751 research outputs found

    Who Cares About Islamic Law?

    Get PDF
    The legal transplant in the Arab world, perhaps even in the Islamic world writ large, hasn’t had much luck by way of close study in US legal academia. Compared to its scholarly treatment in other non-Western contexts, such as Latin America and East Asia, the absence is glaring. This was not for want of scholarly interest in law in the Arab/Islamic world. Much has been published on Arab constitutions for instance, and you’ve had a few speakers in this lecture series, opine on the topic. Nor has there been lack of scholarly interest in types of legislation that had become symptomatic of our globalized world over the past two decades: foreign investment laws, intellectual property laws, oil and gas laws, and one must not forget that most unsavory yet pressing subject, national security and anti-terrorism laws. Rather, what is glaringly absent is the study of the “European Code”, the privileged form in which the legal transplant was first introduced only to become the permanent and defining feature of the contemporary legal system. There is a simple reason for this and I will state it bluntly. It is because Islamist scholars and their non-Muslim academic sympathizers either liberals with strong multicultural tendencies or “traditionalists” hostile to the modern nation state, have hogged the study of law in the Arab/Islamic world. A consensus of sorts has for long emerged among this block of scholars that the legal transplant was a colonial imposition that has displaced, with tragic consequences according to these scholars, the organic law of the Muslim. It is the latter that is worthy of study, typically referred to by them as “Islamic law”

    Tanggung Jawab Sosial Perusahaan: Aktualisasi Ajaran Jaudatul Ada (Penyelesaian yang Baik) dalam Bisnis (Studi Kasus Bsm)

    Full text link
    As a form of accountability for its economic activities, every company in the world must performCSR activities, including companies in Indonesia. Unfortunately, the values contained in current CSR reporting contain only secular activities, whereas Indonesia is a country with 200million Muslims who are entitled to use Islamic religious values in their lives that are includedin economic activities, including CSR. This study aims to find the appropriate Islamic valuesand can be applied in CSR activities. This study finds value in Islam that can be a referencecompany, in terms of this research is syariah bank, for CSR activities, namely the value ofJaudatul Ada (good settlement)

    Human Needs Are Unlimited In The Perspective Of Sharia Economics (Homo Economicus Vs Homo Islamicus)

    Get PDF
    This research aims to explore the assumptions underlying the concept of Homo Islamicus in the context of modern society's shifting preferences, where the concept of Homo Economicus, which tends to disregard morality and focuses on self-interest in maximizing utility, falls short in explaining these phenomena. By examining Homo Islamicus in the modern context, this study seeks to identify assumptions more relevant to current economic conditions. The research adopts a library research method and utilizes content analysis as the data processing technique. The findings reveal that the concept of Homo Islamicus integrates moral and rational elements in a balanced proportion, oriented towards general welfare aligned with individuals' basic needs, guided by religious moral principles. Rational decisions made by Homo Islamicus reflect moral values based on fundamental principles such as Tawhid (Unity of God), Balance, Free Will, Responsibility, and Justice, enabling decision-making that considers these values. Thus, morality serves as the foundation of rationality in making choices within the context of modern Islamic economics

    Rasionalitas Ekonomi dalam Perspektif Teoritis dan Praktis: Dari Homo Economicus hingga Rasionalitas syari'ah

    Get PDF
    Artikel ini mengkaji pergeseran paradigma rasionalitas ekonomi dari pendekatan konvensional Homo Economicus menuju alternatif konsep Homo Islamicus dalam kerangka ekonomi Islam. Model Homo Economicus, yang berakar pada teori utilitarianisme, memandang individu sebagai agen rasional yang selalu mengutamakan kepentingan pribadi dan maksimisasi keuntungan. Namun, pendekatan ini dianggap tidak cukup untuk menjelaskan kompleksitas perilaku ekonomi manusia yang juga dipengaruhi oleh nilai moral, sosial, dan spiritual. Sebagai respons terhadap krisis etika dalam sistem ekonomi modern, ekonomi Islam menawarkan pendekatan rasionalitas yang lebih menyeluruh melalui model Homo Islamicus, yakni individu yang bertindak berdasarkan prinsip syari’ah seperti keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan mendasar antara kedua model tersebut serta menganalisis kontribusi rasionalitas Islami dalam membentuk perilaku ekonomi yang berorientasi pada keseimbangan antara kepentingan individu dan kemaslahatan umum. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis literatur lima tahun terakhir mengenai perilaku ekonomi dan teori rasionalitas dalam perspektif Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa Homo Islamicus mengintegrasikan dimensi etika dan wahyu dalam pengambilan keputusan ekonomi melalui prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, sehingga menghasilkan pendekatan yang lebih manusiawi, adil, dan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan model empiris Homo Islamicus serta integrasi nilai-nilai Islam dalam pendidikan ekonomi dan kebijakan publik

    Teori Rasionalitas Menurut Ekonomi Islam

    Get PDF
    Pandangan tentang konsep rasionalitas memiliki konsekuensi terhadap perilaku manusiadalam melakukan tindakan ekonomi dan tujuan-tujuan hidupnya. Rasionalitas ekonomi yangdibangun oleh konsepsi homo economicus sebagaimana dikembangkan dalam ekonomi kapitalisdan sosialis berbeda dengan rasionalitas ekonomi yang dibangun oleh konsepsi homo islamicussebagaimana dikembangkan dalam ekonomi islam.Dalam kapitalisme, homo economicus telah diposisikan sebagai entitas ekonomi yangmengokohkan individualitas dan eksploitasi apa saja yang dianggap penting dari motif-motif dasarmanusia, hasrat dan self-interest, dan untuk dapat memproduksi standar kehidupan yang lebihtinggi. Homo economicus merepresentasikan manusia rasional yang diformalkan dalam modelmodelekomomi tertentu yang mengaktualisasikan pemuasan self-interest sebagai cara untukmeraih tujuan-tujuan ekonomi. Adapun dalam komunisme, homo economicus digambarkansebagai hubungan antara kondisi material dan kehidupan manusia yang esensial, yakni bahwabukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, akan tetapi sebaliknya keberadaansosial itulah yang menentukan kesadarannya.Banyak ekonom muslim yang tidak puas dengan konsep homo economicus sebagai modaldasar perilaku ekonomi manusia. Karena itulah, ekonom muslim pun menggantinya dengankonsepi homo islamicus sebagai model dasar perilaku ekonomi yang sesuai dengan fitrah hakikimanusia. Istilah homo islamicus mengacu kepada perilaku individu yang dibimbing oleh nilainilaiIslam. Rasonalitas yang dibangun oleh konsepsi homo islamicus berpandangan bahwasegenap tindakan ekonomi tidak hanya menuruti hasrat-hasrat alamiah manusia tetapi harusdidasarkan kepada kebenaran dan kebajikan. Jalan untuk mencapai rasionalitas ini tidak lainadalah mensubordinatkan motif, pikiran, orientasi, kehendak dan perilau ekonomi kepada aturandan moralitas yang ditentukan oleh syariat Islam

    How to Make the Economy "Embedded" in Turkey? One question, Two Contradictory Answers

    Get PDF
    This paper aims to discuss the reasons and the consequences of the conflicts between actors with contradictory interests in the neo-liberal institution-building process in Turkey and privatization cases as one of the main components of the neo-liberalization process represents its primary focus. First, it will be outlined how the privatization program was delayed in Turkey until 2000 while it had been adopted in 1984. Secondly, on the basis of the implementation of some privatization deals after the 2000's and its effects, it will be shown (1) how the import-substitution periods' contending actors, that is to say 'traditional' employers' and workers' organizations, have became allies since the second half of the 1990s against the supporters of the neo-liberal transformation process; (2) how 'former' peasants and artisans who had been frustrated for a while by the import-substitution politics have -certainly through the proletarianization and/or the embourgeoisement processes due to neo-liberalization transformation- henceforth become supporters of the new mode of regulation. Finally, it will be shown that it is possible to distinguish the logic of action of these two camps with respect to the interpretation of the notion of embeddedness: while the first group pursues the Polanyian interpretation of the concept, for whom embeddedness refers to the inscription of economy in social, cultural and political rules that regulate goods and services production and circulation forms, the second group seems to go along with the definition made by the new economic sociology that reflects rather the integration of economic action in social and cultural networks

    PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TENTANGALAM DAN LINGKUNGAN

    Get PDF
    "Alam" or universe is everything except Allah. According to the philosophical view of Islamic education, from its very first creation, it has been being in the equilibrium. The human being who is part of the universe is also in accordance with its equibrium. God has given the human being the gauide in the form of religion in order that people in general can live in such good life that they can conform with the universe equilibrium With religion, people can do their double function, as bondsmen and caliph. This writing will try to let readers know that many verses of the Holy Koran talk about people's must to conserve and to preserve the universe. Such attitude is needed and related to God but ""' people's attention to the universe preservation is less and this will cause the sorrounding to be in dangerous for them. The readers are hoped to read this article on the universe in the philosophical view of Islamic education

    Konsep Islamicpreneurship dalam Upaya Mendorong Praktik Bisnis Islami

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari konsep islamicpreneurship dalam upaya mendorong praktik bisnis islami, untuk mempelajari dan mempelajari bentuk indikator pelaksanaan konsep islamicpreneurship dalam upaya mendorong praktik bisnis islami, dan untuk mempelajari dan mempelajari etika bisnis islam yang dapat diterapkan konsep islamicpreneurship dalam upaya mendorong praktik bisnis islami.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang mengandalkan data-data dari perpustakaan, sehingga bentuk penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan datanya menggunakan dokumentasi, observasi dan kecukupan referensi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dan disajikan secara diskriptif dimulai dengan memaparkan apa yang telah diungkapkan lewat tulisan maupun pengamatan secara langsung. Selain itu, kecukupan data-data perpustakaan yang dipelajari telah dikumpulkan sebelumnya serta data yang sudah terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan metode deduktif dan induktif.Hasil penenelitian ini menunjukkan bahwa konsep islamicpreneurship bermakna segala bentuk aktivitas dalam mendirikan, memimpin, mengelola, mengambil risiko, dan menjadi pemilik USAha yang sesuai dengan ajaran Islam. Secara paradigmatik pengertian hal tersebut disebabkan keberadaan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan diciptakan oleh Allah untuk selalu beribadah kepada-Nya. Indikator pelaksanaan konsep islamicpreneurship yakni adanya praktik elaboratif antara praktik bisnis dan penerapan nilai ajaran Islam itu sendiri, sehingga aktivitas bisnis atau berwirausaha tidak saja menjadi kegiatan saling berburu laba yang sebesar-besarnya yang menyebabkan pengesampingan terhadap nilai etis dalam masyarakat dan agama. Penerapan etika bisnis Islam dalam konsep islamicpreneurship dalam upaya mendorong praktik bisnis islami yakni menjadikan etika bisnis sebagai etika bisnis Islam sebagai fondasi dalam segala aktivitas bisnis

    PERILAKU KONSUMEN MUSLIM KOMUNITAS YOUTH MOVE UP; ANTARA HOMO ECONOMICUS VS HOMO ISLAMICUS

    Get PDF
    Skripsi ini berjudul “Perilaku Konsumen Muslim Komunitas Youth Move Up; antara Homo Economicus vs Homo Islamicus”.Skipsi ini menggunakan mode penelitian deskriptif-kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini berupaya mendeskripsikan mengenai mengetahui (1) perilaku konsumen muslim komunitas youth move up antara homo economicus vs homo islamicus (2) mengetahui perilaku konsumen muslim komunitas youth move up (3) mengetahui apakah perilaku konsumen muslim komunitas youth move up sejalan dengan perinsip homo islamicus atau justru homo islamicus. Dari penemuan dan pembahasan, maka dapat di simpulkan bahwa (1) adanya organisasi youth move up dapat memberikan dampak positif bagi yang telah bergabung di dalam organisasi tersebut, karena adanya kegiatan-kegiatan seperti kajian-kajian, pengajian bersama, berbagi sarapan gratis (2) Komunitas youth move up sejalan dengan perinsip homo islamicus karena di organisasi youth move up mengarah kepada isu-isu mengenai ajaran islam. (3) Segala kegiatan ekonomi tidak hanya beriorentasi kepada kepentingan dunia tetapi juga untuk kepentingan akhirat (4) Perilaku konsumen merupakan perilaku atau sikap manusia dalam memenuhi kebutuhannya, baik secara individu maupun sosial. Homo economicus tidak mampu menjelaskan perilaku ekonomi manusia secara lengkap lengkap, dan kesadaran para pembaharu ekonomi konvensional terhambat dengan tidak adanya standard moral yang dapat di jadikan acuan sedangkan homo islamicus mempunya acuan yang kuat atau landasan yaitu al-qura’an dan hadits
    corecore