130,427 research outputs found
Business Model Canvas Pada CV Sekawan Cosmetics Sidoarjo
Penelitian bertujuan mendeskripsikan dan mendesain ulang business model canvas pada CV Sekawan Cosmetics Sidoarjo. Penelitian yang dilakukan menggunakan format penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penentuan narasumber dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling. Sumber data yang digunakan ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian menggunakan teknik analisis data kualitatif, sedangkan metode pengujian data menggunakan triangulasi sumber.Hasil penelitian menunjukkan desain ulang business model canvas pada CV Sekawan Cosmetics adalah memperluas jangkauan segmennya, menciptakan produk yang mengutamakan kualitas aroma dan desain, memperluas saluran distribusi, meningkatkan hubungan dengan pelanggan melalui telephone langsung seperti layanan pelanggan atau komunikasi online, dan meningkatkan kinerja Perusahaan dalam aktifitas Perusahaan karena memiliki modal untuk membiayai. Sebagai upaya Perusahaan untuk meningkatkan kegiatan promosi dan penjualan produk kosmetiknya maka hendaknya manajemen Sekawan Cosmetics dapat membuka outlet atau counter dengan nama merek sendiri agar masyarakat lebih mengenal produk kosmetik Sekawan Cosmetics dan lebih mudah bagi konsumen dalam mendapatkan produk. Selain itu, Perusahaan dapat menambah tenaga salesman untuk menciptakan jaringan baru ke salon-salon kecantikan atau tempat-tempat spa. Untuk membangun brand image di mata pelanggan Perusahaan dapat menggunakan slogan, mengikuti event dan sponsorships, dan menggunakan atribut Perusahaan
A critical investigation of the Osterwalder business model canvas: an in-depth case study
Although the Osterwalder business model canvas (BMC) is used by professionals worldwide, it has not yet been subject to a thorough investigation in academic literature. In this first contribution we present the results of an intensive, interactive process of data analysis, visual synthesis and textual rephrasing to gain insight into the business model of a single case (health television). The (textual and visual) representation of the business model needs to be consistent and powerful. Therefore, we start from the total value per customer segment. Besides the offer (or core value) additional value is created through customer related activities. The understanding of activities both on the strategic and tactical level reveals more insight into the total value creation. Moreover, value elements for one customer segment can induce value for others. The interaction between value for customer segments and activities results in a powerful customer value centred business model representation. Total value to customers generates activities and costs on the one hand and a revenue model on the other hand. Gross margins and sales volumes explain how value for customers contributes to profit. Another main challenge in business model mapping is in denominating the critical resources behind the activities. The Osterwalder business model canvas lacks consistency and power due to many overlaps which in turn are caused by the fixed architecture, the latter too easily leading to a filling-in exercise. Through its business model representation a company should first of all gain thorough understanding of it. Only then companies can evaluate the model and finally consider some adaptations
Pengembangan Bisnis pada Depot Dahlia Menggunakan Business Model Canvas
Pertumbuhan dari bisnis kuliner di Surabaya memunculkan kesempatan untuk siapa saja yang memiliki keahlian di bidang kuliner untuk membuat bisnis sendiri. Sebuah kesempatan juga untuk kuliner tradisional Depot Dahlia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memformulasikan pengembangan bisnis Depot Dahlia menggunakan Business Model Canvas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Penelitian ini menganalisa model bisnis yang digunakan oleh Depot Dahlia menggunakan Business Model Canvas, lalu menganalisa setiap elemen menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, dan Threats). Hasil analisis setiap elemen tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk membuat rencana pengembangan bisnis yang baru dengan menggunakan Business Model Canvas. Dari hasil penelitian, Depot Dahlia disarankan untuk memaksimalkan setiap elemen di Business Model Canvas, dengan cara membuat cabang agar lebih menjangkau pelanggan, menambah menu aneka rujak yang berasal dari daerah lain dan menambah layanan katering
Analisis Pengembangan Bisnis Madu Pada CV Ath-thoifah Dengan Pendekatan Business Model Canvas
Honey has many benefits not only as a medicine but also can be used as a food supplement. The market opportunities for honey business is still very wide open, this is indicated by the high value of Indonesian honey imports compared to the export value. Seeing these market conditions is one of the fundamental things established of CV Ath-Thoifah, si one of the company that develops traditional herbal products in Indonesia and basically using honey as the main ingredients of its products. The aims of this study are identifying business model canvas, determining the priority elements on business model canvas that will be developed, composing business model canvas improvement, and preparing alternative strategy to develop business of CV Ath-Thoifah. The respondents in this study are from internal and external team. The processing and data analysis utilize the qualitative method, identification of the current business model canvas, determination the priority elements to be developed use importance performance analysis method, SWOT analysis, and designing alternative business strategy. The results show nine elements of business model canvas in CV Ath-Thoifah now. Key activities, key partnership, and cost structure are the priority elements that will be developed. Based on the results of SWOT analysis and FGD, the alternative strategies can be coclude: 1) developing business in big cities outside Jabodetabek area, 2) adding distributors and agents intensively, 3) establishing special partnership in information technology (IT), 4) applying Good Manufacturing Practices (GMP) principles and BPOM certification, 4) increasing the allocation of funds in research and development field
Studi Kelayakan Industri Pengolahan Kopi Berbasis IKM Di Kabupaten Sumedang
Minimnya unit usaha pengolahan kopi di Kecamatan Rancakalong
merupakan peluang untuk mendirikan usaha. Selanjutnya, diperlukan sebuah
bisnis model yang dapat membantu merumuskan strategi yang baik. Maka dari itu
penelitian ini menggunakan Business Model Canvas (BMC). BMC merupakan
sebuat alat untuk membuat model bisnis yang memiliki tujuan memetakan strategi
untuk membangun bisnis yang kuat. Dari perencanaan menggunakan Business
Model Canvas akan tercipta konsep rancangan bisnis yang bersifat kualitatif, tanpa
memberikan informasi mengenai komponen biaya investasi apa saja yang akan
muncul. Business Model Canvas sendiri merupakan tools yang fleksibel dan
memungkinkan untuk dipadukan dengan pendekatan lain. Maka dari itu, dalam
penelitian ini, konsep perencanaan produksi dan perencanaan tata letak fasilitas
dipadukan kedalam 2 (dua) elemen dari Business model Canvas .
Hasil pengembangan tersebut menghasilkan detail informasi mengenai
biaya investasi yang diperlukan untuk membuat pengujian kelayakan investasi.
Analisis kelayakan investasi dilakukan dengan menggunakan 4 (empat) kriteria
yaitu Break Even Point, Payback Period, Net Presents Value dan Internal Rate of
Return. Dari hasil perhitungan, nilai BEP diketahui adalah sebesar
Rp1.099.094.205 dengan unit sebanyak 10.609 kg. Tingkat pengembalian dengan
menggunakan PP adalah 3.36 tahun dengan masa investasi 5 tahun. NPV bernilai
positif dari nilai investasi sebesar Rp1.488.137.558 dalam 5 tahun. Kemudian dari
pengujian menggunakan IRR diketahui bahwa nilai IRR dari rancangan ini adalah
83.4%. Dari 4 (empat) kriteria kelayakan investasi tersebut disimpulkan bahwa
rancangan usaha pengolahan kopi layak untuk dijalankan.
Kata kunci : Business Model Canvas, Analisis Kelayakan Investasi, Perencanaan
Produksi, Perencanaan Tata Letak Fasilitas
From the Osterwalder canvas to an alternative business model representation
The Osterwalder business model canvas (BMC) is used by many entrepreneurs, managers, consultants and business schools. In our research we have investigated whether the canvas is a valid instrument for gaining an in-depth, accurate insight into business models. Therefore we have performed initial multiple case study research which concluded that the canvas does not generate valid business model (BM) representations. In our second multiple case study, we have constructed an alternative BM framework, on the basis of which we have finally built a BM tool to design, evaluate and re-design any business model
- …
