Kajian Efek Ekstrak Metanol Akar Tambolekar (Coptosapelta Flavescens Korth) Sebagai Bronkodilator Dan Antiinflamasi

Abstract

Akar tanaman tambolekar (Coptosapelta flavescens Korth dengan sinonim Coptosapelta Tomentosa) secara etnobotani digunakan oleh masyarakat Kalimantan selain untuk mengobati sesak napas atau asma, juga untuk mengobati sakit gigi maupun rematik. Sehingga akar Tambolekar diduga memiliki efek bronkodilator dan antiinflamasi. Sementara bukti ilmiah sebagai bronkodilator tidak ada, dan data mekanisme aksi antiinflamasi juga tidak jelas. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan mengevalusi aktivitas bronkodilator dan antiinflamasi ekstrak metanol akar Tambolekar (Coptosapelta flavescens Korth). Ada tiga tahap penelitian. Penelitian tahap 1 : Mengkaji aktivitas bronkorelaksasi ekstrak metanol akar Tambolekar (EMAT) secara in vitro melalui reseptor kolinergik, reseptor histamin dan beta2 adrenoseptor. Regulasi kontraktilitas otot polos saluran napas telah diketahui melalui reseptor kolinergik, reseptor histamin dan reseptor beta2 adrenergik. Tujuan penelitian tahap 1 mengevaluasi aksi bronkorelaksasi EMAT dengan mekanisme: a) mengantagonis reseptor kolinergik, b) mengantagonis reseptor histamin dan c) menstimulasi beta2 adrenoseptor, pada cincin bronkus guinea pig. Rancangan penelitian tahap 1 adalah eksperimental menggunakan bronkus terpisah guinea pig yang satu sisi dikaitkan pada alat Transducer isometrik pada isolated organ bath, sisi lainnya dihubungkan dengan recorder di computer. Ada tiga kelompok uji : a) cincin bronkus guinea pig dalam organ bath diinkubasi 10 menit dengan 3 dosis berbeda EMAT, lalu di kontraksi dengan metakolin dosis kumulatif; b) cincin bronkus guinea pig diinkubasi 10 menit dengan 3 dosis berbeda EMAT, lalu di kontraksi dengan histamin dosis kumulatif; dan c) cincin bronkus guinea pig diinkubasi dengan 3 dosis berbeda Propranolol, diprekontraksi dengan metakolin dosis tunggal lalu diberi EMAT dosis kumulatif. Data yang diperoleh dibuat Kurva dosis respon (KDR), sehingga diperoleh Emaks dan pD2. Analisa data menggunakan ANOVA dengan p<0,05 dinyatakan berbeda bermakna. Hasil yang didapatkan pada penelitian tahap 1 adalah a) KDR cincin bronkus yang diinkubasi EMAT 2, 4 dan 6 mg/ml dikontraksi dengan metakolin, bergeser kekanan dengan Emaks lebih kecil dan pD2 (-log EC50) lebih kecil dan berbeda bermakna (P<0,05) dibandingkan kontrol; b) KDR cincin bronkus yang diinkubasi EMAT 2, 3 dan 4 mg/ml dikontraksi dengan histamin, bergeser kekanan dengan Emaks lebih kecil dan pD2 (-log EC50) lebih kecil dan berbeda bermakna (P<0,05) dibandingkan kontrol; c) KDR cincin bronkus yang diinkubasi propranolol 0,5 , 1,0 dan 1,5 μM bergeser kekanan dengan Emaks tidak berbeda bermakna (P>0,05) dan pD2 lebih kecil dan berbeda bermakna (P<0,05) dibandingkan KDR cincin bronkus yang tidak diinkubasi propranolol. Kesimpulan EMAT beraktivitas bronkorelaksasi dengan mekanisme: a) mengantagonis reseptor kolinergik secara nonkompetitif; b) mengantagonis reseptor histamin secara nonkompetitif dan c) men stimulasi reseptor beta2 adrenergik, Penelitian tahap 2: menguji aktivitas antiinflamasi EMAT dengan hambatan volume edema kaki tikus Wistar yang diinduksi carrageenan. xi Reson inflamasi fase awal melibatkan sel mast yang melepaskan mediator histamin, serotonin, dan fase lambat pembentukan prostaglandin yang dikatalisir oleh enzim cycloxygenase (COX). Untuk membuktikan akar tambolekar berefek antiinflamasi khususnya pada inflamasi fase awal, dengan pembentukan edema. Dan sekaligus ingin mengetahui EMAT bersifat mencegah atau mengobati inflamasi. Maka tujuan tahap 2 menguji aktivitas antiinflamasi EMAT setelah induksi carrageenan pada kaki tikus Wistar. Rancangan penelitian tahap 2 adalah eksperimental menggunakan tikus Wistar jantan yang diberi EMAT peroral 1 jam sebelum, saat dan 1 jam setelah induksi carrageenan. Pengukuran volume edema kaki tikus menggunakan alat Plethysmometer, dilaksanakan setiap jam setelah induksi carrageenan sampai jam ke 6 dilanjutkan jam ke 24. Analisa data menggunakan ANOVA dengan p<0,05 dinyatakan berbeda bermakna. Hasil yang diperoleh adalah persen hambatan volume edema pada EMAT dosis 1200 mg/kg BB terjadi pada fase awal dan lambat bila pemberiannya 1 jam sebelum diinduksi carrageenan. EMAT dosis 1200 mg/kg BB pada saat dan 1 jam setelah induksi carrageenan, dan dosis 600 mg/kg BB 1 jam sebelum, saat dan 1 jam setelah induksi carrageenan, persen hambatan volume edema terjadi pada fase lambat. Kesimpulan EMAT dosis 600 mg/kg BB beraktivitas antiinflamasi dengan menghambat enzim cyclooxygenase, sementara EMAT dosis 1200 mg/kg BB menghambat pelepasan mediator inflamasi histamin, serotonin bradikinin dan juga menghambat enzim cyclooxygenase. Penelitian tahap 3 : menguji aktivitas antiinflamasi dengan model men stabilkan membran RBC tikus secara invitro. Infiltrasi leukosit terjadi selama respon inflamasi karena perannya sebagai bagian dari pertahanan tubuh terhadap inflamasi. Sel-sel ini melepaskan isi lisosomnya, yang menyebabkan kerusakan jaringan dan inflamasi lebih lanjut, dan memicu pelepasan fosfolipase A2 (PLA2). Isi lisosom neutrofil juga menginduksi degranulasi sel mast sehingga melepaskan histamin pada inflamasi fase awal. Karena membran red blood cell (RBC) memiliki karakteristik yang mirip dengan membran lisosom, dengan menstabilkan membran RBC yang diinduksi hipotonisitas analog dengan menstabilkan lisosom sehingga menghambat enzym lisis seperti PLA2 dan menghambat degranulasi sel mast sehingga menghambat pelepasan histamin. Tujuan tahap 3 untuk mengkaji aktivitas antiinflamasi EMAT dengan menstabilkan membran RBC tikus Wistar yang diinduksi hiposalin. Rancangan penelitian juga eksperimental dengan menggunakan Red Blood Cell (RBC) tikus Wistar yang diberi berbagai konsentrasi EMAT dan Indometasin sebagai kontrol. Kemudian dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 560 nm di spektrofotometer. Hasil yang diperoleh adalah EC50 pada EMAT (1,905 ± 0,119 ) mg/ml lebih kecil dan berbeda bermakna ( p<0,05) dibandingkan EC50 Indometasin (10,288 ± 0,212 ) mg/ml. Kesimpulan aktivitas antiinflamasi dengan menstabilkan membran sel darah merah pada EMAT lebih kuat dibandingkan Indometasin, Dari hasil penelitian tahap 1, 2 dan 3 menunjukkan ekstrak metanol akar tambolekar terbukti beraktivitas bronkodilator dengan mekanisme mengantagonis reseptor kolinergik secara nonkompetitif, mengantagonis reseptor histamin secara nonkompetitif dan menstimulasi reseptor beta2 adrenergik pada cincin bronkus guineapig. Dan beraktivitas antiinflamasi dengan menghambat edema kaki tikus yang diinduksi carrageenan, serta menstabilkan membran sel darah merah tikus. Kata kunci :Ekstrak metanol akar Tambolekar (C.flavescens Korth), bronkus guinea pig, bronkorelaksasi, antiinflamasi, carrageenan, stabilisasi membran RB

    Similar works