139,196 research outputs found
"Social Progress After the Age of Progressivism: The End of Trade Unionism in the West"
This essay is about trade unions, an institution that arose to play an important part in relation to the social progress characterizing much of the present century and that served as an important reference point for several varieties of normative progressivism. The past two decades of social progress in the most prosperous established nations appear to be rendering the institution obsolete. The objective of the paper is to reject all progressivist interpretations of this trend -- neither condemning the development as a regressive obstacle to progress nor welcoming it as a normal part of the developmental process. The aim is to inquire anew into the historical project of trade unions and the interplay between this project and the processes of social progress, past and prospective. The analytical thesis is that the institution has been multi-dimensional, serving in one of its dimensions as an important political response to social progress. The normative problem is whether the unions' political contribution to a socially conscious political democratization can be revived or transferred, when the unions' constitutive adaptations to past stages of social progress appear to be failing so badly in the present. After a brief overview designed to show that analytical awareness of social progress has historically been linked to critical politically-minded theoretical currents as well as to progressivist theories and that it has been the ideology-process that has tended to smudge this distinction, we briefly outline three alternative progressivist approaches to unionism. Next comes a review of the contemporary state of the problem and a proposal for an analytical approach that avoids the holistic errors of progressivist analyses and lets the political issues be properly posed. In this approach, unions are situated in the context of labor regimes, an historical concept that highlights the dual character of unions, between social progress and political constitution. The contemporary decline of unions is then analyzed in relation to both levels of analysis. The political dimension poses questions of strategy for unions, and the study closes with a critical assessment of strategic alternatives generated by the progressivist alternatives. The conclusion is skeptical and political rather than programmatic, but that illustrates the social-theoretical point of the exercise. The demise of progressivism does not automatically condemn either its contributions to social theoretical analyses of social progress or its political projects.
Effect of deficit irrigation and methyl jasmonate application on the composition of strawberry (Fragaria x ananassa) fruit and leaves
Drought stress is among the most severe environmental risks threatening strawberry production. In the present study, the effect of deficit irrigation (DI; 50 mL/day) and/or elicitation with methyl jasmonate (MeJA; 0.1 mM) on the composition of secondary fruit and leaves from three strawberry pre-commercial cultivars (253/29, 279/4 and 279/5) was investigated and compared to plants kept at or near field capacity (200 mL/day). For certain cultivars (253/29), DI applied at green stage of fruit development resulted in a considerable reduction in berry size (1.7-fold). In other cultivars (279/4 and 279/5), fruit size was comparable in DI-treated and fully irrigated plants. Changes in the major sugars and organic acids of strawberry leaves and fruit were cultivar and organ dependent and were associated to an osmotic adjustment strategy within the plant to counteract the effects of drought. Overall, elicitation with MeJA had a minimal effect on plant growth and morphological traits. Nevertheless, MeJA increased fructose content of DI-treated leaves and palliated the differences in glucose content of fruit from different water treatments. The most pronounced effect of MeJA was related to an enchance synthesis and accumulation of pelargonidin-3-glucoside (nearly 2-fold) in red-ripe fruit from cultivar 279/5.The authors thank the Horticultural Development Company (CP 43) andGlaxoSmithKline for funding. Redeva, formerly the Summer Fruit Company, Total Berry (UK) is gratefully acknowledge for supplying the plants
PERANCANGAN MEJA PRAKTIKUM PENGUKURAN WAKTU KERJA PADA STASIUN PENGAMATAN KERJA LABORATORIUM PTI (Studi Kasus di Laboratorium PTI Fakultas Teknik UMS)
Padapenelitian ini mempunyai tujuan menganalisa kebutuhan fasilitas
pengamatan kerja di Laboratorium TI serta menjabarkan kekurangan meja kerja
danpengamatan yang sudah adauntuk merancang kembali meja kerja sebagai
fasilitas pendukung pada stasiun pengamatan kerja dengan tujuan memenuhi 2
kebutuhan, yaitu mampu memenuhi keadaan normal mahasiswa praktikan yang
diamati, sehingga kenormalan bekerja praktikan dapat tercapai untuk kemudian
dihitung waktu baku dan yang kedua mampu memenuhi keadaan tidak normal
pada praktikan yang diamati pada meja pengamatan, sehingga praktikan membuat
rancangan stasiun kerja yang lebih baik.
Meja yang dirancang merupakan meja adjustable yang dapat disesuaikan
tinggi rendahnya. Penelitian ini dimulai dari pengumpulan data antropometri,
kemudian dilakukan uji statistik berupa uji kecukupan dan uji keseragaman data.
Selanjutnya dipilih dimensi antropometri yang sesuai sebagai dasar dimensi
perancangan yang dibuat dengan mempertimbangkan persentil yang digunakan.
Hasil perhitungan dimensi rancangan meja yang dibutuhkan berdasarkan
data antropometri yang telah melalui uji statistikadalah :lebar Meja = 64 cm,
panjang Meja = 158 cm, tinggi meja dibuat adjustable sehingga terdapat 3
dimensi, yaitu batas bawah, batas atas dan rata-rata tinggi meja adjustable. Dari
hasil perhitungan didapatkan dimensi untuk panjang meja sebagai berikut :Batas
atas tinggi meja = 79 cm, rata-rata tinggi meja = 72 cm, batas bawah tinggi meja =
64 cm.
Output dari penelitian ini berupagambar perancangan dengan Software
SolidWorks2010 dengan memperhatikan hasil perhitungan data antropometri
mahasiswa yang telah melalui uji statistik dan perhitungan dimensi dengan
mempertimbangan persentil sebagai dasar penentuan dimensi rancangan,
selanjutnyamembuat produk berupa meja adjustable sesuai dengan rancangan
yang dibuat
Desain Meja Laptop Portable Melalui Pendekatan Quality Function Deployment (Qfd)
Perkembangan teknologi saat ini semakin meningkat seiring dengan semakin bertambah banyaknya keinginan manusia. Laptop sudah menjadi teman dekat sewaktu belajar, bermain, dan mendapatkan hiburan. Laptop juga sudah menjadi barang pribadi yang sangat penting keberadaannya bagi yang memerlukan dukungan pekerjaan, baik dalam hal presentasi, membuat laporan, mendesain , chating, dan mengerjakan tugas. Kadang kala kita juga sering menggunakan laptop di tempat tidur atau memangkunya dalam jangka waktu yang lama. Dalam kegiatan tersebut ada beberapa faktor yang sangat potensial menimbulkan kerusakan atau ketidak nyamanan sewaktu kita menggunkan laptop, maka diperlukan spesifikasi alat pembantu atau meja laptop portable yang bisa memenuhi keinginan konsumen. Melalui pendekatan QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) perancang bisa mendapatkan informasi mengenai keinginan konsumen dan kemudian menterjemahkan kedalam spesifikasi desain produk, serta faktor tambahan dari data Antopometri yang bisa digunakan minimal dalam dua aspek dari meja tersebut untuk menyesuikan desain dari meja laptop yang akan dirancang. Hasil dari QFD serta penambahan data Antopometri diperolehlah rancangan desain meja laptop portable sebagai berikut : tinggi maksimal kaki meja yang bisa disesuaikan/ distel adalah 36 cm dan tinggi minimalnya adalah meja 24 cm dan lebar meja 35 cm, panjang 60cm. Sedangkan tebal daun meja 2 cm yang diberi warna biru donker yang diberi gambar/ tulisan dan putih untuk bagian kaki, lalu untuk memudahkan dalam pembawaan meja ini diberi gantungan dan meja bisa dilipat seperti buku dan sebagai assesoris tambahan meja laptop portable ini dilengkapi dengan laci, port USB external, dan coolpad/kipas pendingin berjumlah 3 buah
El ácido abscísico y metil jasmonato modulan la acumulación de antocianinas y trans-resveratrol en hollejos de bayas de cinco cultivares tintos de Vitis vinifera en dos regiones vitícolas contrastantes de Mendoza, Argentina
Los hollejos de las uvas tintas contienen cantidades significativas de polifenoles que contribuyen a la calidad del vino y proporcionan beneficios para la salud. Estos compuestos pueden ser elicitados por hormonas vegetales. El objetivo de este trabajo fue aumentar el contenido de antocianinos (ANT) y trans-resveratrol (T-RES) mediante la aplicación de ácido abscísico (ABA) y jasmonato de metilo (MeJA) en 5 V. vinifera cvs. (Bonarda, Malbec, Syrah, Cabernet Sauvignon y Pinot Noir), en dos contrastantes regiones vitícolas argentinas (Santa Rosa y Valle de Uco). Los resultados mostraron un efecto positivo y diferencial de ABA y MeJA en el contenido total de ANT para los diversos cultivares, con cambios en las proporciones de ANT azul y rojo. ABA aumentó los ANT totales en ambas regiones vitícolas, mientras que MeJA tuvo un efecto positivo solo en Santa Rosa. Además, ABA y MeJA indujeron una acumulación de T-RES en diferentes cultivares, independientemente de la región; la acumulación de T-RES provocada por ABA ha sido previamente reportada. Este trabajo pone de manifiesto la posibilidad de utilizar estas hormonas como herramientas prácticas para producir vinos tintos de alta calidad en dos regiones vitícolas contrastantes.Berry skins from red grape cultivars contain significant amounts of polyphenols that contribute to wine quality and provide health benefits. These compounds can be elicited by plant hormones. The aim of this work was to increase the content of anthocyanins (ANT) and trans-resveratrol (T-RES) by application of abscisic acid (ABA) and methyl jasmonate (MeJA) in five red V. vinifera cvs. (Bonarda, Malbec, Syrah, Cabernet Sauvignon, and Pinot Noir), in two Argentinean contrasting growing regions (Santa Rosa and Valle de Uco). Results showed positive and differential effects of ABA and MeJA on the total ANT content for the diverse cultivars with changes in the proportions of blue and red ANT. ABA increased total ANT in both viticultural region, while MeJA had a positive effect only in Santa Rosa. Also, ABA and MeJA induced an accumulation of T-RES in different cultivars, regardless of the region; T-RES accumulation elicited by ABA was not previously described. This work brings out the possibility to use these hormones as practical tools to produce high-quality red wines in two contrasting viticultural regions.Fil: Malovini, Emiliano Jesus. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; ArgentinaFil: Arancibia, Celeste. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; ArgentinaFil: Duran, Martin Francisco. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; ArgentinaFil: Fontana, Ariel Ramón. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; ArgentinaFil: de Rosas, María Inés. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; Argentina. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias; ArgentinaFil: Deis, Leonor. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; Argentina. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias; ArgentinaFil: Gargantini, Raquel. Instituto Nacional de Vitivinicultura. - Ministerio de Producción y Trabajo. Secretaria de Gobierno de Agroindustria. Instituto Nacional de Vitivinicultura; ArgentinaFil: Bottini, Ambrosio Rubén. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; Argentina. Universidad Juan Agustín Maza. Área de Ciencia y Técnica; ArgentinaFil: Cavagnaro, Juan Bruno. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias; Argentina. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; ArgentinaFil: Martínez, Liliana Estela. Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas. Centro Científico Tecnológico Conicet - Mendoza. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza. Universidad Nacional de Cuyo. Facultad de Ciencias Agrarias. Instituto de Biología Agrícola de Mendoza; Argentin
Meja kopi modular untuk rumah minimalis moden
Peningkatan populasi di seluruh dunia adalah sangat tinggi. Di Malaysia, kadar pertumbuhan populasi rakyat Malaysia meningkat kepada 1.1% iaitu sebanyak 32.4 bilion (2018) berbanding 31.1 bilion (2015) (Mahidin, 2019). Peningkatan populasi ini meningkatkan permintaan dan bekalan terhadap keperluan asasi seperti makanan, pakaian, peluang pekerjaan dan juga ruang kediaman. Ini turut mempengaruhi reka bentuk dan saiz kediaman bagi menempatkan kesemua rakyat Malaysia dan juga pekerja asing yang berkerja di negara ini. Menurut Harian Metro Online, tanah yang semakin berkurangan menyebabkan unit kediaman sekarang banyak dibina dengan keluasan yang terhad antara 650 hingga 800 kaki persegi (Satibi, 2018). Justeru, pemilihan perabot memainkan peranan penting dalam usaha untuk menampakkan kediaman lebih luas dan selesa (Ismail, 2020)
Pengaruh Latihan Konvensional terhadap Kemampuan Footwork Tenis Meja
Permasalahan dalam penelitian ini adalah masih kurangnya kemampuan footwork dalam bermain tenis meja mahasiswa UKO tenis meja UNP. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan Konvensional terhadap kemampuan footwork. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan konvensional terhadap kemampuan footwork mahasiswa UKO tenis meja UNP. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa UKO tenis meja UNP berjumlah 34 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sehingga jumlah sampel berjumlah 11 orang. Data dianalisis dengan menggunakan rumus uji t. Berdasarkan pengukuran dan analisa maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: latihan konvensional memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan footwork mahasiswa UKO tenis meja UNP
PERANCANGAN ULANG FASILITAS KERJA OPERATOR MESIN SHERRINK DI PT MACANAN JAYA CEMERLANG
Penelitian ini merupakan sebuah usulan kepada pihak perusahaan mengenai perlunya perbaikan baik pada bentuk maupun ukuran pada meja dan kursi kerja mesin sherrink atas ketidaknyamanan di PT. Macanan Jaya Cemerlang, Klaten. Hal ini ditinjau dari metode kerja yang dilakukan operator.
Perbaikan dilakukan berdasarkan masukan dari operator yang berbentuk data kuesioner Nordic Body Map serta data antropometri. Ukuran-ukuran yang didapatkan dari hasil perhitungan persentil data antropometri yang ada.
Perbaikan yang dilakukan pada kursi dan meja kerja operator mesin sherrink antara lain : Tinggi dan lebar meja kerja yang semula bersifat tetap dengan ketinggian 75 cm dan lebar 60 diubah menjadi meja troli, dengan ketinggian 66 cm dan lebar 74 cm. Bentuk meja kerja tetap dipertahankan persegi panjang dengan panjang 160 cm. Pemberian pegangan meja troli dengan tinggi 101 cm dari permukaan lantai, sedangkan besar dari pegangan tersebut berdiameter diameter 5 cm. Untuk perbaikan kursi kerja yang semula dengan tinggi 50 cm dan lebar dudukan kursi 20 cm diubah dengan ketinggian berkisar antara 44-59 cm dan lebar dudukan kursi 29 cm. Bentuk dudukan kursi tetap yaitu bulat tetapi bersifat adjustable. Penambahan penyangga kaki diletakkan disatu sisi panjang meja mesin sherrink dan dirancang untuk operator ketiga
- …
