3,252 research outputs found
Aktivitas Larvasida Fraksi Nonpolar Ekstrak Etanol Daun Inggu (Ruta angustifolia L.) Terhadap Larva Nyamuk Anopheles aconitus Dan Anopheles maculatus Beserta Profil Kromatografinya
Pemberantasan nyamuk Anopheles spp telah banyak dilakukan terutama menggunakan larvasida kimia. Namun seringnya penggunaan bahan kimia menyebabkan pencemaran lingkungan. Pemakaian larvasida alami banyak dikembangkan untuk mengatasi kerugian penggunaan larvasida kimia. Tanaman
inggu (Ruta angustifolia L.) bermanfaat sebagai obat tradisional terapi hipertensi, sakit kepala,demam dan insektisida. Tanaman inggu mengandung alkaloid,
furokumarin, flavonoid, tanin, minyak atsiri dan sterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas larvasida fraksi nonpolar ekstrak etanol daun inggu
terhadap larva nyamuk Anopheles aconitus, Anopheles maculatus dan kandungan senyawa di dalam daun inggu.
Daun inggu dimaserasi dengan etanol 96%, kemudian difraksinasi menggunakan kromatografi kolom vakum sehingga didapatkan fraksi nonpolar ekstrak etanol daun inggu. Fase gerak menggunakan gradien kepolaran bertingkat perbandingan n-heksana : etil asetat, sedangkan fase diam silika. Uji aktivitas larvasida fraksi nonpolar dilakukan terhadap 5 seri konsentrasi fraksi yang didapat dari hasil orientasi, yaitu 50, 100, 200, 300, dan 500 ppm. Kontrol uji larvasida
adalah kontrol Abate® dan kontrol suspending agent CMC-Na 1%. Pengamatan dilakukan dengan menghitung larva yang mati setelah 24 jam. Uji kandungan senyawa dilakukan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), dengan fase diam silika dan fase gerak perbandingan heksan:etil asetat (9:1)v/v.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi nonpolar ekstrak etanol daun inggu memiliki aktivitas larvasida terhadap larva nyamuk Anopheles aconitus dan Anopheles maculatus dengan LC50 sebesar 61,90 ppm dan 95,03 ppm. Hasil
analisis KLT menunjukkan adanya alkaloid, kumarin, flavonoid dan terpenoid
Potensi Kenikir (Cosmos Caudatus) Sebagai Larvasida Nyamuk Aedes Aegypti Instar IV
Resistensi temephos (abate) sebagai larvasida telah terjadi di Jawa Tengah sejak tahun 2007 dan ditahun 2017 Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus DBD terbanyak ketiga secara nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ekstrak daun kenikir (Cosmos caudatus) sebagai larvasida pengganti temephos. Proses penelitian dimulai dengan ekstraksi fraksinasi, kemudian dilanjutkan dengan screening fitokimia dan uji larvasida menggunakan metode yang direkomendasikan oleh WHOPES dengan mengamati mortalitas larva nyamuk A. aegypti pada jam ke 24, 48 dan 72 pada berbagai konsentrasi larutan uji (600, 800, 1000, 1200, 1400, 1600, dan 1800 ppm). Data mortalitas larva dianalisis dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) subsampling. Perbandingan antar perlakuan diuji dengan uji Beda nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kebermaknaan 5%. Analisa probit pada data mortalitas menghasilkan nilai dosis efektif LC50. Hasil penelitian menunjukan diantara ketiga fraksi, ekstrak kenikir fraksi heksan memiliki efek larvasida terbaik (mortalitas 71,67%) dengan LC50 sebesar 1762 ppm pada waktu paparan 72 jam. Golongan senyawa kimia yang menyebabkan efek larvasida ini adalah alkaloid, terpenoid, dan flavonoid. Walaupun ekstrak fraksi heksan tanaman ini memiliki efek larvasida, potensi pengembangan tanaman ini sebagai pengganti temepos kecil dikarenakan nilai LC50 yang tinggi pada waktu paparan yang lama
Penerimaan Masyarakat Terhadap Larvasida Alami
Penggunaan insektisida khusunya larvasida kimia sintetik meninggalkan residu yang berdampak negatif bagi lingkungan, sehingga dikembangkan penelitian larvasida alami untuk menekan dampak negatif larvasida kimia. Penelitian tentang larvasida sebelumnya telah banyak dilakukan dilaboratorium namun penerapan dimasyarakat belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penerimaan masyarakat terhadap larvasida serai. Penelitian dilakukan di Kota Semarang pada tahun 2011, dengan desain deskriptif study ini melibatkan 25 responden sebagai penilai untuk menilai penerimaan larvasida serai dalam aspek tampilan (warna dan bau), kemudahan penggunaan, penerapan di tempat perkembangbiakan nyamuk, dan ketersediaan bahan larvasida. Dianalisis dengan metode deskriptif presentase. Ekstrak berpotensi untuk diterima di masyarakat sebagai larvasida, karena memiliki bau yang disukai oleh masyarakat dan ketersediaan bahan yang cukup melimpah di alam. Namun keraguan masyarakat untuk menerima ekstrak serai sebagai larvasida dikarenakan proses penggunaannya berkaitan dengan penggunaan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Sehingga mengurangi minat masyarakat dan lebih cenderung untuk lebih memilih menguras bak mandi daripada menggunakan larvasida. The use of synthetic chemical insecticides especially larvacide leave residues that have a negative impact on the environment, so the natural larvacide research was developed to reduce the negative impact of chemical larvacide. Research on larvacide laboratory has previously done in the community, but the application has not been done. This study aims to reveal the public acceptance of larvacide lemongrass. Study design was descriptive study involving 25 respondents as assessor for acceptance larvacide lemongrass display aspect (color and odor), ease of use, application in mosquito breeding sites, and the availability of materials larvacide. Analyzed with descriptive method percentage. Extract the potential to be accepted in society as larvacide, because it has the smell is liked by the community and the availability of materials are relatively abundant in nature. But doubts the public to accept as lemongrass extract larvacide use due process associated with the use of clean water for daily use. Thereby reducing the interest of the community and are more likely to prefer the bathtub drain instead of using larvacide
EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI MENGKUDU (MORINDA CITRIFOLIA L.) SEBAGAI LARVASIDA CULEX SP
ABSTRAKUlya, Darajatul. 2017. Efektivitas Ekstrak Biji Mengkudu (Morinda citrifolia L.) sebagai Larvasida Culex sp. Skripsi. Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala. Pembimbing:(1)Drs. Supriatno, M.Si., Ph.D (2) Devi Syafrianti, S.Pd., M.SiKata Kunci: Ekstrak Biji Mengkudu, Larvasida, Culex sp.Nyamuk Culex sp merupakan salah satu vektor dari beberapa penyakit sehingga perlu dilakukan pemberantasan. Pemberantasan dengan menggunakan larvasida sintetik memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga diperlukan larvasida alami yang berasal dari tumbuhan. Salah satunya adalah larvasida dari ekstrak biji mengkudu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak biji mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap mortalitas larva Culex sp dan LC50 ekstrak biji mengkudu. Penelitian menggunakan metode RAL dan analisis data menggunakan ANAVA serta untuk LC50 menggunakan analisis probit. Objek penelitian ini adalah 240 individu larva Culex sp. Rancangan penelitian memiliki 6 perlakuan. Adapun perlakuan dimaksud yaitu KN (0 ppm), KP (100 ppm abate), P1 (5.000 ppm), P2 (10.000 ppm), P3 (15.000 ppm) dan P4 (20.000 ppm) dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 20.000 ppm (P4) merupakan konsentrasi paling efektif dengan kematian larva 97,5% dalam waktu 24 jam. Hasil analisis probit diperoleh 8.333,33 ppm. Analisis data memberikan hasil bahwa F hitung (117) > F tabel (2,77) pada taraf signifikan 5%. Simpulan penelitian ini adalah pemberian ekstrak biji mengkudu berpengaruh terhadap mortalitas larva Culex sp sehingga dapat dijadikan sebagai larvasida alami
Uji Aktivitas Larvasida Nyamuk Aedes Aegypti Dari Beberapa Ekstrak Ascidian
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by virus through Aedesaegypti mosquitoes as the vector. The disease is spreading across the world andendanger and threaten human life. Measures in controlling the vector using the commonlarvaside “abate” are in adequate and less affective. The objectives of the research is tofind out larvaside extracted from three kinds of ascidian. The each ascidians (Polycarpaaurata, Didemnum molle and Rophalaea crassa) were extracted with ethanol, and thecrude extracts were subjected to larvasidal test by dissolving in water containing thelarvae. The remarkable extract activity was partition in ethyl acetate, hexane andbuthanol. The results show that extract of Polycarpa aurata has the highest activity. Theactivity of fractions show that ethyl acetate at 100 ppm reveals the highest mortality oflarvae 100% in 8 hours, followed by hexane fraction (12 hours) then buthanol fraction (18hours). All the fractions (Ethyl acetate, Hexane and Buthanol) could totality kill the larvaewithin 24 hours which is comparable to the abate
Efektivitas Larvasida Insect Growth Regulator (Igr) Berbah Anak Tifpyriproxifen 0.5%, Terhadap Jentik Nyamuk Vektor Malaria Anophelesaconitus Kondisi Laboratorium
A Study of the larvacide efficacy of Insect Growth Regulator (IGR) with the, active ingredientpyriproxifen 0.5%, has been conducted in the laboratory of the Institute for Vector andReservoirControl Research and Development, Salatiga City, Central Java Province. The study was caried outon December 2009, performed as laboratory scale trial using plastic trays (20x30 cm). Each traycontains5liters ofwateraddedwithpyriproxifenconcentration2g/m3. Atotal 25earlythird instarlarvae ofmalaria vector An.aconituswere placed in each treated tray (10 replicates) as wellasuntreated trays as the control (5 replicates). The larvae mortality was daily counted and recorded. Theaim of the study was to evaluate the efficacy of IGRlarvicide (a.i. pyriproxifen0,5%, granuleformulation), against malaria vector larvaeAn.aconitusin the laboratorycondition. The result wasrevealed that IGR(pyriproxifen0,5%) was effective caused100%emergenceinhibition and made 13days longer viability ofAn.aconitus in immature stagesdevelopment long life of An.aconitusimmature stagesdevelopment.Some larvae were found growing to be adult with various defected duetouncompletedmetamorphosis,such as their smallwings and legs are attached to pupal ski
Uji Aktivitas Larvasida Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol Kulit Batang Karet India (Ficus elastica Nois ex Blume) Serta Skrining Fitokimianya
Tanaman famili moraceae yang telah diteliti memiliki aktivitas, larvasida salah satunya golongan ficus yang diketahui memiliki kandungan senyawa saponin, flavonoid, dan triterpen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
aktivitas larvasida dan toksisitas BSLT dari Ficus elastica. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan desain post test only with control group. Sampel uji didapat dari partisi ekstrak etanol menggunakan etil asetat. Pengujian dilakukan dengan larva sebanyak 25 ekor yang dibagi dalam 5 sampel dan 1 kontrol dengan pemberian seri konsentrasi yang berbeda dalam 100 mL air dan diamati setelah 24 jam perlakuan. Uji BSLT menggunakan larva Artemia salina Leach sebanyak 10 ekor pada volume 10 ml. Pada pengujian biolarvasida dan pengujian BSLT tidak didapatkan LC50 karena dengan konsentrasi tinggi yang dibuat tidak menimbulkan kematian diatas 50% ini menunjukkan fraksi etil asetat ekstrak etanol kulit batang karet India (Ficus elastica Nois ex Blume) tidak memiliki aktivitas larvasida. Kandungan dari fraksi etil asetat ekstrak etanol kulit batang karet India (Ficus elastica Nois ex Blume) adalah senyawa saponin, flavonoid, dan terpenoid
- …
