research

Biometric Analysis of Otolith (Sagitta) for the Stock Separation of Skipjack Tuna Katsuwonus Pelamis (Linnaeus, 1758) Landed at Tumumpa Coastal Fisheries Port Manado, North Sulawesi

Abstract

Ikan cakalang, Katsuwonus pelamis (Linnaeus, 1758) merupakan salah satu spesies yang sangat penting untuk perikanan tangkap laut Indonesia dan merupakan spesies utama urutan ke-3 perikanan tangkap dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biometri otolit (sagitta) ikan cakalang yang tertangkap dengan ‘soma pajeko' (mini purse-seine) di sekitar rumpon di Laut Sulawesi. Sejumlah 96 individu ikan cakalang berukuran panjang total (TL) 232 - 625 mm dan rata-rata TL 419,64 mm (SD = 112,78 mm) berhasil diambil otolitnya tanpa cacat. Otolit (kiri) ikan cakalang tersebut berukuran panjang (OL) 2,693 - 5,269 mm dengan rata-rata OL 3,435 mm (SD = 0,602 mm). Baik untuk ukuran maupun indeks bentuk otolit, tidak terdapat perbedaan yang nyata antara otolit kiri dan kanan untuk panjang otolit (OL), keliling otolit (OP), Form-Factor (FF) dan Roundness (Rnd), tetapi pengaruh asimetris untuk lebar otolit (OW), luas otolit (OA), Circularity (Cir), Rectangularity (Rec), Ellipticity (Ell) dan Aspect Ratio (AR) sangat nyata. Tidak terdapat perbedaan yang nyata rata-rata ukuran maupun indeks bentuk otolit antara betina dan jantan. Hubungan TL - OL mengikuti fungsi perpangkatan: OL = 1,027993*TL0,198863 (R2 = 13,18%). Rendahnya nilai R2 ini nampaknya disebabkan karena bercampurnya lebih dari satu stok ikan cakalang dalam sampel. Pemisahan data amatan dalam hubungan TL – OL menjadi dua stok yang berbeda dapat menaikkan nilai b maupun R2. Ikan cakalang yang terdapat di Laut Sulawesi ada kemungkinan terdiri dari dua stok yang berbeda. Pemisahan kedua stok tersebut terutama dapat ditentukan lewat ukuran otolitnya, stok 1 berukuran otolit relatif besar dibandingkan dengan stok 2. Hubungan ln(TL) – ln(OL) stok 1 dan stok 2 berturut-turut adalah ln(OL) = -2,282 + 0,610*ln(TL) (n = 53; r = 0,91) dan ln(OL) = -2,363 + 0,566*ln(TL) (n = 43; r = 0,64). Ada kemungkinan stok 1 merupakan stok Samudra Hindia dan stok 2 merupakan stok Samudra Pasifik Barat. Untuk menguji hipotesis ini diperlukan kajian secara genetik

    Similar works