9,074 research outputs found

    PERUBAHAN KUAT DESAK DAN MODULUS ELASTISITAS BETON MENGGUNAKAN AGREGAT KASAR PECAHAN GENTENG BERSERAT ALUMINIUM PASCA BAKAR DENGAN VARIASI WAKTU RENDAMAN AIR

    Get PDF
    Tatas Yukrisdam, 2014, Perubahan Kuat Desak dan Modulus Elastisitas Beton Menggunakan Agregat Kasar Pecahan Genteng Berserat Aluminum Pasca Bakar dengan Variasi Waktu Rendaman Air. Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dalam perancangan sebuah bangunan syarat utama yang harus dipenuhi adalah keamanan dan kenyamanan strukturnya. Salah satu parameter dari kekuatan struktur adalah kuat desak dan modulus elastisitas elemen struktur tersebut. Kebakaran menyebabkan kerusakan struktural akibat rusaknya material penyusunnya. Diperlukan penelitian terhadap kuat desak dan modulus elastisitas beton pra dan pasca bakar, serta waktu minimal yang dibutuhkan untuk memperbaiki struktur beton pasca bakar sehingga bangunan tersebut dapat digunakan kembali Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan pengujian di laboratorium yaitu mencari nilai kuat desak dan modulus elastisitas beton pra dan pasca bakar pada suhu ruang 500 0 C, serta mendapakan data waktu minimal dengan pemulihan kekuatan yang maksimal beton pasca bakar. Agregat yang digunakan adalah pecahan genteng. Serat yang digunakan adalah serat aluminium. Pembakaran benda uji hingga mencapai suhu ruang 500 0 C. Perawatan ulang dilakukan dengan rendaman air selama 28, 42, 56 hari untuk mendapatkan waktu minimal untuk pemulihan yang maksimal. Hasil pengujian kuat desak dan modulus elastisitas, beton berserat aluminium memiliki kuat desak dan modulus elastisitas yang lebih baik dari pada tanpa serat aluminium. Pembakaran sampel mengakibatkan penurunan kuat desak dan modulus elastisitas baik beton tanpa serat aluminium dan berserat aluminium karena terjadinya penguapan air beton dan terurainya senyawa CSH. Dengan dilakukan perendaman air dapat meningkatkan kuat desak dan modulus elastisitas beton baik tanpa serat maupun berserat aluminium, karena terisinya kembali air cristal pada CSH, rongga-rongga kosong akibat pengupan air saat pembakaran dan terbentuknya kriltal-kristal CSH baru yang berasal dari reaksi air perendaman dengan semen yang belum terhidrasi pada beton tersebut. Kata kunci : beton pasca bakar, kuat desak, modulus elastisitas

    Studi Modulus Elastisitas (Modulus Young) untuk Karakterisasi Berbagai Jenis Batubara Berdasarkan Analisis Kecepatan Gelombang

    Full text link
    Lazimnya, kualitas batubara ditentukan melalui besarnya nilai total moisture dan calorific value (CV). Dalam makalah berbasis penelitian ini, telah dilakukan penentuan kualitas batubara berdasarkan parameter modulus elastisitas yang dihitung dari kaitannya dengan kecepatan gelombang. Sementara, kecepatan gelombangnya baik jenis P (presssure) maupun S (shear) diukur dengan menggunakan time delay analyzer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keelastisan, yang dicirii oleh modulus elastisitas, menentukan kualitas batubara. Batubara yang mempunyai kualitas baik (7000 kcal), nilai modulus elastisitasnya besar yaitu 8167,71 - 8593,86 MPa, sedangkan batubara yang mempunyai calorific value 5900 kcal mempunyai modulus elastisitas 6136.91- 6545.,55 MPa

    Signifikansi Nilai Modulus Elastisitas Kayu Glulgu, Kruing, Kamper yang ada di Pasaran dengan SNI 2002

    Get PDF
    Kayu merupakan material konstruksi yang sudah lama dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Faktor-faktor seperti mudah dalam pengerjaannya, ringan, harganya relatif murah dan aman bagi lingkungan (environmental compability) telah membuat kayu menjadi material konstruksi yang terkenal di bidang konstruksi ringan (light construction). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai kadar air, nilai berat benda uji, nilai kuat lentur, kuat tarik, kuat tekan, kuat geser dan mengetahui seberapa besar signifikansi nilai modulus elastisitas kayu dipasaran antara hasil pengujian benda uji secara langsung dengan secara teoritis (SNI 2002). Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap yaitu ; tahap persiapan dan penyediaan bahan, tahap pembuatan dan pengukuran benda uji, tahap pelaksanaan pengujian, dan tahap analisa hasil pengujian dengan rumus SNI 2002 kemudian ditarik kesimpulan. Kayu yang digunakan sebagai benda uji adalah kayu glugu, kruing, dan kamper yang diperoleh dari daerah Surakarta. Dari hasil penelitian didapatkan nilai kadar air kayu glugu 18.19 %, kayu kruing 7.98 %, kayu kamper 18.26 %. Kerapatan kayu glugu 250.56 kg/m3, kayu kruing 684.81 kg/m3, kayu kamper 674.10 kg/m3. Kuat tekan kayu glugu secara teoritis sebesar < 24 N/mm2 dan uji langsung sebesar 29.29 N/mm2, kuat tekan kayu kruing secara teoritis sebesar < 24 N/mm2 dan uji langsung sebesar 56.68 N/mm2, kuat tekan kayu kamper secara teoritis sebesar < 24 N/mm2 dan uji langsung sebesar 72.93 N/mm2. Kuat tarik kayu glugu secara teoritis sebesar < 17 N/mm2 dan uji langsung sebesar 30,40 N/mm2, kuat tarik kayu kruing secara teoritis sebesar < 17 N/mm2 dan uji langsung sebesar 63,33 N/mm2, kuat tarik kayu kamper secara teoritis sebesar < 17 N/mm2 dan uji langsung sebesar 46,27 N/mm2. Kuat lentur kayu glugu secara teoritis sebesar < 18 N/mm2 dan uji langsung sebesar 66.69 N/mm2, kuat lentur kayu kruing secara teoritis sebesar < 18 N/mm2 dan uji langsung sebesar 99,39 N/mm2, kuat lentur kayu kamper secara teoritis sebesar < 18 N/mm2 dan uji langsung sebesar 100,42 N/mm2. Kuat geser kayu glugu secara teoritis sebesar < 4,3 N/mm2 dan uji langsung sebesar 2,44 N/mm2. kuat geser kayu kruing secara teoritis sebesar < 4,3 N/mm2 dan uji langsung sebesar 3,65 N/mm2, kuat geser kayu kamper secara teoritis sebesar < 4,3 N/mm2 dan uji langsung sebesar 3,71 N/mm2. Nilai modulus elastisitas rata–rata kayu glugu secara teoritis sebesar 5120.61 N/mm2 dan nilai modulus elastisitas rata–rata uji langsung sebesar 295.45 N/mm2, nilai modulus elastisitas rata–rata kayu kruing secara teoritis sebesar 6926.88 N/mm2 dan nilai modulus elastisitas rata–rata uji langsung sebesar 616.99 N/mm2, nilai modulus elastisitas rata–rata kayu kamper secara teoritis sebesar 6844.07 N/mm2 dan nilai modulus elastisitas rata–rata uji langsung sebesar 457.54 N/mm2. Signifikansi nilai modulus elastisitas kayu glugu : 94.23 %, signifikansi nilai modulus elastisitas kayu kruing : 91.09 %, signifikansi nilai modulus elastisitas kayu kamper : 95.79 %

    Signifikansi Nilai Modulus Elastisitas Kayu Meranti, Mahoni, Bangkirai yang ada di Pasaran dengan SNI 2002

    Get PDF
    Kayu merupakan material konstruksi yang sudah lama dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Faktor-faktor seperti mudah dalam pengerjaannya, ringan, harganya relatif murah dan aman bagi lingkungan (environmental compability) telah membuat kayu menjadi material konstruksi yang terkenal di bidang konstruksi ringan (light construction). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai kadar air, nilai kerapatan benda uji, nilai kuat lentur, kuat tarik, kuat tekan, kuat geser dan mengetahui seberapa besar signifikansi nilai modulus elastisitas kayu dipasaran antara hasil pengujian benda uji secara langsung dengan secara teoritis (SNI 2002). Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap yaitu ; tahap persiapan dan penyediaan bahan, tahap pembuatan dan pengukuran benda uji, tahap pelaksanaan pengujian, dan tahap analisa hasil pengujian dengan rumus SNI 2002 kemudian ditarik kesimpulan. Kayu yang digunakan sebagai benda uji adalah kayu meranti, mahoni, dan bangkirai yang diperoleh dari daerah Surakarta. Dari hasil penelitian didapatkan nilai kadar air kayu meranti 14,20 %, kayu mahoni 16,21 %, kayu bangkirai 16,81 %. Kerapatan kayu meranti 539,68 kg/m3 , kayu mahoni 648,32 kg/m3 , kayu bangkirai 979,52 kg/m3 . Kuat tekan kayu meranti secara teoritis sebesar 24 N/mm2 dan uji langsung sebesar 51,61 N/mm2 , kuat tekan kayu mahoni secara teoritis sebesar 27 N/mm2 dan uji langsung sebesar 87,99 N/mm2 , kuat tekan kayu bangkirai secara teoritis sebesar 31 N/mm2 dan uji langsung sebesar 135,59 N/mm2 . Kuat tarik kayu meranti secara teoritis sebesar 17 N/mm2 dan uji langsung sebesar 36,71 N/mm2 , kuat tarik kayu mahoni secara teoritis sebesar 22 N/mm2 dan uji langsung sebesar 41 N/mm2 , kuat tarik kayu bangkirai secara teoritis sebesar 31 N/mm2 dan uji langsung sebesar 60,94 N/mm2 . Kuat lentur kayu meranti secara teoritis sebesar 18 N/mm dan uji langsung sebesar 138,05 N/mm2 , kuat lentur kayu mahoni secara teoritis sebesar 23 N/mm2 dan uji langsung sebesar 160,05 N/mm2 , kuat lentur kayu bangkirai secara teoritis sebesar 32 N/mm2 dan uji langsung sebesar 225,32 N/mm2 . Kuat geser kayu meranti secara teoritis sebesar 4,3 N/mm2 dan uji langsung sebesar 5,15 N/mm2 . kuat geser kayu mahoni secara teoritis sebesar 4,6 N/mm2 dan uji langsung sebesar 5,97 N/mm2 , kuat geser kayu bangkirai secara teoritis sebesar 5,1 N/mm2 dan uji langsung sebesar 8,40 N/mm2 . Nilai modulus elastisitas rata–rata kayu meranti secara teoritis sebesar 9280,24 N/mm2 dan nilai modulus elastisitas rata–rata uji langsung sebesar 16000 N/mm2 , nilai modulus elastisitas rata–rata kayu mahoni secara teoritis sebesar 10619,34 N/mm2 dan nilai modulus elastisitas rata–rata uji langsung sebesar 18000 N/mm2 , nilai modulus elastisitas rata–rata kayu bangkirai secara teoritis sebesar 14259,89 N/mm2 dan nilai modulus elastisitas rata–rata uji langsung sebesar 25000 N/mm2 . Signifikansi nilai modulus elastisitas kayu meranti: 72,40 %, signifikansi nilai modulus elastisitas kayu mahoni: 69,50 %, signifikansi nilai modulus elastisitas kayu bangkirai : 75,31 %. Kata kunci : kayu meranti, kayu mahoni, kayu bangkirai, kadar air, kerapatan, kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur, kuat geser, modulus elastisita

    PENGARUH DOSIS DAN ASPEK RASIO SERAT BAJA TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS PADA BETON NORMAL DAN BETON MUTU TINGGI (Effect of Dossage and Aspect Ratio of Steel Fiber on Compressive Strength and Modulus of Elasticity of Normal and High Strength Concrete)

    Get PDF
    ABSTRAK Dwi Nuur Musyaffa’, 2014. Pengaruh Dosis dan Dimensi Serat Baja Terhadap Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas pada Beton Normal dan Beton Mutu Tinggi. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Masalah yang sering muncul dalam hal penggunaan beton adalah sifatnya yang getas. Kuat tekan beton yang semakin besar maka beton mempunyai daktilitas yang rendah.. Penambahan serat diharapkan dapat mengatasi hal tersebut. Serat baja dapat menambah penyerapan energi yang lebih besar dan meningkatkan daktilitas beton. Karakter dari beton serat dipengaruhi oleh tipe material serat, geometri serat, distribusi serat, orientasi serat, dan konsentrasi serat. Penelitian ini mencari besar pengaruh dosis serat yang ditambahkan dan aspek rasio serat baja yang berbeda pada beton normal dan beton mutu tinggi. Penelitian ini untuk mengetahui karakteristik beton yaitu kuat tekan, modulus elastisitas, dan disrtibusi serat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan 54 benda uji, 3 benda uji untuk setiap variasi penambahan serat antara lain 0 kg/m3, 20 kg/m3, 40 kg/m3, 60 kg/m3, dan 80 kg/m3. Serat yang digunakan adalah tipe serat end hooked dengan 2 aspek rasio(l/d) yang berbeda yaitu RC 80/60 BN (tipe A) dan RC 65/35 BN (tipe B). Masing- masing benda uji digunakan untuk pengujian kuat tekan dan modulus elastisitas. Ukuran benda uji yang digunakan adalah silinder dengan ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Pengujian dilakukan setelah beton berumur 28 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan dosis serat baja sebesar 60 kg/m3 menghasilkan kuat tekan dan nilai modulus elastisitas maksimum kecuali pada beton mutu tinggi aspek rasio 80. Besar kenaikan kuat tekan maksimum pada beton normal sebesar 10,54% (tipe A) dan 10,81% (tipe B) dan beton mutu tinggi sebesar 12,41% (tipe A penambahan 80 kg/m3) dan 12,41%. Peningkatan maksimum nilai modulus elastisitas pada beton normal adalah 25,10% pada tipe B sedangkan pada beton mutu tinggi sebesar 10,98% pada tipe A. Jumlah serat pada saat pemeriksaan distribusi pada beton segar dan beton setelah diuji terhadap jumlah serat teoritis terdapat perbedaan. Dosis serat lebih berpengaruh terhadap kenaikan kuat tekan dan modulus elastisitas daripada jumlah seratnya. Kata kunci : beton normal, beton mutu tinggi, kuat tekan, modulus elastisitas, serat baja, aspect ratio, dosi

    KAJIAN KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON RINGAN PASCA BAKAR

    Get PDF
    Mohammad Sidik, 2010, Kajian Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas Beton Ringan Pasca Bakar. Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Panas / suhu sebagai beban (load) pada struktur perlu dikaji mengingat daya rusaknya terhadap regangan, modulus elastisitas, dan tegangan pada bahan struktur yang bersangkutan. Kinerja beton ringan sebagai elemen struktur harus diuji secara menyeluruh termasuk aspek kinerjanya pasca kebakaran, mengingat kebakaran merupakan kejadian yang setiap saat terjadi. Adapun aspek yang akan ditinjau adalah kuat tekan dan modulus elastisitasnya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan pengujian di laboratorium yaitu dengan mencari nilai kuat tekan dan modulus elastisitas beton pra dan pasca bakar pada suhu 300 oC, 400 oC, 500 oC, pembakaran beton dilakukan setelah beton berumur 28 hari. Benda uji berupa silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm sebanyak 3 buah. Pengujian dilakukan pada umur 28 hari untuk beton tanpa bakar sedangkan untuk beton pasca bakar diuji setelah pembakaran dan setelah curing ulang pada umur 56 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan beban suhu yang bervariasi yaitu 300 oC, 400 oC dan 500 oC berpengaruh terhadap nilai kuat tekan beton ringan yaitu terjadi penurunan kekuatan sebesar sebesar 14.53% pada suhu 300 oC, sedangkan pada suhu 400 oC terjadi penurunan kuat tekan sebesar 18.32% dan 42.26% pada suhu 500 oC. Setelah dilakukan curing ulang pada beton ringan suhu 500 oC maka terjadi kenaikan kuat tekan beton ringan sebesar 56.14%. Sama halnya pada nilai kuat tekan yang dihasilkan, terjadi penurunan modulus elastisitas pada beton ringan sebesar 18.19% pada suhu 300 oC, sedangkan pada suhu 400 oC terjadi penurunan modulus elastisitas sebesar 32.81% dan 54.13% pada suhu 500 oC. Setelah dilakukan curing ulang pada beton ringan suhu 500 oC maka terjadi kenaikan modulus elastisitas beton ringan dari 11031 MPa menjadi 18559 Mpa yaitu sebesar 68.24% Kata kunci : Kebakaran, suhu, beton ringan, kuat desak dan modulus elastisitas

    EFEK PENAMBAHAN SERAT POLYPROPYLENE TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS SELF COMPACTING MORTAR (SCM)

    Get PDF
    Pada dinding pracetak penggunaan fiber reinforced sebagai lapis kulit dinding sandwich dengan metode self-compacting mortar (SCM) akan sangat tepat digunakan karena akan lebih mudah dan cepat dalam proses produksi panel dinding pracetak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan dan modulus elastisitas pada self-compacting mortar (SCM) dengan penambahan serat polypropylene. Penambahan serat polypropylene dalam adukan self-compacting mortar (SCM) diberikan dalam 4 (empat) variasi, yaitu: 0 kg/m3; 0,5 kg/m3; 1 kg/m3; 1,5 kg/m3 serat polypropylene. Adukan mortar ditetapkan dengan perbandingan volume: 1 semen dan 5 pasir, f.a.s 0,9 dan sikamen NN 1,2 dari berat semen. Pengujian yang dilakukan pada kuat tekan dan modulus elastisitas dilakukan setelah mortar berumur 28 hari. Data untuk setiap variasi campuran serat diperoleh dari 3 (tiga) benda uji silinder berukuran 15 x 30 cm. Dari hasil penelitian didapatkan kuat tekan silinder mortar dengan penambahan serat polypropylene 0 kg/m3; 0,5 kg/m3; 1 kg/m3;dan 1,5 kg/m3 Berturut turut adalah 12,44 MPa; 10,40 MPa; 12,23 MPa; 9,48 MPa. Dan besarnya nilai modulus elastisitas dengan campuran 0 kg/m3; 0,5 kg/m3; 1 kg/m3; 1,5 kg/m3serat polypropylene. Berturut turut sebesar 9959,53MPa; 8650,95MPa; 10080,19 MPa; dan 8074,94 MPa

    Kajian Pengaruh Serat Ijuk Terhadap Kuat Tarik Belah Beton K-175

    Full text link
    Salah satu sifat penting dari beton adalah daktilitas. Daktilitas beton yang rendah dicerminkan olehkurva tegangan regangannya yang memiliki penurunan kekuatan tekan yang cepat pada daerah beban pasca puncak, sehingga menyebabkan secara relatif keruntuhan terjadi tiba-tiba. Penambahan serat ijuk yang mempunyai modulus elastisitas yang lebih rendah dari modulus elastisitas matrik beton diharapkan dapat membuat beton lebih daktail. Dengan sifat daktail tersebut, serat yang dicampurkan kedalam beton diharapkan dapat digunakan untuk memperbaiki karakteristik beto
    corecore