82,517 research outputs found
Isolasi dan karakterisasi natrium alginat dari Rumput laut sargassum sp untuk pembuatan bakso ikan tenggiri (scomberomus commerson)
Rumput laut coklat Sargassum sp tersebar luas di perairan Indonesia.
Sargassum sp dapat diekstrak menghasilkan senyawa natrium alginat yang dapat
diaplikasikan pada pembuatan bakso ikan tenggiri untuk menjaga stabilitas emulsi
dan memperbaiki sifat rheologinya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu variasi penambahan natrium alginat
yaitu : F1 (0% alginat), F2 (0,25% alginat), F3 (0,5% alginat), F4 (0,75% alginat),
dan F5 (0,5% STPP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik natrium alginat rumput
laut Sargassum sp hasil ekstraksi adalah : kadar air (5,94% (wb)); kadar abu
(19,62% (wb) dan 20,86% (db)); pH larutan natrium alginat 0,1% (9,07); pH
larutan natrium alginat 0,2% (9,07); pH larutan natrium alginat 0,3% (9,06); daya
serap air (214,44%); dan rendemen (31,62%). Penambahan natrium alginat pada
pembuatan bakso ikan tenggiri meningkatkan kekerasan dan kekenyalan bakso
yang dihasilkan. Tingkat kekerasan bakso ikan tenggiri tertinggi adalah bakso
formula F4 (0,75% alginat) dan tingkat kekenyalan tertinggi bakso ikan tenggiri
dengan penambahan natrium alginat adalah bakso formula F4 (0,75% alginat).
Hasil uji organoleptis menunjukkan bahwa penambahan natrium alginat
cenderung meningkatkan tingkat kesukaan panelis terhadap warna, aroma, rasa, kekenyalan, dan kekerasan bakso ikan tenggiri yang dihasilkan. Bakso ikan
tenggiri formula F4 (0,75% alginat) merupakan formula bakso yang paling
disukai panelis. Karakteristik kimia bakso ikan tenggiri formula F4 (0,75%
alginat) meliputi : kadar air (74,61%), kadar abu (1,66%), kadar protein
(14,53%), kadar lemak (0,93%), dan kadar karbohidrat (8,26%)
PRARANCANGAN PABRIK NATRIUM NITRAT DARI NATRIUM KLORIDA DAN ASAM NITRAT KAPASITAS 55.000 TON/TAHUN
NTISARI Habib Anggara dan Naf’an, 2015, Prarancangan Pabrik Natrium Nitrat dari Natrium Klorida dan Asam Nitrat Kapasitas 55.000 Ton/tahun, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta Natrium nitrat banyak digunakan pada berbagai industri seperti industri pupuk, korek api, reagen kimia, dan farmasi. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan adanya peluang ekspor yang masih terbuka, maka dirancang pabrik natrium nitrat dengan kapasitas 55.000 ton/tahun, hasil samping berupa chlorine (Cl2) 14.017,458 ton/tahun dan nitrocyl chloride (NOCl) 15.170,063 ton/tahun. Hasil pengupan dari evaporator dan rotary dryer berupa asam nitrat (HNO3) 5.171,757 ton/tahun dan air (H2O) 29.474,521 ton/tahun dengan bahan baku asam nitrat 63.887,196 ton/tahun, natrium klorida 39.502,873 ton/tahun dan air pelarut 15.443,730 ton/tahun. Dengan memperhatikan aspek penyediaan bahan baku maka pendirian pabrik natrium nitrat di Kawasan Industri Cilegon, Jawa Barat. Bahan baku asam nitrat diperoleh dari PT Multi Nitrotama Kimia, Cikampek, sedangkan natrium klorida diperoleh dari PT Cheetham Garam Indonesia, Cilegon. Pendirian pabrik natrium nitrat direncanakan akan berdiri pada tahun 2017 dan pengoperaian pabrik pada tahun 2020. Reaksi pembuatan natrium nitrat (NaNO3) dilakukan dengan mereaksikan larutan asam nitrat ( HNO3) dengan larutan natrium klorida (NaCl) dalam Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) yang dilengkapi dengan jaket pemanas pada tekanan 1,013 bar dan 60 0C. Pada perancangan ini digunakan rasio mol reaktan antara asam nitrat (HNO3) dengan natrium klorida (NaCl) yang digunakan adalah 1,5 : 1, sehingga akan diperoleh konversi sebesar 95% terhadap natrium klorida (NaCl) (U.S.Patent 221,5450,1940). Produk gas yang keluar dari reaktor masuk ke menara distilasi untuk dipisahkan antara chlorine (Cl2) dengan nitrosyl chloride (NOCl), sedangkan produk cair berupa sisa asam nitrat ( HNO3) dan natrium klorida (NaCl), produk berupa natrium nitrat (NaNO3) dan air (H2O) yang terbentuk di reaktor dialirkan ke evaporator untuk penguapan air dan sebagian asam nitrat. Larutan dari evaporator dikristalkan dalam crystallizer. Dari crystallizer, produk diumpankan ke centrifuge untuk memisahkan kristal dengan mother liquor-nya, dan selanjutnya kristal dikeringkan di dalam rotary dryer. Unit pendukung proses didirikan untuk menunjang proses produksi yang terdiri dari unit penyediaan air 3.239,5882 kg/jam, steam 8.353,9849 kg/jam, tenaga listrik disuplai dari PLN 500 KW dan listrik cadangan dari generator 400 KW, penyediaan bahan bakar menggunakan natural gas untuk bahan bakar boiler 402,7303 L/jam dan diesel oil untuk generator 0,08 L/jam, serta unit pengolahan limbah. Agar mutu bahan baku dan kualitas produk tetap terkendali, maka keberadaan laboratorium sangat diperlukan. Dalam pabrik Natrium Nitrat ini terdapat tiga buah laboratorium, yaitu laboratorium fisik, laboratorium analitik, dan laboratorium penelitian dan pengembangan. Bentuk perusahaan adalah PT (Perseroan Terbatas) dengan struktur organisasi line and staff. Sistem kerja karyawan berdasarkan pembagian jam kerja yang terdiri dari karyawan shift dan non shift. Hasil analisa ekonomi terhadap prarancangan pabrik natrium nitrat diperoleh bahwa Total Cost Investment (TCI) US 1.832.993. Dari analisa kelayakan diperoleh Return of Investment (ROI) sebelum pajak 50,50% dan setelah pajak 35,35%. Pay Out Time (POT) sebelum pajak 1,71 tahun dan setelah pajak 2,31 tahun, Break Event Point (BEP) 43,29%, Shut Down Point (SDP) 31,94% dan Discounted Cash Flow (DCF) 24,70%. Dari analisis ekonomi yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa pendirian pabrik natrium nitrat dengan kapasitas 55.000 ton/tahun layak dipertimbangkan untuk direalisasikan pembangunannya
Analisis Bahan Kimia Obat Dalam Jamu Pegal Linu Yang Di Jual Di Surakarta Menggunakan Metode Spektrofotometri UV
Bahan kimia obat yang sering ditambahkan dalam jamu pegal linu adalah natrium diklofenak dan fenilbutazon. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan kandungan kadar natrium diklofenak dan fenilbutazon dalam jamu pegal linu. Jamu pegel linu yang digunakan pada penelitian ini yaitu 10 macam merek jamu pegel linu yang di jual di sekitar Surakarta. Dengan kriteria jamu pegal linu paling diminati masyarakat. Kromatografi lapis tipis digunakan untuk analisis kualitatif natrium diklofenak dan fenilbutazon. Fase diam yang digunakan gel GF254 dan fase gerak menggunakan 3 sistem yang berbeda. Analisis kuantitatif menggunakan metode Spektrofotometri UV, untuk natrium diklofenak dengan λ maksimal 276 nm dan fenilbutazon dengan λ maksimal 264. Hasil penelitian menunjukkan adanya jamu yang mengandung natrium diklofenak dan fenilbutazon. Kadar natrium diklofenak pada jamu G 41,37 mg/tab dan jamu J 35,65 mg/tab. Presisi metode Spektrofotometri UV untuk penetapan kadar natrium diklofenak memenuhi syarat yaitu RSD 1,35% dan 1%. Kadar fenilbutazon pada jamu B 129,79 mg/tab dan jamu C sebesar 34,35 mg/tab. Presisi metode Spektrofotomeri UV untuk penetapan kadar fenilbutazon
memenuhi syarat yaitu RSD 1,34% dan 1,86%
Perbandingan Metode Spektrofotometri Ultraviolet (Uv) Dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (Kckt) Pada Penetapan Kadar Natrium Diklofenak
Beberapa metode analisis telah dikembangkan untuk menentukan kadar natrium diklofenak, diantaranya dengan metode spektrofotometri UV dan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi). Metode spektrofotometri UV dan KCKT masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar natrium diklofenak secara spektrofotometri UV dan KCKT dalam hal ketepatan, ketelitian dan sensitivitas. Penetapan kadar natrium diklofenak dianalisis dengan metode spektrofotometri UV dengan melakukan penentuan panjang gelombang maksimal, penentuan operating time, pembuatan kurva baku, pengukuran serapan sampel, perhitungan kadar natrium diklofenak dalam sampel. Sedangkan metode KCKT dengan melakukan optimasi instrumen dan optimasi fase gerak, identifikasi natrium diklofenak dalam sampel, pembuatan kurva baku, pengamatan kromatogram sampel, perhitungan kadar natrium diklofenak dalam sampel. Pelarut yang digunakan adalah aquabidestilata dan fase gerak yang digunakan adalah campuran asetonitril dan buffer fosfat 0,01 M pH 3,5. Sedangkan fase diam yang digunakan adalah Oktadesil Silikat (ODS) C18 (4,6x150mm). Data kadar yang diperoleh dari masing-masing metode dibandingkan ketepatan, ketelitian dan sensitivitas dari dua metode tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar rata-rata natrium diklofenak secara Spektrofotometri UV adalah 17,9 µg/ml. Sedangkan secara KCKT adalah 17,3 µg/ml. Kadar rata-rata natrium diklofenak dalam sampel secara spektrofotometri UV dan KCKT memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia yaitu memiliki nilai rekoveri yang masih dalam range 90,0 % -110 % dan memiliki nilai CV < 5%. Akan tetapi metode KCKT memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan metode Spektrofotometri UV
Hubungan Asupan Zat Gizi dengan Bone Mass Density (BMD) pada Pasien Osteoporosis di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
Latar Belakang : Osteoporosis merupakan suatu penyakit sistemik tulang yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan rentan patah walaupun terkena trauma minimal. Beberapa zat gizi yang berkaitan dengan kepadatan tulang adalah kalsium, vitamin D, dan isoflavon, sedangkan protein hewani, serat dan natrium dapat menghambat penyerapan kalsium yang mengakibatkan penurunan kepadatan tulang .
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi kalsium, vitamin D, isoflavon, protein hewani, serat, dan natrium dengan Bone Mass Density (BMD) pada pasien osteoporosis.
Metode : Desain penelitian ini adalah Cross Sectional dengan jumlah sampel 55 pasien yang telah didiagnosis osteoporosis di RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung, selama bulan Oktober-November 2007. Data asupan kalsium, vitamin D, isoflavon, protein hewani, serat, dan natrium diperoleh dengan wawancara langsung menggunakan formulir FFQ (Food Frequency Questionaire) semi kuantitatif. Nilai Bone Mass Density (BMD) merupakan besar perubahan ukuran kepadatan tulang yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan menggunakan Quantitative Ultrasound (QUS) pada saat penelitian dan hasil pengukuran BMD tiga bulan yang lalu dari rekam medik. Analisis yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment.
Hasil :Rerata asupan kalsium adalah 509,5 mg/hari ± 319,44, asupan vitamin D 10,2 μg/hari ±5,46, asupan isoflavon 24,8 mg/hari ±16,90, protein hewani 17,5 gr/hari ±8,50, asupan serat 10,8 gr/hr ±3,17, dan asupan natrium 3 kali/hari ±1,67. Hasil uji korelasi antara beberapa asupan zat gizi dengan BMD yaitu asupan kalsium (r=0,833; p<0,001), asupan vitamin D (r=0,444; p=0,001), asupan isoflavon (r=0,545; p<0,001), asupan protein hewani (=-0,419; p=0,001), asupan serat (r=-0,063; p=0,650), dan asupan natrium (r=-0,779; p<0,001).
Kesimpulan : Asupan kalsium, vitamin D, dan isoflavon berkorelasi positif dengan BMD, sedangkan asupan protein hewani dan natrium berkorelasi negatif dengan BMD. Tidak ada hubungan asupan serat dengan BMD
ASUPAN NATRIUM DAN TEKANAN DARAH SEBAGAI FAKTOR RISIKO PENINGKATAN KADAR C-REACTIVE PROTEIN (CRP) PADA REMAJA OBESITAS DENGAN SINDROM METABOLIK
Latar belakang: Sindrom metabolik tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga ditemukan pada remaja. Prevalensi sindrom metabolik pada remaja terus meningkat seiring dengan keparahan obesitas yang terjadi. Sindrom metabolik ditandai dengan peningkatan kadar CRP darah. Asupan natrium dan tekanan darah merupakan faktor risiko sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko asupan natrium dan tekanan darah terhadap peningkatan kadar CRP pada remaja.
Metode: Penelitian dilakukan di SMA Negeri 2 Semarang. Desain penelitian cross sectional dengan jumlah subyek 38 siswa yang memenuhi kriteria inklusi. Data asupan natrium didapatkan dari wawancara menggunakan Food Frequency Questionnaire satu bulan terakhir. Tekanan darah diperiksa dengan Sphygmomanometer. Kadar CRP diperiksa dengan teknik aglutinasi. Pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise, berat badan menggunakan timbangan digital, dan lingkar pinggang menggunakan pita ukur. Data dianalisis dengan uji statistik rasio prevalensi untuk mengetahui besar risiko asupan natrium tinggi dan tekanan darah tinggi terhadap peningkatan kadar CRP.
Hasil: Prevalensi sindrom metabolik pada remaja obesitas sebesar 15,2 %. Penelitian ini menemukan 8 (80 %) subyek dengan sindrom metabolik memiliki tekanan darah tinggi dan 10 (100 %) subyek dengan sindrom metabolik memiliki asupan natrium tinggi. Didapatkan besar risiko yang tidak bermakna antara asupan natrium tinggi (RP=1,031, CI 95 %=0,165-6,646) dan tekanan darah sistolik tinggi (RP=0,369, CI 95 %=0,028-2,471) terhadap peningkatan kadar CRP.
Simpulan: Pada penelitian ini asupan natrium tinggi dan tekanan darah sistolik tinggi tidak terbukti dapat meningkatkan kadar CRP. Asupan natrium tinggi memberikan risiko 1,048 kali terhadap peningkatan kadar CRP
- …
