57,948 research outputs found
PENGARUH SUKUK TERHADAP INFLASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI MELALUI MEKANISME TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA
Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh sukuk terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia melalui transmisi kebijakan moneter. Metode analisis yang digunakan yaitu kointegrasi untuk menganalisis hubungan keseimbangan sukuk, inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Kemudian menggunakan estimasi VECM untuk menganalisis apakah sukuk berpengaruh terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan menggunakan Multivariate VECM Causality untuk menganalisis hubungan kausalitas sukuk dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam transmisi kebijakan moneter. Variabel penelitian yang digunakan melalui transmisi moneter saluran harga aset yaitu sukuk, konsumsi, inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi dan indeks harga saham gabungan. Melalui saluran nilai tukar yaitu variabel sukuk, inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi, investasi asing langsung dan nilai tukar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, sukuk tidak memiliki hubungan keseimbangan dan pengaruh dengan inflasi, namun sukuk memiliki hubungan keseimbangan dan pengaruh dengan pertumbuhan ekonomi dan indeks harga saham gabungan melalui saluran harga aset dan suku bunga kebijakan melalui saluran nilai tukar. Dalam jangka panjang, sukuk memiliki hubungan keseimbangan dan berpengaruh terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi dan variabel moneter dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter. Terakhir, Sukuk tidak memiliki hubungan kausalitas dengan inflasi namun memiliki hubungan kausalitas bidirectional dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengindikasikan bahwa penting bagi otoritas Indonesia yang relevan untuk meningkatkan pasar sukuk. Secara khusus direkomendasikan sukuk negara sebagai salah satu instrumen alternatif dalam kebijakan bauran di Indonesia (moneter-fiskal) untuk menstabilkan dan mendukung pembangunan ekonomi nasional. Kata Kunci: Sukuk, Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter, Inflasi, Pertumbuhan Ekonom
Analisis Dampak Target the Fed Rate Terhadap Kebijakan Moneter Bank Indonesia (Periode 2005: 07-2013:12)
Kebijakan suku bunga merupakan instrumen yang telah banyakdigunakan oleh bank-bank sentral di dunia untuk mencerminkan arah kebijakan moneter. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak dari Fed target rate kebijakan moneter Bank Indonesia (BI rate) melalui saluran transmisi keuangan selama periode 2005: 07-2013: 12. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Vector Error Correction Model (VECM). Variabel yang digunakan meliputi BI rate, tingkat sasaran Fed, arus modal (proksi Investment Portfolio Asing), premi risiko (proksi oleh tingkat suku bunga antar bank overnight) dan kurs tengah IRD / USD. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:1) tidak ada kausalitas antara variabel dalam transmising dampak Fed tarif targetkebijakan moneter Bank Indonesia (BI tarif); 2) The Fed tarif sasaran, arus modal, nilai tukar rupiah / USD dan premi risiko mempengaruhi tingkat BI; 3) pergerakan harga sasaran Fed ditransmisikan melalui sektor keuangan telah direspon secara positif oleh tingkat BI, dan 4) dampak tarif sasaran Fed ditularkan melalui sektor keuangan untuk dinamika suku bunga BI sebagian besar dijelaskan oleh target Fed rate, BI rate, dan nilai tukar rupiah / USD
Bagaimana Velositas Uang Di Indonesia? (Pendekatan Model Penyesuaian Parsial Berdasarkan Asumsi "Adaptive Expectation" Vs "Perfect Forsight")
Kebijakan moneter adalah salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah/penguasa moneter untuk mempengaruhi atau menjaga jumlah uang beredar. Tujuan kebijakan tersebuta adalah agar tercapai kestabilan perekonomian negara
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUKU BUNGA KREDIT BANK UMUM DI INDONESIA SEBELUM DAN SESUDAH KRISIS MONETER TAHUN 1997
Data yang kami pergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari Biro Pusat Statistik dan Bank Indonesia. Dari data tersebut dilakukan analisis
dengan menggunakan metode Chow Test.
Dari hasil uji stabilitas Chow Test menunjukkan bahwa nilai Fhitung lebih besar
dari Ftabel maka dari itu dapat disimpulkan penelitian ini terdapat stabilitas Chow Test, yang
artinya krisis moneter yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 berpengaruh signifikan
terhadap Suku Bunga Kredit Bank Umum. Dari keenam variabel independent hanya tiga
variabel yang berpengaruh yaitu Suku Bunga SBI, Inflasi, dan Suklu Bunga Luar Negeri,
sedangkan jumlah Uang Beredar, Kurs, dan Produk Domestik Bruto tidak berpengaruh
signifikan terhadap Suku Bunga Kredit Bank Umum.
Dari hasil uji t periode sebelum krisis moneter (1993.I-1997.II) didapat variabel
Suku Bunga SBI dan Suku Bunga Luar Negeri berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen (Suku Bunga Kredit Bank Umum). Sedangkan untuk variabel Jumlah Uang
Beredar, Inflasi, kurs, Produk domestik Bruto tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen (Suku Bunga Kredit Bank Umum). Untuk periode setelah krisis moneter (1997.III-
2003.IV) didapat variabel Suku Bunga SBI dan Inflasi berpengaruh signifikan, sedangkan
variabel Jumlah Uang Beredar, Kurs, Produk Domestik Bruto, dan Suku Bunga Luar Negeri
berpengaruh tidak signifikan terhadap variabel dependen (Suku Bunga Kredit Bank Umum).
Untuk periode sebelum dan sesudah krisis moneter (1993.I-2003.IV) didapat variabel Suku
Bunga SBI dan Inflasi berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Suku Bunga
Kredit Bank Umum). Dan untuk variabel Jumlah Uang Beredar, Kurs, Produk Domestik
Bruto dan Suku Bunga Luar Negeri tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Suku
Bunga Kredit Bank Umum). Sedangkan untuk hasil uji F menunjukkan bahwa variabel
independent (jumlah Uang Beredar, Suku Bunga SBI, Inflasi, Kurs, Produk Bomestik Bruto,
Suku Bunga Luar Negeri) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen (Suku Bunga Kredit) baik sebelum krisis moneter dan sesudah krisis moneter
maupun gabungan sebelum dan sesudah krisis moneter.
Berdasarkan periode sebelum krisis moneter hasil analisis R2-squared (R2)
sebesar 0,705955. (70,59%) Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa 6 variabel independent
dapat menjelaskan pengaruh Suku Bunga Kredit dan sisanya sebesar 29,41% dijelaskan oleh
variabel lain diluar model. Berdasarkan periode sesudah krisis moneter hasil analisis R2-
squared (R2) sebesar 0,788259. (78,82%) Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa 6 variabel
independent dapat menjelaskan pengaruh Suku Bunga Kredit dan sisanya sebesar 21,18%
dijelaskan oleh variabel lain diluar model Berdasarkan periode sebelum dan sesudah krisis
moneter hasil analisis R2-squared (R2) sebesar 0,687852. (68,78%) Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa 6 variabel independent dapat menjelaskan pengaruh Suku Bunga Kredit
dan sisanya sebesar 31,22% dijelaskan oleh variabel lain diluar model
Kebijakan Ekonomi Mengatasi Resesi Akibat Pandemi Covid-19: Pengalaman Singapura
Penelitian ini membahas mengenai kebijakan ekonomi Singapura dalam mengatasi resesi tahun 2020 yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Sebagai negara yang bergantung terhadap perekonomian global, terhambatnya kegiatan ekonomi karena pandemi memberikan dampak ekonomi yang sistematis bagi Singapura. Adapun teori yang
digunakan untuk mengerangkai kebijakan Singapura adalah teori ekonomi makro. Metode penelitian bersifat deskriptif-kualitatif, dengan pengumpulan data melalui studi dokumentasi berbasis pada internet. Penelitian ini berargumen bahwa pemerintah Singapura tidak hanya sigap dalam menangani Covid-19, tetapi juga dalam mengeluarkan
kebijakan ekonomi untuk mengatasi resesi. Ada dua kebijakan ekonomi Singapura menghadapi resesi, yaitu kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Pemerintah meluncurkan empat paket stimulus kebijakan fiskal dan juga kebijakan moneter dalam hal pemberian
kredit, pengawasan likuiditas, dan pinjaman bagi bank konvensional
Kedudukan Bank Indonesia (BI) Setelah Terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan (Ojk)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran Bank Indonesia pasca lahirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bank Indonesia mempunyai tugas dan wewenang dalam hal fungsi pembayaran, fungsi pengawasan dan menetapkan kebijakan moneter. Adanya krisis moneter tahun 1998 dan beberapa kasus pembobolan bank di Indonesia, Bank Indonesia dianggap telah gagal melakukan fungsi dan tugasnya. Sejak adanya wacana pembentukan OJK pada tahun 1998 telah menjadi polemik tersendiri antara BI dan Pemerintah. Akhirnya setelah tertunda sekitar 10 tahun pada tahun 2011 akhirnya OJK telah terbentuk dengan disahkannya UU Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan. Dengan terbentuknya OJK yang menggantikan peran Bank Indonesia maka ada beberapa tugas dan wewenang BI yang dipangkas. Bank Indonesia hanya berwenang dalam hal menetapkan kebijakan moneter
Kebijakan moneter sebagai tonggak manajemen keuangan Indonesia
Laporan ini ditujukan kepada pembaca yang ingin mengerti apa maksud dari
Kebijakan Moneter. sangat berperan penting dalam perekonomian karena Indonesia
termasuk negara berkembang yang butuh untuk dijaga, terutama dalam hal keuangan.
Karna itu Kebijakan moneter sangat penting bagi Negara untuk menstabilkan
perekonomian untuk menyejahterakan masyarakat
Strategi Kebijakan Moneter di Indonesia
Kebijakan moneter pada umumnya adalah suatu kebijakan untuk mencapai stabilitas ekonomi makro, seperti halnya stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi serta tersedianya lapangan kerja. Semua sasaran tersebut sangat sulit dilaksanakan karena timbulnya trade off antara variabelvariabel tersebut. Indonesia setelah terjadinya krisis moneter merubah strategi kebijakan moneternya dengan menggunakan kerangka inflasi targeting. Selama penerapan strategi kebijakan tersebut ternyata tingkat keberhasilannya belum memuaskan sehingga perlu dikaji kembali apakah strategi yang digunakan sudah cukup sesuai dengan kondisi perekonomian di Indonesia
Analisis Pengaruh Monetary Policy Shock terhadap Jumlah Deposito Perbankan Islam dalam Sistem Perbankan Ganda: Studi Kasus Indonesia dan Malaysia
Tujuan dari penelitian ini adalah ingin menguji secara empiris, apakah perilaku nasabah perbankan Islam di Indonesia dan di Malaysia terpengaruh oleh kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh bank sentral pada masingmasing negara. Selain itu, apakah negara dengan karakteristik ekonomi dan kebijakan yang hampir sama – Indonesia dan Malaysia -, akan menghasilkan perilaku nasabah terhadap deposito perbankan Islam yang sama atau tidak. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah yang pertama , metode ekonometrika VAR (Vector Auto Regression) yang bila terjadi kointegrasi pada data yang stasioner di 1st difference akan dilanjutkan pada VECM (Vector Error Correction Models) dan yang kedua, analisis elastisitas permintaan deposito perbankan Islam terhadap variabel-variabel yang diuji dalam penelitian ini pada periode Januari 2005 sampai dengan Desember 2009. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa dalam jangka panjang variabel moneter di Indonesia berpengaruh secara signifikan terhadap deposito perbankan Islam. Berbeda dengan di Malaysia di mana variable moneter tidak berpengaruh secara signifikan terhadap deposito perbankan Islam. Begitupun hasil analisis elastisitas permintaan deposito perbankan Islam di kedua negara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa deposito perbankan Islam di Indonesia lebih sensitif terhadap Perubahan kebijakan moneter, dibandingkan dengan yang ada di Malaysia.JEL Classifications : E41, E52, G21
- …
