39,041 research outputs found
Aspek Hukum Pelaku USAha Periklanan Dan Produk Iklan Yang Melanggar Periklanan Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pelaku USAha periklanan dan produk iklan secara hukum dapat melanggar sebagaimana diatur dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f UUPK dan bagaimana keputusan hakim dalam menerapkan dan memutuskan sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 62 ayat (2)UUPK. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, disimpulkan: 1. Pengaturan larangan bagi pelaku USAha periklanan agar tidak memproduksi iklan yang melanggar terdapat pada Pasal 17 ayat (1) huruf f tersebut mengandung kerancuan hukum dan tidak dapat diterapkan dalam praktek hokum sebagimana etika dan hukum itu merupakan dua entitas yang berbeda. Perbedaan dua wilayah tersebut tentunya membawa konsekuensi yang berbeda jika kedua norma itu dilanggar. Sanksi terhadap pelanggaran norma etik adalah sanksi etik dan sanksi pelanggaran norma hukum adalah sanksi hukum. Norma etik merupakan selft-regulation bagi masyarakat profesi periklanan sendiri untuk melakukan tindakan-tindakan atas berbagai praktek periklanan yang bertentangan dengan kode etik, sehingga yang mempunyai kewenangan untuk menegakkan norma-norma etik adalah organisasi profesi periklanan. 2. Hakim tidak dapat menjatuhkan sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 62 ayat (2) UUPK didasarkan atas pelanggaran Tatakrama dan Tata Cara Periklanan Indonesia. Yang mempunyai kewenangan untuk menegakkan norma-norma etika periklanan adalah organisasi profesi periklanan
Ibu Sebagai Ikon Periklanan: Dari “Supermom” Sampai “Smart Mom”
Dunia periklanan tak pernah sepi dari gempita –mulai dari gempita seputar pernak-pernik periklanan, gemerlap selebritis periklanan, riuh rendah omset iklan yang luar biasa di tengah krisis, sampai pada diskusi menyoal isu-isu politis dalam periklanan. Iklan, bagaimanapun, adalah sebuah medium representasi simbolik, yang tak lepas dari tarik-menarik antarberbagai kepentingan. Ibu, sebagai bagian dari perempuan, sering disimbolisasikan oleh iklan secara verbal ataupun nonverbal. Dari berbagai citraan yang muncul, terlihat bahwa dominasi citra Ibu dalam periklanan Indonesia ternyata belum beranjak dari gambaran klasik tentang perempuan tradisional: berkutat di ruang domestik, tersubordinasi di bawah bayang-bayang suami, dan terperangkap dalam ilusi sebagai sosok yang selalu siap berkorban, kendati sesungguhnya dikorbankan
PENGARUH KERAGAMAN PRODUK DAN PERIKLANAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN ( Survey pada Konsumen di Restauran Kandang Ayam Cabang Kebon Jati Andir Bandung)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan konsumen mengenai keragaman produk, periklanan, dan seberapa besar pengaruh keragaman produk dan periklanan terhadap keputusan pembelian di Restauran Kandang Ayam baik secara simultan maupun parsial. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan verifikatif dengan jumlah populasi 100 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah incidental sampling. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, analisis korelasi berganda, analisis koefisien determinasi, uji F, dan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis korelasi berganda diketahui nilai R (koefisien korelasi) adalah sebesar 0,873 yang berarti keragaman produk dan periklanan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap keputusan pembelian. Berdasarkan analisis koefisien determinasi menunjukkan bahwa keragaman produk dan periklanan memberikan kontribusi terhadap keputusan pembelian di Restauran Kandang Ayam sebesar 76,3% sedangkan sisanya sebesar 23,7% merupakan pengaruh dari variabel lain yang tidak diteliti. Keragaman produk dan periklanan berpengaruh terhadap keputusan pembelian masing-masing sebesar 35,5% dan 40,8%. Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh keragaman produk dan periklanan terhadap keputusan pembelian baik secara simultan maupun parsial.
Kata Kunci : Keragaman Produk, Periklanan, dan Keputusan Pembelia
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, DAN KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL TERHADAP TAX AVOIDANCE DENGAN PROFITABILITAS SEBAGAI VARIABEL MODERASI (STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI))
This study aims to examine the effect of firm size, leverage, and institutional ownership on tax avoidance in manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) for the 2019-2021 period. The independent variables used are firm size, leverage, and institutional ownership. Meanwhile, the dependent variable used is tax avoidance, measured using the CETR measure and the connecting variable used is profitability. This study uses secondary data in the form of annual reports. Determining the research sample using the purposive sampling method and getting 90 samples based on certain criteria. The results of this study indicate that firm size has no effect on tax avoidance. Meanwhile, leverage and institutional ownership influence tax avoidance. Profitability is able to moderate firm size on tax avoidance, while profitability is not able to moderate leverage and institutional ownership on tax avoidance
PENGARUH PENJUALAN PERORANGAN, PEMASARAN LANGSUNG TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK GRANIT PADA PT. GARUDA GRAHA INDAH
ABSTRAK
Promosi dilakukan agar tujuan dari perusahaan dapat terwujud. Dan perusahaan harus selalu berusaha untuk mengembangkan usahanya dengan baik guna mencapai tujuan tersebut. Hal penting lainnya yang tidak dapat di hindari adalah pengaruh dari periklanan, keahlian wiraniaga dan pemasaran langsung yang dilakukan oleh setiap perusahaan.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari periklanan, penjualan perorangan, dan pemasaran langsung terhadap pengambilan keputusan pembelian produk granit pada PT. Garuda Graha Indah. Teknik analisa yang digunakan penelitian ini untuk menganalisis adalah analisis regresi berganda. Sampel yang diambil sejumlah 100 orang pelanggan PT. Garuda Graha Indah pada tahun 2018, teknik pengambilan sampel menggunakan rumus slovin.
Hasil dari penelitian ini menunjukan tingkat signifikan yang terjadi pada variabel bebas (periklanan, penjualan perorangan, pemasaran langsung) terhadap variabel tetap (keputusan pembelian). Pada hasil regresi linier berganda telah didapat bahwa masing-masing variabel memiliki tingat signifikan yang berbeda yaitu : periklanan 0,009, penjualan perorangan 0,002, pemasaran langsung 0,002. Hal ini menyatakan bahwa variabel periklanan, penjualan perorangan, dan pemasaran langsung mempengaruhi keputusan pembelian.
Kata Kunci : Periklanan, Penjualan Perorangan, Pemasaran Langsun
PENGARUH PENERAPAN PERIKLANAN DI INTERNET DAN PEMASARAN MELALUI E-MAIL TERHADAP PEMROSESAN INFORMASI DAN KEPUTUSAN PEMBELIAN OLEH KONSUMEN
Bagi setiap perusahaan, media periklanan melalui internet di Indonesia merupakan peluang sekaligus
tantangan yang harus dihadapi dalam menjalankan kegiatan dan operasional mereka. Penelitian ini bertujuan
untuk melihat dampat pelaksanaan program periklanan di internet dan pemasaran melalui e-mail terhadap
pemrosesan informasi dan keputusan pembelian oleh konsumen.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian bagi pengguna internet
di pengaruhi dari variabel periklanan di internet, pemasaran melalui e-mail, melalui tahap pemrosesan
informasi. Walupun pada variabel periklanan hanya sebagia kecil pengaruhnya, tetapi masih dapat
mempengaruhi keputusan pembelian bagi pengguna internet. Karena keputusan pembelian tidak hanya di
dasarkan pada program periklanan di internet dan pemsaran melalui e-mail saja, tetapi bisa dari faktor lain
diluar variabel tersebut yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian
PROSES PRODUKSI IKLAN BPD MELALUI PT ARESTA LINTAS MEDIA YOGYAKARTA
Pada dasarnya periklanan adalah bagian dari kehidupan industri modern, dan hanya bisa
ditemukan di negara-negara maju atau negara-negara yang tengah mengalami perkembangan
ekonomi secara pesat. Periklanan juga cenderung mencerminkan kemajuan ekonomi suatu
masyarakat. Keberhasilan dari suatu perekonomian secara nasional banyak di tentukan oleh
kegaiatan-kegiatan periklanan dalam menunjang usaha penjualan yang menentukan
kelangsungan hidup produksi pabrik-pabrik, terciptanya lapangan pekerjaan, serta adanya hasil
yang menguntungkan dari seluruh uang yang telah diinvestasikan. Karena itulah, kondisi
periklanan, termasuk tingkat kecanggihan penyajiannya di negara-negara maju sangat berbeda
dengan apa yang kita temui di negara-negara berkembang. Tingkat kemakmuran suatu bangsa
juga dicerminkan oleh sejauh mana bangsa yang bersangkutan telah menggunakan fungsi-fungsi
iklan.
Di masa lampau, ketika seorang pemilik toko atau pedangang eceran menjual barangbarang
dagangan mereka dengan memamerkan ala kadarnya, jelas bahwa apa yang kita kenal
sebagai periklanan dewasa ini sangat sulit ditemukan. Bentuk awal periklanan itu sendiri terbatas
pada papan-papan nama sederhana yang menunjukan nama sebuah penginapan, nama bar kecil,
serta kios tukang cukur yang dihiasi dengan tabung putar warna-wani atau hiasan lainnya yang
sederhana.
Kebutuhan akan adanya periklanan berkembang seiring dengan ekspansi penduduk dan
pertumbuhan kota-kota yang dipenuhi oleh banyak toko, restoran, dan pusat-pusat perdagangan
besar. Hal lain yang turut mempengaruhi perkembangan periklanan adalah tumbuhnya pola-pola
produksi secara massal di berbagai pabrik, terbukanya jaringan komunikasi darat (dalam bentuk
jalan raya dan rel-rel kereta api) yang mengalirkan berbagai barang dari suatu tempat ke tempat
yang lain, serta terbitnya surat-surat kabar populer yang menjadi tempat menarik untuk
memasang iklan.
Produksi berbagai macam barang secara besar-besaran mengharuskan pihak produsen
membawa dan mengenalkannya secara aktif kepada para calon konsumen dan itu harus
dilakukannnya melalui periklanan. Produsen tidak bisa lagi berdiam diri menunggu datangnya
pembeli. Tanpa iklan, para konsumen yang tinggal jauh dari pusat-pusat produksi tidak akan
memperoleh informasi mengenai adanya sesuatu barang yang dibutuhkannya. Proses ini
berlangsung selama sekitar dua ratus tahun di negara-negara industri maju
Potret Periklanan di Media Massa Indonesia
Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail (pengeposan langsung), reklame luar ruang, atau kendaraan umum. Periklanan modern merupakan anak kandung yang lahir dari invensi teknologi media massa, khususnya pada bentuk awal media massa yakni surat kabar. Media massa merupakan anak kandung dari berbagai invensi teknologi komunikasi dan informasi sejak ditemukannya mesin cetak pertama kali oleh Gutenberg tahun 1453, yang kemudian melahirkan media tercetak yang terbit secara periodik dan regular yang disebut dengan surat kabar dan kemudian majalah pada sekitar tahun 1775. Invensi teknologi komunikasi ini secara berturut-turut dalam kurun waktu yang berbeda melahirkan perangkat komunikasi massa lainnya yakni radio, film dan televisi. Untuk keempat media inilah yakni surat kabar/majalah, radio, film, dan televisi di kemudian hari dikenal dengan sebutan nama media massa. Dalam perkembangannya kegiatan periklanan juga menggunakan bentuk-bentuk media massa lainnya yaitu radio, film, dan televisi. Media-media inilah yang kemudian hari dikenal sebagai media utama yang digunakan dalam kegiatan periklanan atau lebih dikenal dengan sebutan media lini atas (above the line media). Selain itu ada juga media periklanan lainnya yang tidak termasuk dalam kategori media massa, yang sering disebut dengan media lini bawah (belowe the line media) (Jefkins, 2000). Media lini bawah merupakan media pendukung kegiatan periklanan di media utama dalam bentuk brosur, spanduk, flyer, neon box, flager, dan semua bentuk media yang memungkinkan dapat digunakan untuk menyampaikan pesan periklanan dalam bentuk headline, tagline, brandname, logotype, maupun slogan kepada konsume
Etika Periklanan
Periklanan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia bisnis, dan selalu mendapatkan perhatian dari masyarakat luas. Akan tetapi muncul kekhawatiran bahwa iklan yang setiap hari di komunikasikan melalui media massa itu pada umumnya tidak mendidik, tetapi justru menyebarluaskan selera yang rendah. Dari segi moral, iklan tidak mempunyai nilai-nilai informatif, karena semata-mata hanya demi keuntungan para produsen saja
- …
