Hubungan Antara Perubahan Tinggi Badan Dengan Perubahan Kelainan Refraksi

Abstract

Tujuan: Untuk menganalisis korelasi antara perubahan tinggi badan dan perubahan kelainan refraksi Metode: Serangkaian pemeriksaan ketajaman visual dan refraksi non-sikloplegik dan pengukuran Tinggi Badan pada siswa kelas I-IX Sekolah Negeri Satu Atap di Lesanpuro selama 6 bulan dengan 3 interval pengukuran. Hasil: 109 mata dari 59 siswa berusia antara 6 hingga 16 tahun (rata-rata 12,46 ± 2,53 tahun) dipilih sebagai subjek. Sembilan belas subjek adalah pria dan empat puluh wanita. Tinggi rata-rata semua subjek pada awal pengukuran adalah 138,87 cm ± 15,12, 139,77 cm ± 15,98 pada bulan ketiga dan 141,39 cm ± 14,63 pada bulan keenam. Analisis statistik menggunakan uji korelasi menunjukkan bahwa ada korelasi dengan kekuatan lemah pada setiap periode pengukuran dengan asosiasi yang tidak signifikan untuk kelainan refraksi miopia (r 0,05). Sedangkan untuk hiperopia, ditemukan bahwa ada korelasi dengan kekuatan sedang pada setiap periode pengukuran tetapi asosiasi juga tidak signifikan (r> 0,4, p> 0,05). Dari hasil regresi, kami memperoleh koefisien regresi 0,008 untuk miopia berarti bahwa kelainan refraksi akan meningkat sebesar 0,008 dioptri untuk setiap kenaikan 1 cm. Sedangkan untuk hyperopia koefisien regresi adalah - 0,015 berarti bahwa kelainan refraksi akan berkurang sebesar 0,015 dioptri untuk setiap kenaikan 1 cm. Kesimpulan: Perubahan tinggi badan memiliki korelasi dengan kelainan refraksi tetapi kekuatan hubungan rendah dan regresi tidak signifikan

    Similar works