10,722 research outputs found
EKSPLORASI DAN UJI EFEKTIVITAS CENDAWAN ENDOFIT ASAL TANAMAN KENTANG DALAM MEDIA KOMPOS KULIT KOPI UNTUK MENEKAN PERKEMBANGAN PENYAKIT HAWAR DAUN KENTANG (PHYTOPHTHORA INFESTANS)
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menguji efektivitas cendawan endofit asal tanaman kentang dalam media kompos kulit kopi untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh (P. infestans). Penelitian dilaksanakan di Laboratoium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UNSYIAH dan di University Farm Stasiun Riset Bener Meriah (UFBM) Universitas Syiah Kuala yang terletak di Desa Tunyang Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah, yang berlangsung dari bulan mei sampai dengan oktober 2014. Penelitian tahap pertama eksplorasi cendawan endofit dari akar tanaman kentang (Solanum tuberosum) yang diperoleh dari Desa Atu lintang Kabupaten Aceh Tengah, Peubah yang diamati meliputi karakteristik cendawan endofit hasil isolasi, laju pertumbuhan jamur endofit, persentase penghambatan terhadap cendawan patogen P.infestans. Tahap kedua pengujian efektivitas cendawan endofit yang ditemukan dari hasil penelitian tahap pertama dalam media kompos kulit kopi dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) 5 ulangan. Peubah yang diamati kejadian penyakit dan intensitas penyakit, bobot umbi sehat dan jumlah umbi sehat. Hasil eksplorasi diperoleh dua isolat cendawan yang berpotensi sebagai agens pengendalian hayati (isolat A8 dan B9) dengan rata-rata persentase daya penghambatan terhadap cendawan patogen sebesar 93,83% dan 94,87%. Hasil pengujian efektivitas cendawan endofit, menunjukan bahwa isolat B9 dalam media kompos kulit kopi lebih efektif berdasarkan pengamatan kejadian penyakit 48,00 % dan intensitas penyakit 8,00 %
Pengaruh Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula (Cma) Terhadap Pertumbuhan Kedelai Edamame (Glycin Max)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) terhadap pertumbuhan tanaman kedelai edamame (Glycin max (L) Merrill). Penelitian ini bersifat eksperimental dengan 3 ulangan, setiap pengulangan terdiri atas 5 tanaman. Aplikasi cendawan mikoriza arbuskula (M) terdiri atas dua perlakuan, yaitu tanpa aplikasi CMA (M0) dan dengan aplikasi CMA (M1). Data hasil penelitian dianalisis deskriptif. Data pertumbuhan terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang produktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dari CMA (Cendawan mikoriza arbuskula) menunjukkan hasil pertumbuhan yang paling baik dibandingkan dengan tanpa pemberian CMA (Cendawan mikoriza arbuskula)
Eksplorasi Dan Pengaruh Cendawan Endofit Yang Berasal Dari Akar Tanaman Cabai Terhadap Pertumbuhan Benih Cabai Merah
Cendawan endofit diketahui memiliki kemampuan dalam menghasilkan metabolit sekunder yang sering berdampak terhadap pertumbuhan inangnya, seperti meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kondisi cekaman biotik dan abiotik, maupun meningkatkan pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengetahui pengaruh aplikasi cendawan endofit yang diperoleh dari akar tanaman cabai terhadap pertumbuhan bibit tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.). Kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Rumah Kaca BPTP Jakarta, sejak September 2012 hingga Agustus 2013. Penelitian terdiri dari eksplorasi, uji patogenisitas, dan uji efikasi terhadap cendawan endofit. Eksplorasi cendawan endofit dilakukan terhadap sampel akar tanaman cabai sehat dari daerah Garut (Jawa Barat), yang sering digunakan untuk budidaya tanaman cabai dan Cipayung (Jakarta Timur), yang merupakan daerah baru untuk budidaya tanaman cabai. Seleksi awal terhadap isolat cendawan dilakukan dengan uji patogenisitas secara in vitro. Uji efikasi cendawan secara in vivo pada bibit cabai berfungsi untuk mengetahui efek aplikasi cendawan terpilih (46 isolat non patogenik dan 16 isolat potensial patogenik) terhadap pertumbuhan bibit. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa isolat cendawan yang diperoleh dari akar tanaman cabai daerah Garut, secara makroskopis memiliki keragaman lebih tinggi dibanding dengan keragaman isolat dari daerah Cipayung. Uji patogenisitas menunjukkan bahwa isolat cendawan yang diuji cenderung didominasi oleh cendawan yang bersifat patogenik dan potensial patogenik. Uji efikasi cendawan endofit terpilih dalam mempengaruhi pertumbuhan vegetatif bibit, menunjukkan bahwa 74,19% isolat yang diuji memiliki kemampuan memicu pertumbuhan bibit pada kondisi media tanam steril. sebanyak 34 isolat dari isolat-isolat tersebut diketahui merupakan isolat yang sejak awal bersifat nonpatogenik dan 12 isolat yang awalnya bersifat potensial patogenik
Potensi, Kendala, dan Upaya Mempertahankan Keefektifan Cendawan Entomopatogen untuk Mengendalikan Hama Tanaman Pangan
Cendawan entomopatogen merupakan bioinsektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama. Beberapa jenis cendawan entomopatogen yang berpotensi untuk mengendalikan beberapa jenis hama penting antara lain; Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, Paecilomyces fumosoroseus, Fusarium sp., Hirsutella thompsoni, Aspergillus parasiticus, dan Verticillium lecanii. Kurang efektifnya cendawan entomopatogen untuk pengendalian hama pada tanaman pangan disebabkan karena (1) petani kurang mampu mengidentifikasi jenis hama di lapangan, (2) kurangnya kemampuan petani tentang cara perbanyakan dan penyiapan cendawan entomopatogen, (3) cendawan entomopatogen rentan terhadap sinar UV, dan (4) tanaman pangan bersifat semusim dan kurang komersial dibandingkan hortikultura. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keefektifan cendawan antara lain: (1) meningkatkan kemampuan mengidentifikasi jenis hama yang akan dikendalikan, (2) aplikasi cendawan dilakukan pada sore hari, (3) aplikasi dengan konsentrasi konidia minimal 10 7 /ml, (4) aplikasi diulang sebanyak tiga kali, dan (5) menambahkan bahan perekat dan pembawa pada suspensi konidia sebelum aplikasi
PENYUSUNAN MODUL TENTANG KEANEKARAGAMAN CENDAWAN DI KAWASAN TLOGO MUNCAR TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN AJAR MATERI FUNGI UNTUK SISWA SMA KELAS X SEMESTER 1
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Cendawan
di kawasan Tlogo Muncar, mengetahui apakah penelitian tentang
keanekaragaman cendawan di kawasan Tlogo Muncar dapat dijadikan salah
satu alternatif sumber belajar biologi materi fungi yang dikemas sebagai
bahan ajar dalam bentuk modul pembelajaran untuk siswa SMA kelas X,
mengetahui penyusunan bahan ajar materi fungi dalam bentuk modul,
mengetahui kualitas bahan ajar dalam bentuk modul yang telah disusun
berdasarkan penilaian Reviewer.
Penelitian ini meliputi tiga tahap penelitian yaitu penelitian keilmuan
dengan menggunakan metode penelitian deskriptif, penelitian pengangkatan
sebagai sumber belajar, dan penyusunan bahan ajar dalam bentuk modul
dengan menggunakan metode penelitian Research and Development. Obyek
dalam penelitian adalah Cendawan di kawasan Tlogo Muncar Taman
Nasional Gunung Merapi dan faktor lingkungan yang meliputi suhu udara,
suhu tanah, kelembaban udara, intensitas cahaya, pH, dan kecepatan angina.
Penelitian dilakukan dengan menyusuri jalan diseluruh kawasan. Pengamatan
dilakukan dengan metode observasi sesuai dengan keberadaan Cendawan.
Kemudian melakukan identifikasi Cendawan, menghitung jumlah individu
setiap jenis dan mengukur faktor lingkungan. Hasil penelitian selanjutnya
dikaji potensinya sebagai sumber belajar biologi di SMA melalui tahapan
identifikasi proses dan produk penelitian, seleksi dan modifikasi, serta
penerapan hasil penelitian ke dalam organisasi instruksional. Sumber belajar
tersebut selanjutnya dikemas dalam bentuk bahan ajar berupa modul.
Hasil yang diperoleh dari penelitian yaitu jenis Cendawan yang
ditemukan pada kawasan Tlogo Muncar sebanyak 59 jenis. Cendawan yang
ditemukan dengan persentase edibilitasnya yaitu 15% edible, 48% inedible,
serta 37% Cendawan yang tidak diketahui. Setelah melakukan analisis
menggunakan prosedur pengangkatan hasil penelitian sebagai sumber belajar
Biologi, potensi keanekaragaman Cendawan di kawasan Tlogo Muncar dapat
dijadikan sebagai salah satu alternatif sumber belajar Biologi materi Fungi
yang dikemas dalam bentuk bahan ajar berupa modul untuk siswa SMA kelas
X. Kualitas modul berdasarkan hasil penilaian Reviewer termasuk dalam
kategori baik.
Kata Kunci : Cendawan, Sumber Belajar Biologi, Modu
Cendawan Endofit Akar Bersepta Gelap pada Sistem Perakaran Avicennia SP. Asal Cagar Alam Pulau Dua Banten dan Potensinya sebagai Penghasil Senyawa Antibakteri
Avicennia sp. merupakan salah satu vegetasi dominan yang terdapat di cagar alam Pulau Dua Banten. Sistem perakaran tumbuhan ini merupakan habitat yang baik bagi beragam mikroorganisme terutama Cendawan endofit akar bersepta gelap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan Cendawan endofit akar bersepta gelap pada sistem perakaran Avicennia sp. dan melakukan penapisan awal untuk mengetahui aktivitas cendawan endofit akar dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Sebanyak 8 isolat cendawan endofit akar bersepta gelap. Berdasarkan hasil penapisan terhadap bakteri uji Eschericia coli dan Staphylococcus aureus menunjukkan CEM 6 dan 7 memiliki rata-rata zona hambat lebih besar pada E. coli dibandingkan kontrol dan CEM 8 yang memiliki aktivitas penghambatan pertumbuhan bakteri S. Aureus
Penyebaran Karat Daun Olivea Tectonae (Uredinales) Pada Tectona Grandis Di Jawa Dan Sumatera
Jati (Tectona grandis) merupakan tanaman hutan yang mempunyai nilai komersial tinggi, sehingga jati dibudidayakan di banyak tempat di Indonesia. Beberapa contoh daun jati yang dikumpulkan dari berbagai lokasi di Pulau Jawa dan Sumatera menunjukkan gejala terserang cendawan karat. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi cendawan karat dan memetakan penyebarannya. Identifikasi dilakukan dengan mengamati struktur morfologi cendawan, menentukan stadianya dan mengukur karakteristik morfologinya, antara lain: uredinia, urediniospora, dan paraphysis di bawah mikroskop cahaya. Hasil identifikasi menunjukkan Olivea tectonae sebagai cendawan karat penyebabnya bercak daun jati. Stadia yang didapat adalah uredinia, sedang stadia lainnya tidak ditemukan. O. tectonae ditemukan dari semua contoh daun yang diamati yang dikumpulkan dari empat provinsi, yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung
Identifikasi Cendawan Patogen Pada Tanaman Tomat (Solanum Lycopersicum L)
Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang penting di Indonesia. Namun, budidaya tanaman tomat banyak mengalami masalah yang dapat menyebabkan produksi tanaman tomat menjadi rendah baik secara kuantitas maupun kualitas. Salah satu masalah tersebut adalah penyakit yangdisebabkan oleh mikrob patogen yaitu cendawan patogen. Penyakit yang disebabkan oleh cendawan patogen yang menyerang tanaman tomat yaitu busuk daun, Penyakit busukbuah, batang dan layu Fusarium.Tujuan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis-jenis cendawan patogen yang terisolasi pada tanaman tomat (Solanum lycopersicum L) melalui identifikasi makroskopik dan mikroskopik. Penelitian bersifat deskripsi, metode yang digunakan adalah metode tanam langsung ke media. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi jenis cendawan patogen berdasarkan karakteristik morfologimakroskopik dan mikroskopik yang mengacu pada buku Introduction to Food-Borne Fungi. Hasil isolasi diperoleh sembilan jenis cendawan yaitu Peronospora paracitica (IBt1), Cercospora sp (IBt2), F. verticillioides (IBt3), F. cerealis (ID1), Alternaria sp (ID2), Cladosporium sp (ID3), F. oxysporum (IBh1), Phytopthora cactorum (IBh2), dan Fusarium sp (IBh3). Kesembilan cendawan tersebut merupakan patogen pada batang (Peronospora paracitica, Cescospora sp, F. verticillioides), daun (F. cerealis, Alternaria sp, Cladosporium sp), dan buah (F. oxysporum, Phytopthora cactorum, dan Fusarium sp)
Pengusaha Cendawan Perlu Ilmu Mencukupi
Industri cendawan kini bukan sahaja terdiri daripada petani semata-mata tetapi melibatkan pelbagai golongan profesional. Ini menunjukkan industri cendawan semakin mendapat tempat dalam masyarakat kerana konsep penanaman ringkas dan kemas serta memberikan pulangan lumayan
- …
