9,062 research outputs found
Isolation and characterisation of Sri Lankan yeast germplasm and its evaluation for alcohol production
Use of inferior yeast cultures represents one of the reasons for low fermentation efficiencies in Sri Lankan alcohol distilleries that use sugarcane molasses. The present study isolated and characterised yeast strains found in natural environments in Sri Lanka and evaluated their performance under laboratory conditions in an effort to select superior strains for industrial fermentations. Yeasts were characterised based on morphological and physiological features such as sugar fermentation and nitrate assimilation. Ethanol production, alcohol tolerance and growth rate of the most promising strains were monitored following laboratory fermentations of molasses. Over a thousand yeast cultures were collected and screened for fermentative activity and a total of 83 yeast isolates were characterised as higher ethanol producers. Most of these belonged to the genus Saccharomyces. Certain strains produced over 10% (v/v) alcohol in molasses media during 72 h laboratory fermentations. Only two strains, SL-SRI-C-102 and 111, showed an appreciable fermentation efficiency of about 90%. The latter strain produced the highest level of ethanol, 11% (v/v) within a 48 h fermentation and exhibited improved alcohol tolerance when compared with the baker's yeast strains currently used in Sri Lankan alcohol distilleries. This study highlights the benefits of exploiting indigenous yeasts for industrial fermentation processes
Use of ebulliometer for alcohol determination in coconut toddy
Ebulliometers are used in the industry for estimation of Alcohol in toddy. This method was compared with hydrometer and pycnometer methods for estimation of alcohol in toddy. The ebulliometer method appeared to be accured to be accurate for toddy containing 6 to 8perc. (v/v) alcohol. A calibration curve is presented for reading the actual alcohol content when the estimated value using the ebulliometer is known. The readings obtained by the hydrometer method did not vary significantly from those obtained by the ebulliometer method
KAJIAN SEMIOTIKA PENANDA WAKTU PADA FILM TIME MACHINE (2002)
ABSTRAK
Film Time Machine (2002) mengandung banyak unsur tanda dan petanda terutama terkait pada narasi waktu. Perjalanan waktu banyak ditampilkan dalam bentuk tanda-tanda semiotik untuk membawa penonton lebih merasa nyata dalam memahami film tersebut. Tanda-tanda semiotik dalam film ini menarik untuk di bahas karena ditampilkan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Pembahasan dikhususkan pada prinsip-prinsip narasi film dan unsur tanda dalam film terutama pada bagian tanda-tanda yang digunakan pembuat film untuk menunjukkan bagaimana perubahan waktu itu terjadi. Pembahasannya sendiri menggunakan teori semiotika Barthes yang menggunakan denotasi dan konotasi dalam analisanya. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa penandaan waktu yang paling sederhana adalah jam, yang telah berkali-kali tampil dalam film ini dalam bentuk jam saku. Penanda sendiri dalam film membawa efek yang lebih dramatis, implisit, sehingga film tidak terkesan monoton. Film Time Machine ini sendiri secara keseluruhan banyak memberikan penanaman ideologi bagaimana seseorang tidak akan bisa merubah masa lalu namun bisa merubah masa depannya. Disamping itu, teknologi maju dan kejeniusan pemikiran hanya akan berguna jika dimanfaatkan untuk memperbaiki kehidupan mendatang, bukan untuk memperbaiki apa yang telah terjadi.
Key words: Semiotika film, waktu, Barthes, denotasi, konotas
Sugar palm (Argena pinnata). Potential of sugar palm for bio-ethanol production
The energetic and economic feasibility of bioethanol production from sugar palm is virtually unknown. A positive factor are the potentially very high yields while the long non-productive juvenile phase and the high labor needs can be seen as problematic. Expansion to large scale sugar palm cultivation comes with risks. Small-scale cultivation of sugar palm perfectly fits into local farming systems. In order to make a proper assessment of the value palm sugar as bio-ethanol crop more information is needed
ANALISA DAN KRITISI OBJEK DESAIN GAYA POST-MODERN PADA PROUST ARMCHAIR
ABSTRAK
Masa post-modern adalah masa setelah berakhirnya masa modern. Simbol-simbol modernitas semakin kabur dan penjabaran ideologi post-modernisme melalui berbagai bentuk perwujudan ojek semakin banyak tertangkap inderawi. Kursi Proust (Proust Armchair) menurut pandangan beberapa pakar budaya adalah salah satu ikon penting dari masa post-modern. Brdasarkan hal tersebut dilakukan analisis kritis mengenai objek kursi ini dengan pendekatan ilmu semiotika. Hasil analisis menunjukkan bahwa objek ini menggunakan metode double coding yang memadukan gaya baroque yang mewah dengan lukisan gaya pointilistik. Hal ini memberikan sebuah efek keterkejutan (shocking effect) yang dengan berani menggandengkan dua buah kode yang bertentangan sehingga menimbulkan sebuah karya desain yang berani, eklektik radikal dan yang terpenting adalah memiliki citra khusus sehingga menjadi objek kapitalisme
global.
Keywords: Proust Armchair, semiotika, double codin
ELIMINASI RUANG FISIK KANTOR SEBAGAI DAMPAK KONSEP VIRTUAL OFFICE
ABSTRAK
Permasalahan kota besar memerlukan solusi untuk penanganan yang lebih cepat. Disamping itu, kemajuan teknologi yang pesat membawa perubahan besar bagi pola hidup dan bekerja manusia. Penemuan internet menjadi sebuah titik balik peradaban kearah yang lebih maju. Sebuah konsep yang berbasis teknologi digital menjadi trend perkembangan kantor informasi dan administratif dewasa ini adalah konsep virtual office. Konsep ini menjadi menarik untuk dibahas karena kemudahan dan keefektifannya banyak memberi perubahan dari segi kebiasaan atau tatanan administratif yang telah berlangsung sebelumnya. Namun perlu diketahui juga apakah pada masa mendatang hal ini masih akan berlanjut, berkembang luas atau bahkan bisa menjadi trend bagi sistem perancangan perkantoran kedepannya. Metode pembahasan yang digunakan adalah menggunakan analisis kekuatan dan kelemahan atau lebih dikenal dengan SWOT. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa virtual office memiliki keunggulan dalam pengurangan biaya fasilitas, hambatan bekerja dan biaya peralatan, komunikasi yang tercatat dengan baik dalam suatu jaringan komunikasi dan dapat memberikan kontribusi secara social. Sedangkan kelemahannya yakni kurangnya rasa memiliki, ketakutan akan kehilangan pekerjaan dan semangat kerja menjadi rendah. Perubahan pola pemikiran dan cara kerja, secara langsung berdampak pada hal lain dan salahsatunya adalah pengeliminasian ruang secara fisik pada fasilitas dan dimensi bangunan kantor.
Key words: Virtual Office, SWOT, eliminasi, fisik ruan
- …
