7,621 research outputs found

    Pemanfaatan Kulit Buah Matoa sebagai Kertas Serat Campuran melalui Proses Pretreatment dengan Bantuan Gelombang Mikro dan Ultrasonik

    Get PDF
    Kulit buah matoa memiliki potensi untuk menggantikan kayu sebagai bahan baku utama pembuatan kertas. Kulit buah matoa mengandung selulosa sehingga dapat diolah menjadi kertas. Dalam penelitian ini, proses pembuatan kertas dari kulit buah matoa melalui beberapa tahapan yaitu pemasakan, pencucian, pencampuran antara pulp kulit matoa dengan pulp kertas koran bekas, dan pencetakan kertas. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh metode pretreatment (dengan bantuan gelombang mikro dan ultrasonik), rasio volume asam asetat dengan massa kulit matoa, serta waktu paparan gelombang terhadap perolehan α-selulosa dari kulit matoa. Penelitian ini juga mempelajari pengaruh rasio pulp kulit matoa dan pulp koran bekas serta metode pretreatment terhadap karakteristik kertas serat campuran yang dihasilkan seperti daya tembus (bursting strength), kekuatan tarik (tear strength), gramatur (grammage), fleksibilitas/kekakuan (stiffness), dan ketebalan (thickness). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pretreatment dengan gelombang mikro dan gelombang ultrasonik dapat meningkatkan perolehan kadar α-selulosa kulit buah matoa dalam kisaran variabel yang dipelajari. Rasio antara kulit buah matoa dan asam asetat 1:15 dan total waktu paparan 10 menit merupakan kondisi terbaik karena mampu memberikan kadar α-selulosa tertinggi yaitu 77,16% untuk gelombang mikro dan 74,86% untuk gelombang ultrasonik. Kertas serat campuran dari pulp kulit matoa hasil pretreatment dengan gelombang mikro memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan kertas serat campuran dari pulp hasil pretreatment dengan gelombang ultrasonik. Kertas tersebut memiliki karakteristik daya tembus sebesar 1,55 kPa/cm2, kekuatan tarik sebesar 706,5 mN, gramatur sebesar 390,95 g/m2, fleksibilitas sebesar 85 g/cm, dan ketebalan sebesar 1679,5 mikron. Berdasarkan nilai tiga parameter utama kertas (grammage, tear strength, dan stiffness), pretreatment dengan gelombang mikro dengan rasio pulp kulit buah matoa dan pulp kertas koran 1:1 dapat menghasilkan tipe kertas karton dupleks sesuai SNI 0123:2008. Kata kunci : kulit matoa, microwave, ultrasound, kertas serat campura

    Pembuatan Dan Kualitas Karton Dari Campuran Pulp Tandan Kosong Kelapa Sawit Dan Limbah Padat Organik Industri Pulp

    Full text link
    Industri karton skala kecil yang menggunakan bahan baku limbah padat organik industri pulp/kertas (sludge) saat ini mengalami kesulitas kontinuitas pasokan bahan serat lain sebagai campuran limbah padat organik tersebut (khususnya pulp dan kertas bekas). Di lain hal, limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan serat berligno-selulosa berlimpah jumlahnya dan belum banyak dimanfaatkan, sehingga berindikasi pemanfaataannya sebagai bahan baku industri karton. Terkait dengan hal tersebut, TKKS sesudah dijadikan serpih, diolah menjadi pulp untuk karton menggunakan proses semi-kimia soda panas tertutup pada ketel pemasak skala semi-pilot hasil rekayasa hasil rekayasa Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (P3KKPHH, Bogor). Rata-rata rendemen pulp TKKS yang diperoleh 60,17%. Lembaran karton dibentuk di industri karton skala kecil, dari campuran pulp TKKS 50% dan limbah padat organik industri kertas 50%; dan dari pulp TKKS 100%, masing-masing dengan penambahan bahan aditif (kaolin 5%, alum 2%, tapioka 4%, dan sizing darih rosin 2%). Sifat fisik dan kekuatan karton asal pulp TKKS 100% dan asal campurannya dengan limbah padat organik industri pulp (50 : 50%) lebih tinggi dari pada karton produksi industri rakyat (dari campuran kertas 50% kertas bekas dan 50% limbah padat organik industri kertas, tetapi tanpa aditif), dan memenuhi kriteria karton komersial. Di samping itu, terdapat kesan visual menarik pada permukaan karton dari campuran pulp TKKS dan limbah padat organik, mengakibatkan sesuai untuk kertas karton indah (kartu undangan, sampul buku, karton hiasan, dsb). Ini mengisyaratkan prospek penggunaan pulp TKKS yang dicampur dengan limbah padat organik industri pulp, sebagai bahan baku alternatif/pengganti campuran limbah padat organik pada industri karton rakyat yaitu kertas bekas

    Pulp Kraft dari Kapuk dan Serat Daun Nanas sebagai Bahan Baku Kertas Khusus

    Get PDF
    Bahan baku utama yang digunakan untuk memproduksi pulp untuk kertas khusus adalah serat kapas, yang diklasifikasikan sebagai serat panjang. Hingga saat ini Indonesia masih mengimpor serat panjang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Serat nonkayu seperti serat kapuk dan serat daun nanas dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif serat panjang untuk pembuatan pulp dan kertas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari kondisi optimum pembuatan pulp kapuk dan serat daun nanas, mengetahui sifat fisik dari lembaran pulp putihnya, serta mengetahui morfologi serat dari lembaran pulp putih dengan analisis Scanning Electron Microscopy (SEM). Bahan baku dikarakterisasi komponen kimia dan morfologi seratnya, kemudian dilakukan pembuatan pulp dengan proses Kraft. Dosis alkali aktif sebanyak 17 - 18% dengan sulfiditas 25%, rasio 1 : 4 dan 1 : 8. Temperatur pemasakan 160oC selama 2 + 1,5 jam. Pulp kemudian diputihkan menggunakan teknologi Elemental Chlorine Free (ECF) dengan tahapan D0ED1D2 (D untuk klorindioksida dan E untuk ekstraksi alkali). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaran pulp putih serat daun nanas memiliki sifat yang lebih baik dibandingkan dengan kapuk sebagai bahan baku kertas khusus

    Beberapa Sifat Dasar Dan Kegunaan Tiga Jenis Kayu Kurang Dikenal Asal Hutan Alam Sulawesi

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mempelajari sifat dasar (struktur anatomi, sifat fisis dan mekanis, dan sifatpemesinan) tiga jenis kayu kurang dikenal asal hutan alam di Sulawesi, yaitu sama-sama (Pouteria firmaBaehni), palado (Aglaia sp.)dan kumea batu (Manilkara merrilliana H.J.L). Sifat dasar jenis kayu tersebut dan pemanfaatannya yang telah dilakukan secara lokal oleh masyarakat merupakan petunjuk berguna menetapkan kegunaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sama-sama memiliki kayu teras berwarna coklat tua sampai hitam dengan garis-garis hitam yang tidak beraturan; tekstur agak halus dan permukaan mengkilap; agak berat; penyusutan sedang; kelas kuat IV-III;mutu pemesinan baik;mutu serat baik untuk pulp dan kertas; kemungkinan pemanfaatan antara lain bahan konstruksi ringan untuk Perumahan dan komponen tertentu pada perahu, venir kupas, glulam, pallet, pulp dan kertas. Palado memiliki kayu teras berwarna coklat muda sampai coklat kelabu; serat lurus, tekstur agak halus; ringan; penyusutan sedang; kelas kuat III;mutu pemesinan baik;mutu serat baik untuk pulp dan kertas; kemungkinan pemanfaatan antara lain bahan konstruksi ringan untuk Perumahan dan komponen tertentu pada perahu, mebel murah, moulding, glulam, venir kupas, kerajinan, pulp dan kertas. Kumea batu memiliki kayu teras berwarna coklat kemerahan; lingkar tumbuh samar-samar dan terkadang jelas serta menampakkan corak yang indah berupa garis-garis sejajar pada potongan radial; serat lurus; tekstur halus dan permukaan kayu mengkilap; sangat berat, keras; penyusutan tinggi; kelas kuat II; mutu pemesinan sangat baik; mutu serat rendah untuk pulp dan kertas; kemungkinan kegunaan antara lain bahan bangunan dengan beban berat untuk Perumahan dan perahu; karoseri truk, tiang listrik, mebel, moulding, venir sayatan, gagang peralatan, kerajinan dan arang

    Pembuatan Karton Skala Industri Kecil Dari Campuran Limbah Pembalakan Kayu Hutan Tanaman Industri Dan Sludge Industri Kertas

    Full text link
    Industri karton skala kecil yang dewasa ini menggunakan bahan baku campuran lumpur padat (sludge) dan kertas bekas mengalami kesulitan mendapatkan kertas bekas tersebut. Di lain hal, limbah pembalakan hutan tanaman industri berlimbah potensinya sehingga disarankan penggunaannya sebagai pengganti kertas bekas untuk campuran sludge tersebut. Terkait dengan hal tersebut, telah dilakukan percobaan pembuatan karton skala industri kecil menggunakan campuran pulp limbah pembalakan tersebut dan sludge industri kertas pada 2 proporsi yaitu 25% : 75% dan 100% : 0%. Pengolahan limbah pembalakan menjadi pulp dilakukan dalam ketel pemasak skala semi pilot dengan kondisi pulping semi-kimia soda pada konsentrasi alkali (NaOH) 14% dan 16%, perbandingan berat limbah dengan larutan pemasak 1:5,5, suhu maksimum pemasakan 120°C selama 3 jam pada tekanan 1,2-1,5 atmosfir. Hasil pulp pada konsentrasi 14% lebih sesuai sebagai campuran sludge ditinjau dari rendemen, konsumsi alkali dan bilangan Kappa. Pembentukan lembaran karton dari campuran tersebut dilakukan di industri karton rakyat (skala kecil), dengan menggunakan aditif yaitu kaolin 5%, tawas (alum sulfat) 2%, perekat tapioka 4% dan rosin soap 2%. Rendemen dan sifat fisik/kekuatan karton dari campuran pulp limbah pembalakan (25%) dan sludge (75%) berikut bahan aditif lebih rendah dari campuran dengan proporsi 100%:0% (ke dua proporsi tersebut menggunakan aditif). Akan tetapi sifat fisik/kekuatan karton dari campuran tersebut (25%:75%) masih lebih baik/tinggi dari pada sifat karton produksi industri rakyat yang menggunakan campuran kertas bekas (50%) dan sludge (50%) tanpa aditif dan banyak memenuhi persyaratan karton komersial. Dengan demikian pulp limbah pembalakan tersebut berprospek cerah sebagai campuran sludge dan sebagai bahan substitusi kertas bekas yang banyak digunakan industri karton rakyat

    Pengaruh Teknologi Informasi dan Budaya Organisasi terhadap Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Studi pada Balai Besar Pulp dan Kertas

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh teknologi informasi dan budaya organisasi terhadap karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen pada Balai Besar Pulp dan Kertas; 2) pengaruh budaya organisasi terhadap karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen pada Balai Besar Pulp dan Kertas. Hasil penelitian diharapkan menjadi bukti bahwa model yang ditawarkan dapat menjadi solusi pemecahan masalah pada karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen. Data yang digunakan diperoleh melalui survei dengan mendistribusikan kuesioner pada Balai Besar Pulp dan Kertas, diolah secara statistik dengan menggunakan SEM-PLS. Metode penelitian menggunakan metode explanatory research untuk mendapatkan jawaban mendasar sebab akibat dengan menganalisa penyebab terjadinya masalah pada karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) teknologi informasi berpengaruh terhadap karakteristik sistem informasi manajemen dan (2) budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen.&nbsp

    Isolasi, Skrining Dan Identifikasi Jamur Xilanolitik Lokal Yang Berpotensi Sebagai Agensia Pemutih Pulp Yang Ramah Lingkungan (Isolation, Screening and Identification Xylanolytic Local Fungi That Potentially as Pulp Bleaching Agents)

    Full text link
    Xilanase merupakan enzim yang berfungsi luas dalam bidang industri. Xilanase digunakan sebagai perlakuan awal proses pemutihan kertas di industri pulp dan kertas sehingga dapat mengurangi penggunaan senyawa klorin yang berbahaya bagi lingkungan. Xilanase yang cocok digunakan dalam industri pulp dan kertas seharusnya bebas dari aktivitas selulase. Jamur merupakan salah satu kelompok mikrobia yang mampu menghasilkan xilanase. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat jamur unggul lokal penghasil xilanase dari tanah yang diasumsikan memiliki kandungan xilan tinggi. Tanah di sekitar industri pulp dan kertas; hutan akasia di Kab. Muara Enim dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan; hutan Wanagama, Yogyakarta; penggergajian kayu di kota Palembang dan Yogyakarta serta TPA Palembang digunakan sebagai sumber isolat jamur. Berdasarkan skrining awal dalam media basal xilan agar diketahui bahwa dari 111 isolat jamur yang diperoleh, sebagian besar mempunyai potensi menghasilkan xilanase, akan tetapi hanya 12 isolat yang mempunyai kemampuan xilanolitik tinggi. Skrining selanjutnya dilakukan pada media basal xilan cair menunjukkan bahwa jamur yang diidentifikasi sebagai Chaetomium globosum, Penicillium simplicissimum, Aspergillus tamarii dan Monocillium sp. berpotensi unggul dalam menghasilkan xilanase dibandingkan isolat lainnya berdasarkan aktivitas enzim spesifiknya. Keempat jamur tersebut diketahui juga memiliki aktivitas lignolitik dan selulolitik. Oleh karena itu, xilanase yang diproduksi ke empat jamur tersebut berpotensi dikembangkan sebagai agen pemutih pulp
    corecore