9,095 research outputs found

    PROFIL KLINIKOPATOLOGIK NEOPLASMA TULANG DI RUMAH SAKIT M. DJAMIL PADANG TAHUN 2016-2019

    Get PDF
    ABSTRAK PROFIL KLINIKOPATOLOGIK NEOPLASMA TULANG DI RUMAH SAKIT M. DJAMIL PADANG TAHUN 2016-2019 Oleh Faris Maulana Irfan Neoplasma tulang primer relatif jarang terjadi, namun mempunyai distribusi umur dan tempat tumbuh yang khas. Karakteristik ini sangat membantu para ahli patologi dalam menentukan jenis sel neoplasma yang didiagnosis. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jumlah kasus, jenis kelamin, usia, keluhan utama, tulang yang terlibat, jenis histopatologi, dan tatalaksana neoplasma tulang di Rumah Sakit M. Djamil Padang tahun 2016-2019. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling menggunakan status pemeriksaan patologi anatomi dan rekam medis dengan jumlah sampel sebanyak 59. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit M. Djamil Padang dari bulan Agustus 2019 hingga Juli 2020. Hasil penelitian didapatkan kasus neoplasma tulang benigna sedikit lebih banyak terjadi dibandingkan maligna primer. Neoplasma tulang sedikit lebih sering dialami pada laki-laki daripada perempuan dengan usia puncak kejadian yaitu usia remaja. Keluhan utama umumnya berupa benjolan dan terjadi pada tulang femur. Benigna kondrogenik dan maligna osteogenik merupakan kategori neoplasma tulang dengan jenis histologi berupa osteokondroma (benigna) dan osteosarkoma (maligna primer) yang paling banyak ditemukan. Tatalaksana yang paling sering dilakukan yaitu eksisi. Kesimpulan penelitian ini neoplasma tulang lebih banyak ditemukan jenis benigna, jenis kelamin laki-laki, namun tidak ada perbedaan bermakna antara jenis kelamin dengan kasus neoplasma tulang, usia puncak kejadian pada remaja, keluhan utama umumnya benjolan, femur yang paling banyak terlibat, jenis histologi terbanyak adalah benigna kondrogenik dan maligna osteogenic dengan osteokondroma dan osteosarkoma sebagai kasus terbanyak, dan tatalaksana umumnya berupa eksisi. Kata Kunci: neoplasma tulang, benigna, maligna primer, klinikopatologik, karakteristi

    NEOPLASIA PAROTIS DEKSTRA: SEBUAH LAPORAN KASUS

    Get PDF
    Kejadian neoplasma pada kelenjar salivatorius termasuk jarang. Sekitar 3% keganasan pada regio kepala dan leher adalah keganasan pada kelenjar saliva, dimana 80% kasus yang terjadi adalah keganasan pada kelenjar parotis. Neoplasma pada kelenjar parotis memiliki insidensi sekitar 1:100.000 orang, yaitu sekitar 2% dari keseluruhan neoplasma pada kepala dan leher. Penanganan neoplasma kelenjar dapat berupa tindakan operatif yang merupakan tatalaksana utama, serta non-operatif seperti pemberian antibiotik, kemoterapi, maupun terapi radiasi. Kami melaporkan kasus neoplasma kelenjar parotis yang terjadi pada pasien lanjut usia (lansia), yang pernah didiagnosis dengan diagnosis yang sama satu tahun yang lalu. Pasien menjalani tindakan operatif berupa parotidektomi superfisial, tanpa komplikasi perioperatif dan pascaoperatif. Kasus ini menekankan pentingnya untuk memperhatikan batas jaringan normal di sekitar tumor, untuk memastikan jaringan tumor terangkat seluruhnya.Kejadian neoplasma pada kelenjar salivatorius termasuk jarang. Sekitar 3% keganasan pada regio kepala dan leher adalah keganasan pada kelenjar saliva, dimana 80% kasus yang terjadi adalah keganasan pada kelenjar parotis. Neoplasma pada kelenjar parotis memiliki insidensi sekitar 1:100.000 orang, yaitu sekitar 2% dari keseluruhan neoplasma pada kepala dan leher. Penanganan neoplasma kelenjar dapat berupa tindakan operatif yang merupakan tatalaksana utama, serta non-operatif seperti pemberian antibiotik, kemoterapi, maupun terapi radiasi. Kami melaporkan kasus neoplasma kelenjar parotis yang terjadi pada pasien lanjut usia (lansia), yang pernah didiagnosis dengan diagnosis yang sama satu tahun yang lalu. Pasien menjalani tindakan operatif berupa parotidektomi superfisial, tanpa komplikasi perioperatif dan pascaoperatif. Kasus ini menekankan pentingnya untuk memperhatikan batas jaringan normal di sekitar tumor, untuk memastikan jaringan tumor terangkat seluruhnya

    Analisa Keakuratan Kode Diagnosis Utama Neoplasma Yang Sesuai Dengan Kaidah Kode ICD-10 Pada Dokumen Rekam Medis Rawat Inap di RSUD Tugurejo Semarang Periode Triwulan I Tahun 2014

    Get PDF
    Program Studi DIII Rekam Medis & Informasi Kesehatan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang 2014 ABSTRAK ANALISA KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS UTAMA NEOPLASMA YANG SESUAI DENGAN KAIDAH KODE ICD-10 PADA DOKUMEN REKAM MEDIS RAWAT INAP DI RSUD TUGUREJO SEMARANG PERIODE TRIWULAN 1 TAHUN 2014 HANAN ASMARATIH P Kode diagnosis utama sudah seharusnya tepat sesuai dengan aturan koding ICD-10, hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan kode dan informasi kesehatan yang tepat dan baik. Dalam prakteknya, petugas koding untuk koding rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang khususnya pasien dengan kasus neoplasma terkadang masih belum tepat dalam pemberian kode penyakit pada diagnosis utama pasien. Pada survey awal yang dilakukan peneliti, dari 10 dokumen rekam medis ditemukan 40% diantaranya tidak akurat sedangkan 60% sisanya akurat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui tingkat keakuratan kode utama dokumen rekam medis untuk pasien rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang periode triwulan I tahun 2014. Jenis penelitian ini adalah deskriptif sedangkan metode yang digunakan adalah observasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh dokumen rekam medis rawat inap dengan diagnosis utama neoplasma pada periode triwulan I yang berjumlah 261 dokumen rekam medis, kemudian diambil sampel penelitian yang berjumlah 75 dokumen rekam medis. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Tugurejo Semarang bahwa kode penyakit khususnya untuk penyakit neoplasma yang diberikan oleh petugas koding, 54,41 % dokumen rekam medis kodenya tidak akurat sedangkan 45,59% sisanya akurat. Hal ini lebih disebabkan tidak diterapkannya langkah-langkah dalam mengkoding neoplasma terutama penggunaan kode morfologi untuk menetapkan perangai tumor, juga tidak digunakannya hasil laborat Patologi Anatomik sebagai salah satu formulir pendukung ketika petugas menetapkan kode diakibatkan hasil PA yang belum keluar ketika pengkodean penyakit berlangsung. Hasil penelitian dari total 68 sampel dokumen rawat inap dengan kasus neoplasma sebagai diagnosis utama triwulan I tahun 2014 ditemukan 37 dokumen rekam medis tidak akurat kodenya sedangkan 31 sisanya akurat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah proses koding di RSUD Tugurejo Semarang khususnya pada pasien dengan kasus neoplasma periode triwulan I tahun 2014 belum sesuai dengan aturan yang ada di ICD-10, oleh karena itu untuk meningkatkan akurasi kode diagnosis utama pada dokumen rekam medis khususnya pasien dengan kasus neoplasma perlu menerapkan aturan koding neoplasma dengan benar yaitu di cek dulu digit kelima dari kode M di ICD-10 dan ICD-O untuk mengetahui sifat dari tumor tersebut kemudian setelah diketahui sifatnya baru bisa dikode dengan bantuan tabel neoplasma yang ada di ICD-10 dan adanya kerja sama yang baik antara dokter, petugas laboratorium patologi anatomik dan petugas koding sehingga informasi yang dihasilkan di dokumen rekam medis bisa lebih spesifik sehingga petugas koding dapat memberikan kode yang akurat. Kata kunci : Akurasi kode diagnosis utama neoplasma, aturan koding ICD-10 Kepustakaan: 15 (1997-2007

    PENGARUH KODE TOPOGRAPHY DAN MORPHOLOGY TERHADAP KEAKURATAN KODE DIAGNOSA NEOPLASMA BERDASARKAN ICD-10

    Get PDF
    Pelaksanaan kodefikasi topography dan morphology pada kasus neoplasma sangat penting dilaksanakan secara tepat, dikarenakan kode topography menunjukan letak dan morphology menunjukan sifat keganasan neoplasma. Dalam penetapan kode noeplasma sering terjadi ketidaktepatan kode yang disebabkan petugas coder kurang memahami tata cara pengkodean neoplasma. Hal ini berdampak terhadap pelayanan kepada pasien seperti kesalahan tindakan, perawatan dan pengobatan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran ketepatan kode topography dan morphology pada diagnosa neoplasma di Rumah Sakit Raflesia Bengkulu. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional melalui pengamatan secara langsung dengan populasi dan sampel 276 berkas rekam medis dengan diagnosa neoplasma. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder yang diolah secara univariat

    ANALISIS KETEPATAN KODE DIAGNOSIS NEOPLASMA DI RUMAH SAKIT TINGKAT III 03.06.01 CIREMAI CIREBON

    Get PDF
    Latar belakang : Kegiatan pengkodean merupakan pemberian penetapan kode dengan menggunakan huruf dan atau angka atau kombinasi antara huruf dan angka yang mewakili komponen data. Neoplasma merupakan suatu penyakit terkait dengan perkembangan jaringan abnormal akibat neoplasi, yaitu proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan tubuh yang abnormal yang tumbuh aktif dengan sistem otonom (tidak terkendali). Tujuan penelitian : Untuk mengetahui ketepatan kode diagnosis neoplasma pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Tingkat III 03.06.01 Ciremai Cirebon. Metode penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh dokumen rekam medis kasus neoplasma pasien rawat inap pada bulan Januari-Maret 2021 dengan jumlah 62 dokumen dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi dengan menggunakan lembar checklist. Hasil penelitian : Berdasarkan penelitian diperoleh dari 62 dokumen rekam medis kasus neoplasma menunjukkan bahwa ketepatan kode morfologi sebesar 0%, ketidaktepatan kode morfologi sebesar 100%. Ketepatan kode topografi sebesar 45 (72,58%), ketidaktepatan kode topografi sebesar 17 (27,42%). Ketidaktepatan penulisan kode dikarenakan petugas coding kurang teliti dan terkadang ada tulisan dokter yang kurang jelas sehingga kesulitan petugas dalam membaca diagnosisnya

    Korelasi antara Motivasi Intrinsik dengan Kegiatan Praktikum Patologi Anatomi Blok Neoplasma Mahasiswa Angkatan 2014

    Get PDF
    Praktikum patologi anatomi adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan pada Blok Neoplasma di FK UNS dan terbagi menjadi asistensi, praktikum dan penilaian hasil belajar. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan praktikum, salah satunya adalah motivasi akademik. Motivasi akademik terbagi menjadi motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang bersifat otonom sehingga dapat dimaksimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara motivasi intrinsik dengan kegiatan praktikum patologi anatomi Blok Neoplasma. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Sebelas Maret Angkatan 2014 yang dipilih dengan metode simple random sampling. Data motivasi intrinsik diambil dengan Skala Motivasi Akademik (SMA) yang telah melalui uji validitas dan uji reliabilitas. Kuesioner yang disebarkan berjumlah 90 dengan 87 kuesioner kembali. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian: Hasil uji normalitas data didapatkan SMA terdistribusi normal, sedangkan pretest dan responsi Patologi Anatomi Blok Neoplasma tidak terdistribusi normal. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan Koefisien Korelasi (r) = 0,261 untuk SMA dengan Pretest pertama dengan signifikansi (p) = 0,015 , r = 0.078 untuk SMA dengan Pretest 2 dengan p = 0,474 , r = 0,061 untuk SMA dengan Responsi dengan p = 0,576 serta r= 0,165 untuk SMA dengan Nilai Akhir dengan p= 0,128. Simpulan Penelitian: Terdapat korelasi positif lemah dan signifikan antara motivasi intrinsik dengan pretest 1. Terdapat korelasi positif sangat lemah dan tidak signifikan antara motivasi intrinsik dengan pretest 2, responsi dan nilai akhir praktikum Patologi Anatomi Blok Neoplasma pada mahasiswa angkatan 2014 Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran UNS Kata Kunci : motivasi intrinsik, kegiatan praktikum, nilai pretest, hasil responsi dan nilai akhi

    Histological pattern of ovarian neoplasma.

    Get PDF
    Abstract Objective: To see the morphological pattern of benign and malignant ovarian neoplasms. Method: Retrospective study of all consecutive cases of ovarian neoplasms diagnosed at Aga Khan University Hospital between 1st January 1993 and 30th September 1998. Setting: The Section of Histopathology, AKUH, Karachi. Observation: Of 855 ovarian tumours 506 (59.18%) were benign and 349(40.81%) malignant. Surface epithelial - stromal tumours comprised 63.50% of all tumours. Benign cystic teratoma was the commonest benign tumour (35.17% of all benign tumours) and serous cystadenocarcinoma was the commonest malignant tumour (33.33% of all malignant tumours). Mucinous cystadenocarcinomas are more common in our population as compared to the West and borderline and malignant mucinous tumours occur at a younger age group. Malignant germ cell tumours are also common in our population. Conclusion: Except for the greater frequency of malignant mucinous and germ cell tumours, the findings of our series correspond to the published Western data (JPMA 50:416, 2000)

    PERAMALAN JUMLAH PENDERITA TUMOR JINAK (NEOPLASMA) DI RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU DENGAN MENGGUNAKAN MODEL ARIMA (0,1,1)

    Get PDF
    Tugas Akhir ini membahas tentang model peramalan jumlah penderita tumor jinak(neoplasma) di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Tujuan studi ini yaitu untuk membentuk model peramalan jumlah penderita tumor jinak (neoplasma) dengan menggunakan metode Box-Jenkins. Data training dan testing diambil dari bulan Januari 2005 sampai bulan Desember 2010. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model ARIMA(0,1,1) adalah model yang sesuai untuk peramalan jumlah penderita tumor jinak (neoplasma). Hasil peramalan mengindikasikan bahwa pola data jumlah penderita tumor jinak (neoplasma) di RSUD Arifin Achmad Tahun 2011 meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Kata Kunci : Box-Jenkins, ARIMA(0,1,1), Neoplasma

    Primary MALT Type Skin Lymphoma—Is ‘Wait and See’ a Possible Strategy?

    Get PDF
    Primary cutaneous lymphomas are the second most common site of extranodal non-Hodgkin lymphoma. A specifically type named extranodal marginal zone B-cell lymphomas are indolent low-grade neoplasma
    corecore