727 research outputs found
Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Tennis Elbow Dextra Di Rst Dr Soedjono Magelang
Latar Belakang :Tennis elbow merupakan hal yang sangat umum bagi pasien yang mencari pertolongan medis karena nyeri di siku. Umur rata-rata pasien tennis elbow di antara 35 tahun sampai 65 tahun antara laki-laki dan wanita hampir sama.
Tujuan : Untuk mengetahui apakah sinar infra reddan massage dapat mengurangi nyeri?Untuk mengetahui apakah sinar infra red dan massage dapat meningkatkan LGS?Dan untuk mengetahui apakah sinar infra red dan massage dapat meningkatkan kekuatan otot?
Hasil : Setelah dilakukan terapi sebanyak enam kali didapatkan hasil adanya pengurangan nyeri diam dari T11 menjadi T6 1, nyeri tekan dari T1 4 menjadi T6 2, dan nyeri gerak dari T1 5 menjadi T6 3.Peningkatan LGS pada elbow,gerakan pasif dari T1 S:100 - 00 - 650menjadi T6 S:100 – 00 - 1200 dan T1 R:500 – 00 - 650 menjadi T6 R:850 – 00 – 900gerakan aktif dari T1 S:100 – 00 - 650 menjadi T6 S:100 – 00 - 1200dan T1 R:450 – 00 – 650 menjadi T6 R:650 – 00 - 850. Peningkatan kekuatan otot flexor dari T1: 5 menjadi T6 : 5, ekstensor T1 : 3 menjadi T6 : 4, pronasi T1 : 3 menjadi T6 : 4 dan supinasi T1 : 3 menjadi T6 : 4.
Metode :Penatalaksanaan Fisioterapi pada kondisi tennis elbow dextra ini menggunakanmodalitas infra red dan massage.
Kesimpulan:Infra red dan massage dapat mengurangi rasa nyeri, meningkatkan LGS dan kekuatan otot pada siku kanan dalam kondisi Tennis Elbow Dextra.Penanganan Tennis Elbow Dextra ini akan lebih berhasil jika disertai dengan kemauandan semangat untuksembuh.
Saran:Kesungguhan pasien dalam melakukan latihan harus ada agar keberhasilan tercapai, kepada fisioterapi dalam melakukan pelayanan hendaknya melakukan pemeriksaan yang teliti dan sistematis sehingga dapat memecahkan permasalahan pasien secara rinci
Penatalaksanaan infrared dan chest physiotherapy pada bronchitis acute di rsud pandan arang boyolali
Latar belakang: Karya tulis ilmiah penatalaksanaan infra red dan chest
physiotherapy pada bronchitis acute Di RSUD Pandan Arang Boyolali
dimaksudkan untuk memberikan informasi, pengetahuan, dan pemahaman tentang
kondisi bronchitis acute yang menyebabkan permasalahan fisik yang
berhubungan dengan gangguan saluran pernafasan . dan modalitas yang diberikan
pada kondisi ini adalah IR dan chest physioterapy.
Tujuan: Karya tulis imiah ini untuk mengetahui manfaat pemberian infra red dan
chest physioterapy pada kasus bronchitis acute untuk mengurangi/menghilangkan
sputum, mengurangi/menghilangkan sesak nafas, mengurangi spasme pada otot
bantu pernapasan dan merubah/meningkatkan ekspansi thorak
Metode: Studi kasus dan pemberian modalitas infra red dan chest physioterapy
setelah dilakukan 6 X terapi diperoleh hasil.
Hasil: adanya penormalan suara nafas karena adanya mucus atau spuntum(T1):
sputum berada di paru lobus kanan dan kiri inferior, segmen basal, pola
pernapasan vesikuler disertai dengan ronkhi halus (crackles) dan akhir fisioterapi
(T6): sputum sudah tidak ada di paru, pola pernapasan vesikuler/normal.
Frekuensi sesak nafas yang menurun yang mengarah pada batas normal di ukur
dengan inspeksi yaitu pada awal fisioterapi (T1): 64 per menit menjadi akhir
fisioterapi (T6): 48 0er menit .Adanya penurunan spasme otot trapezius yaitu
pada awal fisioterapi (T1): ada spasme pada otot trapezius menjadi akhir
fisioterapi (T6): tidak ada spasme. Mobilitas sangkar thoraks meningkat tentunya
kearah yang baik untuk melakukan proses inspirasi dan ekspirasi yang maksimum
dan normal yaitu awal fisioterapi (T1): axilla 2 cm, intercostalis ke V 1 cm dan
lower costa/xiphoideus 2 cm dan akhir fisioterapi (T6): axilla 3 cm, intercostalis
ke V 3 cm dan lower costa/xiphoideus 2,5 cm
Kesimpulan dan saran: dapat disimpulkan terdapat keberhasilan dalam
membantu proses penormalan suara napas akibat sputum yang berlebih di saluran
pernapasan, Sesak nafas yang menurun yang mengarah pada batas normal,
Adanya penurunan spasme otot trapezius, Mobilitas sangkar thoraks meningkat
tentunya kearah yang baik. Saran selanjutnya adalah untuk menjaga kesehatan diri
dan lingkungan sekitar rumah pasien
Pengaruh Massage Dan Kinesio Taping Terhadap Dysmenorrhea Primer Pada Remaja
Latar Belakang: Dysmenorrhea adalah nyeri haid yang sedemikian hebatnya sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau
cara hidupnya sehari-hari, untuk beberapa jam atau beberapa hari. Dysmenorrhea Primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan alat-alat genital yang nyata. Dysmenorrhea merupakan kondisi medis yang nyata yang diderita oleh
wanita dan harus ditangani dengan tepat agar tidak mengganggu aktifitas.
Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dan beda efektifitas antara massage dan kinesio taping terhadap dysmenorrhea primer.
Subyek: Sebanyak 22 responden mahasiswi D4 fisioterapi UMS yang ber umur 18 dan 19 tahun. Responden dibagi menjadi dua kelompok yaitu, kelompok massge dan kelompok kinesio taping.
Hasil: Hasil uji pengaruh dengan Paired Sample T-test Paired Sample T-test pada kelompok massage p- value 0.000 berarti ada pengaruh pemberian massage pada
dysmenorrhea primer dan kinesio taping p- value 0.000 berarti ada pengaruh pemberian kinesio taping pada dysmenorrhea primer. Hasil uji beda pengaruh
dengan Independent T-Test antara kelompok massage dan kinesio taping diperoleh p- value 0.201 berarti tidak ada beda pengaruh antara pemberian massage dan kinesio taping pada dysmenorrhea primer.
Kesimpulan: Massage dan kinesio taping terbukti dapat menurunkan nyeri dysmenorrhea primer. Antara massage dan kinesio taping tidak ada beda pengaruh yang signifikan
Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Drop Hand Sinistra Oleh Karena Fraktur Komplit Oblique Os Humerus Sinistra 1/3 Medio Distal Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Background: Scientific paper on case management physiotherapy wrist drop et
causa fracture complit oblique os humerus sinistra 1/3 medio distal is intended to
determine the management of physioterapy, add insight and knowledge, and give
rise to a variety of physical problems related to the lower arm area and modalities
that are given in this condition is infra red (IR), electrical stimulation with faradic
(ES) and exercise therapy.
Objective: Restrictions that exist in a scientific paper aims to determine the
effectiveness of the infra red (IR), electrical stimulation with faradic (ES) and
exercise therapy on the condition wrist drop et causa fracture complit oblique os
humerus sinistra 1/3 medio distal. In this case the treatmen is done 6 times.
Result: A decrease in the degree of inchise pain. An increase in LGS in flexion
and extension movement. An increase in muscle strenght of the flexor and
extensor wrist. And an not increase in functional capability.
Conclusion: Further advice on scientific writing is more research needs to be
conducted to determine what physiotherapy modalities that have been applied to
the above-mentioned conditions wrist drop
Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Low Back Pain (LBP) Akibat Spondylosis dengan Modalitas Tensdan William Flexion Exercise di RS PKU Muhammadiyah Surakarta
LatarBelakang:Dalam mewujudkan manusia Indonesia sehat maka setiap warga
Negara Indonesia berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya
yang meliputi kesehatan jasmani, rohani, dan sosial. Kemajuan dibidang industry
telah membawa kemudahan bagi kehidupan manusia, namun demikian, masih
terdapat persoalan–persoalan dalam dunia kerja yang tidak dapat diatasi dengan
teknologi yang ada, sehingga interaksi antara pekerja dengan lingkungan
dan.Upaya tersebut bersifat dinamis yang meliputi beberapa upaya, antara lain
peningkatan atau promotive,pencegahan atau preventive,penyembuhan atau
curative,pemulihan atau rehabilitativ
Tujuan :untuk memahami penatalaksanaan fisioterapi pada kasus low back
painakibat spondylosisdengan modalitas tens dan wiliam flexion exerciseuntuk
mengurangi nyeri akibat kekakuan pada kelompok otot ektensor lumbal akibat
spondylosis.
Hasil :Setelah mendapatkan penanganan fisioterapi sebanyak 6 kali
dengan modalitas Transcutaneous Elektrical Nerve Stimulation(TENS ) dan
William flexion exercise dapat mengurangi nyeri pada punggung bawah.
Kesimpulan : Setelah mendapatkan terapi TENS dan william flexion exercise
sebanyak 6 kali didapatkan hasil bahwa terdapat penurunan nyeri dan peningkatan
lingkup gerak sendi lumbal. Dengan hasil tersebut dapat mengatasi permasalahan
nyeri saat duduk lama, berdiri lama, berjalan jauh, duduk keberdiri.Hal ini
membuktikan bahwa pemberian terapi TENS dapat mengurangi nyeri dan terapi
william flexion exercise dapat merileksasikan otot-otot punggung pada kasus nyeri
punggung bawah akibat spondylosis lumbal
Penatalaksanaan Infra Red Dan Chest Physiotherapy Pada Bronchitis Acute Di RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Latar Belakang : Bronchitis acute merupakan penyakit dan gangguan saluran napas yang
diseabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus tanpa atau disertai dengan peradangan
perenkim paru. Modalitas yang diberikan pada kondisi ini berupa Infra Red dan Chest
Therapy.
Tujuan:Karya Tulis ini bertujuan untuk mengetahui manfaat, penatalaksanaan dan
pengaruhchest therapy dan infra red pada penderita penyakit bronchitis acute pada anak dan
bagaimana tanda dan gejala serta faktor-faktor penyebabnya
Metode:Studi kasus dan pemberian modalitas infra red dan chest
physioterapysetelahdilakukan 6 X terapi diperoleh hasil.
Hasil:adanya penormalan suara nafas karena adanya mucus atau spuntum(T1): sputum
berada di paru lobus atasparu kanan, pola pernapasan vesikuler disertai dengan ronkhi halus
(crackles) dan akhir fisioterapi (T6): sputum sudah tidak ada di paru, pola pernapasan
vesikuler/normal.Frekuensi sesak nafas yang menurun yang mengarah pada batas normal di
ukur dengan inspeksi yaitu pada awal fisioterapi (T1): 46 per menit menjadi akhir fisioterapi
(T6): 38 per menit .Adanya penurunan spasme otot trapezius dan sternocledomastoideus
yaitu pada awal fisioterapi (T1): ada spasme pada otot trapezius dan sternocledomastoideus
menjadi akhir fisioterapi (T6): tidak ada spasme.Mobilitas sangkar thoraks meningkat
tentunya kearah yang baik untuk melakukan proses inspirasi dan ekspirasi yang maksimum
dan normal yaitu awal fisioterapi (T1): axilla 1 cm, intercostalis ke V 0,5 cm dan lower
costa/xiphoideus 1 cm dan akhir fisioterapi (T6): axilla 2 cm, intercostalis ke V 3 cm dan
lower costa/xiphoideus 2,5 cm
Kesimpulan: normalnya suara napas akibat sputum yang berlebih di saluran
pernapasan,Sesak nafas yang menurun yang mengarah pada batas normal,Adanya penurunan
spasme otot trapezius dan sternocledomastoideus,Mobilitas sangkar thoraks meningkat
tentunya kearah yang baik
Pengaruh Kinesio Tapping Dan Traksi Manual Terhadap Pengurangan Nyeri Leher Pada Pekerja Pengrajin Kayu Di Desa Jeron
ABSTRACT
S1PROGRAM STUDY OF PHYSIOTERAPY
HEALTY SCIENCE FACULTY
MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF SURAKARTA
Thesis,July, 2015
ANGGIT CAHYO TUOMO/J120131026
EFFECT KINESIO TAPPING AND TRACTION MANUAL OF NECK PAIN REDUCTION IN WOOD SAWMILL WORKERS IN THE VILLAGE JERON
Chapter V, Page 53, Table 6, Image 10
Background: Neck pain is a syndrome caused by pressure (stess) aon soft tissues, bones, or joint of thr cervical spine (cervical spine) or adjacent structures. The main symptom is usually a pain in thr back of the neck or the surrounding area (trapezius). Onset of pain occurred grandually, although sometemes arise suddenly. The pain itself usually is cronic and is associated with the presence of heavy activity or the general state of deacline. Pain in the neck can be caused by several factors, including muscoloskeletal factors, factors nervorum, vascularization factor, and factor in the socket.
Objective: to deremine the effectiveness of kinesio tapping and manual traction to decrease neck pain.
Methods: This study used a quasai-experimental design with pre and post test with control group. Respondents in this study is a sawmill workers at UD. Restu Jati Jeron aged 22-36 years with a total of 20 respondents were taken by purposive sampling technique in March-April 2015. Where in this study measured before and after the study by the Visual Analogue Scale (VAS).
Results: Test the effect of using the Wilcoxon test, the result p = <0.05 (p= 0.05), which means there is the influence of kinesio taping and manual traction for neck pain reduction in sawmill workers. The influence of different test results between the treatment group and the control group in the silent pain obtained p-value 0.028, tenderness p-value 0.003 and p-value motion pain 0.029. So it can be concluded that there is a difference between the effect of the treatment group and the control group.
Conclusion: There is the influence of the use kinesio taping and manual traction for neck pain relief.
Keyword: Neck pain, kinesio taping, manual tractio
Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Keluhan Muskuloskeletal Saat Menyetrika Pada Pekerja Laundry Dukuh Gatak Kelurahan Pabelan
Keluhan muskuloskeletal merupakan salah satu indikasi adanya gangguan kesehatan dan keselamatan pekerja. Bagian otot yang sering dikeluhkan oleh pekerja adalah otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang. Berdasarkan stud i pendahuluan yang dilakukan terhadap 10 pekerja laundry 8 diantaranya mengalami keluhan otot seperti nyeri atau pegal-pegal pada leher, bahu, dan punggung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase faktor risiko yang
mempengaruhi keluhan muskuloseletal saat menyetrika pada pekerja laundry di Dukuh Gatak Kelurahan Pabelan tahun 2012 yang terdiri dari faktor usia, indeks massa tubuh, masa kerja dan durasi kerja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang dilakukan pada bulan september 2012. Sampel penelitian ini berjumlah 51 orang dengan teknik
purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan uji statistik yaitu descriptive statistics prosentage data melalui crosstab untuk melihat presentase antara variabel usia, indeks massa tubuh, masa kerja dan durasi kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar pekerja mengalami keluhan muskuloskeletal yaitu sebanyak 49 responden (94,2%). Persentase keluhan yang
paling sering dirasakan oleh pekerja yaitu pada bagian punggung bawah (54,9%), bagian bahu (29,4%), dan bagian leher (5,9%). Disarankan bagi pekerja untuk memanfaatkan istirahat sebaik mungkin, hindari duduk dengan posisi yang sama dalam waktu lebih dari 30 menit dan kursi yang digunakan sebaiknya kursi yang ada sandaran dan ada roll back untuk meminimalkan terjadinya keluhan pada punggung bawah
Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Post Fraktur 1/3 Distal Fibula Sinistra Dengan Pemasangan Wire Di Rsud Sukoharjo Karya Tulis Ilmiah Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Tendinitis Supraspinatus Dextra Di Rs. Al. Dr. Ramelan Surabaya
Latar Belakang: Fraktur 1/3 Distal fibula adalah suatu cedera pada tulang
dimana terjadi patah pada 1/3 bagian bawah fibula. Sedangkan wire adalah suatu
jenis fiksasi berupa kawat fleksibel tipis dengan ujung runcing yang tersedia
dalam beberapa diameter dan memberikan alternatif untuk fiksasi fragmen tulang
kecil di tangan dan kaki
Tujuan: Karya tulis ilmiah dimaksudkan untuk memberikan informasi
pengetahuan tentang kasus dan untuk mengetahui bagaimana manfaat Infra
merah dan terapi latihan pada kasus tersebut.
Hasil: Setelah dilakukan 6 kali terapi, didapatkan hasil untuk nyeri terjadi
penurunan nyeri tekan pada T0: 5,4 menjadi T6: 4,1, serta nyeri gerak pada T0:
7,1 pada T6: 6,3 dan nyeri diam pada T0: 2,4 menjadi T6: 0. Untuk lingkup gerak
sendi ankle secara aktif didapatkan hasil adanya peningkatan di bidang sagital
yaitu pada T0: S:10º-0º-15º menjadi T6 : 15º-0º-35º dan pada lingkup gerak sendi
ankle secara pasif didapatkan hasil adanya peningkatan di bidang sagital pada T0:
S:15º-0º-40º menjadi 15º-0º-45º dan untuk bidang rotasi pada T0 : 10º-0º-15º,
pada T6: 15º-0º-20º. Untuk kekuatan otot didapatkan hasil adanya peningkatan
kekuatan otot pada gerak dorsal fleksi ankle pada T0: 3- menjadi T6: 3, fleksi jarijari
kaki pada T0: 4- menjadi T6:4 dan ekstensi jari-jari kaki pada T0: 4- menjadi
4. Sedangkan untuk oedem didapatkan hasil adanya penurunan oedem pada area 5
cm dari maleolus lateralis ke proksimal yang pada T0 : 23 cm menjadi 20 cm pada
T6, kemudian pada area 5 cm dari maleolus lateralis ke distal pada T0: 26 cm
pada T6 : 23 cm dan pada area 10 cm dari maleolus lateralis ke distal pada T0: 23
menjadi pada T6: 22 cm.
Kesimpulan: Dari hasil tersebut didapatkan kesimpulan adanya pengaruh dari
infra merah terhadap nyeri dan pengaruh terapi latihan terhadap oedem, lingkup
gerak sendi ankle dan kekuatan otot tungkai bawah dan kaki. Karya tulis ilmiah
ini perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui modalitas fisioterapi
apa yang berpengaruh diantara modalitas yang telah diterapkan tersebut diatas
pada kasus post fraktur 1/3 distal fibula sinistra dengan pemasangan wire
Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Osteoarthritis Genu Dextra Di RSUD Sragen
Osteoarthritis adalah gangguan degeneratif dengan terjadinya penipisan dan pecahnya tulang rawan yang bersifat progresif. yang dapat menyebabkan seluruh fungsi sendi hilang Gangguan yang terjadi pada kondisi Osteoarthritis adalah nyeri pada lutut, keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS), penurunan kekuatan otot dan gangguan aktifitas fungsional Terapi yang di berikan berupa Infra red dengan tujuan mengurangi nyeri dan meningkatkan aktifitas fungsional, terapi latihan dengan tujuan menambah lingkup gerak sendi (LGS) dan meningkatkan kekuatan otot.
Tujuan : Untuk mengetahui manfaat Infra red dan terapi latihan pada kondisi Osteoarthritis genu dextra terhadap peningkatkan luas gerak sendi, kekuatan otot, lingkar segmen, penurunan nyeri dan peningkatkan kemampuan fungsional.
Hasil : Setelah dilakukan terapi selama enam kali didapatkan hasil adanya pengurangan nyeri T0 4 menjadi T6 2, peningkatan lingkup gerak sendi T0 S: 0 – 0 - 125 menjadi T6 S: 0 – 0 – 135, lingkar segmen T0 41, 40, 39, 38 cm menjadi T6 39, 39, 37, 37, peningkatan kekuatan otot T03+ menjadi T6 4+, peningkatan Skala Jette T0 posisis berdiri dari duduk 3, berjalan 15 meter 2, naik tangga 3 trap 2 menjadi T6 posisi berdiri dari duduk 2, berjalan 15 meter 2, naik tangga 3 trap 2.
Kesimpulan : Setelah di lakukan Penata laksanaan Fisioterapi pada kondisi Osteoarthritis Genu Dextra dengan menggunakan Infra red dan Terapi latihan dengan Pemeriksaan menggunakan Verbal Desciptive Scale (VDS), Manual Mascel Testing (MMT), Lingkup Gerak Sendi (LGS) dengan Goniometer, Lingkar Segmen dengan Midline dan Skala Jette. ditemukan hasil adanya pengurangan nyeri, peningkatan otot, peningkatan lingkup gerak sendi, penurunan lingkar segmen, dan peningkatan Aktifitas fungsiona
- …
