Fenomena perbedaan perilaku sosial politik di kalangan kiai, dalam banyak hal, dipengaruhi oleh sekurang-kurangnya dua faktor. Pertama, faktor posisi sosial kiai, yang menurut studi-studi terdahulu, memperlihatkan adanya suatu kekuatan penggerak Perubahan masyarakat. Kedua, faktor kekuatan personal yang diwarnai pemikiran teologis yang menjadi dasar perilaku yang diperankannya. Hubungan kausalitas antara kedua faktor inilah yang kemudian dielaborasi secara kritis dalam tulisan ini. Dalam masyarakat Islam, kiai merupakan salah satu elit yang mempunyai kedudukan sangat terhormat dan berpengaruh besar pada perkembangan masyarakat tersebut. Kiai menjadi salah satu elit strategis dalam masyarakat karena ketokohannya sebagai figur yang memiliki pengetahuan luas dan mendalam mengenai ajaran Islam. Lebih dari itu, secara teologis ia juga dipandang sebagai sosok pewaris Nabi (waratsat al-anbiya).Secara spesifik, masalah pokok studi ini difokuskan pada deskripsi peran sosial politik kiai dalam medan sosial politik yang tumbuh dan berkembang,, khususnya pada masyarakat transisi. Dari beberapa kasus yang diamati berkenaan dengan peran sosial politik kiai di wilayah Cirebon dan Bandung diperoleh kesimpulan, ada hubungan antara persepsi teologis dengan perilaku sosial politik kiai. Perbedaan persepsi teologis para kiai memperlihatkan adanya perbedaan perilaku sosial politik yang diperankannya. Persepsi teologis serta perilaku sosial politik kiai tertentu tidak secara otomatis menghasilkan peran pengubah pada masyarakat sekitarnya