3,147 research outputs found

    HUBUNGAN GAMBARAN SPIROMETRI DAN SKOR COPD ASSESSMENT TEST (CAT) PADA PASIEN PPOK DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH PERIODE JULI-OKTOBER 2014

    Get PDF
    Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru yang ditandai dengan adanya hambatan aliran udara yang bersifat progresif dan irreversibel akibat respon inflamasi kronis terhadap paparan gas ataupun partikel yang bersifat iritan seperti asap rokok. Pemeriksaan spirometri pada penderita PPOK memiliki kemampuan dalam menegakkan diagnosa dan mengetahui perkembangan PPOK secara objektif. Menurut GOLD, hasil spirometri dapat digunakan untuk mengklasifikasikan PPOK berdasarkan derajat keparahannya. COPD Assessment Test (CAT) merupakan metode penilaian terhadap status kesehatan dan follow up jangka panjang pasien PPOK berdasar pada keluhan yang dialami. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan gambaran spirometri dengan skor CAT pada pasien PPOK. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dan telah dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2014 dengan jumlah responden 30 orang. Hasil analisis komparatif dengan uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan terhadap hasil spirometri dan skor CAT (p = 0.194) pada pasien PPOK di poliklinik Paru Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Banda Aceh

    KUALITAS HIDUP PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK DI POLI PARU RSUDZA BANDA ACEH

    Get PDF
    Latar Belakang : Pada penderita PPOK terjadi penurunan fungsi paru yang dapat menyebabkan keterbatasan aktifitas sehingga terjadi penurunan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk menilai kualitas hidup pasien PPOK berdasarkan skala sesak, derajat PPOK dan frekuensi eksaserbasi. Metode : Design penelitian ini adalah deskriptif observasional dan subjek yang diteliti adalah 40 pasien PPOK stabil. Waktu penelitian selama 3 bulan mulai dari bulan Juli hingga September 2013 di Poliklinik paru RSUDZA Banda Aceh. Kualitas hidup dinilai menggunakan kuisioner SF-36, derajat sesak dinilai menggunakan skala sesak (mMRC Scale), derajat PPOK diukur menggunakan spirometri dan riwayat eksaserbasi diperoleh melalui wawancara.Hasil : Responden PPOK yang memiliki kualitas hidup buruk sebesar 70%, sesak napas derajat 3 dengan kualitas hidup buruk sebesar 60%, PPOK derajat 3 dengan kualitas hidup buruk sebesar 45% dan frekuensi eksaserbasi ? 2 kali/ tahun dengan kualitas hidup buruk sebesar 67,5%.Kesimpulan : 70% responden PPOK di Poliklnik Paru RSUDZA Banda Aceh mengalami kualitas hidup buruk, 60% responden sesak napas derajat 3 memiliki kualitas hidup buruk, 45% responden derajat 3 PPOK memilki kualitas hidup buruk dan 67,5% responden dengan frekuensi eksaserbasi ? 2 kali/ tahun memiliki kualitas hidup buruk.Kata Kunci: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), derajat PPOK, skala sesak (mMRC scale), eksaserbasi, kualitas hidup, kuisioner SF-36

    HUBUNGAN DERAJAT SESAK NAPAS DENGAN DEPRESI DAN KUALITAS HIDUP SERTA DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DI RSUDZA BANDA ACEH

    Get PDF
    Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang ditandai adanya hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif akibat inflamasi kronik yang disebabkan oleh merokok ataupun terpapar partikel gas beracun. Adanya keterbatasan aliran udara ini menyebabkan pasien PPOK mengalami sesak napas. Hal ini membuat pasien PPOK cenderung pasif dan menghindari aktivitas agar tidak sesak napas. Apabila hal ini terus berlanjut pasien PPOK cenderung mengalami depresi karena kehidupannya yang serba ketergantungan terhadap obat dan orang lain. Secara keseluruhan hal ini akan menurunkan kualitas hidup pasien PPOK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat sesak napas dan depresi terhadap kualitas hidup pasien PPOK di Poliklinik Paru RSUDZA Banda Aceh. Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan desain crosssectional. Teknik sampling yang digunakan ialah accidental sampling dengan jumlah responden 65 orang. Hasil analisis komparatif dengan uji Spearman menunjukkan hubungan yang signifikan antara derajat sesak napas dengan kualitas hidup (p = 0,000), terdapat hubungan yang signifikan antara depresi dengan kualitas hidup (p = 0,002) dan terdapat hubungan yang signifikan antara derajat sesak napas dengan depresi (p = 0.000) pada pasien PPOK di Poliklinik Paru RSUDZA Banda Aceh

    GAMBARAN LAMA RAWAT INAP DAN USIA PADA RNPENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIFRNKRONIK EKSASERBASI AKUT DENGANRNPNEUMONIA DI RUANG RAWAT INAPRNPARU RSUDZA BANDA ACEHRNTAHUN 2009-2011

    Get PDF
    ABSTRAKPenyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu dari kelompok penyakit tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Data Badan Kesehatan Dunia melaporkan bahwa pada tahun 2002, 2004 dan 2005 kematian di dunia akibat PPOK semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran lama rawat inap dan usia pada penderita PPOK Eksaserbasi Akut dengan Pneumonia di ruang rawat inap paru RSUDZA Banda Aceh tahun 2009-2011. Penelitian ini bersifat deskriptif dan data diolah dengan menggunakan perhitungan persentase, kemudian diinterpretasikan dalam bentuk diagram batang. Populasi dan sampel penelitian adalah data penderita PPOK Eksaserbasi Akut dengan Pneumonia di ruang rawat inap paru RSUDZA Banda Aceh tahun 2009-2011 sebanyak 28 data (Total sampling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama rawat inap terbanyak pada pasien PPOK Eksaserbasi Akut dengan Pneumonia adalah 1-10 hari, yaitu sekitar 67,9%. Usia pasien yang menderita PPOK Eksaserbasi Akut dengan Pneumonia yang terbanyak pada rentang usia 67-77 tahun yang berjumlah 53,6%. Kata kunci : Lama Rawat Inap, PPOK Eksaserbasi Akut dengan Pneumonia, Usia

    HUBUNGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK) TERHADAP RISIKO OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA) DI POLIKLINIK PARU RSUDZA BANDA ACEH

    Get PDF
    ABSTRAKPenyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah suatu penyakit dimana terjadinya hambatan udara pada saluran pernapasan yang akan meningkatkan respon inflamasi. Tingkat kekambuhan PPOK akan menyebabkan perburukan kualitas hidup pasien. Di Indonesia, angka kejadian PPOK sebesar 3,7% menjadikan PPOK penyakit kedua terbanyak setelah asma. Beberapa penelitian menunjukkan dimana pasien PPOK mengalami Obstructive Sleep Apnea (OSA) secara bersamaan, yang dapat meningkatkan angka komorbiditas dan mortalitas pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) terhadap risiko Obstructive Sleep Apnea (OSA) di Poliklinik Paru RSUDZA Banda Aceh. Penelitian ini bersifat analitik observational dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel secara accidental sampling, didapatkan 30 responden yang menderita PPOK di Poliklinik Paru RSUDZA Banda Aceh. Penelitian ini dilakukan dengan cara mewawancarai responden PPOK menggunakan Kuesioner Berlin. Data diuji dengan menggunakan uji Mann-Whitney dengan nilai p valu

    HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN POLA MAKAN DENGAN FUNGSI PARU PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA

    Get PDF
    Latar Belakang: Prevalensi nasional Infeksi Saluran Pernafasan Akut (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 25,50%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut di atas prevalensi nasional tertinggi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Secara nasional, kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut tertinggi adalah Kaimana (63,8%), sedangkan kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut terendah adalah Seram Bagian Barat (3,9%) (Riskesdas, 2007). Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu dari kelompok penyakit tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya usia harapan hidup dan semakin tingginya pajanan faktor risiko, seperti faktor pejamu yang diduga berhubungan dengan kejadian PPOK. Semakin banyaknya jumlah perokok khususnya pada kelompok usia muda, serta pencemaran udara di dalam ruangan maupun di luar ruangan dan di tempat kerja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan pola makan dengan fungsi paru pada pasien PPOK di BBKPM Surakarta Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Data status gizi dengan menggunakan antropometri, pola makan dengan menggunakan FFQ dan fungsi paru dengan menggunakan spirometer. Untuk menganalisis hubungan dengan menggunakan uji Rank Spearmans. Hasil: Status gizi normal (51,8%), pola makan baik (68,2%), fungsi paru pasien PPOK sedang (49,4%). Dari hasil uji rank Spearman’s diperoleh hasil ada hubungan antara status gizi dan pola makan dengan fungsi paru pasien PPOK. Saran Penelitian: Disarankan kepada pasien PPOK agar selalu menjaga pola makan yang sehat dan memantau status gizi, karena berdasarkan hasil penelitian ada hubungan antara status gizi dan pola makan dengan fungsi paru, supaya tidak mudah tertular penyakit infeksi maupun penyakit komplikasi. Disarankan untuk dilakukan penelitian yang serupa dengan lokasi, desain sampel yang berbeda dan instrumen yang lebih lengkap untuk perbandingan hasil maupun untuk meningkatkan pemaknaan statistik. Kesimpulan: Status gizi pasien PPOK paling banyak adalah normal (51,8%). Pola makan pasien PPOK paling banyak adalah baik (68,2%). Fungsi paru pasien PPOK paling banyak adalah sedang (49,4%)
    corecore