5,016 research outputs found

    Pengaruh Penggunaan CMC-Na Sebagai Bahan Pengikat Terhadap Sifat Fisik Tablet Ekstrak Etanolik Seledri (Apium Graveolens L.) Dengan Metode Granulasi Basah

    Get PDF
    Tanaman seledri (Apium graveolens L.) sejak dahulu telah digunakan sebagai tanaman obat. Seledri biasanya digunakan dalam bentuk rebusan yang dianggap kurang praktis sehingga perlu digunakan cara yang lebih praktis yaitu dengan dibuat tablet. Bahan pengikat memegang peranan penting dalam pembuatan tablet, yaitu menghasilkan tablet yang kompak. Salah satu bahan pengikat yang digunakan adalah Karboksimetilselulosa natrium (CMC–Na). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi kadar CMC-Na sebagai bahan pengikat terhadap sifat fisik tablet ekstrak etanolik seledri Ekstrak seledri dibuat secara maserasi dengan etanol 50% dan tablet dibuat dengan metode granulasi basah. Tablet ekstrak seledri dibuat dalam lima formula dengan konsentrasi bahan pengikat yang berbeda, pada formula I = 0,0%, formula II = 1,5%, formula III = 3,0%, formula IV = 4,5% dan formula V = 6,0%. Granul kering diuji waktu alir, sudut diam, dan pengetapan. Tablet yang dihasilkan diuji sifat fisik meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur. Data dianalisis dengan pendekatan teoritis dan statistik menggunakan analisis Anova satu jalan, dan dilanjutkan uji t dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaaan konsentrasi bahan pengikat CMC-Na memberikan pengaruh terhadap sifat fisik tablet ekstrak etanolik seledri dilihat dari kekerasan tablet, kerapuhan tablet, dan waktu hancur tablet. Semakin besar konsentrasi bahan pengikat CMC-Na menyebabkan kekerasan tablet meningkat, kerapuhan tablet menurun, dan waktu hancur tablet semakin lama

    Validasi Metode dan Penetapan Kadar Nitrit (NO2) pada Hasil Rebusan Sayuran Hijau (Kangkung, Brokoli, Seledri) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis

    Full text link
    Telah dilakukan penelitian tentang penetapan kadar nitrit (NO2) pada beberapa sayuran yaitu kangkung, brokoli, dan seledri. Sayur kangkung diperoleh dari kebun warga daerah Kenten, Palembang, sedangkan sayur brokoli dan seledri diperoleh dari salah satu swalayan di kota Palembang. Kandungan nitrit ditentukan dari hasil air rebusan sampel sayuran dengan metode spektrofotometer UV-Vis. Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai kandungan nitrit untuk hasil air rebusan sayuran dengan variasi waktu 5, 15, 20, 25, dan 30 menit. Untuk hasil air rebusan sayur kangkung diperoleh 0,664 mg/kg; 0,665 mg/kg; 0,685 mg/kg; 0,702 mg/kg; 0,710mg/kg. Untuk hasil air rebusan sayur brokoli diperoleh 0,646 mg/kg; 0,647 mg/kg; 0,650 mg/kg; 0,680 mg/kg; 0,704 mg/kg. Untuk hasil air rebusan sayur seledri diperoleh 0,718 mg/kg; 0,730 mg/kg; 0,818 mg/kg; 0,821 mg/kg; 0,849 mg/kg. Dari hasil perebusan pada sayuran kangkung, brokoli, seledri masih aman sesuai dengan ketentuan ADI (Acceptable Daily Intake)/ jumlah asupan harian menurut WHO (World Health Organization)

    Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Seledri (Apium garveolens) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Candida albicans In Vitro

    Get PDF
    Latar Belakang :Candida albicans merupakan jamur yang paling sering menyebabkan infeksi oportunistik yang menginfeksi oral apabila terdapat faktor predisposisi yangmendasari dalam tubuh pejamu.Penelitian dilakukan untuk mengetahui efektivitas tanaman obat berbahan alam sebagai antijamur.Seledri (Apium graveolens) pada umumnya digunakan sebagai penurun tekanan darah (antihipertensi), tetapi fungsinya sebagai antijamur belum banyak diteliti. Seledri (Apium graveolens) mengandung beberapa senyawa aktif, yaitu berupa flavonoid berupa apigenin dan quercetrin 1,7%, saponin 0,36%, tannin 1%, limonene, sedanoline, kumarin dan minyak atsiri 0,33% yang diketahui memiliki aktivitas antijamur yang efektif dengan cara merusak dinding sel jamur. Tujuan : untuk mengetahui daya antijamur ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens) terhadap Candida albicans secara in vitro. Metode : Penelitian ini adalah eksperimental murni laboratoris dengan metodepost-test control group design only. Sampel penelitian adalah Candida albicans yang diperoleh secara isolatif dari biakan murni Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ekstrak etanol daun seledri 0%, 20%, 40% dan 80% diuji daya antijamur terhadap Candida albicans menggunakan metode difusi sumuran. Pada media Mueller Hinton Agar diusapkan biakan jamur Candida albicans secara merata kemudian dibuat sumuran dengan diameter 6 mm yang kemudian diisi dengan ekstrak etanol daun seledri berbagai konsentrasi dan aquadest steril sebagai konsentrasi 0 % (kontrol negatif). Diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam, kemudian diukur zona radikal (zona bening) yang terbentuk dengan vernier calipers. Hasil : Ekstrak etanol daun seledri 20 %, 40% dan 80% mempunyai daya antijamur yang efektif terhadap Candida albicans. Dengan rerata diameter zona hambat dari diameter terkecil hingga diameter terbesar pada masing- masing sumuran adalah 4,76 mm, 6,66 mm dan 8,25 mm. hasil uji One-Way ANOVA didapatkan nilai sig 0,000 (sig < 0.05) dan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh konsentrasi ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens) terhadap hambatan pertumbuhan Candida albicans. Kesimpulan : Konsentrasi ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens) berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan C. alb in vitro. Konsentrasi ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens) 80% paling berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan Candida albicansjika dibandingkan dengan konsentrasi 0%, 20% dan 80%

    PENGARUH REBUSAN SELEDRI TERHADAP TEKANAN DARAH LANSIA DENGAN HIPERTENISI DI DESA HULAAN KECAMATAN MENGANTI KABUPATEN GRESIK

    Get PDF
    Semakin meningkatnya UHH (usia harapan hidup) menyebabkan penduduk usia lanjut terus meningkat. Meningkatnya populasi lansia akan menyebabkan permasalahan berupa masalah kesehatan, salah satunya adalah penyakit hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari rebusan seledri terhadap tekanan darah lansia dengan hipertensi di Desa Hulaan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan rancangan Case control design dengan populasi lansia yang hipertensi tingkat pertama sebesar 12 orang, dengan besar sampel seluruh lansia dengan hipertensi tingkat pertama sebesar 12 orang dan cara pengambilan sampel menggunakan total sampling lalu dibagi menjadi 6 orang kelompok kasus dan 6 orang kelompok kontrol dengan tekhnik random allocation. Variabel independen rebusan seledri dan variabel dependen tekanan darah. Pengumpulan data dilakukan dengan alat ukur tekanan darah lalu dicatat dilembar rekapitulasi dan dianalisis menggunakan uji Fisher exact dengan α=0,05. Hasil penelitian ini didapatkan dari 6 orang kelompok kasus yang diberi rebusan seledri semuanya mengalami penurunan tekanan darah, sedangkan pada kelompok kontrol dari 6 orang yang tidak diberi rebusan seledri hanya 1 orang yang mengalami penurunan. Hasil uji Fisher Exact didapatkan ρ (0,015) < α (0,05), berarti hipotesis penelitian diterima yaitu ada pengaruh rebusan seledri terhadap tekanan darah lansia dengan hipertensi di Desa Hulaan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Simpulan dari penelitian ini adalah ada pengaruh rebusan seledri terhadap tekanan darah lansia dengan hipertensi. Diharapkan para penderita hipertensi menjaga pola makan, memperbanyak mengkonsumsi buah dan sayur yang mengandung kalium, serta mengubah pola hidup sehat

    Kajian Sistem Penanaman Tumpangsari Kentang (Solanum Tuberosum L.) di Lahan Dataran Tinggi Rancabali, Kabupaten Bandung

    Full text link
    Assessment on intercropping system of potato was conducted during the dry season (May-September) in2001 in Alamendah village, Rancabali district, Bandung regency, with the altitude of 1,400 m above sea level.Randomized block design was used with three replications of five cropping system treatments, namely (1) potato; (2)potato + celery; (3) potato + welsh onion; (4) welsh onion; and (5) celery. The tested varieties were Granola forpotato, Papak Kuningan for welsh onion, and Bamby for celery. The plant spacing used for the two potato systemswere as follows: 70 cm x 30 cm monoculture, 70 cm x 50 cm for intercropping. The plant spacing of celery and welshonion both planted in intercropping and monoculture methods were each of 20 cm x 20 cm. The areas of all treatmentswere each of 60 m2 . Results of assessment showed that: (1) average plant heights of potato were not significantlydifferent between those intercropping systems of potato-celery and potato-welsh onion; (2) average number of shootsper plant and visually observed plant vigor of welsh onion and celery were greater for monoculture system than that ofintercropping; (3) yields of both potato intercropped with celery and welsh onion were lower than those ofmonoculture, but when yield of the intercropping was made equivalent to potato, the land productivity would begreater if intercropped with potato-celery or potato-welsh onion with highest land equivalent ratio (NKL) of more thanone and the highest land equivalent ratio obtained by potato + celery intercropping was 1.19; (4) intercropping systemof potato + celery was able to lessen attack intensity of thrips (44%) and Myzus persicae (55,6%); and (5)intercropping potato-celery was the most profitable with marginal return level of 81,45 percent.Key words: solanum tuberosum L., intercropping, highland, income, Bandung Pengkajian sistem penanaman tumpangsari kentang pada lahan dataran tinggi telah dilaksanakan di DusunCibodas, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Bandung pada musim kemarau (MK) 2001, mulai bulan Mei-September 2001. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut. Penelitian menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan sistem penanaman dan tiga ulangan. Kelima perlakuantersebut terdiri dari: (1) kentang monokoltur, (2) tumpangsari kentang + seledri, (3) kentang + bawang daun, (4)bawang daun monokultur, dan (5) seledri monokultur. Varietas kentang yang digunakan adalah Granola, bawang daunvarietas Papak Kuningan, sedangkan seledri varietas Bemby. Jarak tanam kentang monokultur 70 x 30 cm, kentangtumpangsari 70 x 50 cm, sedangkan seledri dan bawang dan baik yang ditanam tumpangsari maupun monokultur 20 x20 cm. Luas plot masing-masing perlakuan 60 m2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tinggi tanaman kentangyang ditanam secara tumpangsari dengan bawang daun lebih tingi dari pada yang ditumpangsarikan dengan seledrinamun hampir sama dengan yang ditanam monokultur, (2) Jumlah tunas tanaman bawang daun maupun seledri lebihbanyak pada sistem monokultur dibandingkan dengan sistem tumpangsari, (3) Hasil kentang sistem penanamantumpangsari baik dengan seledri maupun bawang daun lebih rendah dari pada secara monokultur, namun jika hasiltanaman yang ditumpangsarikan disetarakan dengan kentang, maka produktivitas lahan lebih tinggi diperoleh dengansistem penanaman tumpangsari kentang seledri atau bawang daun di mana nilai kesetaraan lahan (NKL) &gt; 1. NKLtertinggi diperoleh pada tumpangsari kentang + seledri, yaitu 1,19, (4) Tumpangsari kentang + seledri dapatmenurunkan serangan hama daun Trips sebesar 44 persen dan hama kutu daun Myzus persicae sebesar 55,6 persenpada tanaman kentang, dan (5) Sistem penananam tumpangsari kentang + seledri secara finansial palingmenguntungkan, dengan tingkat pengembalian marginal 81,45 persen

    Potensi Air Cucian Beras Sebagai Pupuk Organik Pada Tanaman Seledri (Apium Graveolens L.)

    Get PDF
    Rice washing water is a waste or waste from households that have not been widely used. The purpose of this research is to analyze the influence of rice washing water on growth and yield of celery plants and to see the potency of rice washing water as organic fertilizer in celery plant.The study was conducted in November 2017 - February 2018. The study was prepared according to a Randomized Block Design with 4 treatments and 4 replications namely A0: control, A1: wash water of first rinse rice, A2: water wash of second rinse rice and A3: water washing rice third rinse.The number of replicates as many as 4 and each there are 2 units of plants so that the total plant observed as many as 32 plants. The results showed that rice washing water had no significant effect on the growth of celery plants. The A3 treatment (third rinse washing water) resulted in more leaves than the other treatments. Rice laundry water is potential for use in celery plants but at a more dilute concentration (third rinse washing water)

    Pertumbuhan dan Hasil Seledri (Apium Grafeolens L.) pada Media Pasir Setelah Diberikan Gandasil D dan Atonik

    Full text link
    Improvement growth and yield of celery in a polybag with sand media needs fertilizer and growth hormones tostimulate plant growth. The aim of this study was to determine the effect Gandasil D and Atonik on the growth andyield of celery (Apium grafeolens L.) grown in sand in polybag. The experiment was arranged in FactorialRandomized Block Design to tested liquid fertilizer Gandasil D concentration (without and with 1.0 g/L, 1.5 g/Land 2.0 g/L) and growth hormone Atonik concentrations (without and with 1.5 mL/L, and 2.0 mL/L). The resultsshowed that only liquid fertilizer Gandasil D which showed a significant effect on the growth of celery.Application of Gandasil D at a concentration of 2.0 gwas/L the best concentration to increase plant height,number of tillers, leaf number and fresh shoot weight
    corecore