Journal Universitas Pasundan
Not a member yet
    4532 research outputs found

    NILAI SOSIAL KEARIFAN LOKAL NGGAHI RAWI PAHU DAN PENYIMPANGAN DI KALANGAN PEMUDA KELURAHAN KANDAI DUA DOMPU

    Get PDF
    This research aims to describe the social values ​​contained in the local wisdom of nggahi rawi pahu and forms of deviation in youth behavior in Kandai Dua Dompu Village. This research uses a qualitative approach with a case study method. The types of data used are primary data and secondary data. Data collection techniques used: observation, interviews and documentation. Data were analyzed using Miles and Huberman data analysis techniques. The research results show that nggahi rawi pahu contains social values, namely: 1) internalized or ingrained values ​​including: mutual cooperation, joint action; 2) the dominant value of high levels of effort to maintain these values ​​includes: a sense of unity and oneness, solidarity, mutual respect; 3) independent values, namely: honesty, trust, keeping promises; 4) values ​​that do not stand alone are characterized by: deliberation, consensus, socialization. The forms of youth deviation include: 1) primary behavioral deviation, characterized by primary rummy, cigarettes, occasional drunkenness, occasional tramadol consumption; 2) secondary behavioral deviations, characterized by drinking mixed beer, using exhaust pipes, racing liars, gambling, racing liars. Then the motives for deviant youth behavior, namely: 1) biogenetic motives characterized by self-desire, to be happy, having no direction in life and 2) sociogenetic motives for deviant behavior include breaking up with a girlfriend, being invited by friends, a supportive environment, lack of parental control, want to be recognized, while 3) the genetic motives for deviant youth behavior include lack of religious education, lack of guidance in life, lack of awareness of religious values

    MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS NARASI MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL ROUNDTABLE DI SEKOLAH DASAR

    Get PDF
    Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dipelajari dan dikembangkan bagi peserta didik. Keterampilan menulis mampu membantu peserta didik untuk mengekspresikan diri, menyampaikan gagasan, dan memecahkan masalah. Salah satu jenis teks yang perlu dipelajari oleh peserta didik adalah teks narasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan keterampilan menulis teks narasi peserta didik kelas VI sekolah dasar melalui pembelajaran kooperatif model roundtable. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe roundtable dapat meningkatkan keterampilan menulis teks narasi peserta didik kelas VI sekolah dasar. Hal ini terlihat dari hasil observasi, wawancara, dan tes. Peningkatan keterampilan menulis teks narasi peserta didik sebesar 17%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe roundtable dapat menjadi alternatif pembelajaran menulis teks narasi yang efektif. Model pembelajaran ini dapat melatih peserta didik untuk bekerja sama, saling membantu, dan saling menghargai pendapat. Hal ini dapat mendorong peserta didik untuk lebih aktif dan antusias dalam pembelajaran. Kata Kunci: menulis, teks narasi, kooperatif roundtabl

    IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS TIK PADA PEMBELAJARAN TEMATIK DI SEKOLAH DASAR

    No full text
    This research aims to describe: 1) Describe the implementation of ICT-based learning media in thematic learning in elementary schools; 2) Describe the obstacles to implementing ICT-based learning media in thematic learning in elementary schools; 3) Describe solutions in overcoming obstacles in implementing ICT-based learning media in thematic learning in elementary schools. This type of research is qualitative research using a phenomenological approach. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation. Validity of data using triagulation of sources and techniques. The data analysis technique carried out consists of data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this research are: 1) The implementation of ICT-based learning media in thematic learning can be seen in the implementation of ICT media which has not been fully implemented because teachers have not mastered the technology, the use of ICT media when AKM has not run optimally, most teachers still use books as teaching materials using the method lectures and teachers only display material in the form of writings which only make students feel bored; 2) The obstacles experienced by teachers are that teachers cannot master technology well, ICT facilities and media are limited and teachers are less creative in making teaching materials; 3) The solution obtained by teachers is that teachers can take part in training regarding ICT such as attending seminars, workshops, socialization and so on, complete various ICT-based facilities and media that can support learning activities and teachers take additional material from the internet. &nbsp

    ANALISIS PENGGUNAAN MEDIA DISPLAY PAPAN BULETIN PADA PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA DI SDN 2 SUKOBENDU

    Get PDF
    Penggunaan media pembelajaran yang sudah diterapkan di tingkat sekolah dasar sudah sangat beragam, namun dilihat dari penggunaanya belum sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik yang sesungguhnya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan media display papan buletin pada pembelajaran tematik siswa kelas 3 di SDN 2 Sukobendu. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti menggunakan kisi-kisi instrumen penelitian untuk mengumpulkan data yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan data, analisis data dan penafsiran data. dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, kuisioner dan dokumentasi. Langkah pembelajaran yang sudah dilakukan oleh guru kelas 3 dalam penggunaan media display papan buletin belum sepenuhnya sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Terlihat dari observasi kedua yang dilakukan oleh peneliti, dimana guru belum maksimal dalam mempersiapkan media display papan buletin yang akan digunakan. Metode pembelajaran yang digunakan guru belum bervariatif sehingga proses penyampaian materi dengan menggunakan media display papan buletin kurang dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan

    EFEKTIVITAS KOPERATIF TERINTGRITAS MEMBACA DAN KOMPOSISI UNTUK KEMAHIRAN TERHADAP MENTAL DI SD NEGERI MOJOGEDANG

    Get PDF
    The number of bullying cases that exist in the world of education in Indonesia, so recently the minister of education and culture has issued a ministerial regulation on anti-bullying in new student orientation period activities through Permendikbud Number 55 of 2014 and circular letter Number 59389/MPK/PD/2015. The act of bullying occurs in several places in Karanganyar, namely in Mojogedang District, Mojogedang District, the purpose is to find out the role of parents in the importance of getting along in the Mojogedang State Elementary School environment and to find out the efforts made by parents in the importance of getting along in the Mojogedang State Elementary School environment. This research uses a theoretical basis including: 1) Reading Comprehension which is a process of obtaining meaning from the content of reading. Reading comprehension is required to be able to understand, interpret, analyze, and evaluate the content of reading; 2) Understanding the CIRC Learning Model as a systematic procedure; 3) Components in the CIRC Learning Model consisting of Team, Placement test, Student creative, and Team study. This research was conducted at Mojogedang State Elementary School, Mojogedang District, Karanganyar Regency, Central Java Province in the 2022/2023 academic year. This research uses a quantitative approach with a Pre-Experimental Design type of experiment. From this type of experiment, researchers used the One-Group Pretest-Posttest Deisgn design. In this study, the population used was class IV students of SD Negeri Mojogedang, totaling 8 students. Furthermore, in the methodology of sampling or what is also called sampling techniques. In this study using non-probability sampling technique, namely simple random sampling. The sample of this study was all fourth grade students consisting of 6 boys and 2 girls. The results showed that in the pretest, the minimum score was 40 and the maximum score was 70, with a mean of 57.50. In the posttest, the lowest score was 80 and the highest score was 90, with a mean of 86.25. This shows a significant difference between students' knowledge before and after using the CIRC method. The difference is due to the treatment or treatment of students' reading comprehension ability has increased after the application of the CIRC model.Banyaknya kasus bullying yang ada di dunia pendidikan di Indonesia, maka baru-baru ini menteri pendidikan dan kebudayaan telah mengeluarkan peraturan menteri tentang anti bullying dalam kegiatan masa orientasi siswa baru melalui Permendikbud Nomor 55 Tahun 2014 dan surat edaran Nomor 59389/MPK/PD/2015. Tindakan bullying terjadi di beberapa tempat di karanganyar yaitu di Kecamatan mojogedang, Kecamatan Mojogedang, tujuan yaitu untuk mengetahui peran orang tua dalam pentingnya bergaul dilingkungan sekolah SD Negeri Mojogedang dan mengetahui upaya yang dilakukan orang tua dalam pentingnya bergaul dilingkungan sekolah SD Negeri Mojogedang. Penelitian ini menggunakan landasan teori meliputi: 1) Membaca Pemahaman yang merupakan suatu proses memperoleh makna dari isi bacaan. Membaca pemahaman dituntut mampu memahami, menafsirkan, nganalisa, dan mengevaluasi isi dari bacaan; 2) Memahami Model Pembelajaran CIRC sebagai suatu prosedur yang sistematis; 3) Komponen dalam Model Pembelajaran CIRC yang terdiri dari Tim, Placement test, Student creative, dan Team study. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Mojogedang, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah pada tahun pelajaran 2022/2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis eksperimen Pre-Experimental Design. Dari jenis eksperimen tersebut peneliti menggunakan desain One-Group Pretest-Posttest Deisgn. Dalam penelitian ini populasi yang digunakan yaitu siswa kelas IV SD Negeri Mojogedang yang berjumlah 8 siswa. Selanjutnya dalam metodologi melakukan pengambilan sampel atau yang disebut juga teknik sampling. Dalam penelitian ini menggunakan teknik non-probability sampling yaitu simple random sampling. Sampel penelitian ini seluruh siswa kelas IV yang terdiri dari 6 laki-laki dan 2 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pretest diperoleh nilai minimum 40 dan nilai maximum 70, dengan mean 57,50 . Pada posttest diperoleh nilai terendah 80 dan tertinggi 90, dengan mean 86.25. Hal ini menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pengetahuan siswa sebelum dan sesudah menggnakan metode CIRC. Perbedaan tersebut karena adanya perlakuan atau treatment kemampuan membaca pemahaman siswa mengalami peningkatan setelah dilakukannya penerapan model CIRC

    Pola, Makna, Serta Fungsi Pengaplikasian Slang Pada Kalangan Remaja Di Kabupaten/Kota Bandung

    Get PDF
    Slang is one of the variations of social language that grows among people. Using slang in informal situations for adolescents serves as self-familiarity with other individuals. This research investigates the patterns, meaning, and functions of Sundanese slang in Bandung City/Regency. This research method uses a mix methods of qualitative and quantitative. The researcher collected the data through questionnaires via Google Forms with specific participant criterias to gain appropriate results. Twenty participants were selected based on age, birth, domicile in Bandung City/Regency, and Sundanese as their native language. In analysing the data, the researcher used O'Grady's (1996) theory regarding the word formation process. The results of this study indicate that the word formation processes of Sundanese slang is formed through the types of onomatopoeia (2.81%), derivation (4.22%), multiple processes, (7%) clipping, (8,45%), coinage (22.5%), acronym (24.6%), and blending (30.3%). In addition, slang functions were found into seven types, for humor, mockery, praise, brevity and concreteness, confidentiality, intimacy, and as an identity and group differentiator.Slang adalah salah satu variasi bahasa sosial yang tumbuh di antara masyarakat. Penggunaan slang pada kalangan remaja dalam situasi informal berfungsi sebagai bentuk pengenal diri dengan individu lain. Penelitian ini menyelidiki pola makna serta fungsi dari slang Sunda di Kota/Kabupaten Bandung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Peneliti mengumpulkan data melalui kuesioner melalui Google Forms dengan kriteria partisipan tertentu untuk mendapatkan hasil yang sesuai. Dua puluh partisipan dipilih berdasarkan usia, tempat lahir, domisili di Kota/Kabupaten Bandung, dan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu mereka. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan teori formasi kata dari O'Grady (1996). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pembentukan kata dari slang Sunda terbentuk melalui jenis onomatopoeia (2,81%), derivation (4,22%), multiple processes (7%), clipping (8.45%), coinage (22,5%), acronym (24,6%), dan blending (30,3%). Selain itu fungsi slang ditemukan juga sebanyak tujuh fungsi antara lain untuk humor, untuk mengejek, untuk memuji, padat dan konkret, untuk kerahasiaan, untuk keakraban, dan sebagai identitas dan pembeda kelompok

    Peningkatan Kemampuan Memahami Cerpen Menggunakan Model Make a Match Siswa Kelas IX D SMPN 13 Kota Bengkulu

    Get PDF
    One of the literature lessons that is compulsory material for grade IX Indonesian lessons is short stories. The purpose of this study is to describe the improvement of students' ability to understand short stories with the make a match model. The research method is quantitative description. The subjects of this research were 27 students of class IX D SMPN 13 Bengkulu City. Data collection in this study used test techniques in the form of pre tests and post tests. Data analysis of this research 1) Students are given pre-test questions, 2) Using the make a match model in short story learning 3) Giving students a posttest question. 4) Entering student score data into the data table. 5) Interpreting data 6) Concluding the improvement of short story understanding skills of students in class IX D SMPN 13 Bengkulu City with make a match. The results showed that there was an increase in the ability to understand short stories pre test with an average of 71.5 the average result of the post test increased by 78.3. The average value of pre test to post test increased by 10%. The increase in the ability to understand the intrinsic elements of short stories pre test with an average of 72.6 the average post test results increased by 78.1. The pre test to post test results experienced an increase of 8%. The increase in the ability to understand the structure of short stories pre test with an average of 70.5 the average result of the post test increased by 78.6. The average pre test to post test increased by 11%.Salah satu pembelajaran sastra yang merupakan materi wajib pelajaran bahasa Indonesia  kelas IX adalah cerpen. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami cerpen dengan model make a match siswa. Metode penelitian deskripsi kuantitatif. Subjek penelitian ini 27 siswa kelas IX D SMPN 13 Kota Bengkulu. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik tes yang berupa pre test dan post test. Analisis data penelitian ini 1) Siswa diberikan soal pre test, 2) Menggunakan model make a match pada pembelajaran cerpen 3) Memberikan siswa soal postest. 4) Memasukkan data nilai siswa ke tabel data. 5) Menginterpretasi data 6) Menyimpulkan peningkatan keterampilan memahami cerpen siswa kelas IX D SMPN 13 Kota Bengkulu dengan make a match. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan memahami cerpen  pre test dengan rata-rata 71,5 hasil rata-rata  post test mengalami peningkatan 78,3. Nilai rata-rata pre test ke post test meningkat 10%. Peningkatan kemampuan memahami unsur intrinsik cerpen pre test dengan rata-rata 72,6  hasil rata-rata  post test mengalami peningkatan 78,1. Hasil  pre test ke post test mengalami peningkatan 8%. Peningkatan kemampuan memahami struktur cerpen pre test dengan rata-rata 70,5 hasil rata-rata  post test mengalami peningkatan 78,6. Rata-rata pre test ke post test  meningkat 11%

    BENTUK DAN MAKNA KATA SAPAAN KEKERABATAN OLEH MASYARAKAT DESA RANTAU PANJANG KECAMATAN MUARA SIAU KABUPTEN MERANGIN PROVINSI JAMBI

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengungkapkan bentuk dan makna kata sapaan kekerabatan pada masyarakat Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau, Kabupaten Merangin. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif, dengan menggunakan metode deskriptif. Data-data tersebut dapat diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, foto, dokumentasi pribadi, catatan, atau memo, dan dokumentasi. Di dalam teknik pengumpulan teknik analisis data, teknik yang digunakan ialah penyajian data, reduksi data, display data, kesimpulan hasil penelitian. Bentuk dan makna kata sapaan kekerabatan oleh masyarakat Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau, Kabupaten Merangin ialah berbentuk sapaan kekerabatan vertikal ke atas yang bervariasi. Sapaan dari orang tua kakek yaitu Puyong. Sapaan dari orang tua kakek yaitu Nektan. Sapaan untuk orang tua dari ibu dan bapak yaitu Neknu. Sapaan dari orang tua laki-laki yaitu Bak/Pak. Sapaan untuk orang tua perempuan yaitu Mak, sapaan dari saudara orang tua laki-laki yaitu Pak Wo, Pak Ngah, Pak Cik, Pak Nzu, Pak Tek, sesuai dengan urutan paling tua. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa bentuk sapaan kekerabatan yang digunakan oleh masyarakat Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau, Kabupaten Merangin ialah”Nek Yut, Nek Yang, Nektan, Neknu, Bak/Pak, Mamak, Pak Cik, Pak Wo, Mak Cik, Wo, yuk Dik, Kak, Bg, Jang, Dih, Dik, Cong, Yut”. Sapaan ini dibagi dalam beberapa klasifikasi bentuk yaitu sapaan vertikal ke atas, vertikal ke bawah, dan harizontal, dalam sapaan kekerabatan ini bermakna atau bertujuan untuk menyapa seseorang dengan tata krama, dan menjadi kebiasaan masyarakat hingga sekarang.Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengungkapkan Bentuk dan Makna Kata Sapaan Kekerabatan pada Masyarakat Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau, Kabupaten Merangin.        Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif, dengan menggunakan metode deskriptif. Data-data tersebut dapat diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, foto, dokumentasi pribadi, catatan, atau memo dan dokumentasi. Didalam teknik pengumpulan teknik analisis data, teknik yang digunakan ialah Penyajian data, Reduksi data, Display Data, Kesimpulan hasil penelitian. Bentuk dan Makna Kata Sapaan Kekerabatan Oleh Masyarakat Desa Rantau Panjang Kecamatan Muara Siau Kabupaten Merangin ialah berbentuk sapaan kekerabatan vertikal keatas yang bervariasi. Sapaan dari orang tua kakek yaitu  Puyong. Sapaan dari orang tua kakek yaitu  Nektan. Sapaan untuk orang tua dari ibu dan bapak yaitu Neknu. Sapaan dari orang tua  laki-laki yaitu Bak/Pak. Sapaan untuk orang tua  perempuan yaitu Mak , sapaan dari saudara orang tua  laki-laki yaitu  Pak Wo,Pak Ngah, Pak Cik, Pak Nzu, Pak Tek, sesuai dengan urutan paling tua. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa bentuk sapaan kekerabatan yang digunakan oleh Masyarakat Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau, Kabupaten Merangin Ialah “Nek Yut, Nek Yang, Nektan, Neknu, Bak/Pak, Mamak, Pak Cik, Pak Wo,Mak Cik,Wo, yuk Dik, Kak, Bg, Jang, Dih, Dik, Cong, Yut”, Sapaan ini dibagi dalam beberapa kalsifikasi bentuk yaitu sapaan vertikal keatas, vertikal kebawah dan harizontal, dalam sapaan kekerabatan ini bermakna atau bertujuan untuk menyapa seseorang dengan tata krama, dan menjadi kebiasaan Masyarakat hingga sekarang

    PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DALAM MENGHADAPI ERA SOCIETY 5.0 DI SMP N 7 KOTA JAMBI

    Get PDF
    The implementation of the independent learning curriculum program in schools aims to develop human resources capable of welcoming the Society 5.0 era. This article is a literature review from a number of journals that are qualitatively relevant to the topic discussed. The steps taken by the author to collect readings in this article are (1) collecting data related to the topic of interest; (2) Summarize and prepare relevant main topics. The next generation will answer the challenges of the Society 5.0 era. The author's final result in this article is to show that the implementation of autonomous learning is appropriate in the Society 5.0 era. Creativity and innovation are skills that writers need to become strong, tough and persistent. Implementing independent learning programs in schools to improve the quality of education in Indonesia and prepare graduates to compete well in global competition.Abstrak Penerapan program kurikulum merdeka belajar di sekolah bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang mampu menyongsong era Society 5.0. Artikel ini merupakan tinjauan literatur dari sejumlah jurnal yang secara kualitatif relevan dengan topik yang dibahas. Langkah-langkah yang dilakukan penulis untuk mengumpulkan bacaan dalam artikel ini adalah (1) mengumpulkan data terkait topik yang diminati; (2) Meringkas dan menyiapkan topik utama yang relevan. Generasi mendatang akan menjawab tantangan era Society 5.0. Hasil akhir yang penulis dalam artikel ini adalah menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran otonom sudah tepat dilakukan di era Society 5.0. Kreativitas dan inovasi adalah keterampilan yang dibutuhkan penulis agar menjadi kuat, tangguh, dan gigih. Melaksanakan program kemandirian belajar di sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dan mempersiapkan lulusan untuk bersaing dengan baik dalam persaingan global

    PENERAPAN PEMBELAJARAN GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER MODEL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BERTANYA MENJAWAB SISWA KELAS X.1 IPS MATA PELAJARAN SOSIOLOGI DI SMAN 10 MATARAM

    Get PDF
    The purpose of this research is to increase the question and answer activity of students in class X.1 IPS Sociology subject at SMAN 10 Mataram. This research will use Giving Question and Getting Answer. Data is collected through observation, interview, and documentation; descriptive model is used to analyze it. This research involves all students in class X.1 IPS SMAN 10 Mataram. In this study, the informant is a sociology teacher. Planning, implementation action, observation, and reflection are the way this research goes. The results of the first cycle of research on the application of the Giving Question and Getting Answer learning model were carried out by 66.66%, the activity of asking students was 53.52%, while the activity of answering students was 52%. So in cycle II the application of the learning model has increased by 91.66% and has increased in the activity of asking by 81% and has increased in the activity of answering by 81% So the application of the Giving Question and Getting Answer learning model can increase the activity of asking and answering class X IPS 1 in sociology subjects at SMAN 10 Mataram

    4,197

    full texts

    4,532

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal Universitas Pasundan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇