77,798 research outputs found

    Pusat Penelitian Bambu Sebagai Sumber Informasi, Penelitian, Dan Pengembangan Bambu Di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten (Penekanan Pada Struktur Bentang Lebar Material Bambu)

    Get PDF
    Bambu berpotensi dijadikan material struktur bangunan bentang lebar karena bambu mempunyai keunggulan yaitu dengan meterial yang ringan namun memiliki kekuatan yang tinggi,. Selain itu, karakter yang fleskibel (mudah dibentuk), berpotensi untuk bentuk – bentuk yang lengkung (bentuk yang cukup sulit dicapai dengan material konstruksi lainnya). Dari sisi arsitektur bentuk merupakan hal yang paling dilihat secara fisik sehingga perancangan sebuah bangunan harus memikirkan sruktur dan bentuk. Dalam hal ini bentuk dapat tercipta dari analisa penyaluran beban. ( Macdonald, 2002 ). Tanaman bambu di Indonesia sangat pesat dan berananekaragam seperti bambu Apus, bambu Tali, bambu Petung , maupun bambu Ori. Selain itu masyarakat di Indonesia banyak memanfaatkan bambu diantaranya sebagai bahan bangunan, maupun sebagai kayu bakar. Sehingga banyak inovasi pemanfaatan bambu misalnya bambu yang dimanfaatkan sebagai struktur pada bangunan Dari keterangan di atas maka penulis mengambil judul Pusat Penelitian Bambu Sebagai Sumber Informasi, Penelitian Dan Pengembangan Bambu di Kelurahan Ceper, KlatenPenekanan Pada Struktur Bentang Lebar Material Bambu. Pusat Penelitian Bambu ini adalah suatu tempat atau wadah yang digunakan sebagai pusat kegiatan pameran, promosi dan budidaya bambu, selain itu dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan kegiatan kebudayaan setempat dengan penekanan pada struktur bambu bentang lebar yang sesuai dengan lingkungan sekitar dan sosial masyarakat. Alasan penulis mengambil judul tersebut karena Indonesia sampai sekarang belum mempunyai bangunan penelitian yang berkaitan dengan bambu

    Pemanfaatan Bambu Betung Bangka Sebagai Pengganti Tulangan Balok Beton Bertulangan Bambu

    Full text link
    Pemakaian beton semakin banyak dijumpai untuk berbagai macam konstruksibangunan.Dalam perkembangan bidang perekayasaan material, saat ini terus diupayakanpenelitian dan inovasi material termasuk material untuk bangunan atau komponenstruktur.Harga tulangan baja semakin mahal karena ketersediaan bahan dasarnyasemakin terbatas.Penggunaan bambu sebagai material konstruksi selama ini masihbersifat sekunder seperti perancah, reng, atap, dinding. Kenyataan ini lebih disebabkanminimnya pengetahuan masyarakatmengenai sifat-sifat mekanik dan fisik strukturbambu.Dalam penelitian ini bambu digunakan sebagai pengganti tulangan untuk balokbeton bertulang. Bambu yang digunakan adalah bambu betung yang kemudiandikeringkan selama 7 hari. Dilakukan pengujian fisik bambu dan beton seperti kadar airbambu, kuat tarik bambu sejajar serat, kuat tekan beton, kuat lekat bambu terhadap betondan kuat lentur balok beton bertulangan bambu dengan umur masing - masing beton 28hari. Setelah dilakukan pengujian kuat lentur, kemudian dibandingkan nilai kuat lenturbalok bertulang secara teori dengan eksperimen. Dari hasil penelitian diperoleh nilaikadar air bambu sebesar 18,29%, kuat tekan beton rata-rata sebesar 28,5771 MPa, kuattarik bambu sejajar serat sebesar 350,9741 MPa dengan kuat leleh bambu sebesar 247,42MPa, kuat lekat bambu terhadap beton sebesar 0,341 Mpa, dan kuat lentur balokbertulang bambu sebesar 3,8735 MPa.Kata kunci :Bambu betung, beton, kadar air, kuat tekan, kuat tarik, kuat lekat, dan kuatlentu

    Pengaruh Jarak Kait Terhadap Balok Bertulangan Bambu Dengan Kait

    Full text link
    Bambu merupakan pilihan alternatif sebagai pengganti tulangan baja, karena bambu merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui, tumbuh cepat, mudah ditanam, murah, serta memiliki kuat tarik tinggi. Namun,kelemahan bambu sebagai tulangan adalah memiliki lekatan yang kurang baik dengan beton jika dibandingkan dengan tulangan baja. Runtuh akibat penggunaan tulangan bambu yang terjadi,merupakan runtuh akibat selip bukan akibat bambu mencapai tegangan leleh.Salah satu modifikasi untuk mengatasi kelemahan bambu tersebut adalah dengan menambahkan kait. Untuk meningkatkan kuat lekat dan kuat lentur penggunaan tulangan bambu yang signifikan diperlukannya penelitian lebih lanjut tentang hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kait, seperti jarak kait. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak kait terhadap kuat lekat bambu dan pengaruhnya terhadap kuat lentur pada balok bertulangan bambu dengan kait. Pengujian yang dilakukan yaitu pengujian pull out dan pengujian lentur balok beton

    Pengembangan Produk Helm Sepeda Dengan Material Bambu Untuk Sarana Tur Sepeda Perdesaan Studi Kasus: Tur Sepeda Perdesaan Spedagi Di Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

    Full text link
    Indonesia memiliki potensi keragaman tanaman bambu yang melimpah. Didukung dengan kemampuan perajin lokal dalam mengolah bambu menjadi produk pakai. Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang bisa mengolah bambu. Akan tetapi, produk yang dihasilkan saat ini kalah bersaing dengan produk modern disebabkan minimnya inovasi produk. Akibatnya nilai ekonomi bambu menjadi rendah di Indonesia.Padahal nilai ekonomi ini dapat ditingkatkan dengan pengembangan produk dengan fungsi dan proses yang lebih modern.Upaya pengembangan potensi bambu sangat banyak. Studi kasus dalam masalah ini mengangkat aktivitas tur Spedagi yang digagas oleh Singgih S. Kartono di Desa Kandangan dan sekitarnya. Aktivitas ini memfasilitasi pengembangan dan pemanfaatan potensi-potensi bambu yang berada disekitar masyarakat. Bambu dikembangan menjadi produk-produk baru seperti produk arsitektur dan sepeda yang sebelumnya dimanfaatkan olehmasyarakat sebagai produk keranjang. Pengenalan bambu sebagai material yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi tinggi dilakukan dengan menunjukan secara langsung produk nyata dari pengolahan bambu tersebut sebagai sarana penunjang aktivitas Spedagi. Aktivitas Spedagi membutuhkan daya dukung berupa sarana dan prasarana. Untuk itu, penelitian dalam pengembangan produk bambu ini fokus pada pembuatan helm sepeda dengan material bambu untuk melengkapi sarana tur sepeda Spedagi. Selain itu, melalui pengembangan produk ini diharapkan mampu memberi pengetahuan baru mengenai potensi bambu kepada masyarakat dan perajin bambu di sekitar Desa Kandangan.// /

    Kajian Kekuatan Bambu Laminasi sebagai Bahan Bangunan di Indonesia

    Full text link
    Saat ini telah banyak penelitian mengenai bambu laminasi sebagai bahan baku alternatif pengganti kayu untuk bahan bangunan, namun belum ada standar perhitungan untuk konstruksi bambu sebagai komponen struktur. Hasil perhitungan menggunakan standar konstruksi kayu tersebut kemudian dibandingkan dengan kajian pustaka penelitian bambu laminasi secara eksperimental. Ruang lingkup perbandingan meliputi kekuatan tarik dan kekuatan tekan. Selain itu, menggunakan beban merata dibandingkan pula kekuatan terhadap lentur dan geser serta lendutan. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa kekuatan bambu pada pustaka yang digunakan selalu melebihi perhitungan menggunakan standar konstruksi kayu. Hal ini menunjukkan standar konstruksi kayu boleh digunakan untuk perhitungan konstruksi bambu laminasi. Selain itu, bambu Dendrocalamus asper yang umum dijumpai di Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi bambu laminasi yang diproduksi masal menggantikan bambu Guadua agustifolia Kunt

    Aplikasi Suspensi Semen untuk Meningkatkan Bioprospeksi Bambu sebagai Bahan Bangunan Lokal Pedesaan

    Full text link
    Kelemahan bambu untuk bahan bangunan adalah bambu rentan terhadap gangguan jasad renik, serangga, Perubahan temperatur, dan air hujan. Sedangkan USAha pengawetan yang banyak dilakukan dinilai kurang effektif, karena memerlukan waktu yang lama, menimbulkan bau, dan merusak warna bambu atau garis-garis dekorasi bambu. Penelitian ini dilakukan guna menghasilkan bambu yang kuat, absorbsi kecil, tidak berbau, dan tetap memiliki garis-garis dekorasi, tetapi dengan proses waktu pengawetan yang cepat. Metode penelitian dilakukan dengan cara modifikasi metode Baucherie, yaitu dengan cara mengalirkan suspensi semen dengan bantuan kompresor ke dalam bambu segar atau bambu baru tebang, dimana pori bambu masih terbuka sempurna. Proses suspensi akan membuat pori-pori bambu terisi oleh semen dan akan mengeras. Variasi campuran suspensi semen : air ditetapkan sebesar 1:8, 1:7, 1:6, 1:5, dan 1:4. Pengujian dilakukan guna mengetahui campuran suspensi optimal dan Perubahan karakteristik fisik dan mekanika bambu setelah tersuspensi semen. Hasil pengujian yang dilakukan terhadap 3(tiga) jenis bambu yaitu Ampel, Wulung, dan Tali menunjukan bahwa, kadar campuran suspensi semen optimal adalah sebesar 1:7 dan akan meningkatkan nilai kerapatan, kuat tekan, dan kuat lentur bambu masing-masing sebesar 47,76% ; 25,84% dan 36,02%, dan menurunkan nilai absorbsi dan elastisitas bambu masing-masing sebesar 20,13% dan 20,84% terhadap nilai karakteristik bahan bambu awal sebelum disuspensi

    Pengaruh Komposisi Semen Dan Agregat Kasar Batu Apung Terhadap Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Bambu Dengan Campuran Serat Bambu

    Full text link
    Perkembangan Ilmu dalam bidang Kontruksi pada masa sekarang di Indonesia begitu pesat .salah satu teknologi beton yang berkembang dalam USAha pembuatan rumah tahan gempa adalah penggunaan beton ringan.Mengingat bahwa Sumber daya Alam yang sudah mulai susah di daur ulang mulai dikembangkan tulangan pengganti baja dengan menggunakan Bambu sebagai tulangan ,adapun pemanfaatan limbah bambu seperti penggunaan Serat bambu sebagai filler pada beton.Tugas akhir ini membahas mengenai Pengaruh Komposisi Semen dan Agregat kasar Batu Apung Terhadap Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Bambu dengan Campuran Serat Bambu. Dalam penelitian ini elemen yang digunakan adalah balok berukuran 20 cm x 15 cm x 160 cm .Penentuan komposisi semen dan agregat pada penelitian ini menjadi pembahasan dalam pengujian balok.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan total 12 benda uji dengan 4 rancangan benda uji. Benda uji dibuat berdasarkan perhitungan sampel dengan percobaan faktorial sebagian.masing masing benda uji yaitu serat bambu 40 gram komposisi semen agregat 1:2:1 rasio tulangan 1% , serat bambu 40 gram komposisi semen dan agregat 1:2,5:1,5 rasio tulangan 1,5%, serat bambu 150 gram komposisi semen dan agregat 1:2:1 rasio tulangan 1,5% dan serat bambu 150 gram komposisi semen dan agregat 1:2,5:1,5 rasio tulangan 1% .Hasil pengujian menunjukan bahwa kekakuan komposisi tinggi 1:2:1 lebih kaku dan kuat menahan beban sehingga lendutan yang didapatkan lebih kecil dibandingkan dengan komposisi 1:2,5:1,5.Namun pada penelitian ini mengalami perbedaan antara uji coba dengan teori yang ada . Salah satu penyebabnya adalah ketidak kompak nya antara bambu dan beton, sehingga daya lekat bambu terhadap beton kurang.Pada perhitungan statistik uji anova satu arah diketahui bahwa belum ada pengaruh komposisi semen dan agregat pada beton bertulang bambu dengan serat

    APLIKASI TEKNOLOGI BAMBU SEMEN SEBAGAI DINDING DI DESA PENGLIPURAN KABUPATEN BANGLI

    Get PDF
    Bambu merupakan sumber yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu yang sudah dikenal di dunia, 11%-nya merupakan jenis asli Indonesia. Ini merupakan dasar mengapa tanaman ini merupakan salah satu nilai kelokalan dari negara kita. Masyarakat Indonesia pun sudah terbiasa memanfaatkan bambu untuk keperluan hidup sehari-hari; seperti untuk mebel, konstruksi rumah, peralatan pertanian, kerajinan, alat musik, serta makanan. Dalam bidang konstruksi, dikarenakan memiliki karakter yang lentur namun kuat serta mudah dibudidayakan, bambu dipandang sebagai material alternatif yang tepat untuk pengganti kayu yang ketersediaannya sudah semakin menipis dan teknologi bambu semen merupakan salah satu aplikasi terhadap potensi ini. Teknologi bambu semen sebenarnya sudah mulai dikenal sejak era pendudukan Belanda di Indonesia, dimana pada komponen dinding penutup terdapat penggabungan antara adukan sebagai bahan plesteran dengan anyaman bambu sebagai tulangannya. Ketahan konstruksi bangunan yang menggunakan dinding bambu semen masih dapat ditemui di Desa Penglipuran Kelurahan Kubu Kabupaten Bangli sudah berumur 30 tahun dengan kondisi yang masih baik. Dengan adanya perkembangan teknologi, sudah sewajarnya konstruksi bambu semen akan semakin meningkat kualitasnya dari waktu ke waktu,sehingga nantinya bambu dapat dipandang sebagai suatu nilai lokalitas yang berharga, bukan lagi sebagai citra kaum miskin yang murahan

    Serat Dan Pulp Bambu Tali (Gigantochloa Apus) Untuk Papan Serat

    Full text link
    Bambu masa tanamnya lebih singkat dibandingkan dengan kayu, namun sampai saat ini serat dan pulp bambu belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pengganti kayu pada pembuatan komposit oleh industri manufactured wood, misalnya papan serat. Oleh karenanya dilakukan penelitian pembuatan papan serat dengan menggunakan serat dan pulp dari bambu tali (G.apus). Dari hasil uji diketahui bahwa bambu tersebut mengandung alpha selulosa, hemiselulosa dan lignin, yang merupakan komponen penting dalam serat selulosa, seperti halnya serat dan pulp bambu. Potongan bambu yang dimasak dengan proses soda memiliki panjang serat dan kandungan lignin yang lebih tinggi dibanding serpih bambu hasil pemasakan dengan proses soda dan Kraft. Pembuatan komposit papan serat dilakukan dengan menggunakan matriks resin epoksi, karena epoksi memiliki sifat mekanik yang sangat baik. Kondisi optimal diperoleh dengan menggunakan serat bambu hasil pemasakan potongan bambu dengan proses soda, yang akan menghasilkan komposit dengan kerapatan tinggi. Adapun kandungan air, penyerapan, Perubahan panjang dan pengembangan tebal, keteguhan tarik dan lenturnya sesuai dengan standar yang berlaku
    corecore