141,620 research outputs found
Examining the Tip of the Iceberg: A Data Set for Idiom Translation
Neural Machine Translation (NMT) has been widely used in recent years with
significant improvements for many language pairs. Although state-of-the-art NMT
systems are generating progressively better translations, idiom translation
remains one of the open challenges in this field. Idioms, a category of
multiword expressions, are an interesting language phenomenon where the overall
meaning of the expression cannot be composed from the meanings of its parts. A
first important challenge is the lack of dedicated data sets for learning and
evaluating idiom translation. In this paper we address this problem by creating
the first large-scale data set for idiom translation. Our data set is
automatically extracted from a widely used German-English translation corpus
and includes, for each language direction, a targeted evaluation set where all
sentences contain idioms and a regular training corpus where sentences
including idioms are marked. We release this data set and use it to perform
preliminary NMT experiments as the first step towards better idiom translation.Comment: Accepted at LREC 201
Idiom Bahasa Mandailing Di Kenagarian Simpang Tonang Kecamatan Dua Koto Kabupaten Pasaman
There are three the purpose of writing article: (1) describes the form of idioms and the dominant form used of community at Kenagarian Simpang Tonang Kecamatan Dua Koto Kabupaten Pasaman, (2) describes the meaning of the idiom that are used by society at Kenagarian Simpang Tonang Kecamatan Dua Koto Kabupaten Pasaman, (3) describes function of idiom and the function that dominant idiom are used by society at Kenagarian Simpang Tonang Kecamatan Dua Koto Kabupaten Pasaman. Therefore, types of research was choosed descriptive qualitative research method. Result of this research are found 75 idiom that is full idiom and idiom partly idioms are also grouped by such constituent words likes constituent words such as, idioms with parts of body, idioms with color, idiom as natural objects, idiom with the name of the beast, idioms with parts of plants, and idioms with the word number. Idiom works to (1) to satirize, (2) praise, (3) express anger, (4) expressing joy or affection, and (5) express sadness
Terjemahan Idiom dalam Komik Kare Kano Volume 11- 20 Karya Masami Tsuda
Ermawati, Dwi Emi. 2013. Terjemahan Idiom dalam Komik Kare Kano Volume 11-20 Karya Masami Tsuda. Program Studi Sastra Jepang, Universitas Brawijaya. Pembimbing: (I) Ismi Prihandari (II) Isnin AinieKata Kunci: penerjemahan, idiom.Di dunia ini terdapat beragam bahasa yang tersebar di penjuru dunia, salah satunya adalah bahasa Jepang. Dalam bahasa Jepang, terdapat idiom (ungkapan) yang merupakan ungkapan bahasa yang artinya tidak dapat dijabarkan dari jumlah arti tiap-tiap unsurnya. Penggunaan idiom tidak dapat langsung dipahami secara makna leksikal. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah cara untuk mempermudah dalam memahami maknanya, yaitu dengan penerjemahan. Ketika melakukan sebuah penerjemahan, diperlukan prosedur penerjemahan yang terdiri dari lima prosedur penting, yaitu transposisi (pergeseran bentuk), modulasi (pergeseran makna), adaptasi (penyesuaian), serta pemadanan berkonteks dan pemadanan bercatatan. Penelitian ini menggunakan objek komik Kare Kano Volume 11-20 karya Masami Tsuda dengan rumusan masalah, yaitu (1) bagaimanakah bentuk pergeseran terjemahan idiom dalam komik Kare Kano Volume 11-20 karya Masami Tsuda dan (2) prosedur penerjemahan apakah yang digunakan dalam terjemahan idiom komik Kare Kano Volume 11-20 karya Masami Tsuda. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis bentuk terjemahan idiom dan prosedur penerjemahan yang digunakan, serta mendeskripsikan hasil penelitian secara terperinci dan jelas. Adapun data temuan adalah 22 data. Hasil penelitian ini diketahui bahwa bentuk terjemahan idiom bahasa Jepang dalam komik Kare Kano Volume 11-20 karya Masami Tsuda setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia terdiri dari dua macam, yaitu tetap berbentuk idiom, contoh, 心せまい (kokoro semai) = kecil hati dan tidak berbentuk idiom, contoh, 手を上げた (te wo ageta) = memukul. Kemudian untuk prosedur penerjemahan yang digunakan hanya dua prosedur, yaitu pergeseran bentuk (transposisi), contoh 心を開く(kokoro wo hiraku) = membuka hati, pergeseran makna (modulasi), contoh, 胸が痛い (mune ga itai) = hati sakit, serta pergeseran campuran (transposisi dan modulasi), contoh 口が上手い (kuchi ga umai) = pandai bicara. Penulis menyarankan diadakannya penelitian lanjutan yang membahas permasalahan pergeseran terjemahan idiom lebih mendalam, yaitu dengan cara melakukan penelitian pergeseran terjemahan idiom dengan menggunakan kajian teori yang lain serta menggunakan sumber data yang lebih lengkap seperti novel ataupun yang lain
ANALISIS KONTRASTIF IDIOM YANG MENGGUNAKAN KATA ZUNGE UND MUND DALAM BAHASA JERMAN DAN BAHASA INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mencari padanan idiom yang menggunakan kata Zunge und Mund dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia dengan menelaah makna semantiknya. Dalam penelitian ini digunakan metode tertium comparations. Tertium comparations adalah sebuah metode untuk mencari suatu padanan atas dasar hubungan konsep semantik. Metode ini terutama digunakan pada idiom bahasa Jerman yang tidak memiliki padanan langsung maupun kemiripan konsep semantik dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa antara bahasa Jerman dan bahasa Indonesia terdapat persamaan dan perbedaan dalam idiom yang menggunakan kata Zunge und Mund. Idiom-idiom tersebut terbagi ke dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah idiom bahasa Jerman yang memiliki padanan langsung dengan idiom dalam bahasa Indonesia. Idiom yang masuk ke dalam kelompok ini berjumlah 4 idiom untuk kata Zunge dan 5 idiom untuk kata Mund. Kelompok kedua adalah idiom yang tidak memiliki padanan langsung tetapi memiliki kesamaan makna semantik dengan idiom bahasa Indonesia. Idiom yang termasuk ke dalam kelompok ini sebanyak 15 idiom untuk kata Zunge dan 10 idiom untuk kata Mund. Kelompok ketiga adalah idiom yang menggunakan kata Zunge und Mund dalam bahasa Jerman yang memiliki kemiripan idiom dan kesamaan makna semantik dengan idiom bahasa Indonesia. Idiom yang masuk ke dalam kelompok ini sebanyak 2 untuk kata Zunge dan 3 untuk kata Mund. Kelompok keempat adalah idiom yang menggunakan kata Zunge und Mund dalam bahasa Jerman yang tidak memiliki padanan langsung dan tidak memiliki kesamaan makna semantik dengan idiom bahasa Indonesia. Idiom yang masuk ke dalam kelompok ini sebanyak 10 untuk kata Zunge dan 16 untuk kata Mund. Berkaitan dengan hasil penelitian ini, pembelajar disarankan untuk lebih banyak membaca buku-buku ungkapan dari kedua bahasa tersebut dan menggunakan ungkapan tersebut dalam percakapan sehari-hari, agar ungkapan tersebut tidak lagi menjadi hal yang asing ataupun sulit bagi pemeblajar bahasa Jerman
An Idiom for India: Hindustani and the Limits of the Language Concept
This essay explores the cultural legacy of Hindustani, which names the intimate overlap between two South Asian languages, Hindi and Urdu. Hindi and Urdu have distinct religious identities, national associations and scripts, yet they are nearly identical in syntax, diverging to some extent in their vocabulary. Hindi and Urdu speakers, consequently,
understand each other most of the time, but not all of the time, though they can never read each other’s texts. Their shared space, Hindustani, finds no official recognition in India or in Pakistan, but it denotes, particularly in the early twentieth century, an aspiration for Hindu–Muslim unity: the dream of a shared, syncretic culture, crafted from the speech genres of everyday life. Beginning with the colonial project of Hindustani, the essay focuses on a discussion of the works of early twentieth-century writers like Nehru, Premchand and Sa’adat Hasan Manto. I argue that the aesthetic project of Hindustani attempted to produce, not a common language, but a common idiom: a set of shared conventions, phrases and forms of address, which would be legible to Indians from all religions and all regions. By theorizing Hindustani as an idiom, and not a language, I explain its persistence in Bollywood cinema well after its abandonment in all literary and official registers. Bollywood, I argue, is Hindustani cinema, not only because of its use of a mixed Hindi–Urdu language in its dialogues, but also because of its development of a set of clearly recognizable, easily repeatable conventions that can surmount linguistic differences
Analisis Idiomatik Pada Artikel Berita Di Harian SOLOPOS Edisi Desember 2012: Kajian Semantik
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bentuk idiomatik dan menganalisis
makna idiomatik yang digunakan pada artikel berita di surat kabar harian Solopos
edisi Desember 2012. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data dalam
penelitian ini adalah kata, frasa, klausa, serta kalimat yang mengandung bentuk
idiomatik pada artikel berita di harian Solopos edisi Desember 2012. Teknik
penyedian data dalam penelitian ini, yaitu dengan teknik pustaka pengumpulan data
dalam penelitian ini menggunakan metode simak catat. Metode analisis data yang
digunakan pada penelitian ini, yaitu menggunakan metode baca markah dan agih.
Teknik tersebut digunakan dalam penelitian ini untuk menentukan macam-macam
idiomatik dan makna yang terdapat pada artikel berita di harian Solopos edisi Oktober
2012. Hasil dari penelitian ini ditemukan dua jenis idiomatik, yaitu idiom penuh dan
idiom sebagian. Dalam penelitian ini juga ditemukan makna yang terkandung dalam
idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh yang ditandai dengan makna yang
sama sekali tidak tergambarkan berjumlah 38 data dan idiom sebagian yang ditandai
dengan makna yang masih tergambarkan dari salah satu unsurnya berjumlah 18 data
yang digunakan pada artikel berita di surat kabar harian Solopos edisi Desember
2012
ANALISIS SEMANTIS IDIOM BAHASA JEPANG YANG MEMAKAI BAGIAN TUBUH KAKI
ABSTRACT
Rohmadoni. ‘Analisis Semantis Idiom Bahasa Jepang yang Memakai Bagian Tubuh Kaki’,
Thesis Department of Japanese Studies Faculty of Humanities. Diponegoro University, The first
advisor Drs. Surono, S.U. The second advisor, Elizabeth I.H.A.N.R., S.S., M.Hum.
This research observes the idiom which use part of body’s leg in Japanese language. It aims
to define the relations between lexical meanings of the Japanese idioms that have the lexeme leg in
their structure and their structure idiomatic meanings. It also seeks to explain the changes of meaning
of the lexeme leg when used in an idiom in the Japanese language.
Analysis is carried out first by classifying the data based on their syntactic structures, then on
relations of their lexical meanings and idiomatic meanings. Furthermore, the data will be categorized
based on the changes of their meanings.
The study concludes that (1) idiom is ;(2) there are four syntactical structures of Japanese
idioms using organ term ashi ‘leg’ namely: ashi + ga + V, ashi + ga + Adj, ashi + ga + N + ni + V,
ashi + wo + V; (3) there are five idiom classifications concerning how their lexical meanings relate to
their idiomatic meanings, namely: conditions, a degree, value; a sense, feeling; society, culture, life;
the body, character, behavior; an act, movement, and action.
Keywords: leg, idiom
1. Pendahulua
- …
