research

Kota Bogor dalam Tarik Menarik Kekuatan Lokal dan Regional

Abstract

Kota Bogor dahulu bernama Pakuan, merupakan ibu kota pemerintahan kerajaan Pajajaran yang didirikan pada tahun1482. Bogor merupakan salah satu kota pedalaman terpenting di era kolonial mengingat Bogor (dahulu bernama Buitenzorg) pernah berfungsi sebagai ibu kota pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Banyak artifak fisik kota yang dibangun pada masa kolonial ini, salah satunya adalah istana Bogor. Karakter arsitektur kota Bogor juga turut ditentukan oleh pemberlakuan zona permukiman etnis (Wijkenstelsel). Setelah Indonesia merdeka, kota ini pun lambat laun kehilangan kedudukan sentralnya seperti pada masa kolonial. Pada tahun 1976 dikeluarkan Instruksi Presiden tentang Jabotabek di mana kota Bogor ditetapkan sebagai salah satu kota penyangga (hinterland) ibukota dan sebagai kota permukiman (dormitory town). Semakin mudahnya akses dan singkatnya waktu tempuh Jakarta- Bogor menyebabkan Bogor menjadi salah satu daerah tujuan untuk bermukim. Kota Bogor tumbuh sebagai kota berbasis pemukiman para pekerja yang mencari nafkah di Jakarta. Fenomena commuter (penglaju) di kota Bogor terlihat dari tingginya jumlah perjalanan menuju Jakarta tiap harinya baik menggunakan.kendaraan pribadi, kendaraan umum, maupun KRL. Secara fisik kota Bogor memang memiliki banyak peninggalan sejarah yang memberi kontribusi pada karakter kota. Walaupun demikian, karena fenomena extending metropolitan yang terjadi saat ini, karakter kota Bogor yang bersejarah tersebut sekarang mulai pudar oleh desakan budaya komersial urban. Saat ini kota Bogor merupakan kota yang merepresentasikan perpaduan kultur tradisional Sunda, budaya kolonial, dan modernitas kota metropolitan. Tarik menarik antara kekuatan lokal dan regional sedang berlangsung di kota ini. Terdapat 3 tipe kawasan yang membentuk identitas kota Bogor saat ini yaitu kawasan historis kolonial, kawasan pembangunan ekonomi internal, dan kawasan permukiman yang terkait dengan pembangunan regional (pola komuter). Walaupun saat ini kawasan historis kolonial merupakan kawasan yang paling tidak berkembang di Bogor, kawasan dengan konsep garden city ini memiliki kontribusi yang paling kuat pada tingkat place attachment penduduk Bogor. Dari fenomena ini dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan identitas perkotaan pada kota- kota berskala regional, aspek konservasi dan integrasi kawasan historis harus dipertimbangkan secara matang dengan mengintegrasikan antara aspek morfologi ruang dengan pola mobilitas masyarakatnya

    Similar works