuk dan gaya arsitektur bangunan menjadi bergaya Indis atau pencampuran antara gaya Eropa dan gaya lokal. Hal ini tampak pada bentuk bangunan tinggi, dinding tebal, bentuk atap joglo, memiliki teras atau koridor di sepanjang bangunan atau pada sebagian luar bangunan. Selain perbahan secara fisik, Perubahan non fisik juga terjadi ditandai dengan adanya Perubahan pola sikap atau perilaku. Masyarakat Kota Serang menjadi lebih terbuka terhadap masuknya unsur budaya asing. Juga lebih toleran terhadap perbedaan kebiasaan antar etnis yang beragam dalam masyarakat heterogen