60,153 research outputs found
KERAGAMAN KEDELAI (Glycine max L.) VARIETAS DETAM 3 HASIL IRADIASI SINAR GAMMA BERDASARKAN KARAKTERISTIK AGRONOMI DI TANAH SALIN
AWANG GHOSYPEA. 23030113140037. Keragaman Kedelai (Glycine max L.)
Varietas Detam 3 Hasil Iradiasi Sinar Gamma Berdasarkan Karakteristik
Agronomi di Tanah Salin. (Pembimbing: SUTARNO dan FLORENTINA
KUSMIYATI).
Mutasi merupakan salah satu teknik pemuliaan tanaman yang digunakan
untuk memperbaiki dan mengubah sifat genetik tanaman. Tujuan dari penelitian
ini adalah mengkaji pengaruh iradiasi sinar gamma terhadap kedelai varietas
detam 3 generasi M1 berdasarkan marka agronomi di tanah salin (2 dS/m),
keragaman hasil mutasi. Penelitian telah dilakukan pada 7 Agustus – 23
November 2017 di green house dan Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan
Tanaman, Laboratorium Ekologi dan Produksi Tanaman Fakultas Peternakan dan
Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua
faktor, faktor pertama perlakuan dosis iradiasi 160, 208, 256, 304, 352, 400, 448,
496, 544, 592, 640 Gy. Faktor kedua tanah non-salin dan tanah salin 2 dS/m,
Parameter yang diamati meliputi (1) tinggi tanaman (2) jumlah daun, (3) jumlah
polong, (4) berat polong, (5) jumlah biji, (6) berat biji. Data dianalisis
menggunakan skoring tiap masing-masing tananman.
Semua perlakuan iradiasi menghasilkan tinggi tanaman lebih rendah
dibandingkan kontrol pada tanah non-salin dan salin 2 dS/m. Perlakuan iradiasi
dosis 448, 496, dan 592 Gy menghasilkan jumlah daun lebih tinggi pada tanah
non-salin, perlakuan 160, 208, 400, 448 dan 496 Gy ditanah salin 2 dS/m jumlah
daun meningkat dibanding kontrol. Semua perlakuan iradiasi menghasilkan
jumlah polong lebih rendah dibandingkan kontrol pada tanah non-salin, terjadi
peningkatan jumlah polong pada tanah salin 2 dS/m dengan dosis 352 Gy. semua
perlakuan iradiasi menghasilkan berat polong lebih rendah dibandingkan kontrol
pada tanah non-salin, terjadi peningkatan berat polong pada tanah salin 2 dS/m
dengan dosis 352 Gy. semua perlakuan iradiasi menghasilkan jumlah biji lebih
rendah dibandingkan kontrol pada tanah non-salin, terjadi peningkatan jumlah biji
pada tanah salin 2 dS/m dengan dosis 352 Gy. semua perlakuan iradiasi
menghasilkan berat biji lebih rendah dibandingkan kontrol pada tanah non-salin,
terjadi peningkatan berat biji pada tanah salin 2 dS/m dengan dosis 352 Gy. Hasil
dendogram yaitu 1 perlakuan yang ekstrim merupakan hasil dari penyinaran 592
Gy ditanah non-salin, dan 1 perlakuan tergolong ekstrim merupakan hasil dari
penyinaran 352 Gy ditanah salin 2 dS/m.
Perlakuan dosis 352 Gy ditanah salin 2 dS/m dapat meningkatkan produksi.
Hasil skoring karakter agronomi terdapat 4 tanaman dengan kriteria tahan dan 2
tanaman dengan kriteria sangat tahan. Dosis iradiasi yang berbeda-beda
menghasilkan keragaman terhadap karakter agronomi pada tanah non-salin dan
salin2 dS/m
CEKAMAN SALINITAS TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN
Makalah ini merupakan kajian pustaka masalah salinitas yang terdapat di
permukaan bumi. Tanah salin tersebar hampir di seluruh permukaan bumi ini, namun
yang terbesar terdapat di daerah pasang surut. Kondisi tanah salin seperti ini merupakan
cekaman bagi tanaman yang tidak toleran. Berbagai jenis tanaman mempunyai daya
tahan yang berbeda dalam menghadapi kondisi salin dimana tanaman tumbuh, sehingga
pengaruhnya terhadap berbagai aktivitas kehidupan yang terkait dengan pertumbuhan
juga bervariasi. Pengaruh yang bervariasi tersebut karena akibat dari cara adaptasi
tanaman yang berbeda-beda. Cara adaptasi yang dilakukan tanaman agar mampu
bertahan hidup pada lahan dalam kondisi salin secara umum ada dua macam yaitu
penghindaran (avoidance) dan toleran (tolerance). Secara umum pertumbuhan tanaman
akan mengalami gangguan bila menghadapi lingkungan dengan kondisi salin, kecuali
bagi tanaman yang toleran. Pengaruh yang ditimbulkan oleh kondisi salin tersebut
karena efek dari Na+ dan Cl-. Efek dari kedua ion tersebut akan berakibat buruk bagi
pertumbuhan bahkan fatal bagi tanaman yang peka
Oceanographic Profiling Observations from the MOCE-3 Cruise: 27 October to 15 November 1994
This report contains results from the third cruise of the Marine Optical Characterization Experiment (Fig. 1). A variety of spectroradiometric observations of the upper water column and atmosphere were made by investigators from the University of Miami, NOAA, CHORS and MLML. Data presented here were obtained by oceanographic CTD profiler: salinity, temperatllre, dissolved oxygen, beam attenuation and chlorophyll-a fluorescence; and by water samplers: total suspended matter and suspended organic carbon and nitrogen, salinity, and dissolved oxygen
Self-Sustained Reaction Fronts in Porous Media
We analyze experimentally chemical waves propagation in the disordered flow
field of a porous medium. The reaction fronts travel at a constant velocity
which drastically depends on the mean flow direction and rate. The fronts may
propagate either downstream and upstream but, surprisingly, they remain static
over a range of flow rate values. Resulting from the competition between the
chemical reaction and the disordered flow field, these frozen fronts display a
particular sawtooth shape. The frozen regime is likely to be associated with
front pinning in low velocity zones, the number of which varies with the ratio
of the mean flow and the chemical front velocities.Comment: 4 pages, 5 figure
Oceanographic results from the VERTEX 5 particle-trap experiment across the California current May-July 1984
- …
