405,997 research outputs found
Upaya Meningkatan Kompetensi Tenaga Pengajar dalam Pembuatan Perangkat Pembelajaran melalui Kegiatan In House Training (Iht) pada Sdn 5 Selat Hilir Tahun 2017
Kata kunci : Kompetensi, perangkat pembelajaran, In House Training (IHT)Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi tenaga pengajar dengan melakukanpengadaan pembuatan perangkat pembelajaran.Penelitian menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) Yang dilaksanakanpada SDN 5 Selat Hilir tahun 2010 dengan tujuan meningkatkan kompetensi tenaga pengajarmelalui pengadaan pembuatan perangkat pembelajaran. Subjek penelitian adalah guru-guru padaSDN 5 Selat Hilir yang berjumlah 10 orang dengan teknik penelitian adalah penelitian tindakansekolah dengan pengolahan data secara kualitatif berdasarkan persentase ketercapaian yangdijabarkan secara deskriptif berdasarkan siklus penelitian yang dilaksanakan dalam tiga siklusmeliputi kaedah PTS yaitu Perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi disetiap siklusnya.Adapun hasil penelitian diperoleh Motivasi dan efektivitas tenaga Pengajar dalammengikuti kegiatan pengadaan menyusun Perangkat pembelajaran ada peningkatan daripengamatan observasi aktivitas tenaga Pengajar menunjukkan keseriusan dalam memahami danpengadaan kompetensi melalui pengadaan Pengadaan Perangkat pembelajaran bagi tenagaPengajar dilingkunan SDN 5 Selat Hilir dari pra siklus I dari dibawah 50% menjadi 67 % siklus IIdan meningkat lagi dalam menyusun Pengadaan Perangkat pembelajaran dengan persentase 78%pada Siklus III memenuhi tujuan penelitian ≥ 70% untuk praktik dan kemampuan membuatperangkat pembelajaran. Pelaksanaan pengadaan meningkatkan kompetensi tenaga Pengajardalam menyusun Perangkat pembelajaran. hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi/pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi tenaga Pengajar dalammelaksanakan perangkat pembelajarandi kelas dari siklus I sebesar 5,7 meningkat ke siklus IImenjadi 6,7 dan siklus III mencapai sangat signifikan meningkat menjadi 7,8
Efektitifas Program Supervisi dan Kunjungan Kelas sebagai Pembinaan Kedisiplinan Guru dalam Proses Belajar Mengajar di Sdn 2 Selat Tengah Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas
Dalam suatu proses pembelajaran, terjadi proses interaksi antara guru dan siswa. Disinilah sangat diperlukan kedisiplinan baik oleh guru maupun siswa. Terciptanya situasi yangdisiplin dapat menimbulkan jalannya pelajaran, yang berpengaruh terhadap pencapaiantujuan. Demikian pula bagi guru disiplin mengajar harus ditingkatkan agar secara efektifdapat dicapai suatu etos kerja yang semaksimal mungkin dalam rangka meningkatkan mutupengajaran di kelas. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam suatu kehidupan, orang-orang yangberhasil dalam hidupnya kebanyakan dilandasi oleh disiplin diri yang sangat tinggi. Dalamusaha apapun juga, keterangan dan disiplin akan tetap merupakan kunci untuk memperolehhasil yang baik, The Liang Gie (1985:60). Sedangkan menurut Nasin Ibnu Suwandi daan AnnoD. Sanjari (1997:12) sebagai berikut : “Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati danmelaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang tunduk pada keputusan, perintah atauperaturan yang berlaku”. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan, bahwa ProgramSupervisi dan Kunjungan Kelas akan sangat besar pengaruhnya sebagai pembinaankedisiplinan guru dalam Proses belajar mengajar di Kelas.Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada tidaknya hubunganantara Program Supervisi dan Kunjungan Kelas sebagai pembinaan kedisiplinan gurudalam Proses belajar mengajar di kelas pada Sekolah Dasar Negeri 2 Selat TengahKecamatan Selat Kabupaten Kapuas. Manfaat penelitian bagi Guru adalah Untuk memberigambaran bahwa arti disiplin mengajar di kelas itu perlu dan sangat penting bagi usahakeberhasilan mengajar yang bermuara pada peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Danmanfaat bagi penulis sebagai tindakan supervisi terhadap kinerja guru, dimana aspek disiplinmengajar perlu pembinaan tersendiri dan bagian tugas pokok supervisi kependidikan,agarpelaksanaan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.Penerapan inspeksi dan kunjungan Kelas oleh Kepala Sekolah sangatlah membantupara guru di Sekolah Dasar untuk lebih meningkatkan kualitas diri dan manajemen kinerja diridari rasa kedisiplinan yang terimplementasikan ke dalam proses belajar mengajar di kelas
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa melalui Penerapan Pendekatan Humanistik pada Kelas V Mata Pelajaran Pkn di Sdn 1 Halimaung Jaya
Kata Kunci: Pendekatan, Humanistik, hasil belajar.Fakta menunjukan bahwa sampai saat ini masih sering terjadi praktik pendidikan yangmembelenggu kebebesan hakiki manusia. Tidak jarang juga terjadi praktik pendidikan yangmemperlakukan peserta didik tidak lebih sebagai pelayan dengan menempatkan posisi pendidiksebagai tuannya. Peserta didik masih saja menjadi objek. Mereka diposisikan sebagai orang yangtertindas, orang yang tidak tahu apa-apa, orang yang harus dikasihani, oleh karenanya harusdijejali dan disuapi bahkan dilakukan indoktrinasi-indoktrinasi. Pendekatan humanistik adalahpendekatan yang lebih manusiawi, ramah seperti kedekatan orang tua dengan anaknya, penuhkasih sayang. Pelaksanaan pendekatan humanistic adalah berorientasi pada individu danpengembangan diri (self).Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SDN 1 Halimaung Jaya kecamatan SeruyanHilir Timur Kabupaten Seruyan dengan subjek penelitian siswa kelas V berjumlah 25 orang,terdiri dari 10 laki-laki 15 Perempuan, Penelitian ini dilaksanakan pada semester I Tahunpelajaran 2015/2016. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan selama 3 siklus, dimanasetiap siklus dilaksanakan sesuai dengan tingkat Perubahan yang ingin dicapai. Sebagai acuandari refleksi awal adalah acuan guru selama observasi. Penelitian tindakan kelas dengan prosedura) perencanaan (planning), b) pelaksanaan tindakan (acting), c) observasi (observating), d)refleksi (reflection).Keberanian siswa bertanya dan mengemukakan pendapat, rerata perolehan skor padasiklus pertama 59.75% menjadi 69.44% pada siklus 2 dan 78.56% pada siklus 3. Pada siklus 3mengalami kenaikan 9.12% dari siklus 2.Indicator motivasi dan kegairahan dalam mengikutipelajaran pada siklus pertama 60.20% dan pada siklus kedua 76.65% dan pada siklus ketiga82.56%. Aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran pada siklus 2 dan siklus 3mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus 1. Pada siklus 2 mengalami kenaikan12.38% dibandingkan dengan siklus I. sedangkan pada siklus 3 mengalami kenaikan 9.23 %dibandingkan dengan siklus 2. Aktivitas siswa yang kurang relevan dengan kegiatan diatasmengalami penurunan persiklus yaitu siklus II 9.23 % dibandingkan siklus I dan siklus III10.03 % dibandingkan siklus II. Skor rerata aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaranmengalami peningkatan dari siklus pertama, siklus kedua dan peningkatan signifikan pada siklusketiga. Skor rerata aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran mengalamipenurunan dari siklus pertama, siklus kedua dan mengalami penurunan yang signifikan padasiklus ketiga. Skor rerata pemahaman siswa tentang materi-materi yang telah disampaikanmengalami peningkatan, demikian juga pada penuntasan belajar siswa mengalami peningkatan.41PENDAHULUANA. Latar BelakangPendidikan merupakan faktor terpenting dala
Squeezed Fock state by inconclusive photon subtraction
We analyze in details the properties of the conditional state recently
obtained by J. Wenger, et al. [Phys. Rev. Lett. {\bf 92}, 153601 (2004)] by
means of inconclusive photon subtraction (IPS) on a squeezed vacuum state
. The IPS process can be characterized by two parameters: the IPS
transmissivity and the photodetection quantum efficiency . We
found that the conditional state approaches the squeezed Fock state
when , i.e., in the limit of single-photon
subtraction. For non-unit IPS transmissivity and efficiency, the conditioned
state remains close to the target state, {\em i.e.} shows a high fidelity for a
wide range of experimental parameters. The nonclassicality of the conditional
state is also investigated and a nonclassicality threshold on the IPS
parameters is derived.Comment: 10 pages, 7 figure
Encountering violence: terrorism and horrorism in war and citizenship
This article introduces Adriana Cavarero's concept of “horrorism” into International Relations (IR) discussions of the relationship between war and citizenship. Horrorism refers to a violent violation of vulnerable humans who are defined by their simultaneous openness to the other's care and harm. With its motif of physical and ontological denigration, horrorism offends the human condition by making its victims gaze upon and/or experience repugnant violence and bodily disfiguration precisely when the vulnerable are most in need of care. The article argues that horrorism complicates disciplinary understandings of contemporary violence which tend to see terrorism, but not horrorism, in war and which generally neglect to theorize how violence—and particularly horrorism—is embedded in, and exchanged, through state/citizen relationships. To elaborate these arguments, the article analyses three pieces of war art: Jeremy Deller's “Baghdad, 5 March 2007,” Donald Gray's mural, “Operation Iraqi Freedom,” and a still image from Cynthia Weber's film, “Guadalupe Denogean: ‘I am an American.’” By taking the War on Terrorism as their subject, these pieces demonstrate how war makes visible the terror and horror in state/citizen relationships. The article concludes by reconsidering how encountering signs of horrorism might broaden our frames of war and further our empathic vision toward the precarious victims of horrorism or, alternatively, might confirm the patriotic allegiances of imperial citizens in ways that further bind their citizenship to state political and economic violence and narrow the scope for genuine empathy
Uniform decrease of alpha-global field power induced by intermittent photic stimulation of healthy subjects
Nineteen-channel EEGs were recorded from the scalp surface of 30 healthy subjects (16 males and 14 females, mean age: 34 years, SD: 11.7 years) at rest and under trains of intermittent photic stimulation (IPS) at rates of 5, 10 and 20 Hz. Digitalized data were submitted to spectral analysis with fast fourier transformation providing the basis for the computation of global field power (GFP). For quantification, GFP values in the frequency ranges of 5, 10 and 20 Hz at rest were divided by the corresponding data obtained under IPS. All subjects showed a photic driving effect at each rate of stimulation. GFP data were normally distributed, whereas ratios from photic driving effect data showed no uniform behavior due to high interindividual variability. Suppression of alpha-power after IPS with 10 Hz was observed in about 70% of the volunteers. In contrast, ratios of alpha-power were unequivocal in all subjects: IPS at 20 Hz always led to a suppression of alpha-power. Dividing alpha-GFP with 20-Hz IPS by alpha-GFP at rest (R = a-GFPIPS/a-GFPrest) thus resulted in ratios lower than 1. We conclude that ratios from GFP data with 20-Hz IPS may provide a suitable paradigm for further investigations. Key words: EEG, Brain mapping, Intermittent photic stimulation, IPS, Global field power ratio
Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun Tes Hasil Belajar Akhir Semester II melalui Workshop di Sdn 1 Mantangai Tengah Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Tahun Pelajaran 2017/2018
Guru merupakan faktor dominan dalam proses belajar mengajar, oleh karena itumeningkatkan kemampuan guru mutlak dilakukan agar terjadi peningkatan kemampuan didalam mengelola proses pembelajaran. Salah satu indikator yang menunjukkan bahwaseorang guru tersebut mampu menyusun tes telah banyak dilakukan seperti mengikutipenataran, dan pelatihan lainnya. Dari hasil evaluasi terhadap kedua bentuk upaya tersebut,ditemukan belum banyak memberikan sumbangan terhadap profesional guru. Sehubungandengan hal tersebut muncul pemikiran untuk memberdayakan pengawas sekolah untuk lebihbanyak mengadakan pembinaan secara kolaboratif yang bersifat kekeluargaan, keterbukaandan keteladanan yang dilaksanakan melalui workshop menyusun tes hasil belajar akhirsemester yang layak dipakai.Berdasarkan pemikiran tersebut maka peneliti ini bertujuan untuk menjawabbagaimana upaya meningkatkan meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun tes hasilbelajar akhir semester melalui workshop SDN 1 Mantangai Tengah Kecamatan MantangaiKabupaten Kapuas Tahun pelajaran 2017/2018?Penelitian ini dilaksanakan melalui workshop menyusun tes dengan jumlah guru 10orang guru yang diikutkan dalam workshop yang mengajar mata pelajaran SDN 1 MantangaiTengah Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Tahun pelajaran 2017/2018. Penelitian inimelakukan penilaian satu kali siklus. Tes sudah selesai dianalisis dan dinilai berdasarkan 2parameter yang telah ditetapkan.Untuk mengetahui aktivitas guru dalam bekerja maka peneliti melengkapi denganpanduan observasi yang meliputi : 1. Silabus, 2.RPP, 3 Buku pengangan, 4. format kisi – kisites, 5. kesiapan mental yang masing – masing diberikan skor 1 – 4.Dari hasil penelitian yang dilaksanakan melalui workshop maka peneliti dapatmenyimpulkan bahwa kemampuan guru SDN 1 Mantangai Tengah Kecamatan MantangaiKabupaten Kapuas Tahun pelajaran 2017/2018 dalam menyusun tes hasil bejar akhirsemseter genap meningkat
Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui Bimbingan Berkelanjutan di SMP Swasta Muhammadiyah Kuala Kapuas Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017
Kata Kunci: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Bimbingan BerkelanjutanPenelitian Ini Bertujuan Untuk Mengetahui Kemampuan Guru Dalam MenyusunRencana Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Bimbingan Berkelanjutan penelitian initergolong penelitian tindakan sekolah dengan melibatkan enam orang guru mata pelajarandiantaranya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Bahasa Indonesia, PendidikanKewarganegaraan, IPA, IPS, dan Penjaskes.Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan April 2015 di SMP Negeri4 Kapuas Barat Satu Atap semester II tahun pelajaran 2014/2015. Prosedur pelaksanaantindakan merupakan suatu siklus kegiatan yang terdiri dari empat tahap, yaitu : (1)perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, (4) refleksiDari hasil analisis didapatkan bahwa kemampuan guru mengalami peningkatan darisiklus I sampai siklus II yaitu sebesar 17 %( siklus I (75%), siklus II (92%) Kesimpulandari penelitian ini adalah dengan bimbingan berkelanjutan dapat berpengaruh positifterhadap kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran SMPNegeri 4 Kapuas Barat Satu Atap digunakan sebagai salah satu alternatif membantu gurudalam menuysun rencana pelaksanaan pembelajaran
- …
