11,917 research outputs found
Logic in the tradition of Prabhacandra
The characterization of truth-preserving arguments is a core issue in India and received the detailed attention of philosophers. This chapter presents Prabhācandra’s theory of inference from the eleventh century, stressing its uniqueness and detailed critique of Dignāga and Dharmakīrti. In Prabhācandra’s framework, the inferential evidence has not three but just one characteristic, “being impossible otherwise.” The epistemological problem of the means to know when evidence has this characteristic is solved without regress by appeal to a non-inferential source of knowing, the “discernment of universals” (tarka). Finally, important advances in the role of negation in logical inference are related to a greater emphasis on linguistic form
Victorian Women's Trust, Annual Report 2009/2010
We are an independent advocate for women and grant maker dedicated to improving the status of women and girls. We are now among the world's oldest women's funds, and pride ourselves on a thirty-year tradition of progressive philanthropy, strategically targeted to maximise our impact across the range of issues we seek to address - violence against women and girls, gendered discrimination and disadvantage, the quest for due recognition of the value of women's paid and unpaid work, and towards equal representation in the decision making processes that shape our lives
The taste of the mango: a Jaina-Buddhist controversy on evidence
In the classical framework of Indian philosophy, the different schools of thought agree on the fact that the correctness of an inference relies on a special necessary relation standing between the evidence-property and the target-property. The aim of this paper is to give a presentation of these discrepancies between the Jain and the Buddhist theories of inference, as they are found in Māṇikyanandi’s Parīkṣāmukham, the Introduction to Philosophical Investigation, a digest of Akalaṅka’s mature philosophy on one side, and in Dharmakīrti’s Pramāṇavārttikasvavṛtti, his Auto-commentary on the Essay on Knowledge on the other side
Wujud Garapan Pustaka Tarka
Kelir
Kelir merupakan media untuk menampilkan bayangan dalam pertunjukan wayang kulit. Dalam garapan ini penulis menggunakan sebuah kelir yang berukuran :
- Panjang : 2,5 meter
- Lebar : 1,5 meter
Pemakaian kelir dengan panjang 2,5 meter dan lebar 1,5 meter tersebut bertujuan untuk memudahkan untuk memainkan wayang melalui pencahayaan lampu listrik dan LCD.
Wayang
Wayang di bali pada umumnya terbuat dari bahan kulit sapi yang ditatah, kemudian diberi warna dan atribut sesuai dengan karakternya masing-masing. Wayang yang dipakai dalam pakeliran yang berjudul Pustaka Tarka ini kurang lebih sebanyak 25 buah diantaranya:
- Satu buah kayonan adalah wayang yang keluar pertama yang melambangkan dunia dalam pewayangan
- Gana kumara adalah wayang berwujud gana, putra dari Dewa Siwa.
- Dewa Brahma adalah wayang berwujud Dewa Brahma.
- Dewa Siwa adalah wayang yang berwujud Dewa Siwa.
- Dewa Wisnu adalah wayang yang berwujud Dewa Wisnu.
- Begawan Asmaranata adalah Wayang berwujud Begawan sebagai pemimpin pesraman kasurgwarena.
- Twalen adalah wayang panakawan dari pihak kanan dalam pewayangan.
- Merdah adalah wayang panakawan dari pihak kanan dalam pewayangan
- Delem adalah wayang panakawan dari pihak kiri dalam pewayangan.
- Sangut adalah wayang panakawan dari pihak kiri dalam pewayangan
- Empat buah tokoh raksasa adalah wayang yang berbentuk wujud raksasa.
- Lima buah bala-bala adalah wayang sebagai rakyat atau prajurit.
- Lima tokoh dewata (panca dewata) adalah wayang yang berbentuk dewa-dewa
Pustaka Tarka
Abstract
Pustaka Tarka adalah anugrah Dewa Siwa kepada Gana Kumara yang sedang belajar di pesraman Kasurgwa Rena, yang di pimpin oleh Bagawan Asmaranata. Dengan demikian Guna Kumara diserahkan tugas untuk memimpin pasraman oleh Begawan Asmaranata. Banyak para dewa yang datang ke pesraman Kasurgwa Rena dengan tujuan untuk bertenung. Sehingga menimbulkan kecemburuan Dewa Wisnu dan Dewa Brahma. Suatu hari Gana Kumara didatangi oleh Dewa Wisnu dikatakan sebagai pembunuh. Dewa Wisnu sangat marah, namun setelah diberi penjelasan oleh Gana Kumara bahwa dikelahirannya ke dunia nanti menjadi Rama Membunuh Rahwana, menjadi Kresna membunuh Kangsa. Dewa Wisnu menerima kenyataan itu dan kembali ke wisnu loka. Kemudian kembali Gana Kumara di datangi oleh Dewa Brahma yang juga tujuannya menguji kemampuan Gana Kumara. Setelah ditenung oleh Gana Kumara. Dewa Brahma sangat marah karena merasa ada yang tidak beres.Dewa Brahma segera menggempur Gana Kumara dengan kekuatan seratus raksasa yang muncul dari dalam dirinya. Dewa Siwa Mengetahui hal itu, mengeluarkan kekuatan Panca Dewata dari dalam dirinya membela Guna kumara. Terjadilah pertempuran para raksasa dengan Panca Dewata, yang akhirnya di menangkan oleh Panca Dewata
From RE-211 to RE-123. How to control the final microstructure of superconducting single-domains
This paper reviews the usual techniques for producing YBCO-type
single-domains and the microstructure of the as-obtained samples. The problems
of seed dissolution and parasite nucleations are discussed in details.
Formation of microstructural defects, such as pores and cracks, are examined.
An important part of this review is devoted to the study of the influence of
RE-211 particles [RE2BaCuO5 where RE denotes Y, Yb, Nd, Sm, Dy, Gd, Eu or a
mixture of them. Generally Nd4Ba2Cu2O10 is preferred to Nd2BaCuO5] on the
microstructure and properties of RE-Ba-Cu-O single-domains. Trapping/Pushing
theory is described in order to explain the spatial distribution of RE-211
particles in the RE-123 [(RE)Ba2Cu3O7-d] monoliths. Formation of RE-211-free
regions is discussed. Different ways to limit the RE-211 coarsening are
reviewed. Microstructural defects in the RE-123 matrix caused by the RE-211
particles are presented. It is also shown that RE-211 particles play a
significant role on the mechanical properties of single-domain samples. We
finish this review by discussing the Infiltration and Growth process as a good
technique to control the microstructure.Comment: review paper to be published in Supercond. Sci. Technol.; 19 figures;
137 references; 37 page
- …
