65,477 research outputs found
Hitherto unreported Agaricus species of Central India
Karwa A, Rai MK. 2010. Spesies Agaricus dari India Tengah yang belum dilaporkan sampai sekarang. Nusantara Bioscience
2: 141-145. Kawasan hutan Melghat di India Tengah disurvei untuk mengetahui keberadaan jamur yang berkhasiat obat dan kuliner
selama tahun 2005-2008. Dari total 153 spesies jamur, sepuluh spesies Agaricus ditemukan di berbagai lokasi yang berbeda. Dari
jumlah tersebut, tujuh spesies yaitu Agaricus bitorquis, A. subrufescens, A. augustus, A. placomyces, A. essettei, A. basioanolosus dan
Agaricus sp. nov. (spesies baru) baru pertama kali dilaporkan keberadaannya di kawasan ini. Jamur komersial Agaricus bisporus tidak
memiliki karakter perkembangbiakan yang baik karena secara alamiah bersifat bispora. Kerabat liar dari jamur ini dapat digunakan
sebagai sumber manipulasi genetik pada strain yang ada dan juga untuk mengembangkan strain baru dengan karakter yang lebih baik.
Kata kunci: Agaricus, India Tengah, komersial, dimakan, Melghat
KECEPATAN PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM (Pleurotus Spp) TERHADAP PENAMBAHAN BEKATUL, AMPAS TAHU, AMPAS TAPIOKA PADA SAMPAH ORGANIK
Produksi sampah meningkat cepat karena adanya pertambahan populasi dan aktifitas manusia, menyebabkan diperlukannya penanganan sampah secara khusus agar tidak terjadi timbulan sampah yang semakin meninggi. Penanganan masalah salah satunya dapat digunakan sebagai media pertumbuhan jamur Tiram. Dan karena sifat jamur yang heterofilik maka memerlukan bahan-bahan tambahan lain dalam hidupnya seperti karbohidrat, protein, lemak serta mineral. Bahan-bahan tersebut banyak terdapat dalam bekatul, ampas tahu, ampas tapioka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penambahan bekatul, ampas tahu, ampas tapioka terhadap kecepatan pertumbuhan jamur Tiram pada media sampah organik. Penelitian ini bersifat eksperimen semu dengan rancangan post test only control group design. Data akan dianalisa secara deskriptif dan analisa secara deskriptif dan analitis dengan uji Anova Satu Jalan dengan alpha = 0,05 dilanjut uji LSD. Kecepatan pertumbuhan jamur Tiram dengan penambahan bekatul rata-rata selama 33,78 hari, penambahan dengan ampas tahu rata-rata selama 29,22 hari, penambahan dengan ampas tapioka rata-rata selama 39,11 hari dan tanpa penambahan bahan rata-rata selama 50,22 hari. Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data disimpulkan bahwa ada perbedaan kecepatan pertumbuhan jamur Tiram dengan penambahan bekatul, ampas tahu, ampas tapioka pada media sampah organik dan yang paling efektif adalah dengan ampas tahu. Penelitian ini bisa diterapkan sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah. Selain itu perlu penelitian lebih lanjut mengenai pertumbuhan jamur Tiram dengan penambahan bahan-bahan lain dan persentase bahan tambahan yang berbeda terhadap lama waktu dan kualitas jamur Tiram yang dihasilkan.
Kata Kunci: sampah organik, bekatul, ampas tahu, ampas tapioka, jamur Tiram
THE GROWTH SPEED OF OYSTER MUSHROOM (Pleurotus Spp) WITH THE ADDITION OF BRAN, BEAN CAKE DREGS, AND TAPIOCA DREGS AT ORGANIC GARBAGE
The garbage production increase quickly caused by its accreation of population and human being activity, that causes the necessity of garbage handling peculiary in order not to be happen a garbage heap which high progerssively. One of handling of garbage problem is served as the media of growth of oyster mushroom. And bucause the mushroom nature is heuteritofic hence need the other additional substance in its life like carbohydrate, protein, fat and also mineral. The substance is obatained a lot in bran, bean cake dregs, and tapioca drges. The purpose of this research is to know the differnt in addition of bran, bean cake dregs, and tapioca dregs toward the speed of growth of oyster mushroom at organic garbage media.This research has the character of the sham experiment with the device of the posttest analytically with the One Way test Anova by alpha = 0,05 continued by LSD testing. The growth speed of oyster mushroom with addition of bran has a mean about 33,78 days, the addition with the bean cake dregs has a mean about 29,22 day, the addition with the tapioca dregs has a mean about 39,11 days, and without addition of substance has a mean about 50,22 days. Based on the research result and the data analyses is concluded that there is a difference of the growth speed of oyster mushroom with addition of bran, bean cake dregs, and tapioca dregs at the organic garbage media and the most effective is with the addition of bean cake dregs. This research can be implicated as one of the alternative of garbage management. Beside that it is need the furthermore research about the growth of oyster mushroom with the other substance addition and the different additional substance percentage to the long of time and the quality of the oyster mushroom that is resulted.
Keyword : organic garbage, bran, bean cake dregs, tapioca dregs, oyster mushroo
Pengembangan Hidangan Kontinental dengan Bahan Dasar Jamur Tiram
Penelitian ini mengembangkan Hidangan Kontinental dengan Bahan Dasar Jamur Tiram yang bertujuan 1) Menemukan formula,teknik olah, penyajian dan penerimaan konsumen terhadap risoles dengan substitusi jamur tiram, 2) Menemukan formula,teknik olah, penyajian dan penerimaan konsumen terhadap steak dengan substitusi jamur tiram, 3)Menemukan formula,teknik olah, penyajian dan penerimaan konsumen terhadap pudding dengan substitusi jamur tiram.
Penelitian dilakukan dari bulan Maret-Mei 2012. Tempat penelitian dilakukan di Fakultas Teknik PTBB UNY. Pameran dilakukan di lapangan KPLT Fakultas Teknik UNY. Tahapan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan R&D yang salah satunya menentukan bahan dasar yang akan digunakan untuk tiga macam produk kemudian menentukan resep acuan yang akan digunakan untuk ketiga produk tersebut selanjutnya adalah menentukan formula yang paling tepat untuk ketiga produk tersebut. Setelah formula di dapatkan selanjutnya melakukan validasi produk sampai dua kali yang di nilai kurang lebih 3 dosen. Langkah selanjutnya adalah uji penerimaan produk dengan 30 panelis dari mahasiswa yang kemudian dilanjutkan dengan pameran produk. Selain itu juga menggunakan beberapa teknik olah masakan kontinental.
Hasil dari penelitian ini adalah 1) risoles dengan formula 50% jamur tiram dengan teknik olah baking dan isinya dengan sautéing, dan disajikan dengan dessert plate ditambah dengan garnish saus dan parsly yang kemudian diberi nama risoles with mushrooms cheese sehingga penerimaan konsumen 100% menyukai produk tersebut. 2) beef steak dengan formula 25% jamur tiram dengan teknik olah grilled, dan disajikan dengan dinner plate ditambah saus jamur dan beberapa side dish untuk steak agar terlihat menarik serta di beri nama beef steak mushrooms with black pepper mushrooms sauce sehingga pada uji penerimaan konsumen 100% menyukai produk tersebut. 3) pudding dengan formula 50% jamur tiram dengan teknik olah boiling dan disajikan dengan dessert plate ditambah dengan garnish saus dan strowberry yang kemudian diberi nama mushrooms pudding with mushrooms sauce sehingga penerimaan konsumen 100% menyukai produk tersebut
Keanekaragaman Jenis Jamur Pada Tanaman Kopi (Coffea Spp.) Di Bandar Lampung
Kopi merupakan tanaman tropis yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun rentan terhadap serangan hama dan penyakit, diantaranya jamur. Jamur dapat menghambat pertumbuhan bahkan menyebabkan kematian pada organ tanaman kopi. Penelitian tentang jamur yang terdapat pada tanaman kopi di Bandar Lampung belum banyak dilakukan, sehingga informasi tentang keanekaragamannya sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman jamur pada tanaman kopi di Bandar Lampung. Penelitian ini telah dilaksanakan di laboratorium Botani Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung. Bagian tanaman kopi yang diduga terinfeksi oleh jamur diambil dari beberapa perkebunan kopi di Bandar Lampung. Dari penelitian ditemukan 19 jenis jamur pada tanaman kopi 18 jenis jamur diantaranya merupakan anggota kelas Deuteromycetes dan satu jenis jamur merupakan kelas Ascomycetes. Berdasarkan pada bagian tanaman yang terserang; 8 jenis jamur pada daun, 4 jenis jamur pada batang, 1 jenis jamur pada ranting, 2 jenis jamur pada akar dan 3 jenis jamur pada buah
Strategi Pemasaran Jamur Tiram Putih (Pleurotus SP) di Kota Medan
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada pemasaran jamur tiram putih (Pleurotus sp) di Kota Medan serta untuk menentukan strategi pemasaran jamur tiram putih (Pleurotus sp) di Kota Medan. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan metode analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan USAha dalam pemasaran jamur tiram putih (Pleurotus sp) adalah ketersediaan modal yang cukup, ketersediaan tenaga kerja, harga jual jamur tiram putih yang stabil dan kemudahan sarana transportasi. Kelemahan USAha dalam pemasaran jamur tiram putih (Pleurotus sp) adalah jumlah produksi jamur tiram putih per hari yang belum mencukupi permintaan, kualitas produk jamur tiram putih yang dihasilkan tidak tahan lama, kurang adanya sistem penjualan jamur tiram putih. Peluang USAha dalam pemasaran jamur tiram putih (Pleurotus sp) adalah pangsa pasar jamur tiram putih yang besar, daya beli masyarakat yang besar terhadap jamur tiram putih, semakin meningkatnya selera masyarakat terhadap jamur tiram putih. Ancaman USAha dalam pemasaran jamur tiram putih (Pleurotus sp) adalah adanya persaingan antara petani dan pengaruh pergantian musim/cuaca terhadap USAha jamur tiram putih. Strategi yang diperoleh untuk meningkatkan pemasaran jamur tiram putih (Pleurotus sp) di daerah penelitian adalah strategi SO (Strenghts – Opportunities) yaitu menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada dengan kegiatan sebagai berikut: meningkatkan modal USAha jamur tiram putih, memanfaatkan pangsa pasar dan daya beli masyarakat dengan harga jual produk yang stabil, memanfaatkan pangsa pasar dengan kemudahan sarana transportasi
Biodiversitas dan Identifikasi Jamur Basidiomycetes di Taman Nasional Sebangau, Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah
Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, pada umumnya sangat bergantung pada hasil hutan, baik itu hasil hutan berupa kayu maupun hasil hutan yang bukan berupa kayu. Kebutuhan masyarakat akan hasil hutan khususnya hasil hutan non kayu seperti damar, kemenyan, jamur, madu hutan serta produk lainnya akan semakin berkurang dengan beralihnya fungsi lahan hutan. Jamur merupakan salah satu produk hasil hutan non kayu yang paling disukai karena dapat dicari dengan mudah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis jamur Basidiomycetes serta untuk mengetahui jenis jamur pangan dan jamur obat yang ada di kawasan penelitian Punggualas Taman Nasional Sebangau. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode eksplorasi dan identifikasi dengan membuat plot ukuran 150 m x 100 m dengan jalur pengamatan jamur sebanyak 5 jalur, jarak antar jalur adalah 5 m dan lebar jalur 20 m. Hasil penelitian ditemukan 15 famili jamur Basidiomycetes, 49 jenis jamur dan jumlah individu jamur sebanyak 789 buah. Berdasarkan jumlah individu maka jamur Aucularia auricula merupakan jamur yang dominan tumbuh di Taman Nasional Sebangau. Indeks keanekaragaman (H´)=2,6260 tergolong sedang. Indeks kekayaan R=7,1956 tergolong tinggi dan indeks kemerataan E1=0,6747 tergolong sedang. Jamur Auricularia auricula (jamur kuping/kulat bitak) dan Pleurotus sp. (jamur tiram/kulat puti) termasuk jamur yang dapat dikonsumsi dan jamur Ganoderma applanatum termasuk jamur yang dapat digunakan sebagai bahan obat. Substrat jamur
Peningkatan Pengetahuan Ibu-ibu Pkk Rt 05 dan 07 Rw 07 Kelurahan Kalideres terhadap Kemampuan Budidaya Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus)
Kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap jamur tiram (Pleurotus ostreatus) semakin meningkatmenyebabkan permintaan jamur terus meningkat dari waktu ke waktu. Namun saat ini jumlah produksi jamurtiram belum dapat memenuhi permintaan pasar, maka diperlukan tambahan produsen baru sehingga dapatmenambah jumlah jamur yang dijual di pasar dengan memberdayakan potensi ibu-ibu PKK di RT 05 dan 07Kelurahan Kalideres sebagai mitra sebanyak 16 orang untuk memproduksi jamur yang dapat menambahpenghasilan uang. Tujuan pelatihan ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta (mitra) dalamkemampuan budidaya jamur tiram. Metode pelatihan dilakukan praktik secara langsung dan pengambilan datadengan menggunakan angket. Hasil yang diperoleh adanya peningkatan pengetahuan berupa: 1) pengenalanjenis dan nama jamur tiram putih, sebelum pelatihan hanya 50% dan setelah pelatihan meningkat menjadi100%; 2) manfaat dan kandungan gizi jamur tiram putih, sebelum pelatihan hanya 32,25% dan setelah pelatihanmeningkat menjadi 100%; 3) habitat jamur tiram putih, sebelum pelatihan hanya 0% dan setelah pelatihanmeningkat menjadi 100%; 4) media tumbuh jamur tiram putih dari serbuk kayu, sebelum pelatihan hanya 0%dan setelah pelatihan meningkat menjadi 100%; dan 5) cara membudidaya jamur tiram putih, sebelum pelatihanhanya 0% dan setelah pelatihan meningkat menjadi 100%
Pemindaian Jamur Kontaminan Ampas Tebu untuk Produksi Enzim Selulase
Pada penelitian ini telah dilakukan proses pemindaian dari jamur kontaminan ampas tebu. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jamur penghasil enzim selulase dan mengetahui pengaruh pH terhadap produktivitas enzim selulase dari jamur hasil pemindaian kontaminan ampas tebu yang didapatkan. Hasil pemindaian diperoleh 2 jamur yang dapat menghasilkan enzim selulase. Aktivitas enzim selulase dapat diketahui dengan mengukur gula pereduksi dari hasil hidrolisis substrat selulosa (CMC) dengan menggunakan metode DNS. Produksi enzim selulase Jamur Galur 1 optimum pada hari ke-8 dan Jamur Galur 2 optimum pada hari ke-7 dengan nilai rasio perbandingan konsentrasi glukosa dan biomassa sebesar 8096,65 dan 9672,49 untuk masing-masing Jamur. Derajat keasaman (pH) berpengaruh terhadap produksi enzim selulase dimana untuk kedua jamur optimum pada pH 6.0 dengan nilai rasio perbandingan konsentrasi glukosa dengan biomassa sebesar 6147,73 dan 8725,10
Pengaruh lama waktu inkubasi media terhadap produksi jamur tiram putih (pleurotus ostreatus)
ABSTRAKSI
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok divisi Basidiomycota. Jamur tiram putih sebagai bahan makanan memiliki nilai gizi tinggi dan berkhasiat untuk dijadikan obat. Sejalan dengan kebutuhan manusia terhadap jamur tiram untuk konsumsi ataupun untuk bahan obat maka kalau hanya tergantung pada alam (jamur liar) tidak akan terpenuhi. Mengingat besarnya manfaat jamur tiram bagi kesejahteraan manusia, baik dari aspek kesehatan maupun aspek ekonomi, maka tidak mengherankan apabila sebagian anggota masyarakat tertarik untuk melakukan budidaya jamur tiram ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh lama waktu inkubasi media terhadap produksi jamur tiram putih (Pleurtus ostreatus). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan disusun dalam 5 taraf, yaitu J1 = 29 Hari, J2 = 32 hari, J3 = 35 hari, J4 = 38 hari, J5 = 41 hari dan mengunakan lima kali ulangan di setiap masing masing media yang digunakan dalam penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu inkubasi media terhadap produksi jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) berpengaruh sangat nyata terhadap berat segar (gram) tubuh buah dan jumlah tubuh buah jamur tiram putih. Nilai F hitung untuk parameter berat segar (gram) tubuh buah jamur tiram putih adalah 16727,18. Nilai F hitung untuk parameter jumlah tubuh buah jamur tiram putih adalah 153,90. Secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa perlakuan lama waktu inkubasi media berpengaruh sangat nyata, sedangkan lama waktu inkubasi yang optimal adalah selama 38 hari
- …
