181,970 research outputs found
KAJIAN “SEWAGE SYSTEM” PADA HOTEL CITRA DAGEN YOGYAKARTA
Hotel Citra Dagen Yogyakarta yang terletak di daerah obyek wisata Malioboro dan pemukiman padat, tentunya harus menggunakan system pembuangan air limbah yang memenuhi syarat dari kebutuhan hotel. Evaluasi sewage system pada bangunan ini bertujuan untuk mengetahui sistem apa yang digunakan pada pembuangan air limbah hotel, besaran komponen dan kapasitas pada bagian perlengkapan sanitair.
Analisis sewage system ini mempunyai beberapa tahapan, yaitu pengumpulan data berupa data gambar, dan interview lapangan. Analisis ini berdasarkan standar perencanaan yang terkait pada limbah sistem.
Hasil analisis sistem pembuangan diperoleh sistem pembuangan air limbah menggunakan sistem instalasi pengolahan dua pipa. Hasil analisis untuk pipa tegak limbah air kotor diperoleh hasil pipa terbesar 2” pada kebutuhan 720 liter/menit, dan pipa tegak pada lapangan 4” untuk kebutuhan 15000 liter/menit. Jadi untuk pipa tegak air kotor yang digunakan sudah aman dan memenuhi kebutuhan. Pada hasil analisis pipa tegak air limbah diperoleh hasil pipa terbesar 2½” pada kebutuhan 990 liter/menit, dan pipa tegak air limbah pada lapangan digunakan 3” untuk kebutuhan 1800 liter/menit. Jadi untuk pipa tegak air limbah yang digunakan sudah aman dan memenuhi kebutuhan. Pada, hasil analisis pipa drainase tegak, pipa terbesar diperoleh 4” untuk kebutuhan 15000 liter/menit. Sedangkan pada pipa di lapangan di gunakan pipa 4” untuk kebutuhn 15000 liter/menit. Jadi untuk kebutuhan pipa tegak drainase sudah aman dan memenuhi kebutuhan. Dari hasil analisis perhitungan, menunjukkan bahwa pipa tegak limbah air kotor, pipa tegak limbah air bekas, dan pipa drainase tegak pada Hotel Citra Dagen Yogyakarta sudah memenuhi kebutuhan dalam daya buang air limbah yang terjadi
ELEKTRODEKOLORISASI LIMBAH CAIR INDUSTRI KAIN TENUN MENGGUNAKAN ELEKTRODA PbO2/Pb
Telah dilakukan penelitian tentang elektrodekolorisasi limbah cair industri kain tenun dengan elektroda Pb02/Pb. Penelitian dilakukan dengan mengelektrolisis sampel limbah cair industri kain tenun pada potensial 5,0 volt. Media elektrolisis zat warna adalah air limbah industri kain tenun sedangkan elektroda yang digunakan adalah PbO2-Pb serta pengaturan waktu elektrolisis selama 90 menit. Hasil akhir elektrolisis dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan Spektrometer UV-Vis dan analisis produk terhadap nilai total dissolved solid (TDS) dan kekeruhan. Hasil yang diperoleh menunjukkan elektrolisis air limbah industri kain tenun menggunakan elektroda PbO2-Pb menghasilkan dekolorisasi sebesar 98,8%, penurunan nilai total dissolved solid (TDS) sebesar 96,05% dan kekeruhan sebesar 99,90
PERBEDAAN EFEKTIFITAS KARBON AKTIF TEMPURUNG KELAPA DAN ARANG KAYU DALAM MENURUNKAN TINGKAT KEKERUHAN PADA PROSES FILTRASI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU
Pengolahan limbah cair merupakan upaya untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Salah satu bentuk pencemaran lingkungan adalah tingginya tingkat kekeruhan, khususnya limbah cair industri tahu. Sesuai dengan PP No. 20 tahun 1990 dan PERMENKES RI No. 416 tahun 1990 nilai maksimal untuk tingkat kekeruhan adalah 25 NTU (500 mg/L). Untuk itu perlu dilakukan pengolahan limbah cair antara lain dengan filtrasi menggunakan karbon aktif. Hasil pemeriksaan tingkat kekeruhan limbah cair industri tahu adalah sebesar 518,5 mg/L. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efektifitas karbon aktif tempurung kelapa dan karbon aktif kayu dalam menurunkan tingkat kekeruhan pada proses filtrasi pengolahan limbah cair industri tahu.
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dengan populasi penelitian, seluruh limbah cair yang dihasilkan dalam seluruh proses produksi. Sampel penelitian , 30 L limbah cair industri tahu yang diambil di outlet dengan metode grab sampling. Untuk mengetahui perbedaan efektifitas karbon aktif kayu dan tempurung kelapa dalam menurunkan tingkat kekeruhan limbah cair industri tahu maka digunakan uji statistik one way anova dan uji Least Significant Difference.
Tingkat kekeruhan sampel yang difiltrasi dengan karbon aktif tempurung kelapa turun menjadi rata-rata 76,4mg/L, sedang sampel yang difiltrasi dengan karbon aktif kayu dan tempurung kelapa turun menjadi 42,07 mg/L. Berdasarkan hasil uji statistik didapat F sebesar 20649,49 dengan derajat kebebasan 3 dan 20, diperoleh signifikasi 0,001. Nilai ini lebih kecil dari alfa = 0,05 berarti ada perbedaan efektifitas karbon aktif tempurung kelapa dan karbon aktif kayu serta campuran karbon aktif kayu dan tempurung kelapa dalam menurunkan tingkat kekeruhan limbah cair industri tahu. Hasil uji LSD dengan membandingkan berbagai kelompok perlakuan didapatkan nilai signifikasi 0,001 yang berarti bahwa semua kelompok perlakuan efektif dalam menurunkan tingkat kekeruhan limbah cair industri tahu.
Namun berdasarkan analisis biaya ekonomi didapatkan bahwa karbon aktif kayu paling baik untuk digunakan.
Kata Kunci: Karbon aktif kayu, karbon aktif tempurung kelapa, tingkat kekeruhan,limbah cair industri tahu
THE DIFFERENCE OF EFFECTIVITY BETWEEN COCONUT SHELL ACTIVE CARBON IN REDUCING TURBIDITY OF WASTE WATER FILTRATION PROCESS IN INDUSTRY
Waste water treatmen is an effort to prevent environmental polution. One of environmental polution is the higher of turbidity rate caused by soyabeen industry. According to PP number 20, 1990 and PERMENKES 416, 1990 the maximum value for turbidity rate is 25 NTU (500 mg/L). Therefore it is necessary to process waste water, one of the process is active carbon filtration. According to this research to determine the difference of effectivity between coconut shell active carbon and wood carbon in reducing turbidity of waste water filtration process in tofu industry.
Research design was the randomized control group pretest-postest. The population of this research were the tofu industry waste water and using grab sampling method, sample of this research is 30 L of soyabeen waste water that taken from outlet. the data was analyzed by SPSS 10,0 for windows with the one way anova test and least significant difference test to determine the difference of effectivity between coconut shell active carbon and wood carbon in reducing turbidity of waste water filtration process in tofu industry.
The turbidity rate of tofu waste water is filtered with coconut shell active carbon decrease to 76,4 mg/L, and sample is filtered with wood active carbon decrease to 121,7 mg/L, and sample is filtered with the mixed of wood active carbon and coconut shell decrease to 42,07 mg/L. The result of statistic test, the F ratio is 20649,49 and of value are 3 and 20, with the significant value is 0,001. From that result, there were significant different between wood active carbon and coconut shell active carbon to decrease turbidity rate at the filtration process in waste water treatment of soyabeen industrial. The result of Least Significant Difference test, the significant value is 0,001. and that means all the treatment groups are effective to reducing turbidity rate of tofu industry waste water.
But according to Economic cost analyze, we found that wood active carbon is better than other treatment.
Keyword : Wood active carbon, Coconut shell active carbon, Turbidity rate, tofu industry waste wate
EFEKTIVITAS DOSIS KAPORIT DALAM MENURUNKAN KADAR AMONIAK LIMBAH CAIR RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA
Amoniak adalah senyawa yang terbentuk dari oksidasi bahan organik yang mengandung bahan nitrogen dalam air limbah dengan bantuan bakteri. Adanya amoniak dalam effluent air limbah dapat menjadi indikasi adanya pencemaran senyawa organik yang mengandung nitrogen dalam buangan limbah cair yang berarti terjadi gangguan proses dalam pengolahan air limbah. kadar amoniak dapat diturunkan melalui pengolahan limbah secara kimiawi yaitu dengan oksidasi menggunakan kaporit. Amoniak bereaksi dengan kaporit dan membentuk monokloramin, dikloramin atau trikloramin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan kaporit dalam menurunkan kadar amoniak limbah cair RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Variabel bebas penelitian ini adalah beberapa dosis kaporit dan variabel terikat adalah kadar amoniak. Jenis penelitian ini adalah eksperimen murni. Populasi yang digunakan adalah air limbah yang berada di kolam indikator Instalasi Pengolahan Air Limbah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah air limbah rumah sakit yang diambil di bak penampungan akhir sebelum klorinasi IPAL. Test Homogenity of Variances didapatkan bahwa nilai levene test 1,623 dengan nilai p = 0,220, karena nilai p > 0,05 maka kelima varian adalah sama. Uji statistik yang digunakan adalah anova. Hasil uji statistik one way pada tes anova didapatkan bahwa F hitung adalah 596,146 dengan nilai p = 0,000. Karena nilai p < 0,05 maka Ho ditolak berarti rata-rata penurunan kadar amoniak dari kelima variasi dosis tersebut memang berbeda nyata. Dengan dosis paling efektif 7,5 ml/l yang mampu menurunkan kadar amoniak sebesar 95,727%. Dosis optimum adalah 5,18 ml/l. Disarankan agar pembubuhan kaporit dilakukan pada bak indikator terakhir sebelum memasuki outlet agar dapat membantu menurunkan kadar amoniak dan sebagai desinfektan.
Kata Kunci: amoniak, kaporit, oksidasi
THE EFFECTIVENESS OF CHLOR DOSAGE FOR DECREASING AMMONIA AT Dr. SARDJITO THE CENTER PUBLIC HOSPITAL, YOGYAKARTA
Ammonia is compound resulted by the oxidation process of organic substances containing nitrogen in wastewater facilitated by bacteria. The existence of ammonia in wastewater effluent indicates the occurance of organic substance pollution containing nitrogen in liquid waste. A methode which maybe applied in reducing the contain of ammonia is chemical treatment by using chlor. Ammonia will react to chlor or hypochloric acid and form the monochloramine, dichloramine or trichloramine. The aim of this research was to explore the ability of chlor as the oxidize in reducing the contain of ammonia on liquid waste of Dr. Sardjito The Center Public Hospital Yogyakarta. The independent variables were variety dosage of chlor and dependent variable was the ammonia levels. This research was clasified to true experimental research. The population this research was wastewater in indicator basin at installation of wastewater treatment. Based on the result of homogenity test of variances was obtained that the levene of count test 1,623 with p value = 0,220, for the p value >0,05, then the five variances were the same. Anova was used as the statistical test. The result of one way statistical test of anova shows F count 596,146 with p value = 0,000 For the p value <0,05 then Ho is refused, or the reduction mean of those five variances dosage is obviously diffrent. The most effective dosage was 7,5ml/l (95,727%). The optimum dosage was 5,18ml/l. It was advised that the adding of the chlor should be conducted on the last indicator basin before outlet, in order to facilitate the reduction of ammonia and desinfectant
Keyword ; ammonia, chlor, oxidatio
By Product Exchange of Seaweed Solid Waste for Mushrooms Media
A laboratory experiment on utilization of seaweed-containing solid wastes as media for growing mushrooms was conducted by researchers from the Institute for Environmental Technology. The solid wastes were obtained from PT. Agarindo Bogatama, a food industry which produces jelly powder processed from seaweed of Gracilaria. The company generates 60 tones of solid wastes of seaweed per-day that contained 70% of water content. The solid media was used to grow Auricularia polytricha, Pleurotus astreatus, and Ganoderma lucidum. Some mixed media were prepared with the percentage ratio of sawdust to solid waste as 0, 25, 50, 75, and 100. After sterilizationthe media were planted with mushrooms and then were kept in incubator. After 28-day the basidiomas of G. lucidum was developed while P. astreatus appeared after 36-day of incubation. Both were grown on 100% seaweed media (using 100% sawdust media as a control). This very early results indicated that solid waste of seaweeds have an additional value which can be used as media for mushrooms plantation. Implementation waste to product as a part of cleaner production approach should be disseminated to the industries, especially SMEs like PT. Agarindo Bogatama, who areconcern to the environment
PENYELESAIAN PERCERAIAN MELALUI PUTUSAN VERSTEK DALAM PERKARA No. 194/Pdt.G/2023/PA.Kab.Mlg
The main task of every husband and wife is to fulfill each other to improve their personality, to achieve prosperity both from the material and spiritual side. However, in reality, people who marry sometimes do not find the happiness and harmony that every couple hopes for. Various arguments and differences of opinion between partners cause disputes. When there are endless arguments in the household, so that harmony is no longer felt, it can become a burden to maintain a marriage. This research was conducted to determine the implementation of the settlement of divorce case No. 194/Pdt. G/2023/PA.Kab.Mlg which was completed by default (verstek). The author conducted research using empirical juridical methods which are known as research that goes directly into the field by deepening the existing legal regulations in Indonesia which are what actually occur in the social order of life. In the process of resolving this case, it can be said that there is a trial that is quite unique when compared to the process of resolving talak divorce cases in general. In general, we can see that there are several series of trial agendas with different trial objectives in each agenda, such as a separate initial trial, a separate evidentiary trial, or a separate conclusion trial. However, what happened in the process of resolving the divorce divorce case with number No. 194/Pdt. G/2023/PA.Kab.Mlg means that all trial agendas are combined into one trial agenda, namely at the initial trial. In this case, it was certain from the start that the respondent would not attend or at least care about this case. This is due to the current situation and condition of the Respondent, where the Respondent has (knowingly and intentionally) abandoned the Applicant and the children resulting from the marriage of the Applicant and Respondent in order to be with the Respondent's mistress, and the whereabouts of the Respondent are unknown even to the Respondent's own family. Therefore, indirectly, the default decision will definitely be the decision that ends the process of resolving this divorce divorce case. According to the author, there are still things that can be further harmonized between several points of related legal rules (for example, such as for divorce and divorce cases), considering the differences in the rules regulated in Indonesian law and religious law itself
Potensi Dan Karakteristik Limbah Pembalakan Pada PT Kemakmuran Berkah Timber Provinsi Kalimantan Timur
Kendatipun kegiatan pembalakan telah dilakukan secara hati-hati tetapi terjadinya limbah kayu tetap sulit dihindarkan. Terjadinya limbah pembalakan tersebut disebabkan karena faktor alami (growong, bengkok, busuk hati, mata buaya/notch dan faktor teknis (pecah dan jenis limbah lainnya sebagai akibat adanya pertimbangan kemudahan penebang). Besarnya limbah kayu yang terjadi pada kegiatan pemanenan kayu di IUPHHK-HA PT Kemakmuran Berkah Timber berkisar antara 0,577-0,728 m3/pohon dengan rata-rata 0,677 m3/pohon terdiri atas limbah tunggak (0,006 m3/pohon), limbah pangkal (0,325 m3/pohon), dan limbah ujung (0,355 m3/pohon). Dari segi kualitas, sebanyak 0,378 m3/pohon (± 55,85%) diantaranya dikategorikan “baik” sehingga potensial dapat dimanfaatkan dan sebanyak 0,299 m3/pohon (± 44,15%) kondisinya “cacat” alami berupa mata buaya, bengkok, growong maupun pecah. Potensi dan sebaran jenis limbah berbeda antara jenis meranti (Shorea spp.), kapur (Dryobalanops spp.) dan majau (S.johorensis). Untuk meranti, limbah pangkal lebih banyak (0,623m /pohon atau 64,94%) dibandingkan dengan limbah ujung (0,322 m3/pohon atau 34,17%) maupun limbah tunggak (0,009 m3/pohon atau 1,00%). Tetapi untuk jenis pohon kapur (Dryobalanops spp.) dan majau (S.johorensis), limbah ujung justru lebih banyak dibandingkan limbah pangkal maupun limbah tunggak. Volume limbah ujung untuk jenis kapur sebanyak 0,356 m3/pohon (81,63%), limbah pangkal sebesar 0,076 m3/pohon (17,51%) dan untuk limbah tunggak 0,004 m3/pohon (0,86%). Sedangkan jenis majau besarnya limbah ujung, pangkal dan tunggak berturut-turut adalah 0,385 m3/pohon (59,42%); 0,257 m3/pohon (39,72%); dan 0,006 m3/pohon (0,86%)
Penggunaan Limbah Medium Tanam Jamur Tiram (Pleurotus Ostreatus) Dalam Penyerapan Warna Limbah Cair Batik
Medium tanam budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang telah termanfaatkan
akan menimbulkan limbah baru. Permasalahan limbah yang tidak dapat dihindarkan karena
setelah pemanenan, medium tanam jamur (baglog) selalu dibuang sebagai limbah karena tidak
mampu ditumbuhi jamur tiram lagi. Pemanfaatan limbah medium yang selama ini telah
dilakukan dianggap kurang efektif. Pemanfaatan lain yang sedang dikembangkan adalah
sebagai agen dekolorisasi limbah cair batik. Limbah baglog masih mengandung miselium P.
ostreatus dan selulosa yang berperan sebagai penyerap pewarna. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kemampuan limbah medium tanam P. ostreatus pada proses penyerapan warna
limbah batik, serta kombinasi rasio berat limbah medium : volume limbah batik dan waktu
inkubasi manakah yang mampu menyerap warna limbah batik secara optimum. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan rancangan percobaan
berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasilnya menunjukkan bahwa limbah medium tanam
P. ostreatus mampu menyerap warna limbah cair batik serta kombinasi rasio berat limbah
medium : volume limbah batik 1:2 dan waktu inkubasi 72 jam yang mampu menyerap warna
limbah batik secara optimum
Elektroflokulasi limbah minyak
Limbah minyak dapat diatasi dan dicegah secara .elektroflokulasi. Hal tersebut dilakukan dengan cara mengadsorpsi limbah minyak menggunakan hidroksida besi yang dihasilkan dari proses elektrolisis. Pada penelitian elektroflokulasi terhadap limbah minyak ini menggunakan kawat besi sebagai anoda dan kaleng aluminium sebagai katoda. Elektroflokulasi berlangsung dengan variasi tegangan 0, 3, 5, 7, 9, 11 dan 15 volt selama variasi waktu 0; 2,5; 5; 15; dan 25 menit, sehingga pada proses tersebut dapat diketahui pengaruh massa deposit besi terhadap adsorpsi limbah minyak, waktu elektroflokulasi terhadap limbah minyak, kapasitas adsorpsi maksimum, dan kesetimbangan adsorpsi.
Limbah minyak yang digunakan terdiri dari garam dapur, minyak kelapa, dan surfaktan alkil benzil sulfonat. Filtrat sampel elektroflokulasi dianalisa menggunakan metoda gravimetri dan GC-MS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar massa deposit besi dan semakin lama waktu elektroflokulasi mempengaruhi proses penanganan limbah minyak. Nilai kapasitas adsorpsi maksimum dan kesetimbangan adsorpsi berturut-turut adalah 125 gram/gram dan 0,008179.
Oily wastewater can be treated and prevented by electroflocculation. This is done by oily waste water using iron hydroxide flocculant. The flocculant were produced by electrolysis process. The reasearch of electroflocculation of oily watewater was used iron wire as anode and aluminium can as katode. Electroflocculation was done by various potential 0, 3, 5, 7, 9, 11, and 15 volt for 0; 2,5; 5; 15; and 25 minute, the effect of deposit mass of iron and electroflocculaton time, maximum capacity of adsorption and equilibrium of adsorption can be evaluated.
Oily wastewater was contain salt, coconut oil, and alkil benzil sulfonat of surfactant. Electroflocculation filtrat was analyzed by gravimetric method and GC-MS.
The result of research showed that deposit mass of iron and time of electroflocculation influented oily waswater adsorption. Capacity respectively and equilibrium of adsorptions values were 125 g/g and 0.008179
- …
