67,535 research outputs found

    PENGARUH LIMBAH ORGANIK KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca) TERHADAP KUALITAS NATA DE DRAGON SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

    Get PDF
    Limbah kulit pisang belum dimanfaatkan atau diolah menjadi produk. Kulit pisang merupakan salah satu sumber nitrogen alami yang potensial. Peningkatan pertumbuhan, perkembangan pada aktivitas bakteri acetobacter xylinum nitrogen alami dapat didapatkan dari kulit pisang. Pemanfaatan dari kulit buah naga yang mengandung antioksidan yang cukup tinggi. Permasalahan limbah kulit buah pisang kepok dan kulit buah naga merah dapat dikurangi dengan mengetahui nutrisi kulit buah yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan Nata de dragon. Metode dalam penelitian ini menggunakan eksperimental sejati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suatu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kulit pisang kepok (Musa paradisiaca) terhadap kualitas Nata de Dragon. Hasil penelitian dan alisha menunjukkan terdapat pengaruh konsentrasi kulit pisang kepok dengan menggunakan media substrat kulit buah naga terhadap kualitas nata de dragon, dilihat dari parameter uji organoleptik yang meliputi aroma, rasa, tekstur rasa. Sedangkan pada kualitas kadar serat dan kadar antioksidan terdapat pengaruh. Hasil menunjukkan kadar antioksidan terbaik pada perlakuan satu yaitu 0%. Dan terdapat perlakuan terbaik kadar serat yaitu pada perlakuan dua yaitu 25%

    Hubungan Kekerabatan Fenetik Beberapa Varietas Pisang Lokal Kalimantan Selatan

    Full text link
    Hubungan kekerabatan fenetik pisang dapat diketahui dengan teknik analisis kromosom akar pisang, yaitu dengan membuat kariotipe kromosom sehingga jenis genom dan tingkat ploidi kromosom pisang terlihat dengan jelas. Selain itu, jenis genom dan tingkat ploidi kromosom pisang dapat ditentukan dengan metode skoring berdasarkan ekspresi fenotif Musa acuminata dan Musa balbisiana. Kesemua varietas lokal pisang Ka-limantan Selatan, yaitu pisang Ambon, pisang Mahuli, pisang Palembang dan pisang Raja tidak berkerabat dekat. Pisang Ambon bergenom AAA dengan subgroup Cavendish, pisang Mahuli bergenom AA dengan subgroup pisang Mas dan pisang Raja memiliki genom ABB dan termasuk subgroup Kepok. Untuk pisang Pa-lembang, tidak dapat diketahui genom dan subgroupnya karena analisis kromosom akar pisangnya tidak jelas

    Produk Fermentasi Sari Pisang yang Mengandung Asam Lemak Linoleat dan Linolenat

    Full text link
    Produk pisang yang mengandung asam lemak linoleat dan linolenat dapat dihasilkan melalui proses fermentasi. Kedua asam lemak ini termasuk jenis asam lemak essensial bagi kesehatan. Selain itu proses pengolahan pisang sesuai dengan salah satu program pokok pembangunan agroindustri, yaitu meningkatkan manfaat hasil pertanian secara optimal. Jenis pisang yang digunakan adalah jenis pisang yang dianggap kurang memiliki nilai ekonomis dan tidak disukai untuk dikonsumsi sebagai buah segar, yaitu pisang Udang, pisang Geulis tiis, pisang Batu, pisang Jimluk, dan pisang Kapur. Terlebih dahulu pisang dibiarkan menjadi sangat matang sehingga mengeluarkan cairan. Cairan pisang lalu dipisahkan dari residu padatan melalui penyaringan, yang kemudian digunakan sebagai bahan baku pembuatan medium fermentasi. Medium sari pisang kemudian difermentasikan oleh khamir penghasil lemak Rhodotorula glutinis. Fermentasi dilakukan dalam kontainer gelas yang dilengkapi dengan sistem pengadukan dan pengaliran udara. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa hasil fermentasi sari pisang mengandung asam lemak linoleat sebesar 0,13 sampai 0,31 g, dan asam lemak linolenat sebesar 0,17 sampai 0,51 g per 100 ml medium hasil fermentasi. Hasil uji mikrobiologis tidak menunjukkan adanya bakteri pathogen (gram negative) dalam produk fermentasi sari pisang tersebut

    Pengaruh Substitusi Tepung Bonggol Pisang Terhadap Tingkat Pengembangan Dan Daya Terima Donat

    Get PDF
    Pendahuluan : Bonggol pisang dapat diolah menjadi tepung yang dapat digunakan sebagai pensubstitusi dengan tepung terigu, memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Bonggol pisang dapat dimanfaatkan untuk bahan olahan antara lain risoles tepung bonggol pisang, kripik bonggol pisang, puding bonggol pisang, steak bonggol pisang, bonggol pisang juga berpotensi diolah menjadi donat. Bonggol pisang mengandung karbohidrat (66,2%) dengan kadar air (20 %), mineral dan vitamin. Karbohidrat dalam bonggol pisang terutama berupa serat (Munadjim, 2006). Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengembangan dan daya terima donat yang disubstitusi tepung bonggol pisang. Metode penelitian : Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan acak lengkap menggunakan 4 perlakuan ( 0%, 20%, 30%, dan 40%). Analisis statistik pada tingkat pengembangan daya terima menggunakan uji One Way Anova dengan taraf sigfikansi 95% dan bila terdapat pengaruh, akan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengembangan donat tidak dipengaruhi oleh substitusi tepung bonggol pisang. Donat dengan substitusi 20% yang paling banyak disukai panelis. Kesimpulan : Tidak ada pengaruh substitusi tepung bonggol pisang pada pembuatan donat terhadap tingkat pengembangan. Ada pengaruh substitusi tepung bonggol pisang terhadap daya terima. Kata Kunci : Tepung Bonggol Pisang, Tingkat Pengembangan, Daya Terima, dona

    PERTUMBUHAN TUNAS DUA JENIS PISANG (MUSA SPP.) DENGAN BEBERAPA KONSENTRASI BENZIL AMINO PURIN (BAP) SECARA KULTUR JARINGAN

    Get PDF
    RINGKASANPisang dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan kegunaannya yaitu jenis pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak seperti pisang Barangan dan Raja, jenis pisang olahan seperti pisang Kepok dan Nangka serta pisang yang diambil seratnya seperti pisang Abaca. Pisang yang paling banyak digemari saat ini adalah pisang Barangan, Raja dan Kepok. Dalam perbanyakan pisang secara kultur jaringan, pemberian Benzil Amino Purin (BAP) adalah salah satu perlakuan yang menentukan pertumbuhan tunas pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pisang dan konsentrasi BAP serta kombinasi terbaik terhadap pertumbuhan tunas secara kultur jaringan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh dan Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala yang berlangsung pada April sampai Agustus 2017.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial, yang terdiri atas dua faktor, faktor pertama yaitu faktor jenis pisang, terdiri atas dua jenis yaitu pisang barangan dan pisang raja. Faktor kedua adalah konsentrasi BAP yang terdiri atas 4 taraf yaitu kontrol, 2 ml, 4 ml dan 6 ml. Parameter yang diamati adalah dengan menghitung persentase eksplan hidup umur, persentase respon tumbuh eksplan, jumlah tunas, tinggi tunas, waktu tumbuh eksplan dan warna tunas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pisang berpengaruh sangat nyata terhadap waktu tumbuh tunas, berpengaruh nyata terhadap persentase respon tumbuh eksplan pada umur 6 MSI. Pertumbuhan tunas pisang terbaik yaitu pada jenis pisang Raja. Konsentrasi BAP berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tunas umur 13 dan 14 MSI dan berpengaruh nyata pada persentase respon tumbuh eksplan umur 10, 12 MSI dan waktu tumbuh tunas. Pertumbuhan tunas pisang terbaik yaitu pada konsentrasi 4 ml. Terdapat interaksi yang nyata antara jenis pisang dan konsentrasi BAP terhadap tinggi tunas umur 14 MSI. Kombinasi perlakuan terbaik terdapat pada jenis pisang Raja dengan konsentrasi BAP 4 ml

    ANALISIS ALUMINIUM PADA PISANG KLUTUK (Musa Balbisiana Colla)

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagian dari pisang klutuk baik yang tidak dikukus maupun yang dikukus yang memiliki kandungan aluminium paling tinggi. Sampel yang diteliti adalah bagian kulit, daging, serta biji pisang klutuk (Musa Balbisiana colla) yang tidak dikukus dan yang dikukus. Penetapan kadar aluminium dilakukan dengan metode titrasi kompleksometri. Hasil penetapan kadar aluminium dari masing-masing sampel yaitu sampel A (kulit pisang klutuk mature yang tidak dikukus) = 0,354%, sampel B (daging pisang klutuk mature yang tidak dikukus) = 0,405%, sampel C (biji pisang klutuk mature yang tidak dikukus) = 0,473%, sampel D (kulit pisang klutuk mature yang dikukus = 0,343%, sampel E (daging pisang klutuk mature yang dikukus) = 0,078%, sampel F (biji pisang klutuk mature yang dikukus) = 0,372%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel C (biji pisang klutuk mature yang tidak dikukus) merupakan sampel yang memiliki kandungan aluminium paling tinggi yaitu sebesar 0,473%, dan perlakuan pengukusan pada sampel mempengaruhi kandungan aluminium yang terkandung pada pisang klutuk. Kata Kunci: Aluminium, antasida alami, kompleksometri, pisang klutuk

    Pemberdayaan Perempuan melalui Wirausaha Pembuatan Makanan Kecil Berbasis Pisang di Kelurahan Tlogosari Wetan Kecamatan Pedurungan Kodya Semarang

    Full text link
    Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan kodya Semarang adalah suatu wilayah potensial penghasil pisang karena karena keadaan alam tanaman pisang tumbuh subur di wilayah tersebut Pada umumnya penduduk setelah panen pisang dijual segar begitu saja di pasar – pasar setelah melalui pemeraman.Akan tetapi tidak semua pisang hasil panen tidak selamanya bisa diperam sehingga pisang tersebut masih mentah. Demikian pula pisang yang sudah masak dari pemeraman tidak semuanya laku terjual pada saat itu juga, karena sifat yang mudah busuk akan mempengaruhi kualitas pisang dan sekaligus mempengaruhi nilai jualnya. Sampai saat ini umumnya pemanfaatan pisang hanya dikonsumsi dalam bentuk segar ataupun direbus hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan dan ketrampilan tentang pengolahan makanan kecil berbahan dasar pisang. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahan pangan pasca panen yang melimpah seperti pisang dapat diolah menjadi variasi makanan yang menarik maupun menjadi produk setengah jadi yaitu tepung, sehingga dapat meningkatkan nilai jualnya dan memberikan nilai tambah dari komoditas pisang, dengan meningkatnya kreativitas makanan berbahan dasar pisang diharapkan dapat membuka peluang USAha baru, terutama masyarakat khususnya kaum perempuan di Keluraahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kodya Semarang, untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu memberdayakan perempuan melalui wirausaha pembuatan makakanan kecil berbasis pisang. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah:1. Meningkatkan pengetahuan peserta dalam pembuatan makanan kecil berbasis pisang.2. Memberikan ketrampilan cara pembuatan makanan kecil berbasis pisang.3. Memberikan pengetahuan dan ketrampilan cara menghitung biaya produksi dan harga jualnya untuk dipasarkan. Hasil yang dicapai dalam kegiatan pelatihan ini dapat berjalan dengan baik dan sesuaidengan rencana, berdasarkan evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berupa pelatihan Pemberdayaan Perempuan Melalui Wirausaha Pembuatan Makanan Kecil Berbasis Pisang di Kelurahan Tlogosari Wetan Kecamatan Pedurungan Kodya Semarang melalui metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi oleh tim pengabdian, maka para peserta dapat memahami materi pelatihan. Sehingga melalui metode latihan/praktek ibu –ibu membuat makanan kecil, adapun hasinyal 100 % dikatakan berhasil,hendaknya pelatihan tersebut dapatlah sebagai dasar pengetahuan dan keterampilan, yang selanjutnya dapat ditekuni dan dikembangkan menjadi salah satu alternatif untuk membuka USAha dengan berwirausaha

    ANALISIS KANDUNGAN PATI PADA BONGGOL PISANG

    Get PDF
    ABSTRAKKata kunci: Analisis, pati, bonggol pisang.Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kandungan pati pada berbagai varietas bonggol pisang yang berbeda. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel, pengolahan bonggol pisang, pembuatan kurva standar, dan analisis pati. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kali ulangan. Sampel terdiri dari lima jenis bonggol pisang, yaitu bonggol pisang kepok, wak, raja, barangan, dan mas. Penentuan kandungan pati dilakukan dengan metode Dinitrosalisilat (DNS). Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan kandungan pati pada berbagai varietas bonggol pisang. Kandungan pati tertinggi terdapat pada bonggol pisang mas (67,80%) dan kandungan pati terendah terdapat pada bonggol pisang barangan (59,10%). Berdasarkan hasil uji Analisis Varian (ANAVA) menunjukkan bahwa kandungan pati pada bonggol pisang mas berbeda sangat nyata terhadap kandungan pati bonggol pisang lainnya. Kandungan pati pada bonggol pisang mas berpotensi sebagai bahan baku dalam pembuatan bahan bakar alternatif yaitu bioetanol
    corecore