349 research outputs found
Indikator Keberhasilan Pengelolaan Aktivitas Fisik pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2
Aktivitas fisik menggambarkan gerakan tubuh manusia sebagai hasil kerja otot rangka. Penelitian peningkatan aktivitas fisik secara kumulatif penting dilakukan terkait membaiknya kualitaskesehatan melalui peningkatan endurans kardiorespirasi. Sebaliknya, perilaku sedenter dikaitkandengan berbagai penyakit, salah satunya diabetes melitus (DM) tipe 2. Program latihan fisikindividual disusun dengan memperhatikan latihan kardiorespirasi sebagai komponen utama yangdiuraikan berdasarkan prinsip frekuensi – intensitas – durasi – jenis latihan. Latihan fisik merupakansalah satu pilar penatalaksanaan diabetes. Latihan fisik teratur pada DM tipe 2 memberikanproteksi kardiometabolik sehingga mencegah atau mengurangi laju perjalanan penyakit diabetesdan komplikasi melalui perbaikan tekanan darah dan fungsi ginjal. Hatha yoga dan arm swingexercise menunjukkan pengaruh positif terhadap status kardiometabolik penyandang diabetes.Diperlukan upaya untuk mengaktifkan pasien melalui program latihan fisik teratur dan terstrukturdilengkapi konsultasi yang baik. Keberhasilan pendekatan secara komprehensif dipengaruhi 3indikator yaitu latihan fisik, pengendalian glukosa darah dan stres oksidatif
Perbedaan kadar glukosa darah puasa pasien diabetes melitus berdasarkan pengetahuan gizi, sikap dan tindakan di poli penyakit dalam rumah sakit islam jakarta
Latar belakang :Perilaku makan yang tidak tepat dapat menyebabkan meningkatnya kadar glukosa darah penderita diabetes. Perilaku dibagi menjadi tiga domain yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan.
Tujuan penelitian :Melihat perbedaan kadar glukosa darah berdasarkan pengetahuan gizi, sikap dan tindakan pasien diabetes melitus tipe 2.
Metode analisis : Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan crosssectional. Sampel sebanyak 50 responden, dalam penelitian ini adalah pasien diabetes melitus yang menjalani pemeriksaan kadar glukosa darah di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Islam Jakarta. Pengetahuan gizi diukur berdasarkan indikator pengertian penyakit diabetes, prinsip dan syarat diet, penukar bahan makanan dan aktivitas atau olahraga ; tingkat sikap diukur berdasarkan indicator pemeriksaan penyakit diabetes, aktifitas/olahraga, kesadaran diet, bahan makanan dan jumlah porsi ; tingkat tindakan diukur berdasarkan indikator pemilihan makanan/minuman, kebiasaan makan, jadwal makan, aktifitas/olahraga dan bahan makanan penukar. Pengujian One Way Anova digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Hasil :Sebanyak 12 responden (24%) memiliki pengetahuan gizi kurang, 14 responden (28%) memiliki sikap yang kurang baik, 8 responden (16%) memiliki tindakan kurang. Rata – rata glukosa darah berbeda menurut tingkat pengetahuan (F = 4,448 ; p = 0,017), sikap (F = 3,930 ; p = 0,026) dan tindakan (F = 3,427 ; p = 0,041).
Simpulan :Ada perbedaan bermakna kadar glukosa darah berdasarkan pengetahuan gizi, sikap dan perilaku terhadap pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Diperlukan penelitian tentang pengaruh konseling gizi terhadap perilaku pasien agar dapat mengetahui keberhasilan Dietisien
Perbedaan Kadar Glukosa Darah Puasa Pasien Diabetes Melitus Berdasarkan Pengetahuan Gizi, Sikap Dan Tindakan Di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Islam Jakarta
Latar belakang :Perilaku makan yang tidak tepat dapat menyebabkan meningkatnya kadar glukosa darah penderita diabetes. Perilaku dibagi menjadi tiga domain yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Tujuan penelitian :Melihat perbedaan kadar glukosa darah berdasarkan pengetahuan gizi, sikap dan tindakan pasien diabetes melitus tipe 2. Metode analisis : Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan crosssectional. Sampel sebanyak 50 responden, dalam penelitian ini adalah pasien diabetes melitus yang menjalani pemeriksaan kadar glukosa darah di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Islam Jakarta. Pengetahuan gizi diukur berdasarkan indikator pengertian penyakit diabetes, prinsip dan syarat diet, penukar bahan makanan dan aktivitas atau olahraga ; tingkat sikap diukur berdasarkan indicator pemeriksaan penyakit diabetes, aktifitas/olahraga, kesadaran diet, bahan makanan dan jumlah porsi ; tingkat tindakan diukur berdasarkan indikator pemilihan makanan/minuman, kebiasaan makan, jadwal makan, aktifitas/olahraga dan bahan makanan penukar. Pengujian One Way Anova digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Hasil :Sebanyak 12 responden (24%) memiliki pengetahuan gizi kurang, 14 responden (28%) memiliki sikap yang kurang baik, 8 responden (16%) memiliki tindakan kurang. Rata – rata glukosa darah berbeda menurut tingkat pengetahuan (F = 4,448 ; p = 0,017), sikap (F = 3,930 ; p = 0,026) dan tindakan (F = 3,427 ; p = 0,041). Simpulan :Ada perbedaan bermakna kadar glukosa darah berdasarkan pengetahuan gizi, sikap dan perilaku terhadap pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Diperlukan penelitian tentang pengaruh konseling gizi terhadap perilaku pasien agar dapat mengetahui keberhasilan Dietisien
HUBUNGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK DAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OHO (OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL) DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA MAKASSAR
Berdasarkan Konsensus PERKENI (2006), terdapat 4 pilar penatalaksanaan Diabetes Melitus (DM), dua di antaranya ialah meningkatkan aktivitas fisik dan terapi farmakologis. Aktivitas fisik mampu meningkatkan sensitivitas insulin, dan kepatuhan dalam menjalani terapi farmakologis (kepatuhan minum obat) diperlukan agar tidak meningkatkan risiko yang akan memperburuk penyakit DM yang diderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan tingkat kepatuhan minum OHO (Obat Hipoglikemik Oral) dengan kadar glukosa darah pada penderita Diabetes Melitus Tipe II rawat jalan di Puskesmas Kota Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan desain cross-sectional. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat aktivitas fisik yaitu IPAQ dan untuk mengukur tingkat kepatuhan minum OHO yaitu MMAS-8. Kadar glukosa darah puasa (GDP) dinilai berdasarkan cut of point menurut PERKENI 2006. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 36 orang. Teknik sampling yang digunakan ialah exhaustive sampling. Hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dianalisis dalam bentuk tabulasi silang menggunakan program SPSS dengan uji Fisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kadar GDP responden (p = 0,561) atau p > 0,05. Selain itu, tingkat kepatuhan minum OHO juga tidak memiliki hubungan dengan kadar GDP responden (p = 0,655). Disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan tingkat kepatuhan minum OHO dengan kadar GDP pada responden
Hubungan Antara Status Hidrasi Serta Konsumsi Cairan Pada Atlet Bola Basket
Selain kebutuhan nutrisi, atlet juga membutuhkan pengaturan hidrasi dan konsumsi cairan yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi atlet terhadap kebutuhan cairan (hidrasi) serta konsumsi cairan baik saat latihan dan pertandingan pada atlet bola basket putra dan putri kejurda kelahiran usia-18 tahun kabupaten indramayu.Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan rancangan Mixed methods (Metode campuran), karena pengambilan dan pengolahan data dilakukan dengan dua metode, kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan secara berkesinambungan. Metode kuantitatif dilakukan pada analisis konsumsi cairan, sedangkan metode kualitatif dilakukan untuk mengetahui status hidrasi dengan pengukuran PURI. Kuesioner “Food Beverage” (angket minuman) untuk mengumpulkan data meliputi konsumsi cairan, kebiasaan minum yang terdiri dari frekuensi, jenis, dan sumber minuman, dan pengetahuan tentang cairan. Tehnik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling populasi. Penelitian ini menggunakan populasi atlet bola basket kejurda putra/putri Kab.Indramayu yang berjumlah 24 atlet.Berdasarkan dari hasil penelitian bahwa (1) status hidrasi atlet bola basket kejurda KU-18 tahun Kab.Indramayu yaitu mayoritas mengalami dehidrasi, dari sebanyak 23 atlet; sebanyak 12 atlet atau sebanyak 52,2 % mengalami dehidrasi dan sisanya berada pada status baik, dehidrasi dan sangat dehidrasi. (2) konsumsi cairan pada atlet bola basket kejurda KU-18 tahun Kab. Indramayu mayoritas masih kurang, sebanyak 47 % (11 orang) dari keseluruhan responden berada pada kategori kurang konsumsi cairan. (3) Berdasarkan hasil koefisien korelasi product moment (Pearson Correlation) antara konsumsi cairan dan status hidrasi sebesar rXY -0,185 dengan p (sig.) sebesar= 0,399. Ternyata p>0,05; dan arahnya negatif (-); dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak; sehingga dapat disimpulkan ada hubungan negatif yang tidak signifikan antara jumlah konsumsi cairan dan status hidrasi Atlet Kejurda Bola basket KU-18 tahu
Model and Effectiveness of Endurance Exercise to Increase Physical Fitness in Intellectual Disability Subjects with Obesity: A Randomized Controlled Trial
Aim: to design a model and assess the effectiveness of endurance exercise to increase physical fitness in intelectual disability (ID) patients with obesity. Methods: a randomized-controlled clinical trial was performed in ID patients with obesity aged 10-30 years old from all Special School in DKI Jakarta, which were randomly allocated into 3 groups and then given 3 different type of exercises: lower extremity muscles endurance exercise for 20 RM followed by cardiorespiratory endurance exercise for 24-25 minutes (type I), lower extremity muscles endurance exercises for 10 RM followed by cardiorespiratory endurance exercises for 26-27 minutes (type II), and threw a tennis ball with 10 m distance for 10 minutes as control (type III). These program was performed 3 times a week for 4 months. Assesment of the exercise effectiveness was done by measuring maximum load that can be lifted and six-minutes walking test on rectangular track which was converted with the VO2 max prediction formula. Analysis was perfomed with Kruskal Wallis test. Results: two hundred and twelve (212) subjects were included in the study, randomly allocated into three types (I, II, and III) of exercises groups. The type II of endurance exercise model was proved to be more effective in increasing lower extremity muscles endurance level compared to type I and III for ID patients with obesity (p<0.05). Meanwhile, type I of endurance exercise model was proved to be more effective in increasing cardiorespiratory endurance level compared to type II and III for ID patients with obesity (p<0.05). Conclusion: lower extremity muscles endurance exercise followed by a cardiorespiratory endurance exercise can be used to increase physical fitness in ID patients with obesity. Key words: intelectual disability patient, obesity, lower extremity muscles and cardiorespiratory endurance exercise, lower extremity muscles endurance level, cardiorespiratory endurance level
GAMBARAN STATUS GIZI ANTROPOMETRI DAN ASUPAN ZAT GIZI SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA ANYELIR DAN SEKOLAH SEPAK BOLA BANGAU PUTRA MAKASSAR TAHUN 2013
Untuk mendapatkan atlet sepak bola yang berprestasi, faktor gizi sangat perlu diperhatikan sejak saat pembinaan di tempat pelatihan sampai saat pertandingan. Hasil penelitian yang dilakukan pada atlet sepak bola di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan asupan karbohidrat, lemak, vitamin C, dan kalsium dalam kategori kurang. Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran status gizi dan untuk mengetahui berapa besar asupan zat gizi makro (karbohidrat, lemak dan protein) serta zat gizi mikro (vitamin C, vitamin D, Ca, Fe dan Zn) siswa di SSB Bangau Putra dan SSB Anyelir Makassar Tahun 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa berusia 10-13 tahun yang berstatus sebagai siswa aktif latihan di SSB Bangau Putra dan SSB Anyelir Makassar berjumlah 58 orang. Dari hasil penelitian diketahui status gizi sampel di kedua sekolah sepak bola ini rata-rata berada dalam status gizi yang normal. Asupan energi sebagian besar berada pada kategori kurang yaitu 70.59%. Asupan karbohidrat berada pada kategori kurang yaitu 94.12%. Asupan lemak berada pada kategori kurang yaitu 60.78%. Asupan protein berada pada kategori kurang yaitu 64.70%. Asupan vitamin (C dan D) sebagian besar berada pada kategori yang kurang. Asupan mineral (Ca, Fe dan Zn) sebagian besar berada pada kategori yang kurang. Disarankan agar orang tua lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak-anak mereka sehingga status gizi anak tetap terjaga baik dan mereka mampu memberikan prestasi yang gemilang di bidang olahraganya
Amore, famiglia e nazione in Foscolo
International audienceInspired by recent studies of Alberto Mario Banti and other Italian cultural historians, this essay explores the emergence of a new vision of love, of marriage, and of the relationship between romantic love, patriotism, and virtue in the writings of Ugo Foscolo, and more specifically in his novel Ultime lettere di Jacopo Ortis. The essay first considers the rise of this new vision in Rousseau and in Alfieri, whose theater, in contrast with most current critical opinion, deals with married love and family no less than with freedom and tyranny. The discussion then turns to the contrast between happy and unhappy families, those which are united and those which are divided, in Foscolo’s early novel; it is here argued that the private life of the hero, his delusions and sorrows in love, mirror the fate of the Italian nation. Foscolo’s novel founded the Risorgimento’s ethos and pathos for more than one generation of patriots. But at the same time it moves beyond a purely ideological and militant conception of literature to warn strongly against nationalism and violence.Ispirandosi agli studi recenti di Alberto Mario Banti e di altri storici culturali italiani, il presente saggio studia l’emergenza di una nuova concezione dell’amore, del matrimonio e del nodo amore-patria-virtù nell’opera di Foscolo e in particolare nelle Ultime lettere di Jacopo Ortis. Dopo avere brevemente mostrato la nascita di questa nuova visione in Rousseau e, per l’Italia, in Alfieri, nel cui teatro il problema dell’amore coniugale e della famiglia è non meno importante di quello della tirannide, il saggio si concentra sul contrasto fra famiglie unite e felici, e famiglie lacerate e infelici nel romanzo giovanile di Foscolo, contrasto in cui si riflettono le sventure e le speranze d’Italia. La vicenda privata del protagonista, le sue pene e le sue illusioni amorose, diventano così emblema del destino di un’intera nazione. Col suo romanzo, Foscolo fonda l’ethos e il pathos del Risorgimento per varie generazioni di patrioti, ma nello stesso tempo, sollevandosi al di sopra di una letteratura puramente ideologica e militante, lancia il più drammatico ammonimento contro la violenza e il nazionalismo
Amore, famiglia e nazione in Foscolo
International audienceInspired by recent studies of Alberto Mario Banti and other Italian cultural historians, this essay explores the emergence of a new vision of love, of marriage, and of the relationship between romantic love, patriotism, and virtue in the writings of Ugo Foscolo, and more specifically in his novel Ultime lettere di Jacopo Ortis. The essay first considers the rise of this new vision in Rousseau and in Alfieri, whose theater, in contrast with most current critical opinion, deals with married love and family no less than with freedom and tyranny. The discussion then turns to the contrast between happy and unhappy families, those which are united and those which are divided, in Foscolo’s early novel; it is here argued that the private life of the hero, his delusions and sorrows in love, mirror the fate of the Italian nation. Foscolo’s novel founded the Risorgimento’s ethos and pathos for more than one generation of patriots. But at the same time it moves beyond a purely ideological and militant conception of literature to warn strongly against nationalism and violence.Ispirandosi agli studi recenti di Alberto Mario Banti e di altri storici culturali italiani, il presente saggio studia l’emergenza di una nuova concezione dell’amore, del matrimonio e del nodo amore-patria-virtù nell’opera di Foscolo e in particolare nelle Ultime lettere di Jacopo Ortis. Dopo avere brevemente mostrato la nascita di questa nuova visione in Rousseau e, per l’Italia, in Alfieri, nel cui teatro il problema dell’amore coniugale e della famiglia è non meno importante di quello della tirannide, il saggio si concentra sul contrasto fra famiglie unite e felici, e famiglie lacerate e infelici nel romanzo giovanile di Foscolo, contrasto in cui si riflettono le sventure e le speranze d’Italia. La vicenda privata del protagonista, le sue pene e le sue illusioni amorose, diventano così emblema del destino di un’intera nazione. Col suo romanzo, Foscolo fonda l’ethos e il pathos del Risorgimento per varie generazioni di patrioti, ma nello stesso tempo, sollevandosi al di sopra di una letteratura puramente ideologica e militante, lancia il più drammatico ammonimento contro la violenza e il nazionalismo
- …
