Maaf, Ternyata Aku Tidak Sekuat Itu

Abstract

Kebanyakan orang melihat aku sebagai anak yang ceria, bahagia, anak yang kuat. Padahal, aku sedang menopang semua kesedihannya sendirian karena rumahnya tidak terasa ramah lagi. Nyatanya, aku tidak sekuat itu. Lahir dari keluarga yang tidak baik-baik saja mengajarkanku dewasa sebelum waktunya. Menjadi dewasa karena tuntutan keadaan. Dituntut kuat ketika diminta memilih "hendak ikut bersama siapa?". Untuk Ayah dan Ibu, terima kasih untuk cinta dan luka paling dalamnya

Similar works

Full text

Last time updated on 02/06/2023

This paper was published in library.fis.uny.ac.id.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.