21,336 research outputs found

    KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN LUMUT (BRYOPHYTA) PADA BERBAGAI KETINGGIAN HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI LINGKUNGAN DI WILAYAH LERENG SELATAN MERAPI PASCA ERUPSI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan lumut, indeks keanekaragaman tumbuhan lumut, keanekaragaman jenis tumbuhan lumut, serta hubungan kondisi lingkungan yang meliputi faktor klimatik (intensitas cahaya, suhu udara, kelembaban udara) dan faktor edafik (suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah) dengan keanekaragaman jenis tumbuhan lumut diwilayah lereng selatan Merapi pasca erupsi. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode observasi dan hasilnya dianalisis secara deskriptif. Populasi penelitian adalah semua jenis lumut terrestrial pada berbagai ketinggian di wilayah lereng selatan Merapi pasca erupsi. Sampel penelitian ini adalah semua tumbuhan lumut terrestrial yang teramati di 30 plot pengamatan pada berbagai ketinggian sepanjang wilayah penelitian. Penelitian dilakukan dengan menentukan lokasi pengamatan dan menentukan batasan-batasan pada masing-masing ketinggian (1000 m dpl, 1200 m dpl dan 1400 m dpl). Mengambil sampel secara purposive sampling dengan membuat ukuran plot 1 x 1 m 2 dan melakukan pengukuran faktor lingkungan yaitu klimatik yang meliputi : Suhu udara, kelembaban udara, dan intensitas cahaya, dan untuk faktor edafik meliputi : Suhu tanah, kelembaban tanah, dan pH tanah. Kemudian melakukan identifikasi jenis tumbuhan lumut lalu menghitung luas penutupan setiap jenis pada tiap plot sekaligus perhitungan luas penutupan seluruh jenis pada masing-masing plot. Mencatat jenis tumbuhan pelindung pada plot yang diamati. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menentukan indeks keanekaragaman tumbuhan untuk menentukan keanekaragaman tumbuhan lumut di wilayah lereng selatan Merapi pasca erupsi. Hasil penelitian diperoleh bahwa ditemukan 11 jenis tumbuhan lumut terrestrial di lereng selatan Merapi pasca erupsi. Indeks keanekaragaman tumbuhan lumut pada ketinggian 1000 m dpl, 1200 m dpl, dan 1400 m dpl sebesar 0,810, 0,675 dan 0,471. Keanekaragaman tumbuhan lumut adalah rendah. Faktor klimatik pada berbagai ketinggian di wilayah lereng selatan Merapi pasca erupsi berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis tumuhan lumut. Karena semakin tinggi tempat, intensitas cahaya semakin tinggi, suhu semakin tinggi, kelembaban semakin rendah. Maka keanekaragaman jenis tumbuhan lumut juga semakin rendah. Kata Kunci : Keanekaragaman jenis, Tumbuhan lumut (Bryophyta), Ketinggian

    Analisis Tingkat Resiko Erupsi Gunung Merapi terhadap Permukiman di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten

    Full text link
    Erupsi gunung merapi pada tahun 2010 telah menimbulkan dampak yang serius pada lahn permukiman di kota-kota di sekitar gunung merapi, salah satunya adalah kota Klaten. Kerugian yang ditimbulkan antara lain lahan permukiman, lahan pertanian, sumber air, dan juga kerugian ekonomi. Dengan kondisi tersebut diperlukan adanya kebijakan dari pemerintah mengenai rehabilitasi dan relokasi permukiman penduduk di kabupaten Klaten yang terkena erupsi gunung Merapi dengan mempertimbangkan rencana tata ruang sebagai dasar penetapan lokasi yang aman untuk permukiman. Melihat kerugian yang ditimbulkan erupsi Gunung Merapi tidaklah kecil, maka perlu adanya upaya penanggulangan bencana erupsi Gunung Merapi untuk mengurangi kerugian tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi jumlah korban jiwa pada saat terjadi bencana adalah dengan perencanaan mitigasi yang efektif. Dengan adanya perencanaan mitigasi yang baik, setidaknya penduduk yang menjadi korban erupsi akan terbantu dalam menemukan tempat tinggal yang aman dari erupsi Merapi. Penanggulangan erupsi Merapi juga dapat dilakukan dengan merencanakan mitigasi bencana dengan membuat jalur evakuasi penduduk korban bencana merapi tersebut. Jalur evakuasi yang direncanakan dapat membantu penduduk korban erupsi merapi yang berada di sekitar lereng gunung Merapi untuk menuju tempat yang aman. Dengan menggunakan jalur evakuasi tersebut diharapkan semua penduduk yang berada pada daerah rawan bahaya erupsi merapi dapat dievakuasi ke tempat yang aman

    Dasar-Dasar Program Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Rusun Di Klaten Sebagai Tempat Relokasi Warga Dari Kawasan Rawan Bencana Merapi

    Get PDF
    Gunung Merapi yang terletak diantara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah gunung yang termasuk gunung berapi teraktif di dunia dengan aktifitas vulkanologi nya yang terus terjadi hampir setiap tahun. Oleh karena itu Gunung Merapi sangat berbahaya terutama bagi warga yang tinggal di daerah lereng Merapi. Sudah banyak korban jiwa dan harta benda yang disebabkan oleh letusan Gunung Merapi. Kawasan rawan bencana Gunung Merapi pada satu daerah dengan daerah yang lain berbeda beda tergantung dari kondisi geologis dan jarak dengan puncak Merapi dari daerah itu, untuk daerah Kabupaten Klaten yang di tetapkan sebagai Kawasan Rawan Bencana Merapi (KRB Merapi) adalah daerah yang jarak nya 10 km dari puncak Merapi. Relokasi warga korban bencana Merapi sangat dibutuhkan karena keselamatan warga yang tinggal di lereng Merapi sangat terancam, adanya relokasi selain untuk menjamin keamanan dan keselamatan warga, relokasi juga akan menambah produktifitas para warga yang akan direlokasi. Relokasi disini ditujukan hanya untuk warga di Kabupaten Klaten yang terkena dampak letusan Merapi secara langsung khususnya adalah warga Desa Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten, karena warga dari desa tersebutlah yang paling parah terkena dampak letusan Merapi secara langsung. Jumlah warga yang akan di relokasi adalah sebanyak 1.783 jiwa dari 4 Dusun yang ada di Desa Balerante. Rusun yang berarti bangunan yang dibangun untuk menampung sekumpulan manusia yang terorganisir kedalam suatu wadah dengan pertimbangan kehidupan manusia hidup secara layak secara horizontal dan vertical dengan system pengelolaan yang menganut konsep bersama. Diperlukan nya Rusun sebagai tempat relokasi warga sangatlah tepat karena karakteristik maupun budaya kebersamaan yang dianut oleh warga yang tinggal dikawasan rawan bencana Merapi tidak akan hilang ini karena Rusun menerapkan konsep kebersamaan didalam nya. Permasalahan dalam mendesain rumah susun untuk korban bencana Merapi adalah, bagaimana mendesain Rumah Susun yang sederhana namun aman dan nyaman bagi warga yang akan di relokasi dari kawasan rawan bencanan Merapi dan bagaimana membangun Rusun yang mampu menunjang dan mewadahi aktifitas perekonomian warga korban Merapi. Tujuan mendesain Rusun sebagai tempat relokasi adalah menyediakan tempat hunian yang aman dan nyaman kepada warga yang berada di kawasan rawan Bencana Merapi, meningkatkan kesejahteraan warga yang akan di relokasi, menyediakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan warga korban bencana Merapi. Adapun sasaran Rusun ini adalah mendapatkan lahan atau site yang aman dan terhindar dari ancaman Merapi, menganalisa dan menentukan program ruang yang sesuai dengan kebutuhan individu maupun kelompok. Mendesain Rusun untuk korban bencana merapi bukanlah hanya sekedar membangun Rusun yang bisa dipakai secara bersama-sama namun harus ada suatu wadah yang bisa dimanfaatkan oleh warga yang direlokasi untuk bisa tetap nyaman tanpa harus kehilangan mata pencaharian warga. Misalnya dengan membangun juga kandang sapi dan kambing untuk para warga yang berprofesi sebagai peternak, kemudian juga membangun toko-toko maupun pasar untuk digunakan warga yang berprofesi sebagai pedagang

    Pemanfaatan Teknologi Komunikasi dan Informasi pada Erupsi Merapi 2010 di Sleman YOGYAKARTA

    Get PDF
    Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 akrab dengan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi. Antara relawan, donatur dan masyarakat saling bekerjasama. Bagaimana pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi pada saat erupsi Merapi pada tahun 2010 di kabupaten Sleman Yogyakarta? Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam tulisan ini. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus Robert K.Yin. Inti pembahasan terbagi menjadi tiga yaitu; (1) Kemudahan penggunaan (perceived ease of use), (2) Persepsi kemanfaatan (perceive of usefulness). (3) Pemakaian aktual (actual USAge). Hasil penelitian ini yaitu Pertama, kemudahan pengguna pada erupsi Merapi tahun 2010 terletak pada teknologi komunikasi seperti handphone dan handy talky. Sedangkan kemudahan pengguna teknologi digital internet sangat bergantung pada dua hal; kemampuan pengguna atau user dan kemampuan akses jaringan internet. Kedua, kemanfaatan TIK dalam kasus erupsi Merapi 2010 bermuara pada manfaat peningkatan kinerja, produktivitas dan efektifitas kerja dalam menangani pra erupsi dan pasca erupsi Merapi. Ketiga, pemakaian aktual TIK pada erupsi Merapi yaitu teknologi media baru yang digunakan secara optimal pada saat recovery Merapi. Melalui website Jalin Merapi, relasi dan interaksi antara relawan, pencarian dana dan warga masyarakat menjadi efektif dan efisien

    Mitigasi Bencana Erupsi Gunungapi Merapi Di Desa Dompol Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten

    Get PDF
    Tujuan penilitian ini adalah mengetahui bentuk-bentuk mitigasi struktural bencana erupsi Gunungapi Merapi di Desa Dompol Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten dan mengetahui bentuk-bentuk mitigasi bencana non-struktural erupsi Gunungapi Merapi di Desa Dompol Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dilakukan dengan menggunakan survey lapangan melalui observasi, wawancara masyarakat, satuan pendidikan. Hasil data yang didapatkan dari kesiapan masyarakat Desa Dompol, pengetahuan dan sikap setiap individu dan rumah tangga mereka sudah memahami tentang resiko bencana erupsi Gunungapi Merapi, yang dilakukan pemerintah di Desa Dompol untuk mengurangi risiko bencana erupsi Gunungapi Merapi yaitu membangun jalan, tempat pengungsian, jembatan, saluran air, dan jalur evakuasi. Pemerintah memberikan sosialisasi dalam bentuk ceramah di setiap pertemuan yang diadakan masyarakat di Desa Dompol. Tindakan yang masyarakat lakukan saat terjadi bencana erupsi Gunungapi Merapi yaitu mengungsi ketempat yang lebih aman serta melakukan do’a bersama. Tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah bertempat di lapangan dan di SD N 1 dan 2 Desa Dompol serta tersedianya kamar mandi, wc umum dan sarana lainya untuk memfasilitasi masyarakat saat berada di pengungsian. Adanya peran satuan pendidikan dalam mitigasi bencana nonstruktural terhadap bencana erupsi Gunungapi Merapi yang diberikan kepada pesertadidik SD N 1 dan 2 Dompol yang menambahkan materi tentang mitigasi bencana dalam proses pembelajaran. Materi pembelajaran tentang mitigasi bencana atau pengurangan risiko bencana terdapat dalam RPP (rencana proses pembelajaran) mengajarkan siswa untuk menyelamatkan diri dan mengadakan pelatihan simulasi saat terjadi bencana erupsi Gunungapi Merapi. Kurangnya informasi yang tidak akurat dan terkesan lambat menyebabkan kurang terkoordinasinya masyarakat dalam melakukan tindakan penyelamatan diri saat terjadinya bencana erupsi Gunungapi Merapi di Desa Dompol Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten

    Peran Radio Induk Balerante dalam Komunikasi Bencana (Studi Deskriptif Kualitatif Peran Radio Induk Balerante dalam Situasi Siaga Bencana Merapi)

    Get PDF
    Radio Induk Balerante merupakan sebuah radio komunitas yang dibentuk oleh masyarakat setempat untuk memantau aktivitas pada gunung Merapi. Radio yang berada di desa Balerante ini, cukup aktif menyebarkan informasi kepada masyarakat dan memberikan bantuan komunikasi dalam penanganan keadaan bencana atau darurut gunung Merapi. Gunung Merapi merupakan gunung aktif di Indonesia yang selalu menujukkan aktivitas yang tidak terduga, sehingga masyarakat harus siaga mengantisipasi apabila bencana Merapi datang. Bencana yang datang secara tiba-tiba pada gunung merapi tersebut melahirkan sebuah pemberitaan yang harus segera disampaikan oleh masyarakat oleh Radio Induk Balerante Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagimana peran Radio Induk Balerante dalam situasi siaga bencana Merapi dalam erupsi di tahun 2010 . Adapun penelitian ni menggunakan analisis studi deskriptif kualitatif yang mana teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan studi dokumen Secara umum, temuan dari penelitian adalah Radio Induk Balerante memiliki perannya dalam penanggulangan bencana Merapi melalui komunikasi integratif bencana yang mengacu pada aspek pemberdayaan masyarakat dan kerja sama dengan pihak-pihak lain dilihat dari elemen-elemen komunikasi yang ada

    Impact of culture towards disaster risk reduction

    Get PDF
    Number of natural disasters has risen sharply worldwide making the risk of disasters a global concern. These disasters have created significant losses and damages to humans, economy and society. Despite the losses and damages created by disasters, some individuals and communities do not attached much significance to natural disasters. Risk perception towards a disaster not only depends on the danger it could create but also the behaviour of the communities and individuals that is governed by their culture. Within this context, this study examines the relationship between culture and disaster risk reduction (DRR). A comprehensive literature review is used for the study to evaluate culture, its components and to analyse a series of case studies related to disaster risk. It was evident from the study that in some situations, culture has become a factor for the survival of the communities from disasters where as in some situations culture has acted as a barrier for effective DRR activities. The study suggests community based DRR activities as a mechanism to integrate with culture to effectively manage disaster risk

    Kombinasi Serat Batang Aren dan Pasir Merapi pada Hidroponik Substrat Kailan

    Get PDF
    Kailan merupakan komoditas hortikultura yang diminati masyarakat namun produktivitasnya menurun seiring penurunan luas lahan pertanian. Perlu dilakukan suatu usaha untuk meningkatkan kembali produksi kailan dengan penerapan teknik hidroponik substrat. Penelitian ini menggunakan pasir merapi dan serat batang aren sebagai media hidroponik substrat. Pasir merapi memiliki sifat ringan dan sangat porus serta ukuran butiran relatif kasar. Serat batang aren merupakan limbah dari pengolahan tepung aren yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah perlakuan campuran pasir merapi dan serat batang aren mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kailan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yang terdiri dari 13 perlakuan dan 1 kontrol. Hasil penelitian menunjukkan campuran serat batang aren dan pasir merapi memberi hasil berbeda terhadap semua variabel. Campuran serat batang aren pendek 25% dan pasir merapi 75% (1:3) memberi hasil rerata cenderung lebih besar untuk berat segar akar dan berat segar tanaman. Campuran pasir merapi 100% memberikan hasil rerata cenderung lebih besar pada variabel tinggi tanaman dan jumlah daun. Kata kunci : kailan, hidroponik substrat, serat batang aren, pasir merapi
    corecore