22,203 research outputs found
Alat Pemarut Batang Sagu Portable
Salah satu UMKM yang mengolah sagu untuk dijadikan mie sagu adalah “Mie Sagu Barokah” milik Bapak Rahmat yang memiliki kapasitas produksi 50 kg sampai 70 kg per hari. Seperti biasanya, dalam mengolah batang sagu untuk dijadikan pati sagu masih menggunakan cara tradisional dan semi mekanis. Pemarutan batang sagu untuk dijadikan pati sagu dilakukan di rumah yang juga merupakan tempat USAha mie sagu.Dari hasil survey dan wawancara, proses pemarutan batang sagu yang selama ini dilakukan memiliki beberapa kelemahan yaitu 1.Ongkos angkut batang sagu masih mahal, 2.Memerlukan tempat yang luas, 3.Suara mesin pemarut yang sangat menggangu tetangga, 4.Bau dari tumpukan kulit batang sagu.Tujuan penelitian ini adalah membuat alat pemarut batang sagu portable dan melakukan analisa ongkos produksi penggunaan alat pemarut batang sagu portable. Dari hasil penelitian diperoleh waktu rata-rata pemarutan tual batang sagu sebesar 4,14 menit dengan biaya sebesar Rp. 226,79/kg
Kondisi Lahan Tumbuhan Sagu di Desa Rumahkay Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kondisi lahan tempat tumbuh tumbuhan sagu, menetapkan tingkat kesesuaian lahan tumbuhan sagu serta mendeskripsikan potensi sagu dan pola konsumsi sagu oleh masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan jarak observasi survei bebas dan tipe observasi profil pit. Kondisi lahan tempat tumbuh tumbuhan sagu tergolong baik. Jenis sagu yang ditemukan adalah sagu Tuni (Metroxylon rumphii Mart.), sagu Ihur (Metroxylon sylvestre Mart.) dan sagu Molat (Metroxylon sagu Rottb.). Luas lahan sagu di Desa Rumahkay adalah 55,5 Ha, rata-rata jumlah pohon masak tebang (MT) 24 pohon/Ha/thn dengan rata-rata produksi pati basah per pohon sebesr 700 kg. Total produksi pati kering pada lokasi penelitian adalah 449,55 ton. Pola konsumsi masyarakat terhadap sagu 10 persen, kombinasi sagu, umbian dan pisang sebesar 20 persen, kombinasi sagu, umbian, pisang dan beras sebesar 55 persen serta beras 10 persen. Jenis penganan dan pangan berbahan dasar pati sagu yang dikonsumsi adalah papeda, sagu lempeng, sinoli dan karu-karu. Frekwensi dan waktu makan sagu sebagai pangan utama maupun pangan pelengkap sebesar 65% adalah sebanyak 2 kali dalam sehari yaitu waktu pagi dan siang. Kemudian 3 kali sebanyak 25% dan satu kali sebanyak 10%. Pada umumnya mereka yang mengkonsumsi sagu satu kali dalam sehari adalah pada saat sarapan pagi atau sore hari dalam bentuk penganan (sagu lempeng, sinoli, karu-karu).
Kata kunci: kondisi, lahan, sag
ANALISIS TEKNOEKONOMI TERHADAPRN PEMARUT SAGU MEKANISRN( STUDI KASUS PABRIK GILINGAN SAGU ALUE JARENG KABUPATEN PIDIE )
Isna Juwita. 0705106010021. Analisis Teknoekonomi Terhadap Pemarut Sagu Mekanis (Studi Kasus Pabrik Gilingan Sagu Alue Jareng Kabupaten Pidie), di bawah bimbingan : Sri Hartuti, S.TP., MT Sebagai Pembimbing Utama dan Raida Agustina, S.TP., M.Sc. Sebagai Pembimbing AnggotaRINGKASANSagu merupakan bahan pangan yang mengandung karbohidrat lebih tinggi daripada bahan pangan pokok lainnya seperti beras. Tepung sagu juga dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan makanan yang lebih modern dan sudah dikenal secara luas oleh masyarakat, bersifat lebih komersial dan diproduksi dengan alat semi-mekanis atau mekanis. Pada industri pengolahan sagu, terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti aspek teknis dan ekonomi. Analisis teknis dilakukan untuk menghitung besarnya kapasitas kerja alat pemarut sagu dan rendemen pati sagu yang dihasilkan dari alat pemarut sagu yang digunakan pada industri pengolahan sagu. Sedangkan analisis ekonomi dilakukan agar dapat diketahui seberapa besar keuntungan yang didapatkan oleh industri pengolahan sagu tersebut terhadap penggunaan mesin pemarut sagu. Penelitian ini bertujuan untuk untuk melakukan analisa baik secara teknis maupun ekonomi pada alat pemarut sagu. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data secara observasi, wawancara dan studi literatur. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang diperoleh meliputi harga awal pembelian mesin, produk yang dihasilkan seperti massa sagu dan harga sagu per batang, waktu pemarutan dan jumlah bahan bakar yang digunakan. Data primer diperoleh dengan cara wawancara langsung bersama pemilik pabrik. Sedangkan data sekunder diperoleh dengan cara mencatat spesifikasi yang ada pada mesin pemarut sagu pada pabrik tersebut. Setelah data tersebut dikumpulkan, kemudian dilakukan analisa data baik analisis teknis maupun analisis ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh hasil analisa teknis dan analisa ekonomi dari mesin pemarut sagu. Analisa teknis dari pemarut sagu mekanis pada pabrik Gilingan Sagu Alue Jareng adalah sebesar 411,13 kg/jam untuk nilai rata-rata kapasitas kerja alat pemarut, dan rendemen pati sagu sebesar 25%. Sedangkan untuk analisa ekonomi, biaya tetap yang harus dikeluarkan oleh pabrik adalah sebesar Rp.2.520.000/thn, biaya tidak tetap adalah sebesar Rp.113.520/jam, biaya pokok per satuan waktu sebesar Rp.114.570/jam, biaya pokok per satuan produksi sebesar Rp. 279/kg, dan nilai B/C Ratio sebesar 2,76 karena nilai B/C Ratio lebih besar daripada 1, maka penggunaan mesin pemarut sagu layak diusahakan pada pabrik tersebut
Penggunaan Pati Sagu Termodifikasi dengan Heat Moisture Treatment sebagai Bahan Substitusi untuk Pembuatan Mi Kering
Penelitian penggunaan pati sagu termodifikasi sebagai bahan substitusi untuk pembuatan mi telah dilaksanakan. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh pati sagu termodifikasi HMT dengan karakteristik yang sesuai untuk diaplikasikan pada pembuatan produk mi kering, serta mendapatkan formula (perbandingan pati sagu termodifikasi dan tepung terigu) yang dapat menghasilkan mi yang memenuhi syarat mutu mi kering. Penelitian terdiri atas beberapa tahapan yaitu karakterisasi pati sagu alami, modifikasi pati sagu dengan teknik heat moisture treatment (HMT), dan aplikasi pati sagu termodifikasi HMT sebagai substitusi pada pembuatan mi. Perlakuan yang dicobakan adalah substitusi pati sagu termodifikasi HMT 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100% dan sebagai pembanding digunakan substitusi pati sagu alami 50%. Pati sagu alami diuji kadar air, kadar abu, serat kasar, kadar pati, fraksi amilosa dan amilopektin, swelling power dan kelarutan. Pati sagu termodifikasi HMT diuji kadar air, kadar pati, fraksi amilosa dan amilopektin, swelling power dan kelarutan. Produk mi kering diuji kadar air, kadar protein, kadar abu tidak larut dalam asam, keadaaan mi (bau, rasa, warna dan tekstur) sesuai SNI 8217:2015 syarat mutu mi kering, dan sifat fungsional mi diukur waktu optimum rehidrasi, cooking loss, dan daya serap air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pati sagu alami memiliki kadar air 7,48%, kadar abu 0,062%, serat kasar 0,04%, dan kadar pati 88,31%, semuanya memenuhi syarat mutu tepung sagu SNI 3729:2008, dengan kandungan fraksi amilosa 20,00%, fraksi amilopektin 39,50%, swelling power 4,35 (gr/gr) dan kelarutan 6,06%. Hasil modifikasi pati sagu secara HMT merubah sifat fungsional pati sagu yaitu meningkatkan kandungan fraksi amilosa menjadi 25,00%, kelarutan pati sagu menjadi 17,2% dan sedikit menurunkan swelling power dari pati sagu menjadi 3,63 (gr/gr). Pati sagu termodifikasi HMT dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi tepung terigu dalam pembuatan mi kering, juga sebagai bahan baku baku pengganti tepung terigu. Mi kering menggunakan 100% pati sagu termodifikasi HMT memiliki waktu optimum rehidrasi 7,5 menit yang relatif lebih lama dari waktu optimum rehidrasi mi kering pada umumnya yaitu sekitar 4 menit, juga memerlukan waktu yang lebih lama dalam pembentukan adonan untuk menghasilkan adonan yang cukup khalis dan tidak mudah patah. Dibandingkan dengan SNI 8217:2015 syarat mutu mi kering (berbahan baku tepung terigu), mi kering yang dibuat dengan substitusi pati sagu termodifikasi HMT sampai 30% memenuhi syarat mutu
Uji Kinerja Alat Pengolah Sagu Baruk (Arenga Microcarpa)
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja alat pengolah sagu baruk dan mengetahui mutu sagu yang dihasilkan. Pengolahan dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu pemarutan batang sagu, ekstraksi, pengendapan dan proses pengeringan hingga penggilingan pati sagu. Pada uji kinerja alat pengolah sagu dalam percobaan ini diperoleh kapasitas pengolahan bahan baku yaitu sebesar 100,14 kg/jam, rendemen 13,64% dan persentase kehilangan 1,51%. Hasil pengamatan mutu sagu dari uji coba alat pengolahan sagu adalah kadar air 8,16%, kadar abu 0,08%, dan serat kasar 0,1%. Pada tepung sagu yang dihasilkan tidak ditemukan adanya benda asing, serangga serta tidak ada Perubahan sifat fisik selama proses berlangsung. Untuk pengamatan keadaan pada warna, bau dan rasa adalah normal, hal ini sudah memenuhi syarat mutu Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-3729-1995
PENGARUH LAMA FERMENTASI ALAMI PATI SAGU TERHADAP KARAKTERISTIK PATI DAN MUTU MI BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG NON TERIGU (MOCAF, TEPUNG UBI JALAR FERMENTASI, TEPUNG KACANG HIJAU)
Abstrak. Pemanfaatan pangan lokal sagu dapat mengurangi konsumsi terigu dalam pembuatan mi. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pembuatan mi basah dari pati sagu terfermentasi dan substitusi tepung (MOCAF, tepung ubi jalar fermentasi, dan tepung kacang hijau). Penelitian pembuatan mi basah menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama, lama fermentasi pati sagu yang terdiri atas tiga taraf yaitu FI= 7 hari, F2=14 hari, dan F3= 21 hari. Faktor ke dua adalah substitusi pati dengan tepung (80%:20%), dengan tiga taraf yaitu S1=pati sagu fermentasi:MOCAF, S2=pati sagu fermentasi:tepung ubi jalar kuning fermentasi, dan S3=pati sagu fermentasi:tepung kacang hijau. Analisis yang dilakukan adalah uji organoleptik secara deskriftif yaitu kelengketan, elastisitas,warna, aroma, dan overall mi basah. Pembuatan mi basah menunjukkan bahwa perlakuan lama fermentasi pati sagu F1(7 hari) menghasilkan nilai elastisitas mi basah yang lebih tinggi (lebih baik) (P?0,05), dibandingkan mi basah dari pati sagu F2 (14 hari) dan F3 (21 hari), walaupun kelengketan, dan aroma asam mi basahnya rendah (kurang baik) (P?0,05). Produk mi basah terbaik yaitu mi yang terbuat dari pati sagu yang difermentasi 7 hari (F1) dengan substitusi tepung ubi jalar fermentasi, kelengketan 2,05 (lengket), elastisitas 2,43 (tidak elastis), warna 2,30 (tidak cerah) aroma asam 2,80 (tidak asam), rasa asam 2,88 (tidak asam), overall 2,60 (baik).Kata kunci: pati sagu., mi basah., mocaf., ubi jalar kuning., kacang hijau., uji deskriftif
Sifat Kimia Dan Sineresis Yoghurt Yang Dibuat Dari Tepung Kedelai Full Fat Dan Non Fat Dengan Menggunakan Pati Sagu Sebagai Penstabil
Pendahuluan: Salah satu masalah dalam pembuatan yoghurt yang dibuat dari kedelai full fat dan non fat adalah rendahnya konsistensi. Cara untuk meningkatkan konsistensi adalah dengan penambahan pati sagu.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kualitas kimia dan sineresis yoghurt yang dibuat dari tepung kedelai full fat dan non fat dengan penambahan
penstabil pati sagu pada berbagai konsentrasi.
Metode Penelitian: Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan 3 perlakuan dengan penambahan penstabil pati sagu 1%; 1,5% dan 2% dari berat tepung kedelai. Analisis pengolahan data
menggunakan uji statistik one way anova dan independent t-test.
Hasil: Berdasarkan hasil penelitian ditemukan ada pengaruh secara signifikan dari yoghurt yang terbuat dari tepung kedelai non fat dan full fat pada penambahan pati sagu 2% terhadap pH yoghurt (p<0,05), dengan pH tertinggi
yoghurt kedelai non fat adalah pada penambahan pati sagu 1,5% (4,25) dan terendah adalah pada penambahan pati sagu 1% (4,20). Tidak ada pengaruh secara signifikan yoghurt non fat dan full fat dengan penambahan pati sagu pada
berbagai konsentrasi penstabil terhadap keasaman total (p>0,05). Tidak ada pengaruh secara signifikan yoghurt non fat dan full fat dengan penambahan pati sagu pada berbagai konsentrasi penstabil terhadap sineresis (p>0,05).
Kesimpulan: Ada pengaruh penambahan pati sagu terhadap pH yoghurt yang dibuat dari tepung kedelai full fat dan non fat
- …
