38,834 research outputs found
INISIATIF MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA TANJUNG DONOHARJO KECAMATAN NGAGLIK KABUPATEN SLEMAN
Pariwisata merupakan salah satu industri yang paling menjanjikan karena perkembangannya yang cepat
dan memberikan dampak yang besar baik bagi perekonomian daerah maupun masyarakat lokal. Karena
pengaruhnya yang besar, dalam perencanaan wilayah sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat
potensial, untuk itu dalam pengembangannya membutuhkan perencanaan yang matang. Merencanakan dan
mengembangkan industri pariwisata merupakan suatu tantangan yang besar khususnya bagi pemerintah,
dimana tidak hanya dituntut untuk mengembangkannya tetapi juga menjadikan industri pariwisata tersebut
berkelanjutan. Secara konseptual pariwisata berkelanjutan lebih menekankan pada pemberdayaan
(empowerment) atau keterlibatan masyarakat baik dalam batasan sosial, ekonomi maupun lingkungan
Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan dalam Perspektif Sosial Ekonomi
Kegiatan kepariwisataan dapat menjadi solusi untuk mengeluarkan masyarakat dari jurang kemiskinan. Beberapa daerah kota/kabupaten telah berhasil menggunakan pariwisata untuk mengembangkan daerahnya. Namun pemanfaatan sumber daya pariwisata juga mestiselaras dengan pembangunan berkelanjutan diantaranya pariwisata berlandaskan budaya lokal dan pemberdayaan kelompok masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan yang digunakan berdasarkan studi literature. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan membutuhkanketerlibatan masyarakat secara menyeluruh dari keseluruhan tahapan pembangunan, dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan
Upaya Pemberdayaan Ekonomi, Sosial dan Budaya pada Masyarakat melalui Pengembangan Bisnis Ekowisata
Bisnis industri pariwisata memang menjadi primadona dan semakin menjanjikan. Bertambahnya minat wisatawan asing dan dalam negeri untuk travelling ke Indonesia. Beberapa faktor selain dikarenakan keindahan destinasinya yang menawarkan keindahan panorama alam, tak lain karena kemudahan pembelian tiket transportasi, hotel hingga paket wisata. Peluang besar ini banyak dimanfaatkan sebagai ajang bisnis pada sektor pariwisata. Terlebih juga bisa meningkatkan perekonomian di daerah. Namun demikian, membangun pariwisata mengharuskan banyak aktivitas yang dapat membawa dampak negatif pada lingkungan. Karena itu, untuk meminimalisir resiko dampak negatif dari pembangunan industri pariwisata adalah dengan mengimplementasikan pembangunan bisnis ecotourism atau sustainable tourism development dalam bentuk ekowisata. Penerapan pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan yang disesuaikan dengan kearifan lokal dan kecerdasan spatial setempat dapat diukur keberhasilannya melalui siklus sumberdaya alam dan lingkungan di mana proses ekonomi dapat memberikan keuntungan secara berkelanjutan. Apabila pendekatan ekowisata diterapkan dengan baik maka industri pariwisata berpotensi untuk memberikan keuntungan secara berkelanjutan. Jika pendekatan ekowisata diterapkan dengan baik maka industri pariwisata berpotensi untuk memberikan dampak positif yang menguntungkan bagi lingkungan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui upaya-upaya perlindungan dan konservasi lingkungan di mana pariwisata dapat menjadi sumber untuk perlindungan sumberdaya lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi. Selain itu, perlindungan terhadap sumberdaya lingkungan dapat bermanfaat pada pemberdayaan dalam bidang sosial dan budaya pada masyarakat yang ada di sekitarnya
Pemberdayaan Masyarakat di Daerah Tujuan Wisata Desa Pemuteran dalam Rangka Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrepsikan tentang bentuk pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di Desa Pemuteran. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dilakukan dengan triangulasi. Melalaui hal itu dapat dikemukakan bahwa bentuk pemberdayaan yang dikembangkan adalah bentuk pemberdayaan masyarakat lokal. Strategi pemberdayaannya dilakukan secara terpadu baik yang bersifat mikro, mezzo, maupun makro. Kebijakan pemberdayaan masyarakat Desa Pemuteran meliputi pengembangan SDM, pengembangan ekonomi, pengembangan kelembagaan, pengembangan prasara/sarana, dan pengembangan informasi. Pemberdayaan masyarakat Desa Pemuteran seperti itu dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan
PENGUKURAN MANFAAT EKONOMI OBYEK WISATA KAWASAN RAWAPENING KABUPATEN SEMARANG DENGAN PENDEKATAN MODEL BIAYA PERJALANAN, VALUASI KONTINGENSI DAN CHOICE MODEL
Kawasan Rawapening merupakan obyek wisata alam yang terletak di Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah. Kawasan ini secara administratif berada di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Banyubiru, Kecamatan Tuntang, Kecamatan Bawen, dan Kecamatan Ambarawa. Kawasan Rawapening dibagi menjadi enam sub kawasan yaitu Sub Kawasan Tlogo, Sub Kawasan Lopait, Sub Kawasan Bukit Cinta Brawijaya, Sub Kawasan Muncul, Sub Kawasan Asinan, dan Sub Kawasan Benteng Pendem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat ekonomi terkait dengan kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan sebagai perwujudan tempat wisata yang berwawasan lingkungan. Obyek wisata Kawasan Rawapening memiliki keunggulan keanekaragaman hayati, manfaat langsung, maupun tidak langsung yang terkait dengan fungsi ekologis yang penting sehingga tidak hanya dianggap sebagai objek wisata saja. Oleh karena itu, perlunya dukungan dari penduduk dan pengunjung terhadap program pengembangan obyek wisata Kawasan Rawapening. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode biaya perjalanan, valuasi kontingensi, dan choice model. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan temuan penting terkait dengan manfaat ekonomi dari kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan di obyek wisata Kawasan Rawapening.
Kata Kunci: Manfaat Ekonomi, Pariwisata Berkelanjutan, Biaya Perjalanan, Valuasi Kontingensi, Choice Mode
DAMPAK PRAKTEK PROSTITUSI TERHADAP PENGEMBANGAN PARIWISATA DI SEKITAR PARANGTRITIS
Prostitusi di kawasan Parangtritismerupakan salah satu dampak negatif akibat majunya suatu Pariwisata. Alhasil, terdapat sebuah prostitusi terselubung yang berada di kawasan Parangtritis yang berpusat pada wilayah Cepuri Parangkusuma. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap berbagai dampak prostitusi yang menyebar sampai kawasan wisata Parangtritis serta untuk mengetahui bagaimana respon dari masyarakat sekitar ataupun Dinas Pariwisata, terkait adanya prostitusi di kawasan pariwisata.
Metode penelitan yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Metode penelitian ini digunakan untuk menggali dan mengkaji lebih dalam terkait berbagai dampak prostitusi di kawasan pariwisata Parangkusuma hingga Parangtritis. Pencarian informan dilakukan dengan teknik snowball sampling untuk menemukan beberapa kriteria informan. Teknik pengumpulan data menggunakan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data penelitian ini diperkuat dengan triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan teknik Miles dan Hubberman yang menggunakan tahap penyusunan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukan jika pariwisata Parangtritis menggunakan pendekatan pengembangan pariwisata berkelanjutan dalam hal penentuan perencanaan pariwisata.. Dengan memperhatikan aspek pariwisata berkelanjutan, terciptalah sebuah kemajuan pariwisataunggulan pada seluruh kawasan Parangtritis.Meskipun sudah menjadi pariwisata unggulan, kehadiran prostitusi yang berada di wilayah Parangkusuma telah menciptakan efek negatif terhadap tingkat pengembangan pariwisata unggulan Parangtritis. Hasil temuan menunjukan bahwa terdapat beberapa dampak yang muncul akibat kehadiran prostitusi di area pariwisata seperti; dampak ekonomi, sosial, dan budaya. Beberapa dampak menunjukan bahwa kehadiran prostitusi di kawasan pariwisata sangatlah berpengaruh bagi pengembangan pariwisata. Dilihat dari respon masyarakat, sebagian besar menganggap bahwa adanya prostitusi dikawasan pariwisata merupakan salah satu hal yang merugikan. Apabila dilihat dari pihak perencanaan, Dinas Pariwisata juga menganggap prostitusi yang ada di kawasan pariwisata Parangkusuma justru akan merusak citra wisata Parangtritis yang sudah menjadi unggulan.
Kata kunci: Dampak Prostitusi, Respon Masyarakat, Pengembangan Pariwisat
Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata di Pantai Lakban Kabupaten Minahasa Tenggara
Objek wisata Pantai Lakban merupakan objek wisata andalan Kabupaten Minahasa Tenggara yang terletak di Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatotok. Pengembangan pariwisata Pantai Lakban seharusnya bisa membawa manfaat ekonomi untuk meningkatkan mutu hidup masyarakat desa Ratatotok Timur. Akan tetapi, Kenyataannya pengembangan pariwisata Pantai Lakban yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara kurang memperhatikan dan kurang melibatkan partisipasi masyarakat desa Ratatotok Timur, yang mengakibatkan dampak dari pengembangan tersebut kurang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Dari data yang dimiliki padahal kemauan dan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata di Pantai Lakban terbilang cukup baik. kurangnya pelibatan partisipasi masyarakat tersebut menyebabkan rasa memiliki (sense of belonging) dari masyarakat terhadap program pemerintah dalam mengembangkan potensi wisata di Pantai Lakban menjadi berkurang. Mengapa pemerintah kurang melibatkan masyarakat dalam pengembangan potensi wisata di Pantai Lakban menjadi sebuah problem yang menarik untuk di teliti. Karena seharusnya program pengembangan pantai Lakban yang dilakukan oleh pemerintah wajib melibatkan masyarakat. Penelitian ini akan mencoba mengidentifikasi bagaimana partisipasi masyarakat terhadap pengembangan potensi wisata Pantai Lakban dan factor-faktor yang menghambat partisipasi masyarakat mereka
Keanekaragaman Hayati di Kawasan Pantai Kota Ambon dan Konsekuensi untuk Pengembangan Pariwisata Pesisir
Sebagai suatu daerah yang berada di wilayah Indonesia bagian timur, Pulau Ambon memiliki potensi alam yang banyak menawarkan keanekaragaman daya tarik wisata. Dengan kondisi biogeofisik, sosial budaya masyarakat dapat dijadikan sebagai potensi bagi pengembangan pariwisata. Sebagai ibukota propinsi, kota Ambon memiliki pantai dan kelautan dengan keanekaragaman hayati yang khas, sehingga mempunyai peluang untuk dapat dijadikan sebagai objek wisata bahari termasuk potensi wisata bawah laut, dengan hal tersebut maka propinsi Ambon dikenal dengan sebutan The Spice Island Exotic Marine Paradise. Keberadaan akan potensi wilayah pesisir laut tersebut dewasa ini belum sepenuhnya dikelola dan di kembangkan dengan baik untuk pengembangan pariwisata, hal ini dikarenakan minimnya pemahaman akan bagaimana cara mengelola dan mengembangkan potensi keanekaragaman hayati tersebut dengan baik.Kata Kunci: Keanekaragaman hayati, Kota Ambon, potensi, pengembanga
- …
