SELONDING
Not a member yet
5360 research outputs found
Sort by
Gamelan Gambang Dalam Ritual Mapurwadaksina Pada Upacara Maligia Lajur Di Puri Bukit Bangli Bali
AbstrakPenelitian ini membahas mengenai penyajian dan makna musikal gamelan gambang serta keterlibatannya dalam ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur di Puri Bukit Bangli, Bali. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teori semiotika pertunjukan dari Marco De Marinis untuk membedah tekstual dan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce untuk membedah makna musikal gamelan gambang. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang didasari dari pengalaman individual. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, studi lapangan (observasi dan dokumentasi), dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyajian gamelan gambang mencangkup aspek-aspek yang terdiri dari pelaku, busana, tata panggung, sarana upacara dan musik. Dalam pembahasan kontekstual, Makna musikal gamelan gambang ketika mengiringi ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur di Puri Bukit Bangli diantaranya gamelan gambang sebagai tanda representament dan ritual mapurwadaksina dalam upacara maligia lajur adalah sebagai objek, sedangkan masyarakat Puri Bukit sebagai interpretan.Kata Kunci: Gamelan Gambang, Maligia Lajur, Puri Bukit BangliAbstractThis research discusses the presentation and musical meaning of gamelan gambang and involvement in the mapurwadaksina ritual at the maligia lajur ceremony at Puri Bukit Bangli, Bali. The theories used in this research include the semiotic of performance theory by Marco De Marinis for textual analysis, and the semiotic theory proposed by Charles Sanders Peirce to dissect the musical meaning of gamelan gambang. The method used is qualitative research with a phenomenological approach, based on individual experience. Data collection techniques include interviews, field studies (observation and documentation), and literature studies. This research shows that the presentation of gamelan gambang encompasses aspects such as performers, clothing, stage settings, ceremonial equipment, and music. In the contextual discussion, the musical meaning of the gamelan gambang when accompanying the mapurwadaksina ritual in the maligia lajur ceremony at Puri Bukit Bangli, is that the gamelan gambang serves as a representation, the mapurwadaksina ritual in the maligia lajur ceremony serves as an object, and the Puri Bukit Bangli community serves are the interpretants. Keywords: Gamelan Gambang, Maligia Lajur, Puri Bukit Bangli
BIDUK SAYAK DALAM ACARA LEK PENGANTEN KECIK DI DESA JERNIH KABUPATEN SAROLANGUN PROVINSI JAMBI
Biduk sayak adalah tradisi lisan berbalas pantun yang dimainkan oleh muda-mudi di Desa Jernih. Biduk adalah perahu atau sampan untuk orang menyusuri sungai dan juga ini diibaratkan sebagai laki-laki dan Sayak adalah tempurung kelapa diibaratakan sebagai perempuan. Biduk sayak dimainkan dalam acara lek penganten kecik, lek penganteng kecik adalah istilah pernikahan terendah dalam masyarakat Desa Jernih. Lagu yang dijadikan sebagai analisis penelitian dalam biduk sayak adalah lagu Becerai Kasih. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis, teori yang dipakai adalah teori ilmu bentuk musik dari Karl-Edmund Prier SJ dan model tiga tingkatan analisis musik dari Alan P. Merriam. Berdasarkan observasi lapangan bahwa biduk sayak memiliki bentuk lagu satu bagian berulang-ulang, serta biduk sayak sebagai representasif dari acara lek penganten kecik karena biduk sayak adalah representasi dari masyarakat Desa Jernih terlihat pada konsep, kebiasaan, dan musiknya
Komodifikasi Kreatif: "Tukang Tabuh" dalam Gambang Kromong Kontemporer
Penelitian ini menginvestigasi fenomena komodifikasi dalam konteks musik tradisional Betawi, yaitu Gambang Kromong. Gambang Kromong sebagai salah satu warisan budaya telah mengalami transformasi yang signifikan akibat pengaruh global dan selera pasar yang modern. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana proses komodifikasi dapat berpengaruh pada identitas budaya gambang kromong, termasuk dalam konten musik dan strategi pemasarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografis, dan menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara, studi pustaka, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini akan menujukkan bahwa sistem komodifikasi ternyata mampu membawa dampak yang positif dan negatif terhadap Gambang Kromong. Satu sisi, popularitas yang meningkat dan pembaharuan dapat memperluas jangkauan penonton dan peningkatan apresiasi terhadap musik tradisional, namun di satu sisi perubahan tersebut juga dapat beresiko terhadap esensi budaya asli Gambang Kromong yang dapat tergerus oleh tuntutan pasar dan penekanan unsur-unsur komersial
Estetika Vokal Marhaban di Sumatera Utara
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek estetika vokal marhaban yang ada di Sumatera Utara. Teori yang dipakai untuk mendeskripsikan estetika menggunakan Djelatik yaitu wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif, menggunakan pendekatan etnomusikologis dan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa elemen estetis dari vokal mahaban memberikan sebuah deskripsi mengenai kesimbangan dalam tataran sosiologi masyarakat melayu Deli.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek estetika vokal marhaban yang ada di Sumatera Utara. Teori yang dipakai untuk mendeskripsikan estetika menggunakan Djelatik yaitu wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif, menggunakan pendekatan etnomusikologis dan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa elemen estetis dari vokal mahaban memberikan sebuah deskripsi mengenai kesimbangan dalam tataran sosiologi masyarakat melayu Deli
Peran dan Fungsi Aksentuasi Pada Musik Tari Kontemporer: Studi Kasus Karya Dongak
Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi peran dan fungsi aksentuasi musik tari kontemporer serta urgensi kehadirannya dalam penciptaan musik tari kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus tunggal kualitatif (qualitative-single case study) yang meliputi proses tinjauan literatur dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data, serta menganalisis, menafsirkan (interpretasi), dan melaporkan hasil sebagai teknik analisis data, dalam karya Dongak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aksentuasi musik dalam tari kontemporer memiliki dua peran dengan fungsinya masing-masing, yaitu peran penanda dan peran petanda. Peran aksentuasi musik sebagai penanda dalam tari kontemporer berfungsi sebagai penebalan gerakan, sedangkan peran aksentuasi musik sebagai petanda berfungsi sebagai sinyal, kode, atau isyarat terhadap sesuatu yang penting. Selain itu, aksentuasi musik dalam tari kontemporer mempunyai kemampuan untuk menciptakan dinamika pertunjukan dan menarik perhatian penonton. Dengan demikian, peran dan fungsi tersebut menunjukkan betapa pentingnya kehadiran aksentuasi secara musikal pada sebuah pengkaryaan musik tari kontemporer. Penelitian di masa depan diharapkan untuk mengeksplorasi lebih rinci peran dan fungsi aksentuasi dalam mempengaruhi emosional penari dan penonton serta dampaknya pada pertunjukan. Selain itu, penelitian ini mungkin relevan dengan latar budaya dan genre musik lain yang mempengaruhi interpretasi dan aksentuasi musik tari kontemporer.
Transformasi Penyajian Kesenian Bantengan Di Kabupaten Malang, Jawa Timur
Pertunjukan kesenian Bantengan di wilayah Kabupaten Malang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat. Kostum yang menyerupai banteng dan iringan musik tradisional gamelan yang sudah dikreasikan membuat pertunjukan ini selalu menarik perhatian masyarakat Malang. Perkembangan yang dialami kesenian Bantengan bukan sebuah kemunduran, melainkan merupakan proses kreatif yang bertujuan untuk menjaga keberlanjutan dan eksistensi warisan kesenian leluhur. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan secara etnomusikologi.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa bantengan merupakan seni pertunjukan yang memadukan unsur tari, musik, beladiri, dan ritual dalam satu kesatuan pertunjukan yang kaya akan nilai-nilai budaya dan spiritual. Bentuk sajian bantengan terbagi menjadi bantengan tradisional dan bantengan kreasi. Bantengan khusunya di kabupaten Malang mengalami transformasi. Wujud dari adanya transformasi pada kesenian ini dilihat dari musik pengiring digantikan oleh musik elektronik. Kemunculan Sound Horeg mempengaruhi aspek sajian kesenian Bantengan. Hubungan dan keterkaitan Sound Horeg dengan Kesenian Bantengan menimbulkan pro dan kontra. Banteng yang digunakan pada kesenian itu sendiri kini telah berubah dengan inovasi dan kreativitas masyarakat. Erat kaitanya Kesenian Bantengan dengan sumber daya manusia, khususnya masyarakat sekitar kelompok Kesenian banyak merasakan manfaat dari adanya kelompok Kesenian Bantengan ini, dikarenakan bisa menjadi lapangan pekerjaan
MUSIK DALAM PERTUNJUKAN WAYANG PULAU DI RUMAH GARUDA YOGYAKARTA
Wayang pulau adalah salah satu bentuk wayang pembaharuan yang muncul dan merupakan bentuk pemikiran serta gagasan dari Nanang Rakhmat Hidayat yang juga merupakan salah satu dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Inovasi wayang yang diciptakan berdasar pada bentuk pulau-pulau yang ada di Indonesia.Teori yang digunakan untuk mengetahui bentuk musik wayang pulau dalam lagu “Wayang Pulau Indonesia” serta fungsi kesenian wayang pulau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan fokus pada pengamatan mendalam mengenai kesenian wayang pulau melalui pendekatan secara Etnomusikologis yang membahas mengenai teks dan konteks musik. Kajian bentuk musik dalam lagu “Wayang Pulau Indonesia” tampak dari aspek: bentuk penyajian, instrumentasi, dan vokal. Kajian kontekstual dalam kesenian wayang pulau terdapat unsur nasionalisme yang melatar belakangi kesenian musik tradisional sebagai pengiring wayang.Kesenian wayang pulau memeiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Fungsi yang dianggap menonjol dalam kesenian wayang pulau diantaranya: ekspresi emosional, sarana hiburan, keberlangsungan dan kestabilan budaya, presentasi estetis dan sarana komunikasi
GONDANG UNING-UNINGAN GRUP RAP OLO DALAM UPACARA PERKAWINAN ADAT BATAK TOBA DI YOGYAKARTA
Gondang Uning-uningan merupakan ansambel yang digunakan pada upacara perkawinan adat Batak Toba termasuk di Yogyakarta. Sampai saat ini Gondang Uning-Uningan masih menjadi bentuk solusi dalam mengiringi musik disetiap prosesi upacara perkawinan berlangsung. Ansambel Gondang tidak lepas dari siapa yang memainkannya. Salah satu grup musik Gondang Uning-uningan yang ada di Yogyakarta adalah Grup Musik Rap Olo.Grup Musik Rap Olo merupakan salah satu Grup musik etnis Batak Toba yang sampai saat ini masih eksis khususnya di Yogyakarta. Grup musik Rap Olo sering terlibat mengiringi musik Gondang Uning-uningan pada upacara perkawinan adat Batak Toba di Yogyakarta. Dalam Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana betuk penyajian Grup Musik Rap Olo dan fungsi Gondang Uning-uningan dalam upacara Perkawinan Batak Toba. Metode yang dingunakan yaitu penelitian kualitatif dan pendekatan etnomusikologis yang dibagi menjadi tekstual dan kotekstual. Berdasarkan hasil pengamatan tekstual dari lagu Sitappar Api merupakan lagu satu bagian yang terdiri dari frase tanya jawab dan motif tanya jawab, sementara itu kajuan kontekstual fungsi Gondang Uning-uningan dalam upacara perkawinan adat Batak Toba di Yogyakarta yaitu sebagai, fungsi hiburan, komunikasi, pengungkapan emosional, norma soial, kesinambungan budaya, dan pengintergrasian masyaraka
Nyanyian Para Penyintas: Paduan Suara Dialita dan Politik Ingatan Genosida 1965 di Indonesia
Penelitian ini mengkaji peran Paduan Suara Dialita, sebuah kelompok paduan suara yang terdiri dari para perempuan penyintas Genosida 1965 di Indonesia, sebagai subjek subaltern yang menyuarakan pengalaman dan trauma mereka melalui musik. Dengan menggunakan teori subaltern Gayatri Chakravorty Spivak, tulisan ini menganalisis bagaimana Dialita memproduksi wacana tandingan terhadap narasi sejarah dominan yang direpresi oleh negara. Terbentuk dari komunitas para eks-tahanan politik (tapol) yang mengalami diskriminasi, Dialita bertransformasi menjadi sebuah gerakan budaya yang menyuarakan tuntutan keadilan dan pengusutan tuntas pelanggaran HAM berat 1965. Melalui album seperti Dunia Milik Kita (2016) dan Salam Harapan (2019), serta kolaborasi dengan musisi muda, mereka berhasil menjangkau generasi muda dan menyebarkan kesadaran akan tragedi kemanusiaan tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun Dialita sebagai kelompok subaltern mampu "berbicara" dan menghasilkan karya yang signifikan , suara mereka belum sepenuhnya "didengar" oleh negara, yang hingga kini belum menunjukkan keseriusan dalam menyelesaikan kasus Genosida 1965. Dengan demikian, karya Dialita menjadi sebuah pengingat akan pentingnya mendengarkan suara korban untuk mencapai rekonsiliasi dan keadilan sejarah
MAKNA TEKS PADA LAGU OUD BATAVIA OLEH GRUP MUSIK KRONTJONG TOEGOE
This study examines the song Oud Batavia by the music group Krontjong Toegoe, focusing on its creation process, musical characteristics, and its social, cultural, emotional, and educational functions. The method used is the diachronic historical method, and data collection obtained from literature sources and other sources in physical and digital form as well as direct interviews with Kerontjong Toegoe actors to trace the meaning of the song text which has undergone changes and developments along with the underlying social, cultural and historical dynamics.The analysis is based on Jean-Jacques Nattiez’s theory of musical semiotics, where the textual aspect is analyzed using semiotics to reveal the meaning of the song's lyrics. The findings show that, first, the creation of Oud Batavia was influenced by the social and cultural life of Batavia in the early to mid-20th century. Second, the musical form of this song combines elements of traditional keroncong music with European cultural influences, featuring a musical structure that blends the keroncong style with the European Waltz style. Third, the functions of Oud Batavia include cultural preservation, a medium of communication, a tool for learning history, music and arts education, and the instillation of cultural values