41,653 research outputs found

    PENGGUNAAN KATALIS BF3 DAN K2CO3 PADA SINTESIS POLIMER ESTER ASAM LEMAK SELULOSA (FACE) DARI MINYAK BIJI KARET (Hevea brasiliensis)

    Get PDF
    Polimer sintetik yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari memiliki beberapa kelemahan yaitu bersifat nonbiodegradable dan dibuat dari bahan baku nonrenewable. Oleh karena itu dibutuhkan polimer yang bersifat biodegradable dan dibuat dari bahan baku renewable, yaitu polimer ester asam lemak selulosa (FACE). Polimer FACE dengan asam lemak rantai pendek bersifat rapuh dan mempunyai kristalitas tinggi serta derajad elastisitas rendah sehingga perlu ditambahkan plasticizing agent. Penambahan asam lemak rantai panjang menyebabkan polimer tidak mudah mengalami kristalisasi sehingga sangat elastis, walaupun tanpa penambahan plasticizing agent. Polimer FACE dapat disintesis melalui reaksi transesterifikasi antara metil ester minyak biji karet dan selulosa. Produk transesterifikasi dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya katalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi minyak biji karet menjadi material yang lebih berguna dan menentukan pengaruh penggunaan katalis BF3 dan K2CO3 pada sintesis polimer FACE. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah isolasi minyak biji karet dengan metode sokhlet menggunakan pelarut n-heksana. Minyak biji karet kemudian dianalisis menggunakan GC-MS untuk mengetahui komposisi asam lemaknya. Tahap selanjutnya adalah transesterifikasi minyak biji karet untuk menghasilkan metil ester (FAME). Tahap terakhir adalah sintesis polimer FACE. Sintesis polimer FACE dengan katalis BF3 dilakukan suhu 45°C dengan variasi waktu reaksi 6 dan 9 jam, sedangkan dengan katalis K2CO3 dilakukan pada suhu 130°C dengan waktu reaksi selama 4 jam. Polimer yang terbentuk dianalisis menggunakan spektrofotometri FTIR. Hasil isolasi minyak biji karet mempunyai rendemen 41,74%. Berdasarkan analisis GC- MS, kandungan asam lemak minyak biji karet adalah asam palmitat (10,27%), asam linoleat (50,30%), asam elaidat ( 23,45%), asam stearat (10,01%) dan asam 11, 14- eikosadienoat ( 5,96%). FAME yang dihasilkan sebanyak 19,34 g. Polimer FACE dapat disintesis menggunakan katalis BF3 dan K2CO3. Hal tersebut ditunjukkan dari spektra FTIR yaitu munculnya puncak 1741 cm-1 ( C=O) yang diperkuat dengan puncak C – O – C ester pada 1164 cm-1. Polimer FACE yang dihasilkan menggunakan katalis BF3 memiliki derajad transesterifikasi sebesar 0,256 untuk waktu reaksi 6 jam dan 0,283 untuk waktu reaksi 9 jam, sedangkan menggunakan katalis K2CO3 sebesar 0,467 untuk waktu reaksi 4 jam

    BIODEGRADASI POLIMER HASIL SINTESIS DARI POLIOKSIETILEN GLIKOL DAN METILEN-4,4’- DIFENILDIISOSIANAT SEBAGAI SUMBER BELAJAR PADA PERKULIAHAN KIMIA FISIKA POLIMER

    Get PDF
    Perkuliahan Kimia Fisika Polimer umumnya dilaksanakan melalui pembelajaran di dalam kelas tanpa disertai dan didukung dengan metode laboratorium. Dengan demikian materi polimer khususnya penananaman konsep biodegradasi polimer akan menjemukan, tidak menarik untuk dipelajari, serta mudah dilupakan. Kondisi tersebut akan sangat mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran biodegradasi polimer. Penggunaan media laboratorium sebagai sumber belajar diharapkan mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran biodegradasi polimer. Sebagai upaya mengembangkan sumber belajar biodegradasi polimer dapat memanfaatkan bahan kimia yang ada di pasaran, yaitu polioksietilen glikol massa molekul dan metilen-4,4’-difenildiisosianat (MDI) sebagai bahan dasar untuk sintesis poliuretan. Pada kajian ini diungkapkan pemanfaatan biodegradasi poliuretan hasil sintesis dari PEG dan MDI sebagai alternatif sumber belajar biodegradasi polimer. Dengan memanfaatkan sumber belajar tersebut diharapkan mahasiswa akan memahami secara nyata pengertian biodegradasi polimer, teknik karakterisasi dalam biodegradasi polimer, serta karakter polimer akibat biodegradasi

    Aplikasi Jaringan Syaraf Tiruan Pada Sistem E-nose

    Full text link
    Pada penelitian ini akan dirancang sistem electronic nose (penciuman elektronik) menggunakan program kecerdasan buatan Jaringan Syaraf Tiruan (Neural Network). Sistim e-nose yang akan dibuat menggunakan sensor dari bahan polimer. Jenis polimer yang akan digunakan terdiri dari 4 jenis, yaitu; polyethylene glycol (PEG) 6000, PEG200, PEG20M, dan PEG1450 . Bahan polimer ini dicampur dengan karbon aktif sehingga menjadi bahan komposit polimer-karbon. Penggunaan bahan komposit polimer-karbon sebagai sensor gas karena sifat unik dari bahan tersebut, yaitu mempunyai resistansi tertentu apabila terpapar jenis gas tertentu. Resistansi ini berbeda untuk tiap jenis polimer dan tiap jenis gas yang dideteksi. Berdasar sifat unik tersebut, muncul ide untuk menggabungkan beberapa sensor dari beberapa jenis polimer menjadi deret sensor yang secara bersama-sama digunakan sebagai ‘indra' dalam sistem pendeteksi. Penggabungan beberapa sensor tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan pola tegangan keluaran dari sensor apabila terpapar suatu jenis gas tertentu, sehingga setiap gas akan mempunyai pola tegangan yang unik juga. Dengan pola tegangan tersebut akan di belajarkan ke program kecerdasan buatan, yang dalam penelitian ini digunakan jaringan syaraf tiruan propagasi Balik. Alat ini akan diujikan pada pendeteksian kandungan bahan pengawet berbahaya pada makanan, yaitu formalin. Sampel bahan makanan yang akan diuji terdiri dari 3 jenis, yaitu tahu, mie dan bakso. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa sistem yang dibuat mempunyai keakuratan dalam mendeteksi kandungan formalin dalam bahan makanan sebesar 75%

    Pengaruh Dosis Implantasi Ion Nitrogen pada Sifat Kapasitansi Polimer Pvdf dan Pvdf-hfp

    Full text link
    Material berdensitas energi elektrik tinggi sebagai bahan dielektrik kapasitor sangat diperlukan dalam industri bidang elektronika. Tujuan penelitian ini ialah mengkarakterisasi dan menganalisis polimer PVDF( Poly vinylidene fluorde) dan PVDF-HFP (Poly vinylidene fluoride-co-hexafluoropropene) sebelum dan sesudah diimplan ion nitrogen. Metode penelitian yang dilakukan ialah menyiapkan sampel lapisan tipis Polimer PVDFdan PVDF-HFP kemudian diimplan menggunakan ion nitrogen pada dosis 4,69 x 1016 ion/cm2 hingga 1,41 x 1018 ion/cm2 pada energi 10 keV. Selanjutnya nilai kapasitansi, faktor disipasi dan kekuatan dielektrik sampel dikarakterisasi menggunakan LCR meter GW-Instek 800. Morfologi dan ikatan struktur dari sampel dikarakterisasi menggunakan SEM dan FTIR. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai kapasitansi sebesar 4,3 kali pada polimer PVDF dan 1,4 kali pada polimer PVDF-HPF. Peningkatan nilai kapasitansi disebabkan bertambahnya ikatan rangkap C=C pada PVDF dan PVDF-HFP yang diimplan ion nitrogen. Hal tersebut dibuktikan dari hasil karakterisasi FTIR dan SEM. Namun demikian nilai kekuatan dielektrik mengalami penurunan akibat semakin konduktifnya polimer PVDF dan PVDF-HPF. Untuk sampel PVDF ada kapasitansi optimum dicapai pada dosis 9,38 x 1017 ion/cm2 sedangkan untuk sampel PVDF-HFP diatas dosis tersebut memperlihatkan gejala saturasi. Nilai kapasitansi optimal diperoleh berturut-turut sebesar 0,089483 nF, faktor disipasi 0,129613 % pada polimer PVDF dan 0,134889 nF, faktor disipasi 0,09784 % untuk polimer PVDF-HFP

    Distribusi Polarisasi pada Pvdf dan Kopolimernya P(vdf/trfe) Dekat Permukaan

    Full text link
    DISTRIBUSI POLARISASI PADA PVDF DAN KOPOLIMERNYA P(VDF/TrFE) DEKAT PERMUKAAN. Pada makalah ini, distribusi polarisasi pada film polimer feroelektrik yang telah mengalami berbagai perlakuan poling, dilaporkan. Profil polarisasi diukur dengan menggunakan Laser Intensity Modulation Method (LIMM). Ditemukan bahwa film polimer yang belum mengalami poling memiliki lapisan polarisasi di dekat elektroda. Lapisan polarisasi ini diduga diakibatkan oleh adanya difusi elektron ke dalam polimer yang berasal dari elektroda logam. Dengan memberikan medan listrik yang disiklus kepada film polimer, maka dua ragamperubahan terjadi. Pertama, pengembangan profil polarisasi yang semakin merata (uniform) di sepanjang ketebalan film. Kedua, lapisan muatan di dekat kutub yang merupakan anoda, pada awal poling menjadi berkurang, sementara di dekat kutub yangmerupakan katoda, pada awal polingmenjadi lebih menonjol. Perubahan ini terjadi karena adanya muatan permukaan (space charge) yang dihasilkan dari proses pelelahan (fatigue) polimer

    Sintesis Poli N-Isopropilakrilamida (PNIPA)/Polityrosin (PTYR) Interpenetrating Polymer Networks (IPNs) Bertanda Iodium-125

    Full text link
    Saat ini perkembangan polimer telah semakin maju, berbagai aplikasi polimer telah dikembangkan baik di sektor energi, pangan maupun kesehatan. PNIPA/PTYR IPNs bertanda iodium-125 dapat dimanfaatkan sebagai sumber terapi kanker. PNIPA/PTYR merupakan polimer peka temperatur. Tujuan dari penelitian ini adalah sintesis PNIPA/PTYR IPNs bertanda iodium-125. Polityrosin ditandai dengan iodium-125 kemudian secara simultan direaksikan dengan monomer N-isopropilakrilamida melalui polimerisasi radikal bebas dengan inisiator amonium persulfat (APS) dan tetrametiletilenediamin (TEMED) untuk memperoleh PNIPA/PTYR IPNs bertanda iodium-125. Kemurnian radiokimia PNIPA/PTYR IPNs bertanda iodium-125 diukur dengan krom atografi lapis tipis (KLT) dengan fasa gerak 2 propanol: 1 butanol: 0,2 M NH4OH. Selain Itu, stabilitas PNIPA/PTYR IPNs bertanda iodium-125 diuji pada media air. PNIPA/PTYR IPNs telah berhasil ditandai dengan iodium-125 dengan rendemen penandaan sebesar 37,6 ± 4,2 % (n = 3). Hasil pengamatan visual, ditunjukkan bahwa polimer mengalami Perubahan sifat pada temperatur 32 oC sampai dengan 34°C. Hasil H-NMR hanya menunjukkan spektrum dari polimer PNIPA. Berdasarkan pemeriksaan KLT, kemurnian radiokimia PNIPA/PTYR IPNs bertanda iodium-125 adalah 95,93%. Pengujian stabilitas polimer bertanda iodum-125 pada media air pada T = 37°C selama 2 minggu menunjukkan bahwa iodium-125 yang masih tertahan pada polimer adalah 71,3 ± 6,2 %

    Pemilihan Jenis Bulir Polimer Sebagai Penyangga Material Fotokatalis Tio2

    Full text link
    Salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas fotokatalitik suatu material katalis adalah dengan melapiskan material katalis Titanium dioksida (TiO2) pada permukaan polimer yang berukuran cukup besar, ringan, transparan dan bersifat termoplastik. Untuk memilih jenis polimer terbaik sebagai material penyangga katalis, dilakukan pengujian pelapisan partikel TiO2 pada tiga jenis polimer berbentuk bulir, yaitu polystyrene (PS), linear-low density polyethylene (LLDPE), dan polypropilene (PP).Pelapisan material TiO2 di permukaan polimer dilakukan dengan menggunakan teknik thermalmilling berbasis oven listrik. Temperatur dalam proses milling diatur di sekitar titik HDT (Heat Deflection Temperature)material polimer dan berlangsung selama 60 menit. Massa jenis dan transmitansi polimer setelah dilapisi TiO2 merupakan parameter fisik yang menjadi acuan dalam pemilihan polimer penyangga katalis. Imobilisasi menggunakan teknik thermal milling menghasilkan polimer PP berlapis katalis TiO2 yang homogen. Pabrikasi dengan parameter milling 100°C dan 60 menit menghasilkan PP berlapis katalis TiO2 dengan massa jenis rata-rata 0,872 g/cm3 sehingga dapat mengapung di permukaan air. Di samping itu, PP berlapis TiO2 mempunyai transmitansi 58%. Polimer PP inilah yang kemudian dipilih sebagai material penyangga katalis TiO2 dalam proses penelitian selanjutnya

    Sistem Pendeteksian Gas Formalin Pada Bahan Makanan Dengan Sensor Gas Berbahan Polimer Menggunakan Metode Jaringan Syaraf Tiruan (Jst)

    Full text link
    Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh sistem pendeteksi formalin dalam bahan pangan menggunakan sensor berbahan polimer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan; 1) membuat sensor gas berbahan polimer, 2) membuat instrumentasi pengujian untuk mengkarakterisasi resistansi sensor, 3) membuat chamber yang akan digunakan untuk pengujian bahan pangan, 4) merancang akuisisi hasil pengukuran ke komputer, 5) medesain software jaringan syaraf tiruan pendeteksi formalin berbasis PC, 5) menguji beberapa komoditas bahan pangan. Luaran penelitian ini adalah : 1) alat pendeteksi formalin menggunakan sensor gas berbahan polimer beserta software identifikasinya, 2) publikasi ilmiah, 3) diseminasi di seminar Nasional,45) Buku ajar; Kimia dasar. Kebaruan dari penelitian ini adalah penggunaan bahan polimer sebagai sensor (chemical sensor)
    corecore