89,112 research outputs found
Hubungan Antara Kondisi Sosial Ekonomi Dan Perilaku Hidup Sehat Dengan Status Gizi Pasien Tuberkulosis Paru DiBalai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta
Latar Belakang : Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular karena
Mycobacterium tuberculosis yang dipengaruhi oleh status gizi. Perilaku hidup dan
tingkat pendidikan mempengaruhi status gizi. Terjadinya penurunan status gizi
dapat disebabkan oleh perilaku hidup tidak sehat. Apabila tingkat pendidikan
tinggi maka pengetahuan gizi baik sehingga status gizi menjadi baik. Faktor lain
yang mempengaruhi status gizi adalah status sosial ekonomi yang berdampak
pada pola hidup.
Tujuan : Mengetahui hubungan kondisi sosial ekonomi dan perilaku hidup sehat
dengan status gizi pasien Tuberkulosis paru di BBKPM Surakarta.
Metode : Jenis penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional.
Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Jumlah
sampel 33 pasien rawat jalan. Pengambilan data kondisi sosial ekonomi (tingkat
pendidikan, tingkat pendapatan, dan status pekerjaan) serta perilaku hidup sehat
menggunakan kuesioner, sedangkan status gizi berdasarkan data antropometri.
Analisis hubungan menggunakan chi square, jika tidak memenuhi syarat
menggunakan fisher exact.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan 54,1% subjek memiliki tingkat pendidikan
lanjut, 54,1% subjek memiliki tingkat pendapatan di bawah UMP, 89,2% subjek
bekerja, 59,5% subjek memiliki perilaku hidup sehat, dan 62,2% subjek memiliki
status gizi normal. Hasil uji korelasi untuk tingkat pendidikan dengan status gizi
adalah p=0,699, tingkat pendapatan dengan status gizi adalah p=0,769, status
pekerjaan dengan status gizi adalah p=0,625, dan perilaku hidup sehat dengan
status gizi adalah p=0,247.
Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan, tingkat
pendapatan, status pekerjaan, dan perilaku hidup sehat dengan status gizi
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN PENDAPATAN ORANG TUA DENGAN STATUS GIZI ANAK SDN 02 LABUHAN HAJI
Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi kurang belum teratasi sepenuhnya, sementara telah muncul masalah gizi lebih. Di antara 33 provinsi di Indonesia, Aceh termasuk urutan ke-7 terendah dengan persentase gizi baik 41,1%, gizi lebih 11,76%, gizi kurang dan gizi buruk 23,5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi pada anak serta pendapatan orang tua dengan status gizi pada anak di SDN 02Labuhan Haji. Jenis penelitian ini analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu dan siswa yang bersekolah di SDN02 Labuhanhaji diambil dengan cara random sampling dengan jumlah sampel 92 orang. Data yang diambil meliputi tingkat pengetahuan, pendapatan dan status gizi. Analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil analisis data antara pengetahuan ibu dengan status gizi diperoleh p value 0,002 dan nilai r sebesar 0,313 dan pendapatan orang tua dengan status gizi diperoleh p value 0,293 dan nilai r 0,111. Kesimpulan, terdapat hubungan antara pengetahuan dengan status gizi anak dan tidak terdapat hubungan antara pendapatan orang tua dengan status gizi anak SDN 02 Labuhan Haji.Kata Kunci : Pengetahuan ibu, pendapatan orang tua, status gizi ana
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, PROTEIN, LEMAK, KARBOHIDRAT DENGAN STATUS GIZI PADA SANTRIWATI DI PONDOK PESANTREN DARUSALAM AL-FAISHOLIYAH SAMPANG MADURA
Sistem penyelenggaraan makanan di pondok pesantren masih belum sesuai untuk kebutuhan gizi. Hal ini disebabkan porsi makanan yang diberikan tidak sesuai kebutuhan, sehingga kebutuhan kurang optimal dalam asupan energi, protein, lemak, karbohidrat hal ini akan mempengaruhi status gizi. Tujuan penelitian mengetahui hubungan asupan energi, protein, lemak, karbohidrat dengan status gizi di Pondok Pesantren Darusalam Al-Faisholiyah Sampang Madura.
Metode penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dan teknik pengambilan sampel simple random sampling besar sampel 67 orang. Variabel independen penelitian asupan energi, protein, lemak, karbohidrat. Variabel dependen penelitian status gizi. Asupan energi, protein, lemak, karbohidrat menggunakan form recall 3x24jam dan status gizi menggunakan timbangan dan microtoise. Analsis hubungan antara asupan energi, protein, lemak, karbohidrat dengan status gizi anlisis data menggunakan uji Rank Spearman. Pada taraf kemaknaan α ≤0,05.
Hasil analisis menunjukkan ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi, ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi, ada hubungan antara asupan lemak dengan status gizi, ada hubungan antara karbohidrat dengan status gizi.
Semakin baik asupan energi, protein, lemak, karbohidrat maka status gizi menjadi normal. Petugas kesehatan memberikan edukasi gizi pada remaja untuk memperhatikan asupan makan dalam sehari-hari sehingga dapat mencapai status gizi normal
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN KONSUMSI IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MRANGGEN II KABUPATEN DEMAK
Masalah gizi ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di wilayah pedesaan. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengetahuan gizi ibu serta hubungannya dengan konsumsi gizi dan status gizi balita. Populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak balita di Desa Menur yang berada wilayah kerja Puskesmas Mranggen II, sampel ditentukan dengan teknik quota sampling, dengan responden sebanyak 87 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, dokumentasi dan pengamatan dengan recall 2 x 24 jam data konsumsi gizi. Hasil uji korelasi Product Moment menunjukkan ada hubungan yang positif antara pengetahuan gizi ibu dengan konsumsi gizi balita. (rxy = 0,305 dengan p< 0,05), dan ada hubungan yang positif antara konsumsi gizi balita dengan status gizi balita (rxy = 0,553 dengan p< 0,05). Kesimpulan penelitian adalah pengetahuan gizi ibu yang diberikan kepada balita dan konsumsi gizi balita tergolong cukup baik, sedangkan status gizi anak balita tergolong normal. Ada hubungan pengetahuan gizi ibu dengan konsumsi gizi balita, dan ada hubungan antara konsumsi gizi dengan status gizi balita
Kata Kunci: Pengetahuan gizi ibu, Konsumsi gizi, Status Gizi Balit
Gambaran Status Ekonomi dan Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap Status Gizi Balita
Kota Yogyakarta memillki cakupan gizi buruk paling tinggi dibandingkan dengan kabupaten lain di wilayah Daerah lstimewa
Yogyakarta.Prevalensi balita gizi buruk di 4 kabupatendi Provinsi Yogyakarti sudah sesuai harapan yiitu <1%, sedangkan di Kota Yogyakarta masih 1,35%.Kasusgizi burukpalingbanyakditemukandi KecamatanGbndokusumanwilayah[erja
Puskesmas Gondokusuman 1. Malnutrisi timbul akibat interaksi dari berbagai faktor lingkungan, diantaranya Oisebabkan ol6h
status ekonomi dan tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan orang tua turut menentukan status gizi anak kareni pendidikan sangat
mempengaruhi seseorang untuk memahami dan menerima informasi tentang gizi. Diketahui bahwa terdailat 30,8% kepila
keluarga miskin terhadap jumlah jiwa di Kecamatan Gondokusuman. Di wilayah kLrja Puskesmas Gondokusuman 1, Kelurahan
Demangan memiliki persentase keluarga miskin paling tinggl. Kejadian gizi buiuk yang tertinggijuga ada di Kelurahan Demangan.
P'enelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status ekonomi dan tingkat penOiOit<an orin! tua terhadap status gizi bJita.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode d-eskriptif dengan desJin cross secfiona/. Anilisis data
yaitu dengan meng.gunakan teknik analisis deskriptif dengan uji statistik menggunakan pr-oporsi. Hasil menunjukkan bahwa orang
tua yang status ekonominya cukup memiliki balita yang seluruhnya berstatus gizi baik. Sementara orang tua yang status
ekonominya kurang memiliki balitade.ngan dengan status gizi yang beragam yaitu status gizi baik, kurang, da-n lebiti. Olang tua
yang.berpendidikan_tinggi memiliki balita yang seluruhnya berstatus gizi Oiik. Orang tua yang berpendidika-n dasar dan meneigah
memiliki balita yang berstatus gizi beragam.
Kata Kunci :status ekonomi, tingkat pendidikan, orang tua, status gizi, balit
Hubungan Kesehatan Lingkungan Terhadap Status Gizi Anak Prasekolah di Kelurahan Semanggi dan Sangkrah Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta
Pendahuluan : Status gizi buruk merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada anak terutama di Indonesia. Status gizi seseorang bisa dipengaruhi
oleh faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor tidak langsung yang dapat mempengaruhi status gizi salah satunya adalah kesehatan lingkungan.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kesehatan lingkungan terhadap status gizi anak prasekolah di Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Sangkrah, Kota Surakarta.
Metode Penelitian : Penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional dengan desain crossectional. Sampel sebanyak 45 anak berusia 3 -5 tahun. Data
yang diambil meliputi status gizi diperoleh dengan menggunakan pengukuran antropometri sedangkan kesehatan lingkungan diperoleh menggunakan wawancara melalui kuesioner.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 8,9% status gizi buruk, 31,1% status gizi kurang , 57,8% status gizi normal, 2,2% status gizi lebih, sedangkan kesehatan lingkungan yang rendah (kotor, bau) sebesar 13,3%, kesehatan
lingkungan sedang (kotor) sebesar 48,9%, kesehatan lingkungan yang baik (bersih) sebesar 37,8%. Hasil analisis dengan uji pearson disimpulkan tidak ada hubungan antara kesehatan lingkungan terhadap status gizi anak prasekolah
p=0,502.
Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara kesehatan lingkungan terhadap status gizi pada anak prasekolah di kelurahan semanggi dan sangkrah kecamatan pasar kliwon Surakarta
Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Dengan Status Gizi Balita Usia 2- 5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Karangdowo Klaten
Latar belakang: Gizi merupakan salah satu masalah kesehatan di berbagai negara, baik di
negara maju maupun di negara berkembang. Balita usia 2-5 tahun merupakan kelompok yang
rentan atau rawan terhadap status gizi. Salah satu faktor penyebab gangguan gizi pada balita
adalah kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi, sehingga pengetahuan orang tua
tentang gizi merupakan kunci keberhasilan baik atau buruknya status pada balita.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi
balita usia 2-5 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Karangdowo Klaten.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan
cross-sectional untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan
status gizi balita usia 2-5 tahun. Pengumpulan data dengan menggunakan soal pengetahuan
tentang gizi dan penimbangan serta pengukuran tinggi badan balita, analisis data
menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Jumlah sampel sebanyak 51 responden.
Hasil: Pengatahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita, terdapat pengetahuan baik 74,5
%, pengetahuan cukup 7,8 % dan pengetahuan kurang 9,8 % memiliki status gizi baik.
Pengetahuan baik3,9 %, pengetahuan cukup 2,0 % dan pengetahuan kurang 2,0 % memiliki
status gizitidakbaik. Hasil analisis nilai p = 0,009
Pembahasan: Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi
balita usia 2-5 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Karangdowo Klat
- …
