Penelitian ini dilakukan melihat kajian terkait fenomena kebahasaan Al-Qur’ān yang menyasar pada wilayah invisibilitas ayat masih sangat minim. Sedang, elipsis (ḥadhf) sebagai salah satu teori penafsiran banyak ditemukan di dalam Al-Qur’ān itu sendiri. Surat Al-’Alaq dipilih sebagai objek material karena surat ini memiliki keistimewaan menjadi wahyu yang pertama kali diturunkan, disamping memiliki struktur kebahasaan yang unik. Masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah 1.) Bagaimana keberadaan ḥadhf pada surat Al-‘Alaq?, 2.) Bagaimana keberadaan taqdīrāt dari kalimat yang maḥdhūfāt pada ayat-ayat di dalam surat Al-‘Alaq?, 3.) Bagaimana implikasi atas ’ījāz ḥadhf yang terjadi pada ayat-ayat di dalam surat Al-‘Alaq?. Penelitian ini dilakukan guna mencari keberadaan maḥdhūfāt dan taqdīrāt untuk kemudian akan dianalisis implikasi keberadaan keduannya pada surat Al-’Alaq. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kategori ḥadhf yang ada di dalam surat Al-’Alaq, jika dilihat dari sisi bentuknya terdapat dua kategori yaitu ḥadhf al-quyud dan ḥadhf al-jumlaḥ, lalu jika dilihat dari sisi kesederhanaan dan susunannya terdapat satu ketegori yaitu ḥadhf al-’ifrād. Sementara bentuk taqdīrāt dan jins al-maḥdhūfāt yang ada terdiri dari tiga jenis yaitu ḥadhf al-maf‘ūl bīh, ḥadhf ḥāl, dan ḥadhf jawāb al-sharaṭ. Implikasi dari terjadinya ḥadhf pada surat Al-’Alaq secara intern yaitu adanya keyakinan bahwa tidak disebutkannya ḥadhf karena memuat makna yang besar, dan untuk membuat efek simplifikasi serta struktur kebahasaan ayat yang berima sehingga dapat membuktikan bahwa Al-Qur’ān memiliki tingkatan faṣāhah dan balāghah yang tinggi, adapun secara ekstern dapat menjadi ladang pahala bagi pemikir yang memikirkan nas, dan menambah pemahaman yang komprehesif bagi pembaca