162,581 research outputs found
Penanaman dan penerapan toleransi beragama di sekolah (studi kasus di SMK Theresiana Semarang)
Meskipun kata toleransi sudah sering didengar ditelinga semua orang namun untuk penerapan di lingkungan nyata masih sulit untuk dibuktikan. Jika bicara masalah toleransi, negara Indonesia toleransi bukanlah hal yang baru ataupun asing. Adanya keanakaragaman agama, suku dan budaya mengharuskan manusia memiliki kesadaran, terutama kesadaran toleransi beragama. Memiliki kesadaran bertoleransi harus ditumbuhkan melalui individu, instasi negara dan dalam lembaga pendidikan karena pendidikan adalah media yang paling tepat untuk mereparasi mindset seseorang. Maka dari itu penulis melakukan penelitian dan tersusunlah penulisan skripsi yang berjudul “Penanaman dan Penerapan Toleransi Beragama di Sekolah (Studi Kasus Di SMK Theresiana Semarang )”
Yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penanaman toleransi beragama di SMK Theresiana dan bagaimana penerapan toleransi beragama di SMK Theresiana Semarang.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui proses penanaman toleransi dan untuk mengetahui penerapan dari penanaman toleransi umat beragama di lingkungan sekolah
Metode dalam pembahasan skripsi ini adalah metode kualitatif, yaitu dengan metode pengumpulan data: observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangklan lokasinya penelitan di SMK Theresiana Semarang.
Hasil dari penelitian ini adalah mengenai penanaman dan penerapan toleransi beragama di SMK Theresiana Semarang yang dapat dijadikan sumber informasi mengenai bagaimana toleransi beragama di lembaga sekola
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PEER TEACHING TERHADAP SIKAP RESPEK DAN TOLERANSI PADA SISWA BERMASALAH DALAM PEMBELAJARAN SEPAKBOLA DI EKTRAKURIKULER : Studi eksperimen di SMPN 2 Sukahaji Kabupaten Majalengka
Skripsi ini membahas tentang pengaruh metode pembelajaran Peer Teaching yang diimplementasikan terhadap sikap respek dan toleransi pada siswa bermasalah di SMP Negeri 2 Sukahaji Majalengka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang pengaruh metode pembelajaran peer teaching terhadap sikap repek dan sikap toleransi, serta untuk mengetahui perbedaan pengaruh terhadap sikap repek dan toleransi pada kelompok ekperimen dan kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode random sampling (sampling acak), dengan jumlah sampel 40 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah Normalitas Data, Paired Sample T-Test, dan Homogenitas dengan alat bantu software komputer SPSS 17,0. Variabel independent dari penelitian ini adalah peer teaching sebagai variabel X dan variabel dipenden sikap respek dan toleransi pada siswa bermasalah sebagai variabel Y. Hasil penelitian menunjukan bahwa; 1)Model pembelajaran peer teaching berpengaruh terhadap sikap respek dan toleransi dalam pembelajaran sepakbola pada siswa bermasalah; 2)Tidak terdapat pengaruh terhadap sikap respek dan toleransi dalam pembelajaran sepakbola pada siswa bermasalah pada kelompok kontrol; 3) Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan terhadap sikap respek dan toleransi pada kelompok peer teaching. Temuan penelitian ini menunjukan bahwa metode pembelajaran peer teaching berpengaruh terhadap sikap respek dan toleransi pada siswa bermasalah dalam pembelajaran sepakbola.
Dengan penelitian ini semoga siswa dapat meningkatkan sikap respek dan toleransi dalam pembelajaran apapun serta mampu mempertahankan kualitas belajar seluruh siswa dengan pengawasan dan dukungan dari guru pembimbing
Hubungan Antara Efikasi Diri dan Efektifitas Kepemimpinan dengan Toleransi Terhadap Stres pada Guru SD Negeri di Donorejo Pacitan
Keberhasilan suatu proses pendidikan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dan kualitas pendidikan di tingkat dasar, dalam hal ini Sekolah Dasar (SD). Sekolah Dasar merupakan sebuah lembaga pendidikan formal yang berfungsi sebagai landasan dan dasar bagi semua jenjang pendidikan nasional. Hal tersebut dapat terjadi karena pada jenjang Sekolah Dasar, pendidikan diarahkan pada tujuan memberikan kemampuankemampuan dasar yang intinya adalah membaca, menulis dan berhitung. Menjadi seorang guru tidaklah mudah, dibutuhkan kemampuan, keterarnpilan dan karakteristik
kepribadian tertentu. Hal ini sejalan dengan makin besarnya peran dan tugas guru untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan efektivitas kepemimpinan dengan toleransi terhadap stres pada guru Sekolah Dasar
Negeri di Donorejo Kabupaten Pacitan. Hipotesis yang diajukan 1) ada hubungan antara efikasi diri dan efektivitas kepemimpinan dengan toleransi stres pada guru SD; 2) ada hubungan positif efikasi diri dengan toleransi stres pada guru SD, 3) ada hubungan positif antara efektivitas kepemimpinan dengan toleransi stres pada guru SD. Subjek dalam penelitian ini adalah guru–guru di sekolah dasar yang ada di Kabupaten Pacitan, antara lain: SD Negeri 1 Donorejo, SD Negeri Belah 1 No.4; SD Negeri Donorejo II No.2 dan SD Negeri Sukodono 1, kesemuanya ada di Kecamatan
Donorejo. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 50 responden Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive non random sampling. Adapun ciri-ciri sampel dalam penelitian ini yaitu: berstatus pegawai negeri sipil dan memiliki masa kerja minimal 5 tahun. Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu skala efikasi diri, toleransi terhadap stres dan skala efektivitas kepemimpinan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan teknik analisis regresi diperoleh nilai
R = 0,650, R2 = 0,422; p = 0,000 (p < 0,01) artinya ada hubungan yang sangat signifikan antara efektivitas kepemimpinan dan efikasi diri dengan toleransi terhadap
stres. Berdasarkan hasil analisis korelasi secara parsial diperoleh nilai korelasi rpar-x1y = 0,536; p = 0,000 (p < 0,01) artinya ada hubungan positif yang sangat signifikan antara efikasi diri dengan toleransi terhadap stres. Hasil analisis secara parsial ini juga diperoleh nilai korelasi rpar-x2y = 0,472; p = 0,000 (p < 0,01) artinya ada hubungan positif yang sangat signifikan antara persepsi terhadap efektivitas kepemimpinan dengan toleransi terhadap. Peranan atau sumbangan efikasi diri terhadap toleransi terhadap stres = 25,663% dan efektivitas kepemimpinan terhadap toleransi terhadap stres = 16,564%, total sumbangan efektif = 42,198%. Hasil perbandingan skor empirik menunjukkan bahwa efikasi diri tergolong tinggi dengan rerata empirik = 83,480 lebih tinggi daripada rerata hipotetik = 67,5.
Perbandingan skor empirik dan hipotetik menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan tergolong tinggi dengan rerata empirik = 103,920 lebih tinggi daripada rerata hipotetik = 90. Perbandingan skor empirik menunjukkan bahwa toleransi terhadap stres tergolong tinggi dengan rerata empirik = 113,320 lebih tinggi darip ada rerata hipotetik = 92,5.
Kesimpulan yang ditarik dari penelitian ini diperoleh ada hubungan yang sangat signifikan antara efektivitas kepemimpinan dan efikasi diri dengan toleransi terhadap
stres sehingga hipotesis yang diajukan peneliti dapat diterima kebenarannya. Semakin tinggi efektivitas kepemimpinan dan efikasi diri maka semakin tinggi pula toleransi terhadap stresnya. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan dan efikasi diri dapat dijadikan alat ukur untuk memprediksikan toleransi terhadap stres pada guru
Toleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam (suatu Tinjauan Historis
Toleransi dalam Islam pada awalnya ditandai oleh perjanjian Hudaibiyah yang diprakarsai oleh Nabi Muhammad SAW. Toleransi dalam Islam adalah otentik. Artinya tidak asing lagi dan bahkan mengeksistensi sejak Islam itu ada. Karena sifatnya yang organik, maka toleransi di dalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen untuk mempraktikkannya secara konsisten. Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Toleransi di sini adalah dalam pengertian muamalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya. Syariah telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Karena pemaksaan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama kita adalah sikap a historis, yang tidak ada dasar dan contohnya di dalam sejarah Islam awal. Justru dengan sikap toleran yang amat indah inilah, sejarah peradaban Islam telah menghasilkan kegemilangan sehingga dicatat dalam tinta emas oleh sejarah peradaban dunia hingga hari ini dan insyaallah di masa depan
Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina Sikap Toleransi Antarumat Beragama Terhadap Siswa SMP Negeri 1 Selogiri Tahun Pelajaran 2014/2015
Strategi merupakan cara seorang guru dalam melakukan pembelajaran sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Pembinaan adalah suatu proses dalam pembangunan, pembimbingan, pembentukan, dan pengembangan kepribadian seseorang. Sedangkan toleransi adalah sikap saling menghargai dan saling menghormati antar sesama pemeluk agama dalam melaksanakan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
Dalam penelitian ini penulis meneliti SMP Negeri 1 Selogiri karena warga sekolahnya terdiri dari siswa beragama Islam dan Protestan. Misi sekolah di SMP Negeri 1 Selogiri juga mewujudkan perilaku toleran terhadap semua warga sekolah baik itu Islam maupun Non Islam. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui upaya sekolah, khususnya Guru PAI dalam meningkatkan pembinaan sikap toleransi pada diri setiap siswa.
Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti merumuskan beberapa pokok permasalahan yang tertuang dalam rumusan masalah sebagai berikut: (1)Bagaimana strategi Guru PAI dalam membina sikap toleransi antar umat beragama di SMP Negeri 1 Selogiri?(2)Bagaimana keadaan sikap toleransi antar umat beragama di SMP Negeri 1 Selogiri? Maka sesuai rumusan masalah tersebut, tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui strategi pembinaan toleransi dan keadaan toleransi di SMP Negeri 1 Selogiri.
Penelitian bersifat kualitatif, dan penelitian secara field research karena yang diteliti ada di lapangan dan dapat di amati secara langsung. Metode pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis induktif yaitu mendeskripsikan fakta yang diperoleh dari penelitian, kemudian dianalisis dari teori.
Berdasarkan hasil penelitian maka penulis memberikan kesimpulan bahwa Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam membina sikap toleransi antar umat beragama terhadap siswa SMP Negeri 1 Selogiri ada dua tahap, yaitu: tahap pertama adalah pembinaan sikap toleransi di dalam kelas dan tahap kedua adalah pembinaan sikap toleransi di luar kelas.
Sikap toleransi siswa di SMP Negeri 1 Selogiri sudah sangat baik, hal ini dapat dilihat dari pergaulan siswa yang begitu akrab tanpa membedakan agama. Di sekolah juga diterapkan adanya jabat tangan sebelum dan sepulang sekolah serta adanya penerapan 3S yaitu Senyum, Sapa, Salam antar sesama siswa baik itu Islam maupun non Islam
Membangun Toleransi Dalam Perspektif Pendidikan Spiritual Sufistik
Despiritualisasi merupakan proyek modern yang menyerbu hampir ke semua lini penting kehidupan, tanpa kecuali mengenai toleransi. Toleransi sangat dibutuhkan karena beragam macam perbedaan yang tak terhindarkan secara empiris ternyata rentan mengalami disintegrasi, dan berubah menjadi malapetaka intoleran. Manusia secara individual membutuhkan toleransi sejati atau toleransi spiritual itu. Demikian pula masyarakat pluralis dan multikulturalis, karena kesejatian toleransi sekaligus berarti intensifikasi pengalaman spiritual. Toleransi spiritual yang dikembangkan oleh pendidikan spiritual sufistik akan menambahkan karakteristik lain. Sebab, tasawuf membimbing manusia menuju keharmonian dan keseimbangan secara total; mengajarkan toleransi, moderasi, hidup berdampingan secara damai dan nilai-nilai kemanusiaan. Artikel ini mencoba membuktikan, setidak-tidaknya secara konseptual, bahwa dalam pendidikan spiritual sufistik Islam dapat mengambil perannya untuk menjawab tantangan-tantangan toleransi mutakhir
Save Maryam: Islam, Toleration and Religious-Exclusivism in Social Media
Munginkan eksklusivisme agama bisa dihadapi di media sosial? Revolusi media yang sedemikian rupa telah membuka kemungkinan bagi lembaga-lembaga keagamaan untuk menjangkau pengikutnya dalam kisaran yang lebih luas. Makalah ini akan mengamati gagasan menghadapi eksklusivisme agama ini di media sosial dengan mempertimbangkan re-konseptualisasi gagasan konvensional toleransi di era media sosial. Untuk menilai argumen ini, secara hati-hati diuji tanggapan pemuda Indonesia terhadap video bermain pendek, berjudul bintang Maryam yang dapat didownload di media sosial, seperti Facebook, YouTube, Twitter, dan blog terkait lainnya. Dengan analisis semca ini, kami berpendapat bahwa toleransi dapat didefinisikan sebagai upaya budaya untuk menghadapi eksklusivisme agama
Toleransi Dalam Masyarakat Plural
Pada era reformasi, kemajuan masyarakat cenderung menjadi beban daripada modal bangsa Indonesia. Hal itu terbukti dengan munculnya berbagai persoalan yang sumbernya berbau kemajemukan, terutama dalam bidang agama. Dalam perspektif keagamaan semua kelompok agama belum yakin bahwa nilai dasar setiap agama adalah toleransi. Akibatnya yang muncul intoleransi dan konflik. Padahal agama bisa menjadi energi positif membangun nilai toleransi guna mewujudkan negara yang adil dan sejahtera. Seharusnya pada era reformasi ini, kita menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi. Demokrasi tanpa toleransi akan melahirkan tatanan politik yang otoritaristik, sedangkan toleransi tanpa demokrasi akan melahirkan pseudo- toleransi, yaitu toleransi yang rentan konflik-konflik komunal. Oleh sebab itu toleransi dan demokrasi harus saling terkait, baik dalam komunitas masyrakat politik maupun masyarakat sipil. Disamping itu nilai dasar setiap agama adalah toleransi, terutama agama islam tidak kurang dari 300 ayat menyebutkan mutiara toleransi secara eksplisit. Sehubungan dengan kedua hal tersebut, dipandang penting adanya toleransi dalam kehidupan masyarakat plural yang demokratis. Permaslahannya sekarang bahwa toleransi dalam kehidupan bersama semakin lemah, dan anti toleransi serta anti pluralism semakin menguat. Untuk itu toleransi perlu dikembangkan dalam masyarakat plural. Kata
- …
