139,406 research outputs found

    Location-Aided Fast Distributed Consensus in Wireless Networks

    Full text link
    Existing works on distributed consensus explore linear iterations based on reversible Markov chains, which contribute to the slow convergence of the algorithms. It has been observed that by overcoming the diffusive behavior of reversible chains, certain nonreversible chains lifted from reversible ones mix substantially faster than the original chains. In this paper, we investigate the idea of accelerating distributed consensus via lifting Markov chains, and propose a class of Location-Aided Distributed Averaging (LADA) algorithms for wireless networks, where nodes' coarse location information is used to construct nonreversible chains that facilitate distributed computing and cooperative processing. First, two general pseudo-algorithms are presented to illustrate the notion of distributed averaging through chain-lifting. These pseudo-algorithms are then respectively instantiated through one LADA algorithm on grid networks, and one on general wireless networks. For a k×kk\times k grid network, the proposed LADA algorithm achieves an ϵ\epsilon-averaging time of O(klog(ϵ1))O(k\log(\epsilon^{-1})). Based on this algorithm, in a wireless network with transmission range rr, an ϵ\epsilon-averaging time of O(r1log(ϵ1))O(r^{-1}\log(\epsilon^{-1})) can be attained through a centralized algorithm. Subsequently, we present a fully-distributed LADA algorithm for wireless networks, which utilizes only the direction information of neighbors to construct nonreversible chains. It is shown that this distributed LADA algorithm achieves the same scaling law in averaging time as the centralized scheme. Finally, we propose a cluster-based LADA (C-LADA) algorithm, which, requiring no central coordination, provides the additional benefit of reduced message complexity compared with the distributed LADA algorithm.Comment: 44 pages, 14 figures. Submitted to IEEE Transactions on Information Theor

    Pengaruh Pengelolaan Faktor Internal USAhatani Terhadap Produktivitas Lada Di Provinsi Lampung / the Effect of Internal Farming Management Factors on the Pepper Productivity in Lampung Province

    Full text link
    Luas area dan produksi lada di Provinsi Lampung terus berkurang dari tahun ke tahun dan terancam punah jika tidak segera dilakukan penanganan secara serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengelolaan faktor internal USAhatani terhadap produktivitas lada di Provinsi Lampung yang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam penyusunan kebijakan pengembangan lada ke depan . Penelitian dilakukan di Kabupaten Lampung Utara, Lampung Timur, dan Way Kanan, mulai bulan Maret sampai Desember 2014. Kajian ini menggunakan metode survei dan wawancara dengan bantuan kuisioner terstruktur dengan jumlah petani sampel 180 orang yang distratifikasi berdasarkan: a) petani yang pernah menanam lada tetapi saat ini tidak lagi menanam lada; b). petani yang menanam lada dengan introduksi t eknologi minimal (konvensional dan seadanya); dan c) petani lada yang menanam lada dengan rekomendasi paket teknologi Badan Litbang Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan faktor internal USAhatani lada yang mempengaruhi produksi lada di Lampung adalah luas areal, pemupukan NPK Phonska, pemupukan SP36, dan penerapan pola tanam lada monokultur. Upaya peningkatan produksi lada di Lampung dapat ditempuh melalui penambahan luas areal lada yang didukung dengan penanganan intensif melalui penerapan teknologi budidaya dengan benar seperti pemupukan NPK Phonska, SP36, dan penerapan pola tanam lada monokultur. Perkembangan harga lada yang relatif baik pada dua tahun terakhir dapat dijadikan momentum untuk kebangkitan kembali perladaan di Lampung. Dukungan inovasi teknologi perlu ditingkatkan melalui pendampingan dan pengawalan penerapan SOP disertai peningkatan akses petani terhadap input produksi terutama ketersediaan pupuk

    USAHATANI LADA (PIPER NIGRUM LINN)DI DESA SAHAN KECAMATAN SELUAS KABUPATEN BENGKAYANG KALIMANTAN BARAT

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui kesesuaian kondisi fisik dengan syarat tumbuh tanaman lada di Desa Sahan, (2) Mengetahui peranan kondisi non fisik dalam usahatani lada, (3) Mengetahui pengelolaan usaha tani lada di Desa Sahan, (4) Menganalisis hambatan-hambatan apa saja dalam pengelolaan usahatani lada di Desa Sahan, serta upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut, (5) Mengetahui produktivitas usahatani lada di Desa Sahan. Penelit ian ini merupakan penelit ian deskriptif. Variabel dalam penelit ian ini yaitu syarat tumbuh tanaman lada di Desa Sahan, faktor pengelolaan usahatani lada di Desa Sahan, hambatan yang dihadapi usahatani lada dan produktivitas. Populasi dalam penelit ian ini berjumlah 315 rumah tangga petani lada dan pengambilan sampel 25% yaitu sampel 80 kepala rumah tangga usahatani lada, teknik sampling yang digunakan yaitu proportionate simple random atau sampel campuran. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan data edit ing, kodit ing, dan tabulasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelit ian ini adalah analisis deskriptif yaitu proses penyederhanaan data secara deskriptif dengan data frekuensi (tabel tunggal). Hasil penelit ian menunjukkan bahwa: (1) Kesesuaian kondisi fisik yang mempengaruhi usahatani lada memiliki t ingkat kesesuaian yang baik yaitu faktor iklim, sedangkan untuk faktor fisik seperti tanah di daerah penelit ian misalnya seperti pH tanah yang kurang sesuai untuk syarat tumbuh tanaman lada, karena bersifat asam, (2) Peranan kondisi non fisik yang mempengaruhi usahatani lada berkaitan dengan modal, tenaga kerja, pemasaran, transportasi, dan teknologi, (3) Pengelolaan usahatani lada di Desa Sahan adalah pengelolaan lada putih dan lada hitam sebesar 63,75 % dari 80 total keseluruhan responden, (4) Hambatan yang paling besar dihadapi petani lada di Desa Sahan adalah hambatan hama penyakit. Upaya yang dilakukan petani lada di Desa Sahan untuk mengatasi hambatan-hambatan seperti hama penyakit selain dengan cara manual dan pest isida, (5) produktivitas usahatani lada di Desa Sahan dalam satu kali panen per tahun dengan luas lahan 1 ha atau 10.000 m 2 adalah sebesar 2002 kg. Kata kunci : Usahatani Lad

    Latent Autoimmune Diabetes in Adults in the United Arab Emirates: Clinical Features and Factors Related to Insulin-Requirement

    Get PDF
    AIMS: To describe and to characterize clinical features of latent autoimmune diabetes in adults (LADA) compared to type 1 and type 2 diabetes in the UAE. METHODS: In this cross-sectional study a dataset including 18,101 subjects with adult-onset (>30 years) diabetes was accessed. 17,072 subjects fulfilled the inclusion/exclusion criteria. Data about anthropometrics, demographics, autoantibodies to Glutamic Acid Decarboxylase (GADA) and to Islet Antigen 2 (anti-IA2), HbA1c, cholesterol and blood pressure were extracted. LADA was diagnosed according to GADA and/or anti-IA2 positivity and time to insulin therapy. RESULTS: 437 (2.6%) patients were identified as LADA and 34 (0.2%) as classical type 1 diabetes in adults. Mean age at diagnosis, BMI, waist circumference, systolic blood pressure and HbA1c significantly differed between, LADA, type 2 and type 1 diabetes, LADA showing halfway features between type 2 and type 1 diabetes. A decreasing trend for age at diagnosis and waist circumference was found among LADA subjects when subdivided by positivity for anti-IA2, GADA or for both antibodies (p=0.013 and p=0.011 for trend, respectively). There was a gradual downward trend in autoantibody titre in LADA subjects requiring insulin within the first year from diagnosis to subjects not requiring insulin after 10 years of follow-up (p<0.001). CONCLUSIONS: This is the first study describing the clinical features of LADA in the UAE, which appear to be different from both type 1 and type 2 diabetes. Furthermore, we showed that the clinical phenotype of LADA is dependent on different patterns of antibody positivity, influencing the time to insulin requirement

    Analisis Risiko Kehilangan Hasil Dari Lada Hibrida Tahan Busuk Pangkal Batang

    Full text link
    Serangan penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman lada merupakan penyebab utama rendahnya produktivitas lada Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat risiko kehilangan hasil lada akibat penyakit BPB dan peluang penggunaan lada hibrida tahan BPB untuk menekan risiko produksi lada. Penelitian dilaksanakan pada Juli – Oktober 2010 di Kabupaten Lampung Utara melalui survey terhadap petani lada. Metode yang digunakan adalah analisis risiko dan analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa petani menghadapi risiko produksi lada yang cukup besar akibat serangan penyakit BPB dengan tingkat serangan rata-rata 26 persen dan standar deviasi 23 persen. Selain itu, terjadi korelasi yang cukup siginifikan antara produktivitas lada dengan tingkat serangan penyakit BPB. Sebagai respon terhadap risiko kehilangan hasil lada terutama yang disebabkan oleh penyakit BPB, introduksi teknologi lada hibrida tahan BPB memiliki potensi yang sangat besar untuk menekan risiko tersebut

    Pengembangan Varietas Unggul Lada Tahan Penyakit Busuk Pangkal Batang yang di Sebabkan oleh Phytophthora Capsici

    Full text link
    Lada (Piper nigrum) merupakan tanaman rempah yang dibudidayakan banyak petani di Indonesia. Produktivitas lada Indonesia relatif rendah, selain karena fluktuasi harga sehingga petani kesulitan memelihara kebun dengan baik, juga akibat serangan penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici. Untuk mengurangi kerugian hasil akibat serangan BPB, perlu dilakukan pengembangan tanaman lada tahan BPB berdaya hasil tinggi disertai dengan sistem budi daya yang efisien. Namun, pengembangan varietas lada tahan BPB menghadapi masalah sempitnya keragaman genetik lada dan adanya variasi virulensi P. capsici. Upaya mendapatkan lada tahan BPB telah dilakukan melalui persilangan intraspesies maupun antarspesies Piper spp., tetapi masih perlu dilanjutkan untuk mendapatkan varietas lada tahan BPB dan berdaya hasil tinggi. Sebaran geografis P. capsici yang luas dan adanya variasi virulensi pada populasi P. capsici menyebabkan komponen pengendalian BPB yang lain perlu terus diperbaiki. Upaya ini penting untuk mendukung budi daya lada tahan BPB dan kelangsungan produksi lada nasional

    Analisis Keunggulan Komparatif Lada Indonesia di Pasar Internasional

    Full text link
    Lada merupakan salah satu komoditas ekspor yang sangat penting bagi Indonesia.Pasar lada dunia masih memiliki potensi yang sangat tinggi, yang ditunjukkanmeningkatnya konsumsi dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis keunggulan komparatif lada Indonesia di pasar Internasional. Datayang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series tahun 2000-2012 yangbersumber dari Food And Agriculture Organization, United Nation Commodity TradeStatistic, Badan Pusat Statistik Republik Indonesia dan lainnya. Metode analisisdata yang digunakan adalah analisis Reveled Comparative Advantage (RCA). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa nilai RCA selama periode 2000-2012 lebih besardari 1, yang menunjukkan bahwa lada Indonesia memiliki keunggulan komparatifuntuk komoditas lada. Lada Indonesia memiliki keunggulan komparatif dilihat daripotensi sumberdaya alam yang sangat mendukung, areal tanam yang luas dankondisi iklim yang mendukung dalam pengusahaan lada

    Isolasi dan Pengujian Bakteri Endofit dari Tanaman Lada (Piper Nigrum L.) sebagai Antagonis terhadap Patogen Hawar Beludru (Septobasidium SP.)

    Full text link
    Lada merupakan tanaman tahunan yang memiliki prospek nilai ekonomi yang cerah, namun pada beberapa tahun terakhir ditemukan penyakit baru pada tanaman lada di Kalimantan Barat yaitu penyakit hawar beludru yang disebabkan oleh Septobasidium sp. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman bakteri endofit tanaman lada yang memiliki kemampuan sebagai antagonis terhadap Septobasidium sp. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan secara purposif dengan 3 kali ulangan. Isolasi bakteri endofit dilakukan dengan menggunakan metode tuang selanjutnya dilakukan pemurnian dan identifikasi bakteri. Variabel pengamatan meliputi keanekaragaman bakteri endofit, uji Hipersensitivitas dan uji Antagonis terhadap Septobasidium sp. Penelitian menunjukkan terdapat 28 isolat bakteri yang berhasil diisolasi dari jaringan batang dan jaringan buah tanaman lada sehat dan tanaman lada sakit. Keanekaragaman bakteri endofit tertinggi terdapat pada jaringan buah lada sakit yaitu sebesar 1,39. Terdapat 3 isolat bakteri endofit yang bersifat hipersensitif terhadap tanaman tembakau. Hasil uji antagonis menunjukkan daya hambat tertinggi dihasilkan oleh bakteri isolat HS8 dengan daya hambat 41,73 % yang diisolasi dari jaringan buah lada sehat dan BS7 yang diisolasi dari jaringan batang lada sehat dengan persentase hambatan 40,20%. Daya hambat terendah sebesar 16,99% dihasilkan oleh isolat Hs18 yang diisolasi dari jaringan buah lada sakit
    corecore