16,182 research outputs found

    PROFIL JURNALIS PROGRAM BERITA BERBAHASA DAERAH (Studi pada Jurnalis Program Berita Pojok Medhureh di JTV Surabaya)

    Get PDF
    Keywords: Profil Jurnalis, Berita Berbahasa Daerah\ud \ud JTV yang memiliki salah satu Program berita Pojok Medhureh merupakan fenomena baru di dunia pemberitaan pertelevisian di Indonesia yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar, yang memiliki daya tarik serta keunikan tersendiri dalam mengonsep sebuah peristiwa menjadi berita. Keberhasilan akan program berita Pojok Medhureh terus bertahan sangat berpengaruh pada tiap jurnalis yang bekerja. Mengingat program berita ini banyak mendapatkan kritikan dan sorotan dari beberapa tokoh Madura. Maka peneliti tertarik untuk mengkaji bagaimana profil jurnalis program berita Pojok Medhureh dan apakah profil jurnalis tersebut sudah sesuai dengan standart jurnalis yang baik. Untuk mendapatkan hasil yang detail maka studi ini mengacu pada Profil Jurnalis program berita Pojok Medhureh.\ud Dasar penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yaitu untuk membuat gambaran dan melukiskan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang Profil Jurnalis dalam Program Berita Berbahasa Daerah Pojok Medhureh di JTV. Analisis data yang digunakan adalah analisis Successive Aproximation yaitu berbentuk tahapan, peneliti bergerak dari ide-ide yang masih samar kemudian merealisasikan secara jelas kedalam data, sehingga menjadi analisis yang dapat dipahami. Peneliti menyelidiki sejauh mana konsep yang ada dengan data yang diperoleh dilapangan. Proses analisis ini diawali dengan penyeleksian data yang sesuai dengan rumusan masalah, yaitu Profil Jurnalis Program Berita Berbahasa Daerah dengan studi pada jurnalis program berita Pojok Medhureh JTV Surabaya, kemudian data tersebut diklarifikasikan menjadi tiga kriteria yaitu gambaran umum mengenai identitas jurnalis, kriteria jurnalis program berita Pojok Medhureh dan aktivitas jurnalis pada program berita Pojok Medhureh.\ud Hasil penelitian menunjukkan bahwa jurnalis pada program berita Pojok Medhureh ini, jika ditinjau dari latar belakang pendidikannya, secara keseluruhan mengenyam pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi (Sarjana, S1) dengan prosentase 100%. Pendidikan jurnalis yang sesuai dengan bidang Komunikasi 41,7% dan latar belakang pendidikan diluar bidang Komunikasi 58,3%. Berdasarkan penguasaan bahasa Madura, jurnalis yang bisa dan paham akan bahasa madura 66,6%, jurnalis tidak bisa tetapi paham akan bahasa Madura 25%, dan satu orang saja yang tidak bisa dan tidak paham akan bahasa madura.8,3%. Ditinjau berdasarkan pengetahuan Kode Etik Jurnalistik, secara keseluruhan, informan mengerti dan menerapkannya dengan prosentase 100%. Dari segi pengalaman kerja sebelum masuk menjadi jurnalis di JTV, pengalaman kerja informan yang sesuai dengan dunia jurnalistik adalah 83,33% dan yang tidak sesuai dengan dunia jurnalistik adalah 16,67% karena hal tersebut dibuktikan bahwa informan setelah lulus kuliah langsung bekerja di JTV. Kerja ganda bagi seorang jurnalis, untuk bisa mencari informasi, mengambil gambar dan menulis berita adalah salah satu kinerja reporter JTV. Pada divisi pemberitaan JTV istilah “One’s man news team” tersebut mendapat istilah lain yaitu “video Jurnalis”. Pengolahan berita untuk program berita Pojok Medhureh sama halnya dengan pengolahan berita dengan program berita yang lain yang ada di pemberitaan JTV, namun perbedaannya hanya pada penerjemahan bahasa. Sebelum naskah berita diberikan pada tim editing, naskah sudah diterjemahkan oleh sulih bahasa dalam bahasa madura.\ud Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan suatu program berita dibutuhkan spesifikasi jurnalis yang dinilai sebagai sebuah profesi yang terikat dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, penguasaan bahasa lokal dan Kode Etik Jurnalistik dan sesuai dengan kriteria jurnalis yang diterapkan sebagai alat seleksi bagi seorang jurnalis. Kriteria jurnalis ditonjolkan pada sikap mandiri, bertanggung jawab, bekerja keras, semangat tinggi, ulet dan percaya diri. Profil Jurnalis berdasarkan standart jurnalisme yang baik pada lingkup pemberitaan ini, sudah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Ini dibuktikan dengan penempatan kerja pada posisi yang telah ditentukan. Jurnalis juga memberikan konstribusi yang baik yaitu pada keseriusannya dalam menampilkan program berita Pojok medhureh untuk bisa diterima oleh Masyarakat Jawa Timur. Hanya saja pekerjaan tambahan seperti pengisian suara atau dubber masih diambil dari orang yang bisa menguasai bahasa tiap program. Dikatakan sebagai Standart Jurnalis yang baik karena kinerja jurnalis pada program berita Pojok Medhureh ini dititikberatkan pada aturan Kode Etik Jurnalis Televisi Indonesia pada BAB II, pasal 2, 3, dan 4, mengenai kepribadian seorang jurnalis dan BAB III pasal 5 sampai pasal 13 mengenai cara menghimpun pemberitaan; Undang-Undang No.40 tahun 1999 tentang Pers dan UU No.32 tahun 2002 tentang Penyiara

    PELUANG DAN TANTANGAN JURNALIS TERHADAP PENERAPAN JURNALISME INVESTIGASI DI ACEH

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini berjudul Peluang dan Tantangan Jurnalis Terhadap PenerapanJurnalisme Investigasi di Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipandangan jurnalis tentang peluang dan tantangan dalam penerapan jurnalismeinvestigasi di Aceh. Hal ini dikarenakan peliputan dan pemberitaan terkaitinvestigasi di Aceh mulai menurun bahkan hampir hilang dari pemberitaan.Padahal jurnalisme investigasi merupakan jurnalisme yang membongkar suatukejadian yang sengaja disembunyikan. Pendekatan yang digunakan dalampenelitian ini adalah dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untukmenjelaskan fenomena yang terjadi melalui pengumpulan data. Teknikpengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara yag bersifat semiterstruktur. Subjek informan dalam penelitian mengambil teknik purposivedengan menentukan subjek penelitian berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.Adapun kriteria dalam penelitian ini adalah jurnalis yang pernah meliput beritamengenai investigasi dan juga jurnalis-jurnalis yang tergabung dalam organisasipers yang diakui oleh dewan pers, seperti jurnalis Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) dan jurnalis Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Teori yang digunakandalam penelitian ini adalah teori Fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkanbahwa terdapat beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan dalam penerapaninvestigasi, seperti banyaknya isu yang dapat diangkat. Contohnyapenyelewengan anggaran, penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan olehpemerintah kemudian isu terkait ilegal loging. Apalagi kemudian ada lembaga-lembaga yang ikut serta membantu jurnalis untuk melakukan investigasi. Namuntantangan yang dihadapi juga cukup besar, salah satunya adalah pemahamanjurnalis yang minim akan jurnalisme investigasi dan juga dukungan mediaterhadap pemberitaan jurnalisme investigasi di Aceh tidak maksimal. Hal inidikarenakan kebanyakan media di Aceh adalah media cetak harian. Biaya yangdibutuhkan dalam melakukan investigasi juga sangat besar. Resiko terbesar dariliputan investigasi adalah kehilangan nyawa.Kata Kunci: Peluang dan Tantangan, Jurnalisme Investigasi, TeoriFenomenologi

    Pemetaan Kebutuhan Kualifikasi Jurnalis Pemula Pada Industri Media Massa Di Indonesia

    Get PDF
    Ini adalah artikel ilmiah yang membahas kualitas dan sistem seleksi jurnalis pemula di media massa Indonesia saat ini. Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilatarbelakangi Kenyataan bahwa banyak jurnalis muda yang melakukan pelanggaran etika maupun teknis ketika sedang meliput. Penelitian yang mendasari artikel ini dilakukan terhadap beberapa media massa cetak, elektronik, dan online di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang melibatkan observasi serta wawancara mendalam. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa pendidikan ilmu jurnalistik secara umum tidak menjadi pritoritas utama dalam perekrutan jurnalis di media massa yang menjadi objek penelitian kali ini. Hal ini disebabkan media massa tidak merasa bahwa pendidikan jurnalistik dapat menjamin kualitas jurnalis. Hampir di semua media massa, skill jurnalistik yang sesuai dengan karakter media masing-masing dirasakan dapat dilatih secara internal. Kualifikasi yang paling utama adalah adanya passion, loyalty, dan determination dari para kandidiat untuk menjadi jurnalis. Hal-hal itu dinilai dapat diperoleh dari latar belakang pendidikan apapun. Namun demikian semua media sepakat, pendidikan jurnalistik harus menjadi standar bagi kompetensi jurnalis. Maka berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar pendidikan jurnalistik mengembangkan kurikulumnya sehingga mampu untuk memenuhi kebutuhan media massa akan jurnalis yang berkualitas, terutama dalam hal praktis

    Persepsi Jurnalis Dan Praktisi Humas Terhadap Nilai Berita

    Full text link
    Jurnalis dan praktisi Hubungan Masyarakat (Humas) mempunyai hubungan dalam menjalankan pekerjaannya. Jurnalis membutuhkan informasi dari praktisi Humas dan praktisi Humas membutuhkan jurnalis untuk memberitakan informasinya. Oleh karena itu, keduanya membutuhkan persepsi yang sama dalam melihat nilai berita guna menjalankan fungsinya. Survey dilakukan untuk melihat perbedaan pendapat terkait nilai berita antara jurnalis dan praktisi Humas dan perbedaan karakteristik demografi yang menyebabkan perbedaan tersebut. Hasil penelitian menunjukan perbedaan yang substansial dalam melihat nilai berita di antara mereka. Tidak hanya dipengaruhi oleh karakter demografi , tetapi juga dipengaruhi oleh fakta, ketertarikan akan berita, dan informasi yang rinci untuk mengkonstruksi berita

    AKTIVITAS JURNALISTIK REMAJA DESA BANDORASA DI BW TV

    Get PDF
    Penelitian ini berjudul “AKTIVITAS JURNALISTIK REMAJA DESA BANDORASA DI BW TV (Studi Kasus Aktivitas Jurnalistik Remaja Desa Bandorasa Sebagai Jurnalis Pada Usia 12-15 Tahun di BW TV Kuningan)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas jurnalistik remaja desa Bandorasa sebagai jurnalis pada usia 12-15 tahun di BW TV Kuningan melalui informasi dan pengalaman yang diberikan. Penelitan ini menggunakan teori Teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, wawancara mendalam, dan internet. Informan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang responden, terdiri dari 1 pembina sekaligus ketua pelaksana pendirian TV Komunitas BW TV Kuningan dan 4 orang jurnalis yang berusia 12-15 tahun di BW TV Kuningan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jurnalis yang berusia 12-15 di BW TV Kuningan sudah memahami dasar menulis sebuah berita dengan 5W1H dan cara mengembangkannya kemudian mengetahui cara mendapatkan berita serta menentukan narasumber dan cara mengkondisikan rasa gugup ketika di depan kamera melalui informasi yang diberikan ketika beberapa kalo diikutsertakan ke dalam sebuah pelatihan broadcasting dan jurnalistik. Kemudian jurnalis yang berusia 12-15 tahun di BW TV Kuningan ini juga mendapatkan pengalaman mengenai jurnalistik dengan melakukan suatu liputan, wawancara, serta menulis naskah berita. Ada beberapa hal yang peneliti sarankan berdasarkan penelitian yang dilakukan. BW TV Kuningan dapat memberikan pemahaman mendalam mengenai jurnalistik terutama mengenai kode etik jurnalistik kepada para jurnalis yang masih terbilang sangat muda di dunia jurnalistik dapat mengetahui hal mendasar sebagai seorang jurnalis ketika berada di lapangan. Selain itu peneliti juga menyarankan BW TV Kuningan untuk terus mengadakan studi banding dengan media televisi lainnya baik komunitas maupun komersial untuk menambah informasi dan pengalaman jurnalis muda di BW TV Kuningan ini

    Penaatan Kode Etik di Kalangan Jurnalis Peliput Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Setelah Penghapusan Amplop Jurnalis

    Full text link
    Seorang jurnalis dituntut tetap netral dan independen dari pihak mana pun. Ganjar Pranowo setelah terpilih sebagai Gubernur Jawa Tengah, pada Oktober 2013 memberlakukan kebijakan penghapusan amplop untuk jurnalis. Banyak pro dan kontra atas kebijakan ini. Biasanya, Humas Pemprov Jateng membagikan amplop berisi Rp 150.00,00 kepada jurnalis yang meliput kegiatan Pemprov.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai penaatan Kode Etik di kalangan jurnalis Pemprov Jawa Tengah setelah penghapusan amplop untuk jurnalis. Teori-teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini diantaranya adalah Teori Pemberian Hadiah (Mauss: 2002), Sembilan Elemen Jurnalistik (Kovach: 2001), dan Teori-Teori Etika. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Kualitatif. Peneliti akan menggambarkan hasil penelitian di lapangan secara utuh. Peneliti memilih Kepala Biro Humas Pemprov Jateng, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, pengurus organisasi kewartawanan (PWI, AJI, dan IJTI), dan Jurnalis yang bertugas di Pemprov Jateng sebagai narasumber.Hasilnya, jurnalis di Jawa Tengah sebagian besar jurnalis menaati Kode Etik Jurnalistik, tidak ada Perubahan dalam mekanisme kerja mereka. Beberapa kesalahan sempat dilakukan oleh jurnalis pemula seperti kesalahan verifikasi data dan cover both sides, karena jam terbang yang masih rendah. Kebijakan ini justru berdampak membuat hubungan antarjurnalis memburuk, muncul pengotak-kotakan di kalangan jurnalis. Terbukti dari munculnya sebutan jurnalis ring satu, ring dua, dan seterusnya. Kode Etik Jurnalistik wajib ditaati, namun semua pengurus organisasi kewartawanan tidak bisa menjamin anggotanya sudah memahami dan menaati isi dari kode etik. Konsistensi dari Ganjar Pranowo masih banyak dipertanyakan, pasalnya masih ada praktik amplop setelah kebijakan penghapusan amplop ini diberlakukan

    ANALISIS HUBUNGAN ANTARPRIBADI ANTARA HUMAS DAN JURNALIS DALAM KONTEKS MEDIA RELATIONS

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan antara humas dan jurnalis dalam menjalin hubungan antarpribadi dalam konteks media relations. Permasalahan tersebut salah satunya yaitu perbedaan persepsi dan adanya persaingan diantara keduanya. Padahal, kegiatan hubungan antarpribadi antara humas dan jurnalis dapat dibangun dengan profesionalisme dan pertimbangan terhadap etika profesi masing-masing. Pengembangan hubungan antarpribadi juga dapat dilakukan dengan mempertimbangkan keterampilan komunikasi antarpribadi yang mencakup lima dimensi, yaitu: tujuan, konteks orang-situasi, persepsi, respon, dan umpan balik. Terdapat beberapa tujuan dalam penelitian ini yaitu : 1) untuk mengetahui analisis tujuan hubungan antarpribadi antara humas dan jurnalis dalam konteks media relations, 2) untuk mengetahui analisis konteks orang-situasi dalam hubungan antarpribadi antara humas dan jurnalis dalam konteks media relations, 3) untuk mengetahui persepsi terhadap hubungan antarpribadi antara humas dan jurnalis dalam konteks media relations, 4) untuk mengetahui respon terhadap hubungan antarpribadi antara humas dan jurnalis dalam konteks media relations, dan 5) untuk mengetahui umpan balik dalam hubungan antarpribadi antara humas dan jurnalis dalam konteks media relations. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode survei deskriptif. Responden dalam penelitian ini berasal dari kedua profesi yaitu humas dan jurnalis yang tersebar di organisasi dan perusahaan yang berbeda-beda di Indonesia. Hasil dari penelitian ini, diketahui bahwa analisis hubungan antarpribadi antara humas dan jurnalis dalam konteks media relations cukup tepat sesuai dengan profesionalisme. Salah satu temuan yang menarik dalam penlitian yaitu pada aspek nilai dalam dimensi konteks orang situasi. Humas cenderung tidak terlalu memperhatikan kode etik dalam menjalankan hubungan antarpribadi dengan jurnalis dalam konteks media relations.;--- This research is motivated by the problems between public relations and journalists in interpersonal relations in terms of media relations. One of which these problems is a difference of perception and rivalry each other. Whereas, the activities between public relations and journalists can be built with professionalism and consideration of the ethics of their respective professions. Development of interpersonal relations can also be done by considering the interpersonal communication skills which includes five dimensions, namely: purpose, people-situation context, perception, response, and feedback. There are several goals of this research are: 1) to determine the objective analysis of interpersonal relations between public relations and journalists in the context of media relations, 2) to determine the people-situation context analysis of interpersonal relationship between public relations and journalists in the context of media relations, 3) to determine perception analysis of interpersonal relations between public relations and journalists in the context of media relations, 4) to determine the response analysis of interpersonal relations between public relations and journalists in the context of media relations, and 5) to determine the feedback analysis of interpersonal relations between public relations and journalists in the context of media relations. The approach used in this research is quantitative with survey descriptive method. Respondents in this research came from these two professions, namely the public relations and journalists spread across organizations and companies that vary in Indonesia. The results of this research, it is known that the analysis of interpersonal relations between PR and journalists in the context of media relations is quite appropriate in the professionalism. One of the interesting findings in this research that the value aspect in the dimensions of people-situation context. Public relations tend to be less attention to the code of conduct in performing interpersonal relations with journalists in the context of media relations

    ETIKA JURNALIS INVESTIGASI (Studi Evaluatif Tentang Penerapan Etika Jurnalis Investigasi Dalam Program Acara Metro Realitas di METRO TV Episode : “Duh, Wakil Rakyat” dan “Waspada Investasi Berjangka” dengan Memakai Kerangka Pemikiran Ralph Potter)

    Get PDF
    Metro Realitas merupakan sebuah program acara di METRO TV yang mengkiprahkan diri sebagai program investigasi yang berfokus pada pembongkaran kasus kejahatan kerah putih (White Collar Crime). Korupsi termasuk tindakan tidak etis karena bersifat merugikan publik dan Negara. Investigasi sebagai salah satu teknik jurnalistik dalam mengumpulkan berita yang sengaja disembunyikan dari publik dengan liputan seperti seorang intelejen. Investigasi Metro Realitas berupaya mendapatkan berita dengan cara membuntuti sumber berita, undercover dan menggunakan kamera tersembunyi seperti yang tampak pada episode “Duh, Wakil Rakyat” dan “Waspada Investasi Berjangka”. Dalam setiap liputan, jurnalis dihadapkan pada dilema keputusan etis antara nilai dan tujuan idealnya yang menyangkut pilihan dan tindakan berdasarkan tuntutan METRO TV. Dalam menentukan keputusan nilai dan orientasi tindakan yang dipilih, jurnalis tidak terlepas dari pengaruh yang mendominasi tujuan dari liputan itu, yang berada di antara tanggung jawab moral jurnalis. Maka menjadi menarik untuk dilihat bagaimanakah prinsip etika jurnalistik jurnalis investigasi Metro Realitas dapat dipertanggungjawabkan dalam kerangka pemikiran Ralph Potter?. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis Ralph Potter “Potter Box” merupakan analisis yang sistematis dan metodis. Analisis potter box terdiri dari definitions box, values box, principles box dan loyalties box. Keputusan etis dianggap dapat memadai bila dapat menjelaskan pondasi analisis tersebut seperti prinsip etika yang dipakai dengan berangkat pada pertimbangan atas kompleks permasalahan dan resiko yang harus dihadapi baik keuntungan maupun kerugian. Objek penelitian ini yaitu hasil liputan investigasi pada episode “Duh, Wakil Rakyat” dan “Waspada Investasi Berjangka” dengan membedah menjadi enam segmen. Dalam menganalisis isi teks setiap segmen menggunakan bantuan struktur Halliday untuk memetakan dan mengidentifikasi fakta empiris berdasarkan medan, pelibat/pelantun dan sarana wacana, yang diintegrasikan pada Definition Box. Untuk menganalisis konteks dilakukan wawancara dengan jurnalis investigasi Metro Realitas yang menjadi subjek penelitian ini. Hasil analsis pada definition box akan dilanjutkan pada value box, principles box dan terakhir loyalties box untuk melihat orientasi tindakan jurnalis berdasarkan loyalitasnya. Melalui analisis di atas, diketahui bahwa pilihan dan tindakan jurnalis investigasi Metro Realitas ditujukan kepada faktor entrepreneur labbeling yang berdampak pada bergesernya cita-cita program investigasi murni menjadi format soft news feature dengan karakter indepth reporting. Pengaruh dominan disebabkan kebutuhan pasar dan rating sehingga berdampak pada aktivitas jurnalis mengumpulkan berita.Idealnya, investigasi murni tidak terhalang oleh tuntutan deadline. Tuntutan deadline mengeser citacita ideal program acara dan membatasi kegiatan investigasi untuk membongkar tuntas kasus korupsi tersebut

    FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK IBU MENGIMUNISASIKAN BALITANYA DI DESA PURWOREJO KABUPATEN KUDUS TAHUN 2012

    Get PDF
    Imunisasi merupakan intervensi kesehatan yang paling efektif, yang berhasil meningkatkan angka harapan hidup. Cakupan imunisasi dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh dunia. Cakupan Imunisasi dasar di Desa Purworejo juga demikian dimana pada tahun 2010 dari 19 balita terdapat 4 (21,05%) yang tidak mendapatkan imunisasi dasar, dan tahun 2011 dari 24 balita terdapat 6 (25%) yang tidak mendapat imunisasi dasar. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan praktik ibu dalam mengimunisasikan balitanya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Variabel penelitian meliputi pendidikan, pendapatan, pngetahuan, sikap dan paktik ibu dalam mengimunisasikan balitanya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu balita dengan umur 1-3 tahun yang tinggal di Desa Purworejo Kecamatan Bae Kabupaten Kudus bulan Januari tahun 2012 sebanyak 77 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah total populasi. Analisis data yang digunakan adalah Chi square. . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara faktor pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi pada anaknya (p=0,610). Tidak ada hubungan antara faktor pendapatan dengan kelengkapan imunisasi pada anaknya (p=0,195). Ada hubungan antara faktor pengetahuan dengan kelengkapan imunisasi pada anaknya (p=0,018). Ada hubungan antara faktor sikap dengan kelengkapan imunisasi pada anaknya di Desa Purworejo Kecamatan Bae Kabupaten Kudus (0,000). Saran yang direkomendasikan kepada instansi terkait bahwa tenaga kesehatan diharapkan dapat melakukan promosi kesehatan dengan gencar seperti melakukan penyuluhan secara berkala terhadap masyarakat khususnya berkaitan dengan perlunya imunisasi dasar lengkap terhadap bayi. Tenaga kesehatan ini dapat bekerja sama dengan pihak kelurahan setempat dalam memberikan penyuluhan terhadap warga

    Kajian Jurnalistik dengan Metode Edfat Studi Kasus Foto Pilkada 2015 Harian Suara Merdeka

    Full text link
    Fotografi Jurnalistik merupakan salah satu elemen dalam surat kabar yang memancing pembaca untuk membaca keseluruhan berita. Jurnalis foto memiliki peranan penting dalam membuat sebuah foto yang layak ditampilkan dan dapat memberikan gambaran kejadian di lapangan pada pembaca. Metode EDFAT membantu para jurnalis foto mendapatkan sebuah foto yang bernilai berita. Secara teori memang metode EDFAT mencangkup semua hal yang dibutuhkan bagi para jurnalis foto untuk menghasilkan foto berita, namun ketika di lapangan para fotografer belum tentu menggunakan metode ini secara maksimal. Data yang akan diteliti merupakan foto-foto pilkada 2015 di harian suara merdeka. foto-foto pilkada 2015 yang terdapat pada suara merdeka semenjak masa kampanye sampai hari pelantikan dikumpulkan. 8 foto dipilih dan dikaji menggunakan metode EDFAT untuk mengetahui seberapa efektif metode tersebut dalam praktikum lapangan
    corecore