110,051 research outputs found

    Kisi-kisi ujian nasional program paket B/wustha dan paket C/ulya tahun pelajar 2018/2019

    Get PDF
    Berisi informasi mengenai kisi-kisi ujian nasional program paket b dan c. Paket b dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan bahasa Inggris. Paket C dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan IPA/IPS, bahasa Indonesia IPA/IPS, bahasa Inggris IPA/IPS, fisika IPA, kimia IPA, biologi IPA, matematika IPA, matematika IPS, geografi IPS, ekonomi IPS, sosiologi IPS

    Hubungan antara Motivasi Belajar dan Sarana Pendidikan dengan Prestasi Belajar Sosiologi Siswa Kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras

    Full text link
    Muhammad Fauzan. K8412052. HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DAN SARANA PENDIDIKAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 1 TERAS. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret. Juni. 2016.Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) Hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. (2) Hubungan antara sarana pendidikan dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. (3) Hubungan antara motivasi belajar dan sarana pendidikan dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras yang berjumlah 170 siswa. Sampel yang digunakan sejumlah 60 siswa diambil dengan teknik sampling insidental . Teknik pengumpulan data dilakukan dengan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi ganda. Kesimpulan penelitian ini bahwa: (1) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. (2) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara sarana pendidikan dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. (3) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dan sarana pendidikan dengan prestasi belajar Sosiologi signifikan dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Tera

    PERAN PENDIDIKAN IPS DALAM MEMBENTUK SIKAP PLURALIS SISWA DI SMPN 18 KOTA CIREBON

    Get PDF
    ACHMAD SYAEFUR ROKHIM : Pendidikan IPS merupakan suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, ideologi negara dan disiplin ilmu lainnya serta masalah-masalah sosial yang terkait, yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah serrta berperan dalam membentuk sikap pluralis siswa di SMPN 18 Kota Cirebonuntuk menumbuhkan rasa toleransi, saling menghargai, saling percaya, dan saling membutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang Pendidikan IPS,sikap pluralis siswa,Peran Pendidikan IPS dalam membentuk sikap Pluralis Siswa, dan Faktor yang menghambat dan mendukung dalam membentuk sikap Pluralis Siswa di SMPN 18 Kota Cirebon. Sebagai kerangka pemikir, Peran Pendidikan IPSmerupakan pengupayaanpembentukan sikap pluralis siswa dalam dunia pendidikan sehingga menghasilkan keberhasilan dalam belajar dan mempunyai rasa toleransi atau tasamuh, saling menghargai, saling percaya, dan saling membutuhkan. Penelitian ini dilakukan menggunakanstudilapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mendapatkan informasi mengenai masalah yang diteliti. Sedangkan analisis data dilakukan untuk memberikan uraian secara deskriptif dan menarik kesimpulan dari uraian tersebut. Berdasarkan analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian menunjukkanupaya guru dalam penanaman sikap Pluralis Siswa yaitu melalui pembelajaran dalam kelas khususunya Pendidikan IPS, nilai keteladanan guru, kegiatan ekstrakurikuler. Adapun Sikap Pluralis siswa pada pembelajaran IPS di SMPN 18 Kota Cirebon yaitu pada proses diskusi. Fakta-fakta yang menjadi upaya penanaman nilai pluralis pada siswa yaitumenghargai pendapat orang lain, toleransi, kebebasan yang bertanggung jawab. Sehingga mampu menghasilkan siswa yang kreatif, inovatif, berguna bagi nusa dan bangsa, memiliki masa depan yang cerah dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kata Kunci: Peran Pendidikan IPS, Sikap Plurali

    HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN SOSIAL DAN KEAKTIFAN BERORGANISASI DENGAN KOMPETENSI SOSIAL MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN IPS FIS UNY SEBAGAI CALON GURU

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) hubungan antara lingkungan sosial dengan kompetensi sosial mahasiswa jurusan Pendidikan IPS FIS UNY sebagai calon guru, (2) hubungan antara keaktifan berorganisasi dengan kompetensi sosial mahasiswa jurusan Pendidikan IPS FIS UNY sebagai calon guru, (3) hubungan antara lingkungan sosial dan keaktifan berorganisasi secara bersama-sama dengan kompetensi sosial mahasiswa jurusan Pendidikan IPS FIS UNY sebagai calon guru. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah mahasiswa jurusan Pendidikan IPS FIS UNY angkatan 2015 dan 2016 yang sedang aktif dalam organisasi kemahasiswaan sebanyak 91 mahasiswa. Data dikumpulkan dengan angket dan dokumentasi. Uji validitas instrumen menggunakan korelasi Product Moment dan uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach. Hasil uji validitas menunjukkan dari 55 pernyataan, terdapat 11 pernyataan yang tidak valid. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat: (1) hubungan yang positif dan signifikan antara lingkungan sosial dengan kompetensi sosial mahasiswa jurusan Pendidikan IPS FIS UNY sebagai calon guru. Dengan demikian, semakin baik lingkungan sosial mahasiswa maka kompetensi sosialnya juga semakin baik. (2) hubungan yang positif dan signifikan antara keaktifan berorganisasi dengan kompetensi sosial mahasiswa jurusan Pendidikan IPS FIS UNY sebagai calon guru. Dengan demikian, semakin baik keaktifan berorganisasi mahasiswa maka kompetensi sosialnya juga semakin baik. (3) hubungan yang positif dan signifikan antara lingkungan sosial dan keaktifan berorganisasi secara bersama-sama dengan kompetensi sosial mahasiswa jurusan Pendidikan IPS FIS UNY sebagai calon guru. Dengan demikian, semakin baik lingkungan sosial dan keaktifan berorganisasi mahasiswa secara bersama-sama maka kompetensi sosialnya juga semakin baik Kata kunci: lingkungan sosial, keaktifan berorganisasi, kompetensi sosia

    HUBUNGAN ANTARA GAYA HIDUP HEDONIS DAN PERILAKU KONSUMTIF DENGAN PERILAKU MELANGGAR PERATURAN ETIKA BERBUSANA MAHASISWA PENDIDIKAN IPS FIS UNY

    Get PDF
    Perilaku melanggar peraturan merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui hubungan gaya hidup hedonis dengan perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS FIS UNY; (2) mengetahui hubungan perilaku konsumtif dengan perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS FIS UNY, dan; (3) mengetahui hubungan gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif secara bersama-sama dengan perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS FIS UNY. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan IPS sebanyak 366 orang. Ukuran sampel penelitian sebanyak 188 orang ditentukan dengan rumus Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan 5%, selanjutnya cara pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data menggunakan angket. Analisis data dilakukan dengan analisis deskripsi dan uji prasyarat analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS FIS UNY; (2) terdapat hubungan positif dan signifikan antara perilaku konsumtif dengan perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS FIS UNY, dan; (3) terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif secara bersama-sama dengan perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS FIS UNY. Sumbangan variabel gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif secara bersama-sama dengan perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS yaitu 53,3% variabel perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS dipengaruhi oleh variabel gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif dan sisanya sebesar 46,7% dipengaruhi oleh variabel lain. Kata kunci: Gaya hidup hedonis, perilaku konsumtif, perilaku melanggar peraturan etika berbusana mahasiswa Pendidikan IPS FIS UNY

    PENERAPAN NILAI – NILAI RELIGIUS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS X DI SMK YASMI GEBANG KECAMATAN GEBANG KABUPATEN CIREBON

    Get PDF
    KANESIH, 58440859 : "Penerapan Nilai-nilai Religius Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pada Mata Pelajaran IPS Kelas X di SMK YASMI Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon". Pendidikan merupakan usaha dalam bentuk bimbingan, pengajaran serta pelatihan untuk menyiapkan peserta didik di masa yang akan datang, akan tetapi bukan hanya nilai-nilai pendidikan umum saja akan tetapi harus disertai dengan nilai-nilai keagamaan atau nilai-nilai religius. Pendidikan sebagai jembatan untuk upaya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang akan meneruskan perjuangan suatu negara ke arah yang lebih baik. Sekolah merupakan pendidikan formal yang memegang peranan penting untuk membentuk kepribadian. Untuk membentuk suatu kepribadian tersebut tentu bukan hanya melalui pendidikan formalnya saja atau bukan hanya mencapai nilai-nilai umumnya saja, tetapi juga harus mencapai nilai- nilai religinya juga, karena suatu pribadi tanpa adanya nilai religi maka akan hancur di masa yang kekal abadi (akhirat) begitu juga suatu pribadi seseorang tanpa adanya nilai-nilai urnum maka ia akan sengsara di dunia. oleh karena itu manusia atau pribadi berhak memperoleh pendidikan religius dan pendidikan umum. Dengan kedua pencapaian tersebut maka seorang manusia mempunyai kepribadian yang baik, karena di tempat ini siswa semua dididik dengan prinsip perubahan pada manusia sendiri. Dalam proses belajar mengajar diharapkan siswa-siswa memperoleh perubahan-perubahan, yang antara lain dapat memahami, mengembangkan, serta mengamalkan ilmu pngetahuan yang didapat oleh siswa ke dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan nilai-nilai religius pada siswa di SMK YASMI Gebang, kualitas pembelajaran IPS dan upaya-upaya peningkatan kualitas pembelajaran untuk memperoleh informasi mengenai kualitas pembelajaran IPS Penerapan nilai-nilai religius dalam pemebelajaran IPS tentunya dimulai dengan konsep dasar misalnya pembacaan ayat suci Al Qur‟an sebelum memulai pelajaran IPS dan digabungkan dengan konsep pendidikan IPS yang dibangun oleh siswa, seorang pendidik harus memfasilitasi salah satu untuk mewujudkan adalah dengan hal-hal yang real dalam kehidupan keseharian yang terkait dengan nilai-nilai religi dan pembelajaran IPS. Penelitian ini dilakukan dengan metodologi kualitatif dengan cara observasi, wawancara serta studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian maka penerapan nilai-nilai religius dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran IPS kelas X di SMK YASMI Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, berhasil diterapkan pada siswa-siswa SMK YASMI Gebang pada setiap pembelajaran khususnya pembelajaran IP

    KORELASI IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DENGAN ASPEK AFEKTIF SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VII DI MTs NEGERI KARANGKENDAL KECAMATAN KAPETAKAN KABUPATEN CIREBON

    Get PDF
    SAI’IN: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di MTs Negeri Karangkendal Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, telah dilaksanakan oleh guru. Akan tetapi diketahui juga bahwa dalam proses pembelajaran masih banyak siswa yang tidak menerapkan aspek afektifnya, seperti saat belajar ngobrol, ngantuk, tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar, terlambat masuk kelas, tidak mencatat pelajaran, membawa buku pelajaran yang bukan jadwalnya atau tidak membawa alat tulis, mengerjakan tugas mata pelajaran lain, dan tidak berpakaian rapih. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui data implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di MTs Negeri Karangkendal Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, mengetahui data aspek afektif siswa pada mata pelajaran IPS kelas VII di MTs Negeri Karangkendal Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, dan mengetahui data seberapa besar korelasi implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan aspek afektif siswa pada mata pelajaran IPS kelas VII di MTs Negeri Karangkendal Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dirancang untuk memberikan warna yang berbeda antara sekolah yang satu dengan yang lainnya, karena dalam pelaksanaan KTSP membebaskan setiap satuan pendidikan melalui kepala sekolah atau komite sekolah untuk mengembangkan potensi yang ada di daerahnya masing-masing sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga setiap daerah bisa megembangkan budaya, bahasa, dan sebagainya untuk melestarikan hal tersebut melalui satuan pendidikan masing-masing. Metode yang digunakan adalah kuantitatif. Sedangkan teknik pengumpulan datanya yaitu observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Hasil penelitian di MTsN Karangkendal Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon dapat disimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu cukup baik dalam kategori 58,3%, demikian aspek afektif siswa kelas VII pada mata pelajaran IPS yaitu cukup baik dalam kategori 61,2%. Sedangkan korelasi implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan aspek afektif mata pelajaran IPS adalah -0,319 berarti korelasi yang tergolong rendah Ho diterima Ha ditolak. Namun koefisien determinasi atau kontribusi korelasi implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan aspek afektif siswa pada mata pelajaran IPS sebesar 10,2% sisanya sebesar 89,8% disebabkan faktor lain. Kata kunci: Kurikulum, KTSP, Aspek Afektif

    Kompetensi Guru IPS dalam Pembelajaran Berbasis Pedidikan Karakter di SMP Muhammadiyah Kota Ternate

    Full text link
    Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas: semua guru, kepala sekolah, dan siswa sebagai responden. Objek penelitian ini adalah kompetensi guru dalam menerapkan berbagai metode untuk pendidikan karakter pada pembelajaran IPS yang terintegrasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif model induktif. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Kompetensi guru IPS dalam pedidikan karakter di SMP Muhammadiyah 1 dan 2 Kota Ternate belum memuaskan. Hal ini disebabkan oleh guru IPS masih kurang memiliki wawasan dasar keilmuan karakter. Di samping itu juga, guru belum aktif dan kreatif, serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan wawasan pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran IPS. (2) Metode pembelajaran IPS di SMP Muhammadiyah 1 dan SMP Muhammadiyah 2 Kota Ternate masih cenderung bersifat konvensional, yaitu ceramah. (3) Kendala-kendala yang ditemukan dalam pembelajaran pendidikan karakter di SMP Muhammadiyah 1 dan SMP Muhammadiyah 2 Kota Ternate yaitu berasal dari guru, sarana, dan prasarana yang belum memadai, lemahnya kesadaran peserta didik, dana dan pembiayaan yang masih kurang, program pembelajaran, pembinaan karakter karena masih kurangnya pemahaman dari pembina atau guru, serta buku-buku penunjang yang digunakan untuk kepentingan proses pembelajaran

    PENDIDIKAN IPS SEBAGAI REKONSTRUKSI PENGALAMAN BUDAYA BERBASIS IDEOLOGI TRI HITA KARANA

    Get PDF
    Penelitian ini secara umum bertujuan menjelaskan pola hubungan antara konteks sosial budaya masyarakat Bali (baik pada lingkup kehidupan masyarakat lokal, nasional, maupun lingkup kehidupan pariwisata globalnyal) dan penyelenggaraan program Pendidikan IPS pada SMU Negeri 1 Ubud yang berbasis ideologi Tri Hita Karana, serta dampaknya terhadap pencapaian tujuan Pendidikan IPS dalam rangka pembentukan generasi muda siswa modern berwatak Bali. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian etnografi pendidikan pada kasus di SMU Negeri 1 Ubud. Subjek penelitian ini melibatkan informan kepala sekolah, beberapa orang guru dan siswa, ketua komite sekolah, dan beberapa partisipan masyarakat yang dipilih secara purpossive dan dengan teknik snowball. Responden siswa juga dipilih untuk kepentingan pengukuran hasil belajar siswa dengan menggunakan teknik stratified proportional random sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi partisipasi, wawancara mendalam, diksusi kelompok dan kelas, penyebaran inventori nilai, pemberian tes, dan pemberian angket. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konteks sosial budaya masyarakat Bali dalam lingkup kehidupan masyarakat lokal, lingkup kehidupan berbangsa, dan lingkup kehidupan pariwisata global memberikan landasan dalam pengembangan visi, misi, dan pelaksanaan program Pendidikan IPS di SMU Negeri Ubud berbasis idelogi Tri Hita Karana. Ini menunjukkan bahwa konteks sosial budaya masyarakat Bali memberikan basis bagi proses reproduksi budaya dalam penyelenggaraan program Pendidikan IPS yang lebih dimaknai guru-guru dan siswa sebagai proses pemberdayaan peserta didik yang memungkinkan mereka memiliki dan mengembangkan pengetahuan dan wawasan, nilai-nilai dan sikap, serta keterampilan sosial secara partisipatif dalam pembelajaran terhadap kehidupan sosial budaya lokal, nasional, dan global. Pendidikan IPS seperti ini diyakini telah menghasilkan generasi muda modern berwatak Bali, yang antara lain diindikasikan oleh orientasi nilai modern siswa yang cukup, pemahaman sosial budaya dan agama Hindu yang cukup baik, pemahaman konsep Tri Hita Karana yang cukup, orentasi nilai Tri Hita Karana yang tinggi, praktik kehidupan Tri Hita Karana yang cukup tinggi, serta kecenderungan minat siswa melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan menjadi wiraswastawan setelah tamat setiap tahunnya mengalami peningkatan. Ada indikasi pula bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam orientasi nilai modern dan nilai Tri Hita Karana siswa berdasarkan klasifikasi gender. Sesuai dengan hasil penelitian di atas diajukanlah rekomendasi kebijakan, antara lain: perlunya mengembangkan kurikulum Pendidikan IPS menggunakan pendekatan rekonstruksi sosial, mengembangkan iklim lingkungan belajar berbasis ajaran dan tradisi Hindu dan penerapan kepemimpinan demokratis; dan kebutuhan mengembangkan model belajar dan pembelajaran kontekstual, sumber dan media belajar Pendidikan IPS, dan asesmen autentik
    corecore